
Holly duduk di kursi penumpang belakang mobil 4WD double cabin milik keluarga Rommel. Ada banyak barang bawaan Nuella ternyata yang sudah disimpan di bak belakang sebelumnya, dan bawaan mereka yang lain ada di samping Holly. Rute jalan gak terlaku asing bagi Holly, pernah melewati jalan ini bersama Tenry belum lama saat mereka ke sebuah tempat wisata. Ternyata kampung Nuella ada di perbukitan di seberang danau yang terletak di ibukota kabupaten ini.
Mata muram Holly menikmati pemandangan di luar jendela selama perjalanan, berada dekat atau menjauh dari Koko ternyata sama aja, kegalauan hatinya tidak tertinggal di kota tapi menempel erat di pikiran, di jiwanya.
Holly tak bersuara sepanjang perjalanan dengan waktu tempu kurang lebih dua jam itu. Dia sedikit terhibur dengan keromantisan Nuella dan Rommel yang terbilang unik, saling sindir tapi kemudian saling rayu, berantem tapi kemudian saling pegang tangan, kadang Nuella bersikap manja disambut Rommel dengan tingkah posesif. Satu yang mengganggu sikap posesif Rommel pada Nuella mengingatkan dirinya pada Tenry, setiap kali dia hanya memejamkan mata tak ingin melihat adegan di depannya dan menahan dadanya yang seperti tertusuk.
"Ling ini kampungku... bersih, hijau, no polusi..."
Nuella menoleh ke belakang saat mulai memasuki kampungnya yang dia promosikan tadi.
"Tapi di sini dingin loh... kamu bawa jaket gak?"
"Ehh ada... ada..."
Tadi saat menyimpan baju di koper dia menyisipkan jaket milik Tenry yang udah jadi miliknya, si Koko gak mau ambil lagi saat Holly balikin waktu itu... buat Lingling, kalau kangen pengen Koko peluk pakai aja... begitu katanya, bahkan besoknya si Koko membawa beberapa kaos oblong miliknya buat Holly dengan alasan yang sama. Bukan kaos baru, kaos yang beberapa kali Holly lihat digunakan sang Koko, padahal sih waktu itu karena si Koko mengingat kaos oblong miliknya digunakan Holly ~Ada yang ingat Holly suka pake baju Hanie, salah satu kaos Hanie bekas milik Tenry~ Dan kali ini semua baju milik Tenry dibawa Holly, entah mungkin buat obat kangen nantinya.
Mobil parkir di sebuah rumah yang gak terlalu besar, tapi halamannya besar, sebuah rumah panggung khas daerah ini dengan bagian bawahnya dibuat permanen. Memang di desa rumahnya gak padat kayak di kota. Rommel membunyikan klakson dan pintu rumah kemudian terbuka. Seorang wanita mungkin mamanya Nuella muncul di sana.
Nuella mengajak Holly turun.
"Ma... ini Holly..."
Holly mengulurkan tangan karena mama Nuella sudah lebih dahulu melakukannya, saling senyum saat berjabat tangan.
"Mari nak Holly, tante senang nak Holly ke sini... jang taru kira ne (Jangan diperhatikan keadaan/harap memaklumi)..."
"Iya tante..."
Rommel juga menyapa mama Nuella dengan salam lalu segera sibuk menurunkan barang-barang. Nuella disusul Holly ikut membantu.
"Novian mana ma?"
Nuella teriak...
"Ada di kamar, biasa... main game... bentar mama panggilkan..."
Rommel menyentil pipi Nuella dengan mimik kalem tapi suara ada tekanan.
"Kebiasaan kalau di sini suka asal teriak..."
"Ini di kampung Kak Mel, kampungku sendiri... gak masalah aku teriak-teriak gak ada yang protes..."
Nuella memberengut dan Rommel langsung mengusap sayang pipi yang disentilnya.
"Masih sakit... biasanya dicium habis disentil..."
__ADS_1
"Maunya... centil banget..."
Holly tersenyum tipis mulai bisa memahami cara dua kekasih ini bermesraan. Tak berapa lama muncul dua orang seumuran Holly, adik-adik Nuella.
"Nov... bantuin turunin barang..."
Si cowok yang dimaksud Nuella berjalan mendekati mereka dengan mata menatap Holly.
"Mata Nov, mata... angkat barang dulu..."
