
Tak ada yang berubah sebenarnya... normalnya kehidupan di rumah ini adalah ketika semua menjadikan Holly sebagai tangan mereka mengerjakan ini dan itu. Sebenarnya hari ini Holly malas untuk melakukan apapun, suasana hati semalam masih tertinggal. Tidurpun tidak nyaman buatnya karena hanya meringkuk di bagian tepi tempat tidur yang tidak dikuasai Henny dan Hellen.
"Holly... Holly... baju seragam anakku kamu simpan di mana?"
Helny masuk dan membangunkan Holly. Kamar ini tak berpintu, pintu sudah dirusak anak-anak jadi hanya ditutup dua lapis tirai, hingga siapapun bisa leluasa untuk masuk.
"Hahh? Ekkk... apa?"
"Bangun... cariin seragam Mikhaela."
"Aku simpan di kursi, cari aja, udah dilipat..."
"Carikan, aku mau mandiin dia, sekalian gosok seragamnya."
Holly keluar kamar dan melakukan permintaan Helny, dan berkelanjutan bukan hanya satu stel pakaian seragam anak, menyusul seragam kerja, menyusul seragam punya Herlina dan anaknya juga. Belum selesai suara besar mama menyerbu gendang telinganya...
"Kamu gak masak hahh? Papa mau kerja hari ini, buatin sarapan sekalian bekal papa! Jangan lama!! Nanti jadi alasan papamu yang pemalas itu gak kerja!!"
Kepedulian mama ternyata hanya sebentar saja. Baru semalam dia khawatir Holly lari dari rumah, hari ini mama kembali garang, lupa pada perasaan anak bungsunya. Atau jangan-jangan mama hanya takut gak ada yang mengerjakan semua hal di rumah ini.
Jangan remehin tugas ibu rumah tangga ya, karena semua akan berjalan baik ketika sang ibu melakukan perannya dengan baik... Holly bukan ibu rumah tangga kan ya... harusnya bisa lebih menikmati hidup, di luar rumah ini banyak remaja yang gak diajari tanggung jawab, masih senang-senang, kalau gak sekolah seharian di kamar dengan gadget di tangan.
Setelah tuntas dengan urusan dapur, Holly duduk di lantai samping rumah yang sempit yang digunakan untuk tempat jemur pakaian, bersandar di dinding yang tidak diplester, dia baru selesai menjemur pakaian yang dia cuci semalam. Rasa lelah menguasai seluruh sendi tubuhnya, juga seluruh tiang jiwanya. Dia tak punya semangat seperti kemarin-kemarin untuk menyelesaikan semua dengan cepat lalu bersiap ikut Hanie. Dia takut bertemu Tenry. Merasakan apa yang dilakukan Tenry, sama seperti yang dia lihat di jam istirahat pada teman-teman yang pacaran di kelas. Dia takut si Koko suka dia dan kemudian dia jadi pelakor.
Dia ingin mengikuti kata hatinya untuk bekerja supaya bisa punya uang sendiri dan mewujudkan impiannya. Tapi belum apa-apa dia sudah merasa kalah, mungkin harus mengubur impian ini saja. Dua tetes airmata kembali mengalir di pipi. Rasa tak berdaya menggerogoti batinnya, membuat Holly kembali menangis.
Hanya satu keinginanku... apa masih tidak boleh juga, Tuhan?
Sejak kelas satu SMA dia ingin merubah hidupnya sendiri jika dewasa, tidak ingin seperti kakaknya yang lain. Tapi sekarang Holly tidak tahu harus apa untuk keluar dari keadaan ini.
"Ling... Aku cariin dari tadi... kenapa belum mandi, hampir jam sembilan, buruan ya..."
Hanie teriak dari pintu samping dan langsung masuk lagi. Beberapa menit dia menunggu Holly tak datang membuat dia balik lagi.
"Ling??? Kenapa masih di sini? Kamu kenapa?"
Wajah penuh airmata yang coba disembunyikan di antara lututnya menjadi perhatian Hanie, dia teringat cerita Tenry semalam.
"Ling..."
