Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Ekstra Part 1


__ADS_3

Keinginan untuk berlibur pada akhirnya bisa terealisasi. Setelah mempertimbangan banyak hal mereka keluar rumah rombongan berangkat dengan dua mobil SUV. Ada Ivy yang gak mau ditinggal sendiri karena Beyvie juga pergi liburan ke negara tetangga bersama keluarga suaminya. Tenry memutuskan membawa serta suster Lena dan beberapa orang ART karena mendengarkan keinginan Holly tentang liburan kali ini, istrinya hanya menyebutkan keinginan sederhana, ingin tidur sepuas-puasnya. Keinginan yang terlalu imut membangkitkan senyum dan yang terlintas dalam pikirannya juga bahwa tubuh kecil istrinya sebenarnya lelah dengan rutinitas kerja mereka, Tenry sangat paham itu.


Pilihan tempat liburan adalah vila di pegunungan, menyewa beberapa vila Tenry kemudian mengajak juga si ipar sekaligus sahabat terbaik, Hanie dan sang istri Meili serta si kecil Leon.


Holly sangat exited dengan perjalanan ini. Siang hari, setibanya mereka di tempat liburan kali ini...


"Baru tahu ada tempat seperti ini di sini Ko, viewnya keren Ko..."


"Iya... bisa lihat laut, lembah, gunung... komplit..."


"Koko dapat info dari mana?"


"Dari pak Benaya... ini milik salah satu rekanan papa juga, pembangunannya ditangani pak Benaya, untuk disewakan tapi katanya hanya untuk kalangan terbatas gak dibuka untuk umum..."


"Oh... jadi kita aja yang ada di sini sekarang?"


"Iya..."


Holly menjelajah mengitari beberapa bagian lokasi vila itu diikuti Tenry yang berjalan santai di belakang istri.


"Tempatnya keren Ko, masih baru kayaknya..."


"Iya. Jadi pengen punya tempat seperti ini, jadi kalau ke depan kita sumpek capek pengen liburan gak perlu nyewa lagi..."


"Boleh tuh... Tahu gak Ko, Lingling malahan sukanya tinggal di tempat kayak gini, pernah tinggal di rumah kak Keke sembilan bulan... udaranya seger, nyaman banget, adem gak perlu ac... tapi suka gak kuat sih kalau pas hujan... dingiiiiin..."


Tenry senyum-senyum di belakang istri, lucu aja melihat istrinya bicara sambil jalan setiap kali berbalik jalan mundur berputar lagi, mengamati itu menghadirkan rasa indah, mengikuti tingkah pola istri sekarang mata dan hati terasa adem setelah ribuan hari lewat dengan banyak hari tersita untuk urusan bisnis, jarang ada waktu sesantai ini hanya berdua, jika pun ada anak mereka Ezra yang akan menjadi prioritas mengisi waktu mereka.


"Ada kolam renang ya... ihh siapa yang mau berenang dingin seperti ini suhunya..."


"Katanya airnya panas... ini keistimewaan vila ini dekat dengan sebuah sumber mata air panas..."


"Oh gitu... ehh iya... ajarin Echa berenang ya Ko... Koko udah janji loh mau ajarin Adek..."


Holly berbalik menatap suami sambil berjalan mundur lagi.


"Iya... maminya juga sekalian..."


Tenry tersenyum dengan sebuah makna di dalamnya.


"Ehh, mami bisa... gak ingat apa, mami suka berenang di rumah papi..."


Holly berbalik menatap suami dan Tenry hanya mengedipkan mata, Holly kemudian menangkap sebuah makna tersirat...


"Papi ihh... tapi kan kita gak berdua aja di sini, kolamnya di tempat terbukaaa kan..."


"Emang mau apa di kolam renang..."


"Ihhhhh..."


Holly mendekati Tenry lalu sebuah cubitan bersarang di pinggang, tahu suami sedang menggodanya. Tenry tergelak tapi meraih tangan kecil sang istri, tubuh kecil istri masuk dalam rangkulannya. Dengan berangkulan keduanya berjalan pelan sekarang.


