
Sudah dua bulan menempati rumah baru, tetapi tetap aja sarapan pagi dan makan malam di rumah orang tua, kadang Tenry meminta makanan diantarkan ke rumah. Tenry melarang Holly menyiapkan sarapan atau makan malam, prinsip Tenry di rumah itu tempat mereka beristirahat. Ci Cun juga memahami sikap Tenry. Selain itu, mereka sedang menunggu kehamilan Holly, makanya Tenry membatasi kegiatan Holly. Soal kebersihan rumah masih ditangani ART dari rumah Ci Cun.
"Mbak Sien... makanan udah diantar ke rumah anak-anak?"
"Tadi Koko bilang mereka sarapan di sini, Cici Bey juga..."
"Oh begitu... Dede tidur di mana sekarang?"
"Di rumah Koko, Ci..."
"Minta Nita bangunin si Dede, nanti terlambat sekolah..."
"Tadi malam udah bawa seragam ke sana, Ci... mungkin mandi di sana juga..."
"Anak itu..."
"Pagi ma..."
Yang diomongin, si putri bungsu di keluarga ini masuk ke rumah sudah menggunakan seragam putih abu-abu tapi belum sisiran, langsung menempati tempat duduknya.
"De... ada apa dengan kamar kamu sih, kenapa tidurnya jadi pindah-pindah kayak gitu..."
"Malam hari di sini sepi kayak kuburan mama... di rumah Nso Ling atau Cici aku bisa tiktokan, bisa nonton Netfl*x bareng... untung aja ya... papa mikir bangun rumah buat Cici sama Koko di sini... jadi Dede gak kesepian..."
Ci Cun gak menanggapi lagi kelakuan anaknya sembari mengakui dalam hati suasana rumah memang berubah saat dua anaknya menikah dan tinggal terpisah.
"Biasanya Sansan udah bangun loh..."
Ivy mengambil ponselnya dan menghubungi Beyvie.
.
📱
"Cici... sarapan sini aja... si gemoy udah bangun kan..."
"Udah... bentar lagi ke sana, Sansan baru pup..."
.
"Koko belum bangun ya?"
"Udah kok ma... tadi baru masuk rumah habis jogging..."
Tak lama seluruh keluarga udah ngumpul di area meja makan. Ci Cun segera mengambil alih mengasuh cucu tersayang yang udah gak mau digendong sambil duduk.
"Nso kenapa?"
Ivy bertanya saat melihat beberapa kali Holly mengeringkan airmata di tepi matanya. Tenry di samping sigap mengusap-usap kepala istri. Pertanyaan Ivy juga menarik perhatian Ci Cun yang berkeliling meja makan sambil mengendong Sansan.
"Marahan ya Tenten?"
Giliran Beyvie yang ngomong.
"Gaak... dia lagi sedih aja..."
__ADS_1
Tenry mengecup pelipis Holly lalu tangan membantu mengusap airmata di pipi Holly.
"Udah ya... jangan sedih terus... ya..."
Tenry berbisik lembut mencoba menenangkan sang istri. Holly mengangguk pelan lalu mengambil gelas susu miliknya, meneguk sedikit lalu mulai menikmati sarapan pilihan suaminya.
"Kenapa Nso..."
"Gak papa De..."
Holly coba melempar senyum, gak ingin Ivy meneruskan kekepoannya.
"Koko tuh ya... suka gak peka sama perasaan Nso Lingling..."
"Apa... sembarangan nuduh..."
"Emang bener... Dede tahu lah Nso Lingling suka nangis diam-diam... pasti gara-gara Koko lah, siapa lagi... "
Cibiran Ivy dibalas delikan tajam Tenry.
"Dede... jangan ikut campur ahh..."
Mama menyela. Karena udah cape mengendong cucu yang udah semakin berat mama menyodorkan bayi itu ke babysitternya melihat juga Yongky dan Beyvie masih menikmati sarapan mereka. Mama duduk di kursinya sambil memperhatikan menantu perempuannya dan anaknya bergantian.
"Suami-istri harus bicara baik-baik biar gak berlarut-larut masalahnya..."
Ci Cun berbicara akhirnya, meskipun banyak kali dia membiarkan anaknya menangani masalah mereka, tapi jika sedang sarapan bersama di rumah seperti pagi ini, kadang Ci Cun mengambil kesempatan memberikan nasihat.
"Kita gak ada masalah kok ma... hanya..."
Tenry gak meneruskan tapi terlanjur ditatap Ci Cun yang nampaknya menunggu penjelasan.
Tenry merangkul bahu istrinya sambil memberikan beberapa ciuman. Harapan istrinya dua minggu ini langsung luruh saat hendak mandi menemukan bercak darah di pantiesnya pertanda periode haidnya datang.
