
Tenry bersiul menaiki anak tangga menuju ruang atas. Ini malam minggu, belum pernah dia mengajak Holly malam mingguan karena selama ini setiap kali punya waktu dia pastikan bertemu Holly dan itu lebih banyak di pagi hari, karena sekarang aktivitasnya begitu banyak hingga sampai malam hari. Setelah Marina di buka tambah malam dia pulang ke rumah karena Marina lagi ramai. Hari ini sebetulnya dia pun harus ke tempat itu, dari tadi pagi belum ke sana karena kesibukan di tempat lain, tapi dia memutuskan mengajak Holly makan malam dulu baru mampir di Marina.
Di depan kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Beyvie Tenry berhenti, ada keributan di kamar kakaknya...
"Cici jangan gini dong, sayang barang-barangnya Cici sendiri yang rusak... ma... papa... Koko... tolong... ihhhh Cici kok kalap gini sih..."
Ivy berusaha menahan tubuh kakaknya yang sedang berusaha meraih apapun dengan tangannya, sudah banyak barang berserakan di lantai, bau parfum sudah menguar mememenuhi ruangan akibat salah satu botol parfum mahal itu pecah dibanting sang kakak.
"Aduuuh.... Kokoooo... bantuin..."
Ivy teriak saat melihat Tenry. Tenry segera masuk dan meraih kakaknya yang sedang menangis, wajah penuh emosi dan sangat jelas luapan amarah bercampur sakit hati di sana.
"Kenapa... De?"
"Tenangin dulu... aduuuh Cici ngamuk kayak banteng... nih tangan aku merah-merah..."
Tenry memeluk paksa tubuh Beyvie dan mengunci tubuh itu dengan kedua tangan kekarnya, akhirnya Beyvie berhenti berontak dan menangis dengan raungan teriakannya menggema di kamar itu. Tenry membiarkan sambil coba menenangkan dengan usapan tangannya di kepala Beyvie, lama posisi itu. Ivy duduk bagian tepi tempat tidur sambil memijit tangannya yang nampaknya sakit saat mencoba menenangkan Beyvie. Kamar nuansa putih-hijau pastel itu seperti baru kena badai lokal amukan putri tertua di rumah ini, berantakan. Tenry kemudian membawa Cicinya ke tempat tidur, tubuh lemas Beyvie menurut saja apa yang dilakukan adiknya, masih nangis sesenggukan membuat Tenry iba dan jadi penasaran kenapa Cicinya kayak gini.
"Aku panggil mbak aja ya... suruh beresin ini..."
"Nanti dulu, De... biar Cici nyaman dulu..."
Tenry masih duduk di belakang tubuh yang meringkuk di tempat tidur, tangannya masih memegang tubuh Beyvie, menepuk lengan lalu berganti mengusap2 lengan putih itu. Sedu sedan masih terdengar.
Tiba-tiba Beyvie bangkit...
"Aku mau ambil mobil aku..."
"Ini... ini karena Jim Cici kayak gini? Ya... ambil gih mobilnya sebelum mama tambah marah..."
Tenry spontan menahan tangan Beyvie, takut dia ngambil apa lagi untuk dihancurin.
"Aku mau ambil semua yang udah aku kasih..."
Suara Beyvie yang serak sisa tangisan ditambah geraman karena marah membuat Tenry melipat dahi.
"Ada apa sih... Ci?"
"Jim brengsek! Bajingan! Pengkhianat, aku bunuh mereka berdua udah nipu aku!!!"
"Ehhhh.... duduk, jangan ke mana-mana dengan emosi gitu, bisa-bisa Cici yang celaka! Mau bunuh orang lagi, entar di penjara seumur hidup..."
Tenry sigap menahan Cicinya yang hampir melompat dari tempat tidur dikuasai emosi yang sudah naik lagi, amarah membuat mukanya begitu merah.
"Lepas Ten! Mereka harus rasakan gimana sakitnya aku!!! Aku akan hajar mereka hancurin mereka!!! bangsaaat kamu Jim!"
"Cici..."
Sekarang Tenry dan Ivy memeluk Cici mereka bersamaan hingga akhirnya Beyvie duduk lagi. Airmata mengalir tapi tidak ada suara tangisan yang keluar, wajah yang begitu terluka akhirnya terdiam di tengah adik-adiknya.
"Cici... jangan pergi dengan tampang lemah hancur kayak gini... Aku gak mau Cici kayak gini depan mereka..."