"Hanie udah sampe mana Ko?"


"Udah deket, tadi katanya udah masuk jalan simpang ke sini..."


"Lingling mau lihat Echa dulu kalau gitu. Eh iya... kamar kita di mana Ko..."


"Kita di sebelah sana..."


Tenry menunjuk sebuah bangunan berlantai dua yang terletak di seberang kolam renang. Bangunan itu di lantai atasnya ada kamar luas dengan balkon yang terbuka ke arah lembah, pemandangan kota sangat indah di sana. Lantai bawah terdiri dari sebuah kamar, pantry, ruang keluarga dan ruang makan dengan teras menghadap kolam renang.


"Lokasinya luas banget ya... ada berapa vilanya..."


Holly mengedarkan pandang sejauh matanya bisa menangkap pemandangan di sekeliling.


"Sepuluh kayaknya, lima di atas sini, lima di bawah sana..."


Tenry menunjuk area lain.


"Kita sewa berapa vila Ko?"


"Lima yang di atas sini kita pakai semua... Hanie terserah dia mau pilih yang mana..."


"Apa gak kebanyakan Ko?"


"Gak papa... Dede pakai satu vila sendiri..."


"Serius dia pengen sendiri? Di sini sepi loh..."


"Ada beberapa temennya nanti nyusul..."


"Oww... asyik dong ada banyak orang, ngeri juga bermalam di tempat seperti ini, terlalu sepi Ko..."


"Gak kok... Koko malahan lebih suka kita berdua aja di tempat seperti ini..."

__ADS_1


"Ihhhh Koko aja... Lingling gak mau... serem ahh..."


"Makin serem makin baik, pasti Lingling nempel terus sama Koko hahaha..."


"Nah kan? Ketahuan Koko tuh maunya apa kalau liburan... gak ada ya, Lingling pengen tidur pokoknya, udah kebayang tuh gak perlu bangun pagi-pagi..."


"Masa tidur terus sih, biasa Lingling semangat kalau soal itu..."


"Hehehe... kali ini cuma tidur aja yang udah kebayang-kebayang..."


"Tiga hari kita di sini... masa gak ada itu... gak seru dong liburannya..."


"Serius tiga hari Ko? Wahhhh, keren dong, tiga hari tanpa tuntutan bangun pagi-pagi...ahhh udah kebayang nikmatnya seharian di dalam kamar..."


Tenry terkekeh mendengar apa yang mau dilakukan istri di sini, tidur itu pasti di dalam kamar tentu saja, berarti angan untuk malam penuh bintang atau pagi penuh kehangatan justru peluangnya sangat besar. Gak mungkin juga sang istri menolak kan, dia punya jurus anti penolakan dan selalu manjur sukses membuka jalan mewujudkan saat-saat penuh gelora indah.


Holly menutup matanya, masih tetap berjalan dengan menempeli ketat tubuh suaminya, menikmati suasana yang sementara tercipta. Tenry yang mengamati dari samping pendaran bahagia di wajah istrinya tersenyum, dan diam-diam bersyukur telah mengambil sebuah keputusan yang tepat tentang liburan mereka. Memang belum bisa merealisasikan liburan ke luar negeri, atau jalan-jalan ke pulau lain di negara ini, tapi apa yang nyata tergambar dalam ekspresi sang istri turut menghadirkan kehangatan di hatinya.


"Yukk ke tempat kita aja..."


Kedua tangan Tenry sekarang naik ke atas bahu Holly lalu mendorong lembut istrinya. Suami istri itu berjalan mendekat ke sebuah unit vila yang telah dipilih Tenry untuk mereka, ada suster Lena sedang bermain dengan Ezar di bagian depan vila itu.


"Adek main apa..."


Bocah lucu itu segera berlari dengan kaki kecilnya mendekati mami papi.


"Barang-barang kita udah di dalam Sus?"


"Udah bu... baru selesai diberesin sama Nita..."


"Mami..."


