
Ponsel yang berbunyi nyaring membuat Hanie tersentak bangun, tubuh spontan terangkat duduk di tempat tidur, memijit kepala sebentar lalu meraih ponsel yang sempat dihidupkan tadi sebelum tertidur lagi.
📱
"Ya Ci Cun... selamat pagi..."
"Han, kenapa semalam pulang cepat... gak pamit sama Ci lagi..."
"Maaf Ci..."
"Ada masalah?"
"Iiya, masalah kecil sih... gak penting kok Ci, udah beres juga..."
"Begitu? Mmm... ada banyak makanan di sini, belum sarapan kan? Nanti Ci suruh orang anterin ke toko..."
"Iya... makasih Ci..."
"Kulkas udah dianterin kan waktu itu, Ci lupa cek ke toko Ko Kim lagi..."
"Udah kok... malah anaknya Ko Kim yang anterin langsung..."
"Oh baguslah... soalnya Ci mau ngirim banyak makanan buat kalian, makanan lebih tadi malam bisa buat persediaan kalian juga seminggu ini, ini baru Ci keluarin dari freezer... ada kompor kan di sana, Holly bilang ke Ci dulu dia mau masak sendiri..."
"Itu... aku gak ijinin dia masak, aku takut pakai gas di sini banyak yang gampang meledak Ci..."
"Oh... ya udah... eh Ko mau ke mana pagi-pagi, belum sarapan?"
...
"Han, Koko nanti yang anterin makanan ke sana, sekalian ada kompor listrik sama peralatan masak buat Holly, biar aman buat kalian masak apa di sana... udah..."
Klik telpon terputus...
.
Hanny melirik jam di ponsel, hampir jam enam, gak ada sejam dia tertidur. Hanie beranjak meski terasa sedikit lemas, tapi perasaan terbebas gak terbeban lagi dengan masalah yang sempat mengganggu sekian lama. Tuduhan Beyvie awalnya menyakitkan tapi berubah menjadi jalan yang baik aja untuk menyelesaikan konflik hatinya, memilih mengabaikan itu toh dia gak harus berhubungan dengan Beyvie, kerjaan juga gak ada yang bersinggungan dengan Beyvie, walau tak jarang sebenarnya Beyvie yang meminta bantuannya.
No hearts feelings... kamu udah melakukan yang terbaik... gak masalah jika ada yang salah mengerti dirimu mungkin dia sendiri yang bermasalah karena gak bisa mengerti siapa kamu padahal dia sudah kenal kamu...
Semua kata-kata terbaik untuk memotivasi diri sendiri telah melintas semalam, sehingga pagi ini Hanie menjadi lebih fresh dan serasa jadi seorang motivator karena udah melintas lagi sebuah kalimat...
"Aku bisa lewatin ini, gak boleh lari dengan keadaan terhina, aku akan buktikan bahwa aku bukan seperti tuduhan itu, gak akan jadi pencundang yang lari dari masalah..."
Kalimat tercetus keras dari mulutnya dan tertawa setelahnya karena merasa seperti sedang ngalamin gangguan jiwa dengan kelakuan gak jelasnya di atas tempat tidur.
Merasa lapar pagi-pagi, dia keluar kamar, semalam perutnya gak terisi sempurna akibat kalut dan marah. Dia ke dapur dan memasak bubur sekalian masak telur di magic com, menunggu makanan dari Ci Cun datang mungkin masih lama, perutnya udah gak bisa kompromi. Sambil menunggu dia membuat segelas coklat panas dan duduk diam di depan meja makan.
Belum ada tanda-tanda Holly udah bangun. Memikirkan Holly, Hanie jadi tersenyum, sejak memberi perhatian pada adiknya yang satu ini, mendadak dia jadi seperti pria dewasa, merasa punya tanggung jawab, keinginan untuk melindungi, membela dan menjaga seseorang jadi begitu kuat. Jadi teringat kisah cintanya sendiri yang dulu dia abaikan, gak dia jaga dan gak punya keinginan untuk mempertahankan.
Apa dia masih sama? Apa masih punya kesempatan?