__ADS_1
Ivy berujar sambil ikut nangis, dia sedih juga dan udah lama nahan kemarahannya sendiri pada Jim. Dia sengaja berakrab-akrab dengan Presya sejak tahu Jim itu kakaknya Presya, sempat shock awalnya waktu ke rumah Presya lihat cowok yang fotonya begitu besar terpasang di kamar Cicinya punya pacar dan nampaknya tinggal bersama di rumah Presya.
Terinspirasi dari film yang dia tonton, awalnya sih buat seru-seruan aja pengen bongkar kelakuan si Jim, dia sengaja sering jalan dengan Presya sering main ke rumah sambil memata-matai, bila pas ketemu pasangan itu suka dia fotoin diam-diam.
Dan tadi pas lihat Cicinya kesel karena Jim batalin datang ke rumah, marah-marah karena cafe dipending soft openingnya sama Ci Cun. Ivy langsung memperlihatkan semua bukti yang ada di ponsel lama miliknya, juga beberapa informasi yang dia tahu tentang pasangan itu.
"Anterin aku ke tempat Jim sekarang, De..."
"Iya, iya... kan aneh tuh Cici pacaran udah lama gak tahu rumah pacarnya... nanti kita ke sana, tapi jangan emosi kayak gini, entar rumah orang Cici hancurin, malah digelandang ke kantor polisi... tenang dulu ya?"
"Gimana aku bisa tenang tahu dua manusia sialan itu udah morotin aku?"
"Harus tenang Ci, supaya bisa ambil semua yang Cici udah kasih, aku juga gak rela mereka hidup enak Cici yang ngasih uangnya..."
"Maksud kalian apa sih?"
Tenry bukannya tidak paham hanya dia ingin tahu semua dengan benar gak terpotong-potong. Pelukan di tubuh Beyvie terlepas karena tubuh itu udah mulai sedikit tenang, emosinya mulai turun dan nampaknya derajat kewarasan mulai bergeser ke titik normal.
"Jadi Ko... Jim itu sebenernya udah punya pacar saat jadian sama Cici, pacarnya dikenalin sebagai adik tuh, salah satu langganan Cici sih... suka beli ball-ballan baju bekas import... mereka aku liat sih tinggal serumah... nah Cici percaya aja dia ngaku-ngaku adiknya Jim, suka ngasih diskon suka ngambil ball-ballan banyak tapi bayarnya nyicil... terus si Jim minta ini-itu... biasa... Cici suka boros kan kalau belanjain pacar..."
Beyvie ngamuk lagi tapi sekarang hanya memukul-mukul dadanya sendiri. Tenry segera meraih dua tangan itu.
"Kamu tahu dari mana De?"
"Aku kan temennya Presya adik si Jim, tapi mereka gak tahu aku siapa... jadi aku bebas fotoin mereka. Tadi aku kasih liat Cici fotonya makanya Cici ngamuk..."
Tenry geram sama Beyvie karena suka naif soal pacar, juga geram sama si Jim itu.
"Apa aja yang kamu kasih Ci? Bener mau minta lagi? Relain aja sih kalau aku, barang doang... tapi putusin cowok brengsek itu..."
"Gimana caranya? Udah biarin aja, mobil aja yang diminta, yang lain buat apa?"
"Nanti terserah mo dibuang kek, mo ngasih karyawan mama kek, yang penting jangan biarin mereka nikmatin sesuatu yang dari Cici..."
"Dede, jangan aneh deh..."
Tenry menatap tajam ke arah Ivy.
"Banyak tau gak Ko... Cici pelit ke aku, ke mereka wuiiih... suka ngirim makanan, suka beliin baju sama sepatu branded you know... beliin hp dua puluh enam juta dua biji Ko... Koko beliin aku yang sepuluh jutaan aja kan..."
"Cici... astaga, sampe segitunya kamu... baru pacaran juga... pantas aja mama suka senewen sama kamu... Putusin aja Ci... ihh marah juga aku kalau kayak gini sih... Jangan-jangan uang cafe dimark up sama dia lagi..."
Beyvie membuang napas, mungkin aja karena dia yang atur semua kan...
"Masa sih ceweknya kayak ngebiarin Jim pacaran denganku, Ten..."
Beyvie masih gak percaya ngalamin ini lagi, hanya dimanfaatin untuk senang-senang, ongkosin hedonnya sang pacar. Dan ini parah, ada ceweknya ikutan.
