
Baru pertama kali bener-bener jalan berdua dengan status sebagai pacar. Holly kerap melepaskan tangan, risih dengan semua perlakuan Tenry padanya, mereka sedang jalan di mall terbesar kota ini.
"Koko... Holly malu tangan Holly dipegang kayak gini, kayak anak kecil deh..."
"Lingling memang masih kecil kan..."
"Ihh... kenapa Koko dari tadi nyebelin sih..."
"Hehe... sorry ya... abis Koko gemes, Lingling lucu... kenapa juga kalau sama Koko suka cerewet ya?"
Bener juga, Holly entah kenapa lebih leluasa aja bersikap saat bersama si Koko.
Tenry melepaskan genggamannya lalu mengusap sebentar kepala Holly dan masih lanjut dengan sebuah ciuman kecil di kepala Holly.
"Koko... jangan gini dong, banyak orang..."
"Gak papa sayang... liat tuh... banyak pasangan juga lagi jalan, semua pada pegangan tangan atau rangkulan... ayo, kita cari makan di atas..."
Holly yang awalnya risih kemudian memperhatikan apa yang dikatakan si Koko, beneran sih umumnya pemandangan seorang cowok jalan bareng cewek pada jalan gandengan semua. Holly mencuri-curi pandang di dinding kaca gimana posisinya sama si Koko, semburat malu menjalar di wajahnya, terlalu mesra kayaknya, tangan si Koko sedang memegang erat bahunya, kadang dua tangan si Koko ada di bahunya saat bertemu banyak orang. Lama-lama Holly mulai merasa nyaman bahkan merasa dilindungi.
"Koko..."
Holly berhenti saat mendekati sebuah escalator.
"Kenapa?"
"Holly... ehh gak ada tempat makan di bawah ya?"
"Ada sih... KF*C dan teman-temannya, fastfood aja... Koko pengen makan yang lain, gak terlalu suka makan ayam..."
"Mmm Holly gak mau ke atas... Koko aja yang makan di atas ya, Holly tunggu di sini..."
"Ehhh???"
Gimana ceritanya? Mau ajak kekasih tersayang makan berdua malah disuruh makan sendiri, bukannya ditemenin malah disuruh pergi sendiri.
"Sayang... kita itu mau makan berdua, kita lagi ngedate, masa makan sendiri-sendiri?"
"Gak papa Holly nanti makannya di rumah aja, Koko doang yang makan, Holly tunggu di sini sampai Koko selesai..."
"Lingling... kita lagi ngedate, ngerti gak?"
"Iya Holly tahu juga artinya, tapi... tapi... Holly takut..."
"Takut apa?..."
"Holly takut naik... naik itu..."
Holly mendekatkan tubuhnya pada Tenry, telunjuk kecilnya menunjuk escalator sambil menjawab menyerupai bisikan.
"Serius takut?"
Holly mengangguk samar, ekspresi yang muncul menunjukkan perasaannya.
Setengahnya gak percaya setengahnya mau ketawa, tapi melihat tampang sungguh-sungguh dari gadis imut yang gak canggung lagi berdiri tanpa jarak di depannya, Tenry jadi menatap dengan sayang, gadis kecilnya punya hidup yang jauh dari hidup orang pada umumnya, jarang menikmati kesenangan apapun di luar rumah, makanya suka canggung saat ada di mana, dan udah pasti jarang ke mall, dan menggunakan escalator ini Holly mungkin satu-satunya cewek di dunia ini yang gak bisa.
"Gak usah takut, gak ada yang perlu ditakutkan, gak akan jatuh kalau gak ragu-ragu, naik aja seperti naik tangga biasa, bedanya hanya tangganya naik sendiri. Ayo... ada Koko kan..."
"Di sini gak ada tangga biasa?"
Holly berbisik lagi, wajahnya tengadah ke arah Tenry yang jauh lebih tinggi, masih gak mau dan mencari alternatif jalan lain. Tenry senyum, kedua tangannya mengusap lengan Holly, memandang sangat dekat seperti ini, jadi tahu gimana sinar mata yang menyiratkan takutnya Holly, antara gemes dan kasihan gimana sih bentuk rasa itu...
"Ada sih di luar lewat area parkir, tapi jauh. Lagian lebih baik coba naik sekarang, lawan aja rasa takutnya... ya?"
Holly menggeleng, masih gak mau, gak yakin dia bisa apa gak menggunakan fasilitas itu. Kalau jatuh gimana? Banyak orang di sini, pasti diketawain kan...
"Gak akan terjadi apa-apa, percaya sama Koko ya?... Ayo..."
Akhirnya karena melihat senyum si Koko, Holly ikut bergerak bersama si Koko karena tangan si Koko sudah mendorongnya untuk melangkah, dan saat di ujung tangga terbawah dengan sigap Tenry memindahkan tubuh kecil Holly dan langsung menopang dari belakang.
