
"Baby... hati-hati..."
Holly akhirnya mengulurkan dua tangannya menanggapi kalimat suami. Secepatnya Tenry membantu Holly yang hendak berdiri dari tempat tidur, di kamar tidur bawah yang sebelumnya merupakan kamar tamu rumah mereka. Sejak dipastikan hamil, mereka berdua pindah ke kamar di lantai bawah.
"Mau ke kamar mandi?"
"Iya Ko..."
"Pelan-pelan sayang..."
Tubuh kecil Holly dibantu Tenry berjalan hati-hati menuju kamar mandi, menjawab panggilan alam di sana. Tubuh yang di dalam 'kantong' perutnya seperti induk kangguru berisi anak yang sedang ditunggu kelahirannya, kini mulai kesusahan melakukan berbagai aktivitas. Tenry menjadi suami yang sabar dan telaten mengurusi istri, prioritas utamanya beralih pada kesehatan dan kenyamanan istri.
"Udah sayang?"
Spontan Tenry berdiri dari sofa kecil di dekat pintu kamar mandi saat Holly muncul di sana.
"Iya..."
"Eh... udah sekalian mandi? Pantas lama..."
"Iya... tanggung udah di dalam kamar mandi, sekalian aja..."
"Oww... mmm baunya enak..."
Istri dicium-cium di semua tempat di bagian wajahnya.
"Alasan tuh Kokonya... muka Lingling kotor lagi dong... Koko belum sikat gigi masih bau iler... ihh..."
"Biarin..."
"Ya udah puas-puasin aja ciumnya sebelum Lingling bilas lagi mukanya..."
"Hehehe... pasrah banget... muach muach..."
Tenry gemas melihat istrinya yang menyodorkan wajahnya dengan menutup mata, tak melewatkan kesempatan untuk menyalurkan rasa sayang yang selalu memenuhi hati untuk sang istri.
"Koko mandi dulu ya..."
Tenry melepaskan tubuh istrinya lalu berganti masuk ke kamar mandi. Selesai bersih-bersih, Tenry sedang memilih baju di lemari, Holly berdiri dan mendekati suami, dia terpikirkan sesuatu tadi...
"Ko... nanti sore Lingling ikut ke pelabuhan ya?"
"Sayang... udah gak nyaman duduk lama-lama loh..."
Holly terdiam, dia pengen ikut menjemput sang mama yang datang untuk menemani hingga masa persalinan. Ternyata dugaannya benar, Tenry pasti gak memgijinkan dia ikut. Holly kembali ke tempat tidur, duduk di sana dan coba memikirkan sebuah alasan untuk ikut.
"Lingling pengen keluar rumah sesekali Ko..."
Bibir manyun, suami punya segudang aturan dan banyak sekali kalimat bersifat larangan sekarang.
"Udah harus banyak istirahat, gak boleh cape loh kata dokter, tubuh harus sehat sebelum caesar..."
"Ke pelabuhan doang gak akan cape..."
"Itu empat puluh lima menit dari sini..."
"Udan pengen banget ketemu mama..."
Holly memasang suara bernada merajuk, tapi suami hanya tersenyum dan datang mendekati istrinya.
"Nanti juga ketemu di sini, hanya selisih satu dua jam, sabar aja nunggu sedikit lebih lama ya..."
"Kooo... kenapa jadi seperti ini sih sama Lingling, melarang ini-itu... Lingling gak boleh begini gak boleh begitu..."
Bibir semakin mengerucut, suara bulat ciri khas menahan dongkol bercampur kecewa.
"Koko hanya menjaga semua hal selama kehamilan, biar maminya sama babynya sehat..."
"Cici Bey hamil bisa ke mana-mana... bisa hunting pakaian baby sendiri... Lingling aja yang gak bisa..."
__ADS_1
"Lingling beda dari Cici... kita udah sering bahas kan... ikutin kata Koko ya...?"
Tenry mendekati Holly sambil menggunakan kaos oblong merah. Tangan Tenry kemudian mengusap kepala istri dengan senyum lembut yang sekarang terpasang di wajahnya.