"Sekarang orang mampu melakukan apa aja demi menikmati hidup... mau eksis ngikutin trend kan mahal... pengen tapi gak punya uang ya jalannya nipu orang... memanfaatkan hubungan pacaran untuk mendapatkan kehidupan mewah. Ini kejadian di mana-mana Ci, udah banyak yang kayak gitu. Termasuk pacarnya si Jim, kamu bisa jadi ATM mereka gak perlu susah-susah uang ngalir, makanya dia iyain aja Jim pacaran sama kamu, dia turut menikmati kan..."
"Iya Cici yang nyari duit mereka yang habisin... ihhh."
__ADS_1
Ivy menyambung gemes.
"Cici kok gak aware soal ini, udah pernah ngalamin loh..."
Tenry menatap iba, Cicinya terlihat sangat terluka, bener kata mama dia terlalu bodoh untuk urusan cinta, gampang percaya sama cowok, gampang pula dibodohi...
"Tenang aja dulu malam ini, dia belum tahu kan, kalau kamu udah tahu kelakuannya?"
"Belum sih... aku telpon dia gak angkat, dia lagi marah-marah sih karena mama sekarang ikut campur soal cafe, dia katanya tersinggung merasa gak dipercaya padahal dia yang urus dari awal... ngancem aku juga sih tadi, dia benar-benar gak suka mama intervensi, pengen kelola sendiri, mama tahu apa katanya..."
"Ya udah... aku yakin kamu bisa selesaiin ini... kamu pintar kok, kamu tahu gimana biar gak rugi... cuma urusan cowok aja kamu rada-rada bloon... hehehe... Jangan kompromi soal Jim, jangan terima alasannya, dia memang niat nipu kamu dari awal... masih banyak cowok yang lebih baik, dunia gak akan kiamat cuma karena Jim..."
"Aku yang akan buat dunia miliknya kiamat..."
Beyvie menjawab yakin mungkin sudah punya rencana gimana mau menyelesaikan si penipu itu.
"Ehhh... Cici jangan bunuh orang ahh, aku gak mau punya saudara di penjara..."
Ivy bergidik ngeri...
"Gak... tambah bodoh aku kalau gitu..."
"Siapa yang nangis sambil teriak? Astaga kenapa kamarmu Cici?"
Mama berdiri di pintu yang memang terbuka lebar, posisi kamar dekat dengan bagian void otomatis suara bisa sampai ke lantai bawah. Tiga anaknya gak bisa menjawab, urusan pasti tambah panjang, gak mungkin Ci Cun akan tinggal tenang dan teduh malam ini sebelum ada penjelasan. Walau pun sebenarnya hanya dengan melihat sebuah bingkai foto yang hancur Ci Cun sudah bisa menduga... ini hanya sebuah kondisi yang terulang lagi.
"Cici... mama gak bisa biarin ini lagi, kali ini kamu harus dengerin mama dan ikutin apa kata mama..."
Mama mendekati tempat tidur, Ivy dan Tenry berdiri kemudian meninggalkan mama berdua kakaknya, pasti selanjutnya adalah nasehat buat si Cici.
"Dede, suruh mbak Sin naik buat beresin kamar Cici..."
Ivy tak menyahut tapi mempercepat langkahnya keluar dari kamar.
Dan mama yang cerewet buat anak-anaknya tapi punya hati yang lembut menarik tubuh Cici masuk dalam pelukannya membuat Cici menangis lagi.
"Ma... kenapa Cici selalu sial sama cowok... hikzz hiksss..."
"Itu karena kamu terlalu baik, kamu itu penyayang, mereka yang salah manfaatin kamu..."
Mama menepuk-nepuk pundak anaknya.
"Kasihan kamu nak... berikutnya gak boleh kayak gini lagi ya Cici... Makanya mama suruh kamu lihat si Hanie... ikutin mama sekarang ya?"
Di ujung pintu kamar Tenry mengacak rambutnya sendiri, aduuuh, kirain udah mulus aja, setelah ini Ci Cun akan semakin gigih menjalankan rencananya buat nyatuin si Cici sama Hanie. Dia harus ngomong jujur sama mama soal Lingling berarti.
.
Kenikmatan akan kesenangan hidup dikejar oleh banyak orang tapi tak akan pernah ada rasa cukup semakin dikejar semakin membutakan dan semakin membuat candu. Hedonisme tak memiliki batas-batas kepuasan.
.
__ADS_1
🦋
.