
"Hp Holly bunyi terus dari tadi... jawab aja dulu..."
Suara kalem Ci Cun menyapa telinganya, Holly yang gugup level memuncak sedikit tergugah untuk melepaskan sedikit ketegangan tidak ada tanda-tanda Ci Cun hendak menghakimi dirinya. Sejak tadi Holly menyangka Ci Cun akan bersikap keras padanya, nyatanya semua intonasi dalam kalimat yang diucapkan terdengar lembut tak ada intimidasi.
"Ehh... ii...iya..."
Holly mengambil ponsel di tas kecilnya, melihat sejenak lalu memilih membisukan suara dan memasukkan kembali benda putih itu. Gak usah dilihat sebenarnya dia tahu siapa yang menelpon berkali-kali.
"Kenapa gak dijawab?"
"Eh... gak... gak penting Ci..."
"Tenry ya?"
Ci Cun tahu dari mana?
Tak bisa menjawab tapi kepala mengangguk pelan.
"Tenry mau mampir di kost mungkin?"
Nada Ci Cun belum berubah. Holly mulai bertanya-tanya, apa Ci Cun gak marah kalau Tenry bertemu dirinya atau lebih tepatnya Ci Cun gak marah dia pacaran sama Tenry, kan waktu di rumah sakit Ci Cun ngomongnya...
"Eh... gak Ci... mmm eh... Koko udah pulang rumah..."
Holly menunduk, kapan ini selesai, kenapa Ci Cun bersikap baik kayak gini, hanya bisa membatin.
__ADS_1
"Oh gitu..."
Jedah yang lama, dan selama itu Holly menunduk memelintir jari-jari sendiri.
"Holly... Ci Cun ingin minta tolong..."
Holly mengangkat pandang dan segera menunduk saat bersirobok dengan mata mirip Kokonya. Pikiran sederhananya bisa langsung mencerna apa kalimat selanjutnya yang diawali dengan minta tolong itu. Matanya mulai memanas, kalau boleh bersuara dia akan minta Ci Cun berhenti saja dan dia sudah punya jawaban untuk itu. Sakit padahal belum mendengarkan inti minta tolong itu.
"Holly tahu kan Cici belum sembuh juga udah sekian lama, dan reziko untuk Cici melakukan lagi... seperti dulu masih... sangat besar... Ci Cun pengen Cici sembuh, makanya Ci Cun butuh Hanie..."
Ci Cun sedikit terbata menyelesaikan kalimat pendahuluannya. Hati wanita penyayang ini juga mulai sakit saat melihat beberapa tetesan airmata melayang jatuh dari wajah tertunduk di hadapannya.
"Koko... dia gak akan mengalah meskipun dia sayang Cicinya... Apa boleh Holly yang mengalah untuk Hanie dan Cici?"
Kalimat terakhir diucapkan dengan lembut tapi menjadi seperti palu hakim yang mengetok vonis langsung di hatinya. Airmata Holly langsung jatuh bercucuran, tapi kepalanya yang masih tertunduk otomatis mengangguk beberapa kali.
"Holly jangan salah paham ya... bukan karena Ci Cun gak setuju hubungan Holly dengan Koko, ini karena hanya Hanie yang bisa Ci Cun mintai tolong dengan keadaan Cici yang seperti sekarang... Ci Cun gak bisa memilih Holly karena keadaan itu... jika situasinya berbeda Ci Cun dengan senang hati menyetujui kalian, tapi ini gak mungkin... Holly mengerti hal ini kan?"
Holly mengangguk lagi... ya sangat mengerti, sejak awal dia mengerti, tapi dia mencoba menafikan itu karena dia gak bisa menghindari Tenry dan berpikir keadaan bisa berubah lebih memungkinkan untuk dia dan Tenry.
Ternyata sekarang, jelas sudah gak mungkin untuk melanjutkan ini, ada permintaan seorang ibu yang gak mungkin dia tolak, siapa yang bisa menolak permintaan dari ibu sang pacar jika disampaikan dengan cara seperti ini...
Kenapa masih terasa menyakitkan, kenapa hatinya tetap aja gak siap sekalipun otak warasnya sudah mengingatkan sejak lama tentang ini. Dan, tak bisa menahan lebih lama lagi Holly akhirnya terisak. Dia sayang Koko, sangat sayang, cinta yang ini yang menghadirkan bahagia di hidupnya yang sedih, harus benar-benar dilepaskan sekarang.
Ci Cun ikut meneteskan airmata, sebenarnya gak tega menyampaikan secara langsung pada gadis kecil ini, ini melewati batasnya sebenarnya. Tapi, dia telah memilih sekalipun dilematis dan ada resiko menghadapi kemarahan Tenry, dia gak melihat jalan lain lagi. Kadang orang tua harus mengambil keputusan berat jika menyangkut anak-anak dengan menyingkirkan soal rasa keadilan karena keadaan. Tenry akan meneriakkan itu pasti soal keputusan tidak adilnya.
__ADS_1
Ci Cun berpindah ke kursi di samping Holly saat melihat tangisan Holly semakin tak terbendung, dia sadar sudah menyakiti gadis ini, Ci Cun memeluk Holly dan akhirnya mereka menangis bersama.
"Terima kasih Holly mau mengerti... maafkan Ci Cun ya..."
Masih dalam rangkulan Ci Cun Holly teringat mamanya, seorang ibu yang tak punya sisi lembut dan selalu menyakiti dia dengan kata-kata tajam dan kasar, dan wanita yang sedang memeluknya adalah kebalikannya, seorang ibu yang ternyata juga menyakiti hatinya, memang bukan dengan bentakan tapi dengan kalimat lembut yang memintanya melepaskan cintanya untuk Tenry.
"Kita pulang sekarang?"
Holly mengangguk, tangisnya sudah berhenti, sekarang berganti rasa malu, sangat malu mengumbar perasaan sedihnya di depan Ci Cun. Dengan keadaan seperti itu membuat Holly terdiam sepanjang perjalanan. Dia terus menatap ke sebelah kiri, sesekali airmata masih turun dan dia membiarkan tak bergerak di jok depan itu.
Di depan kost Holly sesuai perintah mbak maps Ci Cun menghentikan mobil.
"Holly turun Ci Cun..."
Tubuh kecil Holly bergerak turun.
"Iya... ehh, Holly... Ci Cun gak tahu apa yang Holly akan lakukan nanti, tapi soal Tenry nanti Ci Cun saja yang kasih tahu..."
"Mmm... mungkin Ci Cun gak usah ngomong apapun, Holly takut Koko marah sama Ci Cun. Holly minta ijin untuk kasih Holly sedikit waktu memikirkan cara yang baik. Holly udah pernah menghindari Koko, tapi Koko bisa menemukan Holly. Holly janji gak akan merusak rencana Ci Cun, Holly janji akan pergi dari Koko..."
Meski dibarengi airmata Holly bisa menyelesaikan kalimat yang harus dia ucapkan, dan entah kenapa begitu lancarnya. Holly menutup pintu lalu masuk ke dalam rumah kostnya dengan menunduk, langkahnya gontai dan dengan menguatkan hati dia menaiki tangga, berjalan pelan kemudian, kamarnya jadi terasa sangat jauh sementara di hati emosinya kembali memuncak.
Pemandangan sedih itu membuat rasa menyesal datang berbarengan dengan rasa kasihan di hati Ci Cun, tapi keputusan sudah dibuat, dia hanya harus menyiapkan hati menghadapi sikap Tenry nanti, entah bagaimana reaksinya bila dia tahu sang mama telah masuk ke garis privacy anaknya.
.
__ADS_1
🦋
.