Nuella memukul punggung cowok yang belum sempurna bertransformasi menjadi lelaki dewasa alias masih dominan tampakan remaja tanggung di tubuhnya.
"Hai Kak Mel..."
Si adik cewek menyapa ramah pada Rommel, dibalas senyum sama Rommel, pada Holly dia hanya melirik sekilas. Dua adik itu kemudian membantu menurunkan semua barang.
.
Sore hingga malam Holly membantu Nuella melayani pesanan orang-orang. Ternyata Nuella dan mamanya punya usaha jualan barang keperluan rumah tangga, biasanya Nuella belanja di kota dan mengirimkan lewat mobil langganan, kali ini pesanan Nuella bawa sendiri.
Saat hendak tidur di kamar atas rumah kayu ini, ponsel Holly berbunyi... bisa ditebak dari siapa. Padahal tadi sore sempat ngobrol lama, ini udah menghubungi lagi.
.
📱
"Belum tidur?"
"Iya... kan lagi ngomong sama Koko sekarang..."
Suara tawa merdu terdengar di seberang.
"Rasanya gimana ya... Lingling jauh..."
"Apa... rasanya apa?"
"Gak tahu... ada yang kurang aja..."
Holly merasa sesak mendengar hal itu. Ini baru permulaan, belum sungguhan pergi, baru sedikit menjauh, belum sepenuhnya menghilang... udah sakit seperti ini mendengarkan Tenry bicara seperti itu. Holly menghapus airmata di ujung mata. Holly bangkit dari tempat tidur lalu berjalan keluar saat melihat Nuella muncul di kamar, dia duduk di sebuah kursi, angin malam yang dingin lebih terasa di luar sini.
"Belum sampai sehari Koko..."
"Jadi nyesel ngijinin Lingling pergi... Koko ganti video call..."
Mode panggilan berganti, Tenry menatap sendu wajah mungil yang muncul di gawainya.
__ADS_1
"Untung aja signalnya bagus... kalau gak Koko makin kangen..."
Holly tertawa kecil menimpali si Koko dan menutupi gundah hatinya. Tenry yang melihat senyum kecil itu berkata kemudian...
"Pengen peluk Lingling jadinya..."
"Ini... Lingling lagi pakai jaket Koko... jadi merasa seperti itu..."
Tenry tersenyum, lama-lama menatap wajah Holly di gawainya secara close up seperti ini, dia menemukan gurat sedih di wajah itu... dia hafal ekspresi yang seperti itu, meskipun tadi ada senyum tapi itu tidak menutupi yang sebenarnya.
"Ling... udah beneran gak sakit giginya kan?"
"Ehh... gak... gak sakit..."
Tenry menatap tajam... tak mempercayai perkataan itu.
"Tau gak... sekarang Koko beneran nyesel Lingling pergi..."
"Kan kali ini Lingling hanya liburan aja..."
"Kali ini? Emang ada rencana mau pergi ke mana setelah ini?"
"Ehh? Maksudnya?"
Dada Holly berdebar, apa dia udah salah ngomong...
"Loh... kenapa balik nanya Koko..."
"Ehh... emang Lingling ngomong apa barusan?"
"Astaga nih anak... omongan sendiri bisa lupa... Setelah ini mau ke mana?"
"Ehh gak ke mana-mana Ko..."
"Ya udah... Lingling tidur aja..."
"Iya..."
Sebuah ciuman jarak jauh diberikan si Koko sebelum layar ponsel berubah jadi hitam. Holly merasa semakin dingin saat panggilan berakhir. Hingga detik ini dia belum menemukan cara bagaimana melepaskan diri dari ikatan cinta Tenry, itu terlalu kuat baik dari cara Tenry melihat dan memperlakukan dirinya maupun dari apa yang dia rasakan di hatinya untuk Tenry...
Sudut matanya kembali berair, entah besok seperti apa. Dia tak paham tapi cinta Tenry telah terpatri, meninggal begitu banyak jejak dalam perjalanan hidupnya lebih dari tujuh bulan terakhir, memberi hatinya banyak tulisan indah dalam banyak sekali moment, mencerahkan dan menghangatkan hatinya, membuat dia banyak tertawa dan tersenyum. Bagaimana bisa harus melupakan saja karena sebuah janji yang terlanjur terucap...
.
🦋
__ADS_1
.