Hanie berjongkok dambil memegang pundak adiknya.
"Aku gak usah ke toko lagi, Han... aku di rumah aja..."
Holly menjawab tanpa mengangkat kepala, sesekali dia terisak.
"Ayo... kalau di sini tambah sedih kamu, ayo bawa pakaian ganti aja, nanti mandi di toko, di sana enak mandinya, ada air panas..."
Hanie mengangkat tubuh adiknya. Tubuh kecil yang sedang tak punya kekuatan untuk menopang diri sendiri. Hatinya teriris melihat kondisi ini, sekian lama adiknya menahan semua dan mungkin ini menjadi batasnya, dia merasa tak boleh diam lagi. Dia mendorong pelan adiknya berjalan ke kamar.
"Ling, ini... isi pakaianmu di situ, kita tinggal di toko sementara waktu, di sini terus kamu bisa sakit kalau kayak gini gak ada yang peduli."
__ADS_1
Hanie menyodorkan ransel miliknya pada Holly yang masih bengong depan lemari pakaian, dia sendiri sudah memasukkan beberapa potong pakaian miliknya di tas yang lain.
"Tinggal di toko?"
Holly bertanya pelan sembari mengeringkan pipinya.
"Iya, ada kamar kok di lantai dua..."
"Gak usah Han... aku di sini gak apa-apa..."
"Gak... ikut aku..."
Hanie memilih memasukkan sendiri pakaian milik adiknya, mental adiknya lagi jatuh. Dulu dia tak punya kepedulian ini, sering juga memanfaatkan Holly seperti yang lainnya. Tapi lama-lama, saat sering meladeni adik Tenry yang juga suka bermanja padanya, menumbuhkan rasa sayang pada adiknya ini.
Saat mulai memperhatikan Holly, jadi tahu apa yang Holly kerjakan selama ini, jadi tahu bahwa semua orang selalu mementingkan diri sendiri dan tak menghiraukan Holly, jadi mengerti bahwa keadaan keluarga mereka membuat Holly menjadi anak terlemah dalam keluarga, anak yang suka diperlakukan seenaknya --cerita tentang anak yang diperlakukan tidak adil bukan hanya karena anak itu anak sambung alias anak tiri, tapi kadang dalam keluarga kandung ada yang seperti itu, banyak alasan, kadang perlakuan ini terbentuk begitu saja tak bisa dikendalikan--
"Masukkan sendiri pakaian dalam kamu..."
Holly hanya bisa melakukan apa yang Hanie perintahkan, pikirannya kosong saat ini.
"Holly... Masakin air panas ya... aku mau mandi..."
Suara manja Henny terdengar kemudian, dia duduk di tempat tidur, kedua tangannya mengucek matanya.
"Buat sendiri... aku bingung kalian semua di rumah ini kayak gak punya tangan dan kaki sendiri."
"Cerewet, bukan kamu juga yang aku suruh..."
"Ayo... Ling..."
"Heiii... mau ke mana kamu Holly?"
Hanie tak menghiraukan teriakan Henny, mengambil tasnya sendiri dengan tangan satunya tanpa melepaskan tangan Holly, melewati ruangan mama tanpa pamit, tak ada yang seperti itu di rumah ini, semua orang keluar masuk tanpa salam atau pamitan. Mama sedang sibuk memperhatikan keluhan pelanggan yang sedang fitting baju jadi tak sempat melihat mereka berdua.
Di toko, Hanie mengajak Holly ke lantai dua. Ada dua kamar di sini, dan sangat jauh lebih nyaman dari pada kamar mereka. Dulunya ini rumah tinggal keluarga Tenry juga, dan setelah bertambah maju usaha mereka, ini jadi toko sepenuhnya. Banyak barang di atas sini, hanya menyisakan sedikit space untuk keluar masuk kamar.
"Kalau kamu udah gak cape bersihkan kamarnya ya... kamu gak usah ke bawah hari ini, istirahat aja."
"Han... apa kita boleh tinggal di sini?"
"Boleh... udah sejak lama aku diminta tinggal di sini, aku malas aja dua puluh empat jam harus stay di sini..."