"Baby... setelah lahiran Koko gak akan melarang Lingling untuk melakukan apapun, tapi harus ingat prioritasnya tentu baby kita ya... Lingling mau ke mana aja mau lakukan apa aja selagi postif dan bermanfaat serta Lingling menyukainya... Koko gak akan melarang... Tapi sekarang, udah dekat waktu loh untuk operasi... sabar aja sampai waktunya nanti ya?"
Dengan suaranya yang lembut penuh rasa sayang Tenry coba meminta pengertian istri kenapa dia jadi begitu protektif.
"Iya Ko..."
"Lingling ngerti sikap Koko kan? Jangan merasa tertekan ya sayang... kan tinggal dikit waktu lagi bertemu baby kita, pikirkan itu aja biar gak bosan di rumah..."
"Iya Ko..."
"Papi sayang mami deh... imut banget kalau nurut gini..."
Tangan Tenry terulur mencubit besar pipi Holly di dua sisinya.
"Ihh... apa mami papi... Lingling sama Koko aja sebutan kita berdua... cukup anak kita aja yang memanggil seperti itu..."
"Hahaha... lucu kali kita berdua manggilnya mami papi..."
"Lingling gak suka tapi... kayak orang tua deh, udah tante-tante sama om-om..."
"Hahaha... dikit lagi udah punya anak, berarti udah jadi orang tua, udah jadi tante sama om buat Sansan kan..."
"Maksudnya... berasa jadi tua banget gitu, Ko..."
"Hahaha... Udah gak kesel kan..."
"Iya... sih... gak papa, Lingling tunggu mama di rumah aja..."
"Gitu dong... bumil cantik, harus hepi terus..."
Tenry sekarang meraih dua tangan Holly membantu berdiri dan kemudian mendorong lembut bahu istri menuntun ke arah pintu keluar kamar untuk berpindah ke rumah orang tua, sarapan pagi di sana seperti biasa.
Tenry menahan lembut dua bahu istri saat langkah Holly menjadi cepat.
"Aduuh Ko... selama hamil Lingling tuh jalan kayak siput gara-gara Koko... Jadi pengen lahiran aja biar gak diposesifin Koko lagi..."
"Koko tuh jagain kalian berdua... kekasih hati sama buah hati Koko..."
"Hehehe Lingling suka lupa kalau di dalam sini ada baby Lingling..."
"Dasar... tau gak Koko suka cemburu sama Lingling..."
"Kenapa?"
"Sejak babynya terbentuk udah sama-sama terus, jalan lari makan tidur udah sama-sama sembilan bulan ini, kalian itu satu, bareng terus meskipun dia belum dilahirkan... Koko hanya bisa megang di kulit perut Lingling aja kalau babynya gerak..., itu pun hanya beberapa detik..."
"Serius Koko mikir kayak gitu, bisa cemburu kayak gitu?"
Holly menatap heran suaminya yang terlihat berbicara serius.
"Iya..."
"Koko so sweet deh... udah pengen banget menyentuh baby kita ya... ihh sekarang Lingling yang gemes sama Koko..."
Tenry membungkuk, menyodorkan pipinya dengan telunjuk menunjuk area itu, meminta ciuman...
"Apa sih... emang Koko kalau gemes langsung cium-cium, hehehe..."
Holly hanya memukul lengan suami sambil tertawa.
.
🌻
.
__ADS_1
Ketegangan ada di wajah beberapa orang yang menunggu di selasar depan ruang operasi rumah sakit Medika. Sejak konsultasi awal dokter menyarankan operasi karena tubuh kecil Holly, tak memungkinkan melahirkan normal tanpa resiko.
"Koko... duduk aja... tenangkan diri sendiri..."
