
Dalam sebuan hubungan ada emosi lain selain cinta yang harus dikomunikasikan dengan cara yang konstruktif. Kemarahan misalnya, ini emosi yang gak mungkin dihindari tapi gak harus berarti negatif.
Tenry sedang marah, tiba-tiba istri imutnya bertingkah aneh, melarang dia berkunjung dan sejak semalam mematikan ponselnya sehingga gak bisa dihubungi.
Pagi-pagi, Tenry melajukan mobilnya menuju lokasi KKT istri. Sejak menikah tentu ada pertengkaran tapi kali ini sedang pisah rumah. Tenry merasa sebagai kepala rumah tangga, maka dia gak ingin membuat masalah ini berlarut-larut. Meski sedang marah tapi dia mengkhawatirkan istri, tahu karakter istri dalam situasi seperti ini pasti pelampiasannya adalah menangis dan sedih dan itu akan berlanjut sampai masalah itu selesai.
Istri ada di rumah orang lain, kurang baik jika keadaan ini tidak diselesaikan.
Jam tujuh lewat Tenry tiba di desa tujuan, kali ini memarkir mobil agak jauh karena di depan balai desa ada banyak motor terparkir, di rumah tempat istri tinggal ada beberapa motor yang parkir menghalangi jalan masuk sehingga mobil Tenry tidak bisa parkir di dalam.
Saat turun dari mobil seseorang berlari datang mendekati.
"Hi Koko... wah senang deh kita ketemu lagi..."
Senyum cantik jelita cerah ceria ditunjukkan gadis itu. Sebuah sambutan akrab tapi di mata Tenry sangat berlebihan, dia gak suka. Tenry gak membalas senyum itu, malah sikap juteknya langsung muncul.
"Maaf panggil saya Tenry, bukan Koko..."
"Tapi Holly memanggilmu Koko... itu panggilanmu kan?"
"Holly istri saya, dia punya hak memanggil saya dengan nama apa saja sesuai keinginannya, dan anda bukan siapa-siapa, saya gak kenal juga..."
"Tapi kita kenalan minggu lalu loh, aku Selly... masa lupa... aku temannya Holly..."
"Oh... saya gak perhatikan..."
Tenry menjawab ketus dan memilih segera meninggalkan gadis yang mengaku teman istrinya tanpa berkata apapun lagi. Tenry segera bisa mengetahui seperti apa gadis itu, tipe-tipe yang mudah terbaca gelagatnya, Tenry merasa gak perlu bersikap ramah. Tenry segera menyeberang jalan.
Di belakangnya Selly menggerutu kesal karena telah berharap bisa ngobrol dengan Tenry tapi malah gak diacuhkan dan kalimat Tenry membuat dia kesal, melarang dia memanggil dengan sebutan Koko...
"Apa sih arti sebuah nama... Koko kek, Tenry kek apa bedanya... sok banget ternyata..."
Tenry hendak memasuki halaman rumah tempat istri menginap, seseorang dari arah balai desa menyapa.
"Hello... nyari Holly ya?"
Tenry menoleh, ini baru sapaan wajar, Tenry memberi senyum tipis.
"Iya... Hollynya di mana?"
"Ada di dalam balai lagi minum pagi... kita baru selesai jalan sehat bersama ibu tim penggerak PKK. Saya Rivanna teman Holly, mungkin lupa..."
"Oh iya... boleh bertemu Holly..."
"Oh boleh kok... masa suaminya gak boleh bertemu... ikut masuk aja? Di dalam ada bapak-bapak juga..."
"Saya sungkan, bukan warga desa..."
"Oh ok... tunggu di teras rumah aja, nanti saya yang panggil Holly..."
"Terima kasih..."
Tenry mengangguk memberi penghargaannya pada bantuan Rivanna. Dengan orang yang berlaku baik maka kita wajib berlaku baik, tapi dengan orang yang bersikap sok dekat dan akrab padahal belum pernah bertegur sapa sebelumnya, itu pertanda ada niat gak baik... abaikan saja. Begitu cara Tenry memberlakukan keramahtamahan versi dirinya.
Tenry berjalan pelan ke teras dan berdiri menunggu di sana. Gak berapa lama Holly muncul, berjalan mendekat dengan wajah mix semua emosi... marah tapi juga pengen segera baikan, jengkel karena udah dituduh suami yang gak-gak tapi pengen diusap-usap tangan suami di punggungnya sampai hilang jengkelnya, sedih karena sejak semalam pengen menelpon tapi gengsi... tapi di antara semua emosinya rasa cintalah yang begitu besar, rasa kangenlah yang mendominasi hatinya.
__ADS_1
Dengan airmata yang sudah membanjiri pipinya Holly mendekat. Semua perasaan marah Tenry luruh saat melihat tampilan istrinya, wajah sembab pertanda semalaman dia menangis. Rasa cintalah yang mencuat dari hatinya sekarang... ahh istri imutnya, jadi kangen untuk memberi sejuta kemanjaan.
Tenry gak peduli ada beberapa orang yang memperhatikan mereka, Tenry maju menggapai istrinya, memeluk tubuh istrinya dengan mengangkat tubuh kecil itu lalu memberi kecupan sayang di dahi dan sekilas di bibir Holly.