Hanie mengambil ponsel dan menjelajahi sebuah wall, menemukan apa yang dia cari, menuliskan sebuah komen, meninggalkan emoticon peduli, lalu mencari sebuah foto menyalurkan rindu yang tersimpan, lama tak melakukan ini. Sebuah senyum muncul di wajah saat membaca balasan pada komen singkatnya, sebuah respon cepat... sebuah pertanda kah?
Ponselnya berdering...
📱
__ADS_1
"Han... bukain pagar, aku di bawah..."
.
Tenry muncul pagi-pagi, bucinnya Tenry semakin jelas, nyata, gak bisa dibendung lagi, yang pasti juga dia penasaran tentang semalam.
"Udah sarapan Han?"
"Belum..."
Hanie menjawab pendek dan segera membereskan bawaan Tenry yang begitu banyak sesuai perkataan Ci Cun tadi. Makanan dia masukkan di kulkas, melihat beberapa peralatan masak dan tertarik untuk membaca petunjuk penggunaan kompor listrik. Tenry jangan ditanya lagi, udah ke kamar depan tanpa ijin.
Kamar Holly gak dikunci, Tenry masuk langsung duduk di dekat tubuh gadisnya yang sedang tergolek pulas. Mengamati sejenak dan langsung tahu sesuatu benar terjadi semalam, wajah itu walau terlihat tidur dalam damai tapi sangat kentara jejak tangisan di sana. Tenry mengecup pipi Holly pelan dan langsung berdiri dan dengan langkah pelan pula dia keluar lagi, belum tenang jika belum mendapat penjelasan.
"Han, ada kejadian apa sih semalam?"
Langsung ke inti gak mau berlama-lama, dia duduk di depan Hanie yang masih sibuk membaca sebuah kertas putih dari dalam kemasan kompor listrik. Hanie menatap Tenry...
"Holly tahu aku dijodohin dengan Cici Bey... dia gampang sedih kamu tahu itu..."
"Dia denger dari siapa soal itu?"
"Gak tahu, aku lagi bagiin kaos tahu-tahu dia ajak pulang dan nangis sepanjang jalan, bahkan semalaman mungkin..."
"Kenapa gak bilang aku sih..."
"Lingling udah gak mau nunggu..."
"Han... kenapa kamu gak pernah ngomong soal keinginan mama padaku, kita gak pernah saling simpan rahasia loh..."
"Maaf Ten... gak tahu sih, gak bisa ngomong aja..."
"Gak lah... aku gak bisa, tapi gak tahu gimana menolak Ci Cun... makanya aku diam dan pasif aja selama ini, pikirku Ci Cun bakal lupa dan Cici Bey bisa membawa seseorang yang dia sayang depan Ci Cun... nunggu waktu itu aja... kan Ci Cun gak pernah melarang Cici pacaran juga selama ini..."
"Gak melarang tapi memantau... dan sayangnya semua pacar Cici gak bener di mata mama."
"Itu juga sih... aku gak berani ngomong walau banyak hal yang aku tahu terutama pacarnya sekarang ini... aku takut malah jadi boomerang buatku... kejadian deh, aku belum bereaksi apa-apa soal semua Cici Bey udah marah besar..."
"Tadi malam Cici ngomong apa? Gara-gara dia kan kamu ikutan pulang cepet...soalnya tadi malam aku curiga dia sinis banget, gak seperti biasa dia sinis sama kamu..."
"Antara aku ama Cici aja, gak usah pikirin... aku pikir dia lagi ada masalah juga kali dan aku kebetulan di sana... udah deh jadi tempat pelampiasan... gak masalah buatku sekarang, Ten..."
"Beneran?"
"Iyalah... aku bukan anak-anak kali ahh..."
Hanie berdiri, ingat telur dalam magic, dia gak suka yang terlalu matang. Setelah mengangkat tiga butir telur itu dia duduk kagi.
"Ten... aku pasti bicara sendiri sama Ci Cun soal keputusanku, tapi aku minta tolong soal Lingling, dia masih butuh waktu untuk jadi lebih kuat, aku pengen dia punya jiwa yang lebih besar biar gak gampang sedih atau kecewa... dia suka gampang menyerah jika ada sesuatu yang menyangkut dirinya, selalu gampang merasa bersalah..."