Dua tangan Ezar meminta digendong mami. Holly mengangkat anaknya tapi si papi justru mengambil-alih membawa Ezar ke dalam gendongan tangan kekarnya.


"Mami masuk kamar aja, niatnya mau tidur kan... Echa main sama papi ya? Kita naik sepeda ya..."


Ezar tertawa dan menjawab dengan celotehan riang menyambut tawaran sang papi.


"Kamar kita di atas, Ling..."


"Iya pi... tapi mami udah lapar sebenarnya..."


"Ya udah... makan duluan aja... papi bareng Hanie nanti..."


"Makanan disimpan di mana sus?"


"Kayaknya di vila besar bu, tempat Nita sama lainnya... Bapak minta diturunin di sana semua, kata Bapak masak sama makan di situ nantinya..."


"Emm... minta tolong Nita bawain aku makanan ya... dikit aja, nanti aku makan lagi sesudah bangun tidur... Liatin Echa makan siang sus..."


"Iya bu..."


Istri pak bos langsung naik ke tempat di mana dia akan mewujudkan keinginan dalam liburannya kali ini.


.


🍀


.


Sore hari...


Tenry dan Hanie sedang minum kopi dan menikmati berbagai penganan ringan sederhana olahan para ART, ada pisang goreng, ubi manis rebus, jagung manis rebus serta onde-onde khas daerah sini. Mereka duduk santai di teras vila tempat Hanie menginap, bangunan yang sejajar dengan tempat Tenry di samping kolam renang.


"Sonny jadi nyusul ke sini?"


Tenry bertanya setelah menyeruput kopi panasnya perlahan.


"Jadi... baru mau jalan, mungkin sebelum makan malam udah nyampe di sini. Kamu tahu Dina pantang melewatkan hal seperti ini, sejak minggu lalu dia gak berhenti nelpon aku nanya terus apa kamu atau aku mau liburan... sampai Meili cemburu, dia kira aku selingkuh..."


"Haha... Meili kayak gak kenal Dina aja... lagian Dina dicemburuin... tapi gimana rasanya dicemburuin istri?"


"Gak nyaman... dia jadi posesif, hp aku dia sita..."


"Hahh? Pantesan waktu itu Mei yang ngejawab telpon kamu... parah itu sih..."


"Banget..."


Hanie senyum masam sambil memandang ke dalam ruangan takut keluhannya didengar sang istri, gak enak ternyata omongin istri sendiri, tapi dia dan Tenry selalu saling terbuka dan sering mengobrol soal istri dan anak masing-masing.


"Terus kamu gimanain si Mei?"


"Gak gimana-gimana, diemin aja... kalem aja coba mengerti aja kondisinya... diem di rumah gak kerja lagi mungkin membuat Mei bosan, dia juga kayak rendah diri dan tertekan berat badannya sesudah lahiran gak kembali ke berat badan semula... ditambah papa mertua yang sakit-sakitan... banyak pikirannya makanya jadi insecure... gak percaya diri... yaaa gitu deh.... Ini aja harus aku bujuk berulang-ulang baru mau ikut ke sini..."


Kali ini Hanie berbicara dengan suara lebih pelan, istri ada di lantai dua sih, dan dia tidak mendengar bunyi apapun di dalam ruangan.

__ADS_1


"Mei gak kerja sekarang?"


"Udah dua bulan ini, papa mertua sakit, mama mertua gak bisa jagain Leon lagi..."


"Kenapa gak ambil babysitter?"


"Gak ngerti juga maunya si Mei, aku pengennya seperti itu biar dia gak usah resign... tapi dia nolak alasannya sih udah cape kerja terus pengen istirahat... tapi dampaknya ya... seperti yang aku ceritain tadi..."


"Hehe... kita para suami bisa apa, kadang gak ngerti tapi gak bisa memaksa juga..."


"Syukur dia mau ikut... siapa tahu pikirannya jadi lebih jernih di sini, gak nyaman ngeliat dia seperti berubah jadi Mei yang lain..."