"Oh gitu... sabar aja ya Ling..."
Mama tersenyum simpatik dibalas anggukan kepala menantunya.
"Udah gak KB lagi dong?"
Beyvie nyeletuk kalem tapi membuat Ci Cun sedikit kaget.
"Oh?? Sebelum ini Lingling pakai KB?"
"Iya ma... maunya si Tenten tuh..."
Beyvie membalas tatapan marah Tenry dengan cibiran.
"Iya sih... kan Lingling masih kuliah..."
Tenry mengucapkan kalimat pembelaannya.
"Mama baru tahu Tenry... kalau pertimbangan karena masih kuliah, kenapa udah kamu nikahin? Mama hamil Cici masih semester tiga, gak masalah buat mama, mama bisa selesaiin kuliah..."
"Ish Koko kebelet nikah sih..."
__ADS_1
Ivy juga ikut nimbrung percakapan itu.
"De... cepetan kamu, belum sisiran belum bedakan... entar telat lagi..."
"Iya..."
Ekspresi mama serius sekarang, Ivy langsung beranjak menuju kamarnya, sementara Tenry jadi sedikit grogi, pasti dapat ceramah pagi-pagi dari sang mama.
"Jangan menggunakan KB lagi sebelum punya anak..."
Mama sudah memulai, semacam sebuah perintah sekarang dibarengi rasa kesal pada anaknya, pantas menantunya gak hamil-hamil.
"Ini udah dua bulan Lingling gak minum pil..."
Tenry menjelaskan dengan suara pelan, gak berkutik saat menatap mamanya.
"Gak ada alasan anak jadi penghalang buat kalian... jangan ikut kebiasaan pria dan wanita modern menikah tapi memilih tidak memiliki anak... apa namanya childfree..."
"Mama tahu issue itu?"
Beyvie menimpali.
"Tahu lah... mama gak buta informasi juga..."
"Sekarang mulai banyak pasutri yang punya konsep pernikahan seperti itu, sikap tentang apakah anak-anak merupakan bagian integral dari suatu hubungan mulai berubah. Di sebuah negara maju ada penelitian hanya 41 persen yang mengatakan anak-anak sangat penting untuk pernikahan yang bahagia. Macam-macam sih alasannya... sebagian karena tidak memiliki dorongan kuat untuk menjadi orang tua, ada karena batasan keuangan, ada juga yang gak mau ribet soal pengasuhan anak, dan merasa gak punya waktu mengasuh anak juga. Beberapa memilih untuk tak punya anak karena masalah lingkungan, ada juga karena politik dan kelebihan populasi di bumi..."
Pak dokter Yongky yang sejak tadi sarapan dalam diam, tiba-tiba menyampaikan apa yang dia tahu soal childfree.
Pak dokter masih lanjut dengan penjelasannya...
"Pasangan-pasangan lain juga beralasan bahwa mereka mengalami masa kecil yang penuh kekerasan dan terlalu terluka untuk menjadi orangtua. Gak sedikit pasangan juga menolak karena alasan karir. Di negara kita sih... pilihan untuk childfree sendiri masih tabu dan berbagai anggapan buruk bagi pasangan yang memilih tak punya anak masih mendominasi..."
"Jangan sampai kalian seperti itu Tenry..."
"Gak kok ma... udah rencana mau punya anak, lagi usaha... buktinya Lingling udah gak minum pil KBnya... makanya jadi sedih karena mikir udah hamil ternyata belum dikasih..."
"Baguslah... rumah tanpa anak itu seperti apa ya... kalian hanya pindah beberapa meter aja dari sini mama udah merasa sepi setiap malam, tambah lagi si Dede udah lebih betah dengan kalian..."
"Kita udah punya kehidupan sendiri kan ma..."
Beyvie berkata kalem, memahami perasaan sang mama sekarang.
"Iya mama ngerti itu... makanya jangan hanya punya satu anak... rencanakan berapa anak... anak-anak juga membentuk kalian menjadi semakin dewasa dan semakin kuat, pikiran jadi terbuka, rasa tanggung jawab sama keluarga lebih kuat lagi, jadi gak egois karena ada anak-anak yang harus didahulukan..."
Selesai mengatakan itu, mama Cun bangkit dari kursinya, membawa emosinya sebagai ibu yang gak ingin jauh dari anak-anak, gak ingin melepas anak-anaknya, tapi kondisi telah seperti itu sekarang. Beruntung anak-anaknya hanya tinggal beberapa meter dari rumah ini, masih bisa melihat mereka berkumpul sesekali di rumah ini... sejauh ini dia merasakan kebahagiaan tak jauh darinya.
.
🦋
.
Hi... mana komennya kk semua hehe...
Makasih udah setia di sini....
__ADS_1
Salam sayanggggg 👋....
.