"Koko ihh, kaget kan..."
Holly takut melihat ke belakang dia hanya memukul pelan tangan Tenry sementara jantungnya berdegub cemas. Tapi menikmati sensasi naik ternyata gak semenakutkan yang dibayangkan, perasaannya tenang seketika mungkin karena tangan Tenry yang memegang erat kedua lengannya.
"Gimana, gak papa kan?"
Tenry berbisik dalam tawa pelannya, kepalanya ada di bahu Holly sekarang.
"Iya... tapi diketawain orang kita..."
Holly sempat melihat lirikan orang-orang, ada yang senyum-senyum melihat tingkah Tenry.
"Gak papa... gak usah liat orang lain..."
Sama halnya saat naik, tubuh Holly juga diangkat si Koko saat tiba di lantai atas.Holly memukul lengan si Koko sekarang dengan tinju kecilnya, tinju kecil itu segera ditangkap Tenry masuk dalam genggamannya. Tenry tergelak hepi, menyesuaikan langkahnya dengan langkah kecil Holly.
"Kita naik satu lantai lagi, berani sendiri sekarang? Ingat langsung melangkah aja, jangan ragu, ok?"
Akhirnya Holly bisa, Tenry tertawa di belakang Holly, beneran kayak pacaran sama anak kecil, karena harus selalu memberitahu banyak hal. Hanie bilang siap-siap repot, aneh dia gak merasakan itu malah ingin lebih banyak memberi kemanjaan buat gadis kecilnya. Satu hal, dia merasa enjoy dan bahagia dengan hubungan yang sekarang, melihat Holly seperti menemukan sesuatu yang begitu pas di hatinya, sesuatu yang melengkapi jiwanya, seperti pasangan jiwanya.
__ADS_1
Selesai makan di Thai Resto...
"Mau nambah Ling?"
"Udah Ko...kenyang... hehe, Holly makan banyak ya?"
"Iya, biasanya dikit, tapi Koko suka liat Lingling makan kayak tadi, lahap banget..."
"Tadi siang Holly lupa makan kayaknya, pantas laper ya... hehe..."
"Kenapa gak makan sih, bisa sakit loh?"
"Gak sempat Ko... rumah mama udah kayak tempat pembuangan sampah, berantakan dan kotor dari depan sampai belakang, kamar mandi sama dapur udah kotor banget, belum cuciannya, Holly masak juga tadi sih, tapi udah gak ingat makan pas selesai kerja..."
"Ling? Semua Lingling kerjain sendiri?"
Suara Tenry naik, anak ini kenapa suka sekali mengerjakan semua tanpa mengingat kemampuan tubuhnya, pantas aja tadi tidur lelap sekali.
"Iya... udah biasa kan seperti itu di rumah mama..."
"Lain kali jangan maksain kerja kayak gitu ya... nanti sakit loh..."
"Sesekali aja kan sekarang, kasihan juga... Holly suka merasa bersalah gak bisa bantu mama kayak dulu..."
Tenry membelai kepala Holly dengan perasaan sayang yang selalu menyerbu untuk dinyatakan. Mmm, gadisnya anak yang baik, rajin dan gak banyak macamnya, malah suka menolak menerima sesuatu darinya. Ini sih tipe Ci Cun banget... dan tipe dirinya juga. Tenry tersenyum saat pikiran itu melintas.
"Nih... minum dulu..."
Tenry mendekatkan segelas es teh lemon ke mulut Holly. Sekarang Holly nurut aja, menikmati semua yang dilakukan si Koko sejak tadi, menyuapi, membersihkan mulut, mengambilkan makanan... kayaknya tangannya kalau ada si Koko gak usah difungsikan karena percuma mendebat si Koko bahwa Holly bisa sendiri.
Selanjutnya si Koko mengajak Holly masuk ke jejeran toko pakaian wanita dan membelikan banyak pakaian walaupun dengan sejumlah kalimat protes dari Holly.
Keluar dari sebuah toko dengan banyak kantong plastik dan tas kertas di tangan...
"Ko... udah ya... gak usah lagi, udah banyak banget, Holly gak mau kayak gitu..."
"Lingling bentar lagi udah kuliah kan... gak pakai seragam lagi kan, jadi Lingling perlu banyak baju, makanya Koko beliin yang banyak..."
"Holly kayak morotin Koko, Holly gak mau..."
Holly berjalan sambil menunduk, dulu dia sedih dan gak mau jalan ke mall atau toko karena gak mau melihat lalu menginginkan sesuatu, matanya masih normal tapi pikirannya lebih normal lagi, dia gak mungkin membeli apa yang dia inginkan. Tapi sekarang, kok malah jadi gak nyaman dibeliin macam-macam sama si Koko.