"Han... kalau mama nyari kita, gimana?"
"Ling... boleh tidak mikirin diri kamu sendiri dulu sekarang, kamu seperti ini mama juga gak benar-benar peduli... kamu udah memberi cukup banyak buat mereka sekarang beri kesempatan buat diri kamu sendiri, katanya mau kuliah..."
"Aku... mungkin gak usah aja, aku bingung harus kerja di mana... aku gak mau kerja di sini..."
"Kenapa?"
Holly menggeleng lemah.
__ADS_1
"Kamu gak perlu kerja buat kuliah, Ling... aku yang akan biayain kuliah kamu. Aku pikir, kita berdua tinggal di sini aja seterusnya, biar kamu bisa konsentrasi buat mewujudkan masa depan kamu..."
"Masa kamu harus biayain aku, Han..."
"Iya... masa aku gak boleh melakukannya, kamu adikku, Ling... aku memang udah niat seperti itu. Kamu aku bawa ke sini bukan untuk jadi karyawan toko ini, biar orang rumah belajar menggunakan tangan mereka sendiri..."
"Tapi... mama pasti gak setuju..."
"Gak usah pikirkan itu, pikirkan aja gimana kamu bisa jadi orang, kalau udah berhasil mama pasti menyesal pernah gak dukung niat kamu. Jangan menyerah ya Ling..."
Wajah Holly berubah, kerlip harap muncul lagi di wajah itu, senyum kecil muncul, dan Hanie senang melihat perubahan itu. Tadi Holly tidak memikirkan itu, tadi dia sudah putus asa, udah gak mau meneruskan mimpinya. Pikirannya masih sederhana, belum mampu menyelesaikan sendiri konflik batinnya, untung ada Hanie si kakak terbaik, sama seperti Ko Tenry selalu baik buat dia... oh... Holly ingat sesuatu...
"Han... aku... aku gak ingin ketemu Ko Tenry..."
Hanie terdiam sejenak...
"Dia udah ngomomg apa ke kamu?"
"Maksudnya?"
"Ya... ya ngomong apa keinginannya sama kamu?"
"Maksudnya?"
"Mmm... apa dia minta... minta kamu jadi pacarnya?"
"Hahh? Gak kok..."
Hanie menghela napas dan menghembuskan perlahan, entah lega atau bagaimana.
"Ko Tenry kan punya pacar, aku gak mau jadi pelakor..."
Holly berkata lirih. Hanie hanya memandang prihatin, apa adiknya juga udah suka pada Tenry?
"Nanti aku bawa sapu sama pel... sekarang kebas aja dulu tempat tidurnya, copot aja plastik di atasnya. Ada seprei bersih di dalam lemari... aku turun dulu."
Kamar ini sangat luas, ada wc dan kamar mandi di dalam. Ada TV tabung yang sangat besar, serta ada sofa model lama tapi masih bagus. Banyak debu di sini, tapi pasti setelah bersih nyaman untuk di tempati. Ada AC juga model lama, tapi mungkin sudah tidak berfungsi. Holly membuka tirai coklat yang sudah kehitaman karena debu. Holly masuk ke kamar mandi mencoba menjalankan kran air, ternyata berfungsi.
Holly seperti mendapatkan kekuatan untuk membersihkan kamar itu, sementara waktu dia boleh hanya memikirkan diri sendiri, Hanie bilang dia boleh melakukan itu. Dia pun mulai bekerja, kali ini biar punya tempat yang bersih dan rapih untuk dinikmati sendiri.
.
Tidak ada alasan untuk pasrah pada nasib bahwa kita ditakdirkan untuk jadi orang yang tak punya kesempatan untuk maju, selalu ada kesempatan itu. Kita tidak ditakdirkan untuk hidup pas-pasan, selalu ada jalan yang bisa mengubah arah hidup jika kita menolak menyerah...
.
Semangat yaaaa, happy reading...
.
🦋
__ADS_1
Hidup kita indah seperti kupu-kupu, meskipun kadang kita tak sadar tentang keindahan yang kita berikan 🤭🤭
.