Mama Ibeth menghampiri menantu yang sejak tadi berjalan mondar-mandir dengan wajah tegang, ada campuran banyak emosi di wajahnya, takut dan cemas tentang keadaan istrinya, dan debaran berjumpa buah cinta mereka. Beberapa kali melihat lewat monitor usg empat dimensi tapi menunggu dengan cemas dan takut juga dorongan untuk melihat secara langsung ikut memicu adrenalin si papi saat ini.
"Ehh... iiya ma, nanti..."
"Ko... sini... duduk dekat mama..."
Suara lembut Ci Cun dengan isyarat tangannya menghentikan jalan-jalan tak tentu arah Tenry. Saat duduk di samping mamanya, usapan di punggung perlahan membuat tubuh si papi rileks dan akhirnya bersandar sambil menutup mata di sandaran kursi stainlessteel itu.
Seperti melewati ribuan jam di sana untuk seorang Tenry, mata selalu melihat ke arah pintu, menunggu setiap detik kapan pintu itu akan terbuka dan berharap mendengar kabar baik dari sana.
Akhirnya... saat kelahiran itu tiba, operasi selesai, ibu dan bayi dinyatakan selamat dan sehat, tapi kondisi ibu harus diawasi pasca caesar. Dan bayi boleh dilihat keluarga.
Tiga orang yang bersukacita: Tenry, mama Cun, Mama Ibeth, sama-sama menangis terharu berdiri di depan jendela kaca besar melihat baby boy yang udah terbungkus bedong terbaring tenang di sebuah boks bayi..
"Mirip siapa?"
Mama Ibeth akhirnya lebih dulu mengurai keharuan di dalam bahagia yang menguasai mereka bertiga.
"Mirip aku lah ma... mirip Koko..."
Mami yang melahirkan tetapi berjalan dengan waktu kehamilan dan setelah melihat hasil usg, si papilah yang paling menunggu-nunggu waktu untuk melihat sendiri baby pertama mereka.
Dan sekaranglah waktu itu, dia yang pertama kali melihat wajah baby boy, si papi yang wajahnya basah oleh airmata dengan siratan emosi yang sudah berubah sepenuhnya, berdiri terpaku melihat anugrah terindah dari Sang Khalik untuk dirinya, menjadi putra pertama miliknya sendiri. Hasil kebulatan tekad sang istri yang meluluhkan pendiriannya, kini berwujud sosok bayi mungil lelaki yang membawa persis kesempurnaan gen miliknya.
Mama Cun mengeluarkan sesuatu dari tas tangannya.
"Nih Ko... fotomu waktu baru lahir..."
"Oh? Mama sempat mikir ngambil ini?"
Tenry meraih selembar foto yang diangsurkan mama Cun dengan senyum yang merekah.
"Itu... Dede yang ngasih sih tadi... katanya buat dibandingin sama babynya nanti mirip gak... itu anak Koko gak... gitu katanya..."
"Anak itu sembarangan, ini anakku lah... emang anak siapa..."
"Dia becanda Ko..."
Tenry melihat lekat foto dirinya lalu memandang bayi dalam boks di balik kaca... ada kemiripan memang, dan itu membuat Tenry tersenyum semakin lebar.
"Mirip banget ya ma..."
"Mama pikir begitu..."
"Kapan kita bisa melihat langsung?"
Mama Ibeth menyela.
"Nanti setelah Lingling siap ke kamarnya... bayi akan diantarkan juga..."
Tenry menjawab dengan hati meluap-luap karena bahagia, istri selamat, ini yang paling menekan perasaannya sejak Holly pertama mengungkapkan keinginan untuk punya anak. Hari ini begitu menakjubkan untuknya, memandang langsung buah cinta mereka. Hari ini sebuah awal yang baru untuk dirinya, menjadi papi dari benih yang ditanam tapi dibentuk dalam kuasa Ilahi dengan wujud yang begitu mirip dirinya...
Hari ini dia banyak meneteskan airmata, airmata kemudian terangkai indah karena permata hatinya bertambah, lengkap sudah hidupnya sebagai suami dan papi...
.
🦋
.
Hi....
Sehat selalu ya readers...
.
__ADS_1