Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 78. Ternyata Mau?


__ADS_3

Tenry mulai membangun angan, dengan cepat pikirannya mulai merangkai semua hal yang terjadi dan juga menyimpulkan sesuatu harus dia lakukan agar Holly bisa tetap bersama dengannya, gak akan terlepas lagi.


Tapi Holly masih sukar untuk diajak bicara soal itu. Pola pikirnya masih mengikuti keadaan, tindakannya masih berdasarkan apa yang dia hadapi. Dia bisa saja melepaskan lagi hubungan mereka tanpa berpikir dua kali jika dia terdesak lagi. Holly belum tahu apa yang namanya berkomitmen dalam suatu hubungan, termasuk berjuang untuk sebuah hubungan seperti ini.


Gadisnya masih cewek belasan yang masih punya jiwa kekanakan, melewati tahap transisi yang diwarnai dengan memikul beratnya kewajiban serta perlakuan yang kurang baik di rumah membuat jiwanya lemah, semangatnya gampang runtuh. Hal yang begitu dia impi-impikan hanyalah kuliah, mungkin menikah sekarang bukan salah satu mimpi seorang anak, ya Holly baru delapan belas, bahkan negara masih mengkategorikannya sebagai seorang anak.


Tenry bingung harus apa...


"Beneran mau di sini aja, gak mau kembali ke kost-an?"


"Iya... di sini aja, kangen tinggal bareng Hanie..."


"Gitu ya... gak kangen Koko?"


"Kangen... selama ini paling kangen sama Koko..."


Tenry menjepit hidung bangir itu...


"Kalau kangen Koko suka ngapain..."


"Mmm di rumah tempat Lingling tinggal ada teras, dari situ bisa lihat seluruh kota ini... Lingling suka duduk-duduk di situ sambil nangis... hehehe..."


"Berarti nangis terus dong selama ini..."


"Iya... hehe, Kadang Lingling suka marahin diri sendiri, suka kesal karena gampang nangis..."


Tenry menarik tubuh mungil itu naik kepangkuannya lalu membungkus tubuh yang dirindukan itu dalam dekapannya. Selama beberapa jam duduk berdua di sofa hitam dan saling cerita, rasanya waktu gak akan pernah cukup untuk membayar kebersamaan yang hilang selama ini.


"Ling..."


"Mmm..."


Suara lirih Holly yang sedang tenggelam dalam pelukan hangat dibalas Tenry dengan mencubit pipi tirus Holly...


"Udah tahu Koko gak suka sama jawaban seperti itu..."


"Maaf... lupa, kan sembilan bulan gak ada Koko..."


Tenry mengeratkan pelukannya sambil menggoyangkan lembut tubuh Holly dengan sebuah kecupan ringan di kepala.

__ADS_1


"Kita harus sama-sama terus mulai sekarang ya... Koko gak bisa gak ada Lingling, gak semangat, malas ngapa-ngapain, gak hepi..."


"Lingling juga kok..."


"Nanti... kalau ada masalah... jangan buru-buru ambil keputusan apalagi lari atau sembunyi... perlu juga Lingling mikir... sebaiknya gimana ya biar masalahnya selesai... kalau Lingling gak tau gimana mau selesaikan masalah, perlu denger pendapat orang lain... biar gak berlarut-larut. Coba Lingling pikir... sembilan bulan loh kita berdua sedih, sakit hati... padahal gak perlu selama itu sebenernya... Kalau Koko tahu lebih awal Lingling di mana udah Koko jemput terus kita bicara dan selesai..."


Tenry mencoba dengan perlahan dan lembut mengajak gadisnya berpikir secara dewasa. Tak ada suara sanggahan dari Holly yang masih diam tenang di pelukannya, wajahnya bersembunyi di dada Tenry, Tenry tak ingin mengusik ketenangan itu, tapi dia perlu tahu respon Holly.


"Lingling ngerti maksud Koko kan?"


"Iya... maaf Lingling salah... abis Lingling panik denger Ci Cun sakit..."


Holly menjawab pelan, sedikitnya dia mulai paham soal konsekuensi dari sebuah tindakan. Sembilan bulan jauh dari Tenry membuat dia jadi tahu tentang penyesalan. Di titik di mana dia berpikir Tenry tidak bisa dia gapai lagi penyesalan semakin terasa dan baru dia menyadari bahwa tindakan yang dia lakukan bisa berdampak buruk dalam hidupnya.


"Kan gak tahu kenapa mama sakit?"


"Iya sih... Lingling bodoh ya..."


"Gak... hanya gak mikir lebih jauh... terlalu cepat menyimpulkan sendiri... jadinya bukan hanya Lingling yang sedih kan... Koko, Hanie juga sedih, takut Lingling hidupnya gak baik kayak dulu, takut Lingling sakit..."


"Lingling baik-baik aja kok selama ini, keluarga kak Mel baik... hehehe jadi kangen anak-anak deh..."


"Maaf ya Koko..."


"Gak perlu minta maaf... Koko hanya berharap ke depan Lingling harus berpikir apa efeknya untuk semua hal yang Lingling putuskan, merugikan atau tidak... yaa?"


"Iya..."


"Eh... bentar lagi Lingling sembilan belas kan..."


"Masih lama... tiga bulan lagi... kenapa Ko?"


"Iya... bentar lagi udah makin dewasa lah... Koko gak sabar nunggu Lingling sembilan belas..."


"Mau bikin acara lagi?"


"Iya... tapi bukan acara ulang tahun..."


"Acara apa dong?"

__ADS_1


"Mau ngelamar Lingling aja, biar gak lari lagi dari Koko..."


"Kenapa nunggu sembilan belas?"


"Di usia itu... Lingling gak perlu ijin orang tua kalau mau nikah..."


Tenry berhenti sejenak, merenggangkan pelukan lalu menatap penasaran...


"Emang kalau Koko lamar sekarang mau?"


Wajah Holly berbinar lengkap dengan semburat merah, raut wajah yang terlalu manis untuk dilewatkan tapi rasa penasaran membuat keinginannya melakukan sesuatu dia pending sejenak.


"Iya... mau..."


"Serius mau??"


"Iya..."


Jawaban malu-malu semakin melipatgandakan rasa gemas di dada Tenry, tapi...


"Tadi kenapa Koko didorong sampai jatuh saat bilang nikah..."


"Tadi kan baru ketemu... kaget juga diajak nikah... sekarang Lingling hepi, gak mau juga jauh dari Koko..."


Sesederhana itu memutuskan sesuatu yang penting dalam hidupnya? Tenry tertawa... di satu sisi dia akhirnya gak sabar menunggu bulan Desember, tapi di sisi lain logikanya mengingatkan, mungkin besok pikiran gadis ini sudah berbeda lagi...


.


ðŸĶ‹


.


Hanya segitu yg singgah di otakku... ðŸĪŠðŸ˜’


Terima kasih untuk atensi kakak semua...


Blessings 😇


.

__ADS_1


.


__ADS_2