Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 92. Wajib Menghormati


__ADS_3

"Kenapa Lingling lama sekali, Han..."


Tenry berkacak pinggang di ruang makan itu, udah bolak-balik menggedor pintu, hanya jawaban pendek dari dalam kamar yang dia dengar. Hanie sedikitnya memahami kenapa adiknya berlama-lama di dalam kamar. Dari tadi pagi saat Tenry bilang mau ke rumah mereka adiknya terlihat resah.


"Udah hampir dua jam masa mandi gak kelar-kelar..."


Hanie menuju kamar Holly saat melihat wajah gusar Tenry, mencoba membantu dan mencari kepastian sendiri kenapa Holly enggan pergi bersama Tenry. Pintu dia ketuk pelan saja.


"Ling... udah ditungguin Tenry dari tadi... kamu ngapain?"


Perlahan pintu kamar terbuka sedikit dan bagian kepala Holly menyembul keluar.


"Koko mana?"


Suaranya pelan sambil menoleh ke arah ruang makan.


"Ada... tuh..."


Hanie menunjuk dengan dagunya, Holly segera menarik kepalanya dari celah pintu.


"Han, aku gak mau Koko bertemu papa mama..." Masih bernada pelan, bola matanya terlihat gelisah, tangan saling merema*s di depan dadanya.


"Lah... emang harus ketemu kan, kamu gak bisa nolak loh..."


"Nanti papa macem-macem, aku malu sama Koko..."


Tenry dengan langkah panjang-panjang mendekat mendengar percakapan di depan pintu kamar depan itu.


"Ling... kenapa lama..."


Holly gak bisa menutup pintu karena telapak tangan Tenry dengan sigap sudah menahan daun pintu lalu mendorong pelan tapi bertenaga daun pintu itu hingga Holly hanya bisa membiarkan.


"Loh? kenapa belum ganti baju?"


Holly gak menjawab dan segera meloloskan badan kecilnya di sela pintu dan badan Tenry berjalan menuju ruang makan. Dua pria dengan pemikiran berbeda mengikuti dari belakang.


"Kapan-kapan aja ya kita ke rumah, Ko..."


Holly berbicara sedikit takut saat melihat raut wajah Tenry yang gak ada senyumnya. Mereka berdua duduk berdampingan sekarang di sofa hitam. Hanie yang mau masuk kamar langsung dicegat Holly.


"Han... jangan masuk dulu..."


"Mau apa?"


"Duduk di sana..." Telunjuk Holly menunjuk kursi dekat mereka.


"Kenapa?"


Tenry bertanya pendek dengan mimik heran campur jengkel. Hanie hanya berdiri bersandar di ambang pintu kamarnya.


"Han..."

__ADS_1


Holly justru memanggil Hanie, wajahnya menahan tangis yang mau keluar... dia gak punya kemampuan menjelaskan keadaan keluarganya, gak mampu menjelaskan alasan yang membuat dia enggan Tenry bertemu orang tuannya, dia juga mulai merasakan kejengkelan Tenry dari sikapnya.


Hanie akhirnya duduk di kursi yang ditunjuk Holly sebelumnya.


"Lingling segan membawa kamu ketemu mama papa... Ten..."


"Alasannya?"


Tenry melihat Holly, masih emosi karena jengkel pada Holly yang dia pikir sengaja berlambat-lambat.


"Kamu udah tahu kan papa mama kayak gimana... itu yang membuat dia gak nyaman kamu bertemu mereka..."


Hanie mencoba menjabarkan perasaan adiknya.


Sekarang Tenry melihat airmata di wajah Holly yang tertunduk membuat Tenry sadar bahwa Holly sedang tertekan sebenarnya. Bibir Tenry mengatup tanda memaklumi Holly, pancaran di wajah berubah lembut.


"Sini..."


Tenry menarik tangan Holly untuk meniadakan jarak.


"Koko harus bertemu orang tua sebelum papa dan mama Koko datang ke rumah Lingling untuk acara lamaran... ini penting jadi sekarang Lingling siap-siap... sana..."


Suara lembut Tenry membuat Holly melihat Tenry sekarang.


"Nanti Hanie aja yang kasih tau mama papa... ya?"


Holly menatap dengan sorot mata memelas.


"Atau Hanie aja mewakili mama-papa..."


"Sayang, itu salah... Mama dan papa Lingling masih ada, meskipun Lingling gak tinggal sama orang tua tapi anak itu tanggung jawab orang tua, dan anak wajib menghormati orang tua... Koko juga gak mau bertindak salah... kalau gak minta ke orang tua Koko akan dianggap membawa lari anak orang..."


"Lingling malu, Ko... waktu Koko anterin Lingling ke rumah, papa ngomong gak enak..."