"Koko... Lingling sebel sama Koko tapi Lingling gak bisa kesel terus, Lingling kangen..."
Tenry menurunkan tubuh Holly, keriuhan motor-motor membuat dia menoleh ke arah balai desa, orang-orang mulai meninggalkan balai desa, di depan sini jadi ramai.
"Kita bicara di dalam aja ya sayang..."
Tenry meraih tubuh Holly dalam rangkulannya, lalu beranjak masuk ke dalam rumah.
"Ibu asuh kalian mana?"
"Masih di balai desa Ko... hiks..."
"Udah dong... berhenti nangis ya... tambah bengkak matanya..."
Tenry mengusap sayang punggung sang istri saat mereka duduk berdua di sofa ruang depan.
"Pasti bilangnya sakit gigi kan..."
Tenry menggoda sang istri, hafal alasan istri kalau tangisannya gak berhenti.
"Kokooo..."
"Muach... muach..."
Ciuman di pipi disegerakan.
Dengan lembut Tenry mengeringkan airmata istri, lalu mengecup lagi... kondisi memungkinkan buat mereka berbaikan, semua orang rumah gak ada di sini.
"Kalau kangen, kenapa kemaren Lingling melarang Koko datang ke sini?"
Lembut dan sayang Tenry berkata pada istri, jadi tahu ada masalah lain bukan sekedar melarang dia datang. Tenry tertawa dalam hati saat menyadari sempat bertingkah tidak dewasa sebagai suami saat menelpon kemarin.
"Lingling cerita tapi jangan di sini, kita keluar sebentar... yuk Ko..."
Holly berbisik saat menangkap bayangan seseorang. Holly menarik pelan tangan Tenry untuk mengikutinya keluar rumah. Mereka berjalan menuju mobil besar hitam, salah satu dari milik Tenry.
"Lingling gak pamit dulu?"
"Bebas kok... hari ini udah gak ada kegiatan, anak-anak lain malah mau ke kios bunda setelah ini..."
"Kalau gitu kita bisa pulang rumah, nanti malam Koko antarkan ke sini..."
"Gak bisa Ko... ijin pulang hanya sekali, udah Lingling kasih tau loh..."
"Oke... sekarang mau ke mana dong..."
"Ke kecamatan aja, mau ke Indimart..."
"Oke... oke..."
Di tengah jalan... Tenry gak sabar ingin tahu apa yang menjadi masalah istri.
__ADS_1
"Baby... Mau cerita apa sampai harus menyingkir seperti ini? Sesuatu yang serius ya?"
"Mmm berhenti dulu Ko... parkir aja dulu..."
Tenry mengikuti permintaan istri, mencari jalan yang lurus agar gak menghalangi jalan dan menyusahkan bagi kendaraan yang lewat.
"Nah... ada apa sebenarnya?"
"Mmm... Lingling tuh gak suka Koko ke sini, karena Lingling curiga sama Selly, kayak yang suka sama Koko gitu... nanyain Koko terus, bilang Lingling gak dewasalah terlalu manja dan nyusahin suami, bilang juga Koko bakal ninggalin Lingling karena itu... Lingling gak mau Koko ketemu dia... terus Koko malah nuduh Lingling mau ketemuan sama kak Brill... Lingling sakit hati tau gakkk, kesel sama Koko..."
Holly bicara melepaskan beban emosional yang sudah merusak moodnya lebih kurang dua belas jam ini. Pasangan gak harus saling mengomel atau saling melempar perkataan menyakitkan dalam pertengkaran... cukup mengutarakan dengan jujur atau terbuka.
Tenry meraih kepala Holly masuk dalam dekapannya, akhirnya memaklumi sikap istri.
"Koko minta maaf sayang... ya?"
"Iya..."
Dua sejoli itu saling memeluk erat, lalu...
"Kenapa hpnya gak aktif dong?"
"Ya karena marah sama Koko... gak mau ngomong sama Koko... tapi malah Lingling tambah sedih..."
"Hehe... lain kali jangan matiin hp, Koko gak suka... semarah-marahnya jangan mutusin komunikasi... ingat itu ya, Koko suka trauma dulu kalau ada masalah Lingling suka menghilang..."
"Ihh itu kan belum nikah..."
"Iya... Koko tegasin apa yang Koko gak suka... kalau kita marahan tetap harus ngomong... ya?"
"Iya Ko..."
Tangan suami mengeringkan semua sisa airmata di pipi dengan tissue.
"Tapi sebenarnya Lingling gak usaha terpengaruh, cuekin aja orang itu..."
"Tapi omongannya nyakitin, sikapnya juga sekarang suka sindir-sindir Lingling..."
"Abaikan aja... yang penting kita berdua, Koko sama Lingling saling tau kan... cinta kita kuat sayang... orang-orang seperti itu gak ada tempat di hidup kita... ya?"
"Iya Ko..."
"Kita jalan lagi ya?"
"Iya Ko..."
"Imuut banget sih..."
.
🦋
.
Segini aja dulu ya... otakku gak bisa mikir lebih dari ini... maafkan kerecehan yang tak terhindarkan ini 🙄🙏
__ADS_1
.