"Aku udah pernah janji Han... aku akan buat dia hepi bersamaku, jangan ragukan niatku dong..."
Hanie menjawab dengan senyum, iya juga... kenapa seperti meragukan sahabatnya?
"Mau ikut sarapan? Aku masak bubur sama telur..."
"Boleh... Lingling masih tidur kali ya?"
__ADS_1
"Iya... kalau udah bangun gak mungkin dia hanya diam di kamar... semalam gak tidur kayaknya, tadi subuh minta anterin pulang ke rumah... hehehe... udah gak mau ketemu kamu, merasa udah jadi perusak rencana Ci Cun juga jadi perusak hubunganmu dengan Glo... kasihan bener..."
"Hahh? Lingling ngomong itu?"
"Iya... adikku rapuh banget Ten... harap maklum aja, masih kecil juga udah kamu pacarin... siap-siap repot aja beberapa tahun ini..."
"Han... lebih nikmat, lebih menarik dan lebih pantas memanjakan cewek yang masih butuh dimanjakan tapi gak tahu gimana bersikap manja, dari pada lakuin itu sama cewek dewasa yang udah gak pantas bersikap manja... kamu tahu kan artinya..."
"Hahh... bucin lu ahh..."
"Hahahaha... kamu sendiri kenapa gak ngejar lagi si HMC+1"
"Apaan, itu namaku sendiri, ngejar siapa coba..."
"Meili Darlenne lah... siapa lagi, jangan sok misterius, itu bukan sekedar inisial namamu, Hanie Mauritz Chandra, buat apa coba nambahin +1?"
"Hehehe, sarapan aja, ambil sendiri, jangan bahas orang lain yang udah punya pasangan..."
"Pura-pura gak tahu... padahal ngikutin terus, update status orang terus... kelihatan banget Han... kenapa sih harus nahan perasaan sendiri. Jangan nyesel saat dia udah gak mau nunggu lagi loh... mumpung dia masih sendiri juga dan kelihatan masih berharap sama kamu... Udah deh, soal Ci Cun nanti aku bantuin, aku juga harus pertahanin Lingling kan..."
Hanie diam... sebenarnya mengumpulkan keberanian untuk coba menjalin lagi apa yang sempat terputus, sambil mengupas telur rebus dia tersenyum tipis.
Seseorang muncul di belakang Tenry...
"Beneran ternyata... Koko sayang aku...."
Tenry balik badan sambil tersenyum menangkap suara imut mengucapkan kalimat manis...
"Ehhh? Mimpi apa? Dateng-dateng ngomong sayang depan orang, gak malu apa?"
Langsung niat menggoda wajah lucu mix baru bangun sama sembab yang begitu kentara.
"Ihh..."
Holly yang gak terima udah sadar malah disebut lagi bermimpi langsung ngacir dipermalukan depan Hanie sama pacar sendiri, kesel kan...
"Eitttt... kenapa kabur? Udah ngomong sayang bikin baper pagi-pagi gak mau tanggung jawab..."
Tenry mengejar dan menangkap Holly masuk rangkulannya membawa Holly ke meja makan, menangkap ekspresi malu Holly jadi merasa bahagia pagi-pagi...
"Kenapa sih masih malu aja, Hanie udah tahu kok kita saling sayang, dia juga dukung kita 1000 persen... kalau gak sih Koko bakalan hajar dia sampai mampus, sampai dia setuju..."
"Ihh masa Koko harus pukul orang, Holly gak mau kayak gitu..."
Eh, kenapa akhir kalimat doang yang dicerna? Beneran kata Hanie, dia pacaran sama anak kecil dan dia ikutan jadi anak kecil juga, tapi menggemaskan sih... maka di depan Hanie tanpa malu dia mengecup semua sisi wajah Holly setelahnya menggigit bibir sendiri sangking gemasnya.
.
Sweet morning...
Keindahan itu diciptakan... karena kita semua punya sebentuk keindahan dalam hati, apa yang ada dalam hati akan keluar dalam bentuk tindakan...
Aku lagi semangat double up... karena sering juga gak up berhari-hari... keep balance aja ðŸ¤ðŸ¤
.
.
__ADS_1
🦋
.