Tangan Tenry mengelus punggung Holly. Anak ini setiap kali gak mampu menahan emosinya suka menelungkup di dua kakinya, sebuah sikap tubuh yang akhirnya Tenry hapal menunjukkan ketidakberdayaan. Pasti nangis juga.


"Koko udah tahu siapa papa dan mama Lingling... lupa ya kalau Koko sering banget ke rumah di masa Koko SMP sampai SMA... Koko udah ngerti jadi gak usah merasa gak enak sama Koko... ya?"


Tenry berkata lembut, tangan sekarang menjangkau kepala Holly dan mengusap dengan sayang.


"Ayo berdiri dong... udah mau nikah... gak boleh banyak nangis lagi..."


Holly akhirnya berdiri dengan rela, kata nikah seperti magnet bagi otaknya, lagi trending di jaringan jutaan neuron atau sel-sel saraf miliknya mengirim jutaan impuls ke otaknya menjadi hasrat dan mimpinya belakangan ini.


Tenry merangkul lembut tubuh Holly. Hanie perlahan beranjak masuk kamar, merasa gak dibutuhkan lagi dan gak mau menjadi saksi adegan manis lagi, udah terlalu sering merasa diabaikan saat fokus Tenry berpusat pada adiknya.


Tangan Tenry membantu menghapus jejak airmata.


"Koko pengen punya istri yang kuat hatinya, punya kemauan yang kuat untuk melakukan sesuatu yang baik, berani menghadapi resiko setelah mengambil keputusan... jadi jangan menghindari keadaan yang menurut Lingling gak enak atau bahkan memalukan... termasuk hadapi resikonya... Lingling ngerti kan maksud Koko?"


"Iya... Lingling harus berani menghadapi mama papa meskipun itu gak enak?"

__ADS_1


"Iya... Bukan hanya mama papa, setiap kali ada masalah harus seperti itu... ya?"


"Iya..."


Tenry mengecup kepala Holly. Jadi ingat perkataan mama, kalau dia siap membimbing Holly maka silahkan menikah. Tekad dan kemauan untuk melakukan itu pada Holly menjadi begitu kuat sekarang, entah kenapa dia selalu dapat bersabar menghadapi tingkah gak dewasa seorang Holly, dan justru itu seperti jadi bahan bakar buat semangatnya untuk bertahan dalam cintanya dan semakin memperbesar dan memperdalam cintanya.


"Bahagia gak sama Koko selama ini?"


Mata mereka berdua sedang saling terpaut.


"Iya... Lingling bahagia... "


"Harusnya kalau bahagia sering tertawa bukan nangis loh..."


Tenry menjawil sayang pipi Holly. Holly menarik bibirnya merespon Tenry yang tersenyum...


"Nah kan... cantik kalau senyum..."


Dua sudut bibir yang terangkat dengan barisan gigi yang sedikit menyembul, mata yang menyipit, bagian atas hidung yang membentuk pola lipatan kecil, selalu menjadi bagian yang paling dia suka dari wajah imut ini. Kali ini Tenry mengecup dua mata itu, dorongan untuk melepas banyak sekali tindakan cinta selalu muncul di otaknya tiap mereka berdekatan.


"Sekarang siap-siap mandi ganti baju... gak pakai lama, ok?"


Masih dengan senyum kepala kecil itu mengangguk lalu melesat pergi ke kamarnya. Tenry sendiri menggedor kamar Hanie.


"Apa?"


"Ikut kita Han..."


"Kenapa? Gak percaya diri menghadap orangtuaku?"


Sengaja menggoda dengan mimik serius Hanie menatap sambil menyembunyikan senyum, ada kesenangan tersendiri jika dia berhasil membuat sahabatnya salah tingkah, terlebih saat ini dia menangkap raut wajah grogi sahabatnya.


"Bukaaan... biar Lingling lebih nyaman aja ada kamu..."


Tanpa babibu pintu tertutup lagi. Sebenarnya itu rencana Hanie juga tanpa Tenry minta. Tenry akan diam saja saat papanya ngomong segala hal termasuk semua permintaannya, tapi Hanie bisa bertindak sesuatu paling tidak biar papanya gak terlalu mempermalukan dirinya maupun Holly. Walaupun Tenry tahu, tapi ego sebagai keluarga mewajibkan dia untuk meminimalisir hal-hal yang demikian.


.


🦋


.


Guys, cerita ini sedang dalam tahap observasi, aku terlambat mengajukan kontrak karena keasyikan nulis dan melupakan bagian itu 😊


Dukung terus ya... boleh iklan2 ke temen2 hehehe... Mungkin cerita ini akan lebih panjang dari dua cerita terdahulu karena kondisi ini. Semoga lancar aja ide2nya krn berat juga nulis sambil mikir gimana biar cerita ini gak membosankan...


Terima kasih semuanya.... 🙏🙏😇😇😊😊👍👍


.


.

__ADS_1


__ADS_2