"Ada Lingling kan... dia sama Lingling deket kan, siapa tahu curhat-curhat terus bisa berpikir lebih positif... semoga dia bisa lebih nyaman nikmatin liburan kali ini..."


"Itu salah satu alasan makanya dia akhirnya mau datang, aku bilang Lingling yang minta kita ikut..."


"Ya udah... nanti aku kasih tahu Lingling soal Mei biar si Mei gak canggung di sini..."


Dua sahabat yang selalu berbagi rahasia perjalanan rumah tangga mereka, masih terus bercakap, sesekali terdengar tawa lepas karena saling meledek atau justru menertawakan kebodohan sebagai suami dan papa dari seorang anak.


Begitulah hidup di setiap tahapannya tak pernah terbebas dari tekanan baik dari diri sendiri atau dari luar. Menceritakan pada seseorang yang dipercaya atau justru menertawakannya mungkin salah satu cara mengurangi tekanan pikiran.


.


🍀


.


"Han..."


Holly mendekati kakaknya saat tengah menikmati makan malam di sisi kolam renang. Makanan lumayan banyak disajikan para ART, jadi seperti acara barbekyu saja. Suasana cukup ramai karena ada tambahan personil yang ikut liburan, teman-teman Ivy yang berjumlah lima orang dan Sonny sekeluarga.


"Meili udah tidur?"


"Leon yang ngantuk, nemenin Leon dulu, pasti keluar lagi nanti..."


Holly duduk di samping kakaknya yang langsung menyodorkan jagung bakar, Holly mengambil satu buah yang paling kecil.


"Lina masih suka telpon kamu?"


Hanie bertanya sambil memandang adiknya.


"Beberapa hari ini udah gak pernah, sejak aku ke rumah dia sih..."


"Papa?"


"Tiap hari Han... barusan nelpon tapi gak aku angkat sih... sebenarnya, aku suka merasa bersalah gak ngejawab telpon papa, tapi yang diomongin papa itu-itu aja... aku durhaka sama orang tua gak ya, Han?"


"Kenapa ngomong kayak gitu? Papa kita yang sebaliknya... aku bilang sih papa itu orang yang sulit, egonya melebihi siapapun, munafik, manipulatif... dan gak pernah memikirkan orang lain... dan selamanya mungkin akan seperti itu..."


"Itu papa kita, Han... keterlaluan kayaknya kita ngatain papa sendiri..."


"Tapi itu kenyataannya..."


"Terus... kita harus gimana?"


"Yaa gak gimana-gimana, hanya bisa menerima, gak mengakui dosa kan... tapi jangan sampai kita yang terjebak pada sikap manipulatifnya... Jujur aku gak pernah bisa tergerak untuk ngasih uang buat papa, gak pernah tergerak untuk bantuin Lina dan Helny juga..."


"Makanya mereka suka bilang kamu sombong dan pelit..."


"Masa bodo... toch mereka gak pernah peduli sama aku sebelum ini..."


"Tapi aku gak bisa kayak kamu, Han..."


"Karena kamu perempuan, gak tegaan... Terserah kamu sih... Asal jangan mau dimanfaatin mereka aja... Kamu tahu gak... Hofny yang aku anggap gak punya masa depan, hidupnya gak ada yang bener kan... lihat dia sekarang ini serasa gak percaya, bisa bantuin bisnis opa sama mama, jadi tangan kanan mama malahan..."


"Iya... aku seneng banget lihat mereka bertiga di sana, Hellen sama Henny juga berubah kan..."


"Iya... "


Lingkungan bisa mengubah seseorang, tapi tergantung pribadi orang itu juga, mau berubah ke arah yang lebih baik atau gak.


.


.


👋👋👋


🪧 Hi.... Jumpa lagi, ada yang ingat Aku??? 😊😁


Tiga bulan baru bisa nulis bab baru. Otak aku langsung 'kosong' saat gak update, alurnya serta feelnya untuk cerita ini menghilang, hehehe.


Hanya menyapa pembaca semua... Semoga semua baik-baik aja...


#Kangen kalian 🤭👋🙏

__ADS_1


__ADS_2