"Sayang... gak seperti itu kan? Koko yang ngasih, bukan Lingling yang minta... terima aja dengan perasaan hepi ya? Tau gak... Koko pengen ngasih seluruh dunia buat Lingling..."
"Ihh gombal... emang bisa?"
"Gak bisa sih, bisanya baru ngasih ini sekarang, makanya terima ya... ini karena Koko sayang Lingling..."
"Koko udah janji mau ngasih semua yang Lingling butuhkan untuk kuliah..."
"Janji? Janji sama siapa?"
"Janji sama diri Koko sendiri, sekarang janji sama Lingling..."
"Hahh? Emang boleh?"
"Boleh dong..."
"Siapa yang bolehin?"
Aisssh anak ini... apa sempat berpikir sebelum bertanya?
Kalau gak ada banyak tentengan di kedua tangannya tubuh kecil itu udah jadi sasaran gemess si Koko, mau cium-cium sampai puas, mau gigit juga --eits gigit di mana Ko? Entar nangis, kan masih kecil 🤭--
Saat sudah di lantai bawah Holly senyum-senyum, sekarang dia gak perlu takut datang ke mall, malah pengen nyoba naik turun lagi, enak ternyata 🤦 Holly membalikkan badan menatap escalator.
"Kenapa?"
"Mmm Ko... Holly pengen naik ke lantai atas lagi..."
"Hahh? Masih ada yang pengen dibeli ya? Ayo Koko belikan, mumpung masih di sini..."
"Bukan... gak mau beli apa-apa lagi, udah kebanyakan ini..."
Holly mengangkat dua tangannya yang penuh tas belanjaan.
"Terus mau ngapain di atas?"
"Hehehe... mau nyoba naik escalator sendiri..."
Holly berkata sambil nyengir.
Koko mau pingsan... eh gak ding... Koko langsung menyambar tubuh kecil Holly meskipun tangannya penuh tas juga, tapi udah gak tahan sama tingkah Holly... beberapa ciuman langsung menyerbu pipi kiri Holly. --Holly... kamu itu terlalu imuut apa terlalu kampungan hingga Kokonya jadi gumusszz 😁--
"Ko... ihh..."
"Hahaha, tadi aja takut, sekarang ketagihan, jadi ingat Dede dulu saat umur empat tahun suka naik-turun escalator, beneran sama persis deh..."
"Holly norak ya?"
__ADS_1
"Iya... hahaha..."
"Ihh... abisnya... Holly baru tahu sekarang..."
"Ya udah, kalau pengen naik lagi, ke supermaket aja, Koko mau nyari kebutuhan Koko... Hahaha, astaga pacarnya Koko..."
Tenry menggelengkan kepala masih tertawa.
Di supermarket 'keajaiban' masih berlangsung, walau dengan mimik malu, Holly gak sungkan minta dibelikan jelly sama yakul*t. Dan bukannya menolak matanya justru berbinar saat Tenry membeli dalam jumlah yang banyak.
"Ada lagi gak yang pengen dimakan atau dibeli?"
"Udah Ko... nanti lain kali... Koko ajak Holly lagi ya?"
Sebuah senyum sempurna yang belum pernah Tenry lihat terpampang jelas di wajah imut itu. Rasa yang tak terlukiskan menghampiri Tenry, dia hepi bisa membuat wajah mungil itu cerah ceria seperti ini.
"Iya... sebanyak yang Lingling mau, Koko pasti anterin, pengen ke mana bilang aja ya?"
Holly mengangguk dengan wajah yang masih tersenyum. Sebelah tangan Tenry meraih bahu Holly sebelahnya lagi mendorong trolly yang penuh berisi semua belanjaan mereka. Holly berjalan pelan ikut mendorong trolly... so happy malam ini.
Malam belum larut sebenarnya, tapi Holly terlihat cape, maka Tenry langsung pamit aja, apalagi ternyata Hanie udah pulang juga. Menikmati malam dengan kenikmatan yang sempurna bersama Holly, ingin sekali setiap malam seperti ini. Bersama Holly jiwanya bebas lepas tanpa tekanan, kebahagiaan dengan jumlah yang besar seolah selalu datang menyerbu demikian juga dengan rasa sayang yang dia punya, seolah terus mengembang hingga memenuhi seluruh aliran darahnya dan mengisi semua sel di tubuhnya...
.
Saat hendak berbelok masuk ke jalan menuju rumahnya, ponselnya berdering.
"Kenapa Dede..."
"Kokoooo, cepetan, Cici penuh darah... Kokoooo huahhh..."
"De... ada apa?"
"Cici berdarah aduuuuh huaaaah..."
"Ada siapa di situ?"
"Ada mbak Sin sama om Fecky... mama belum pulang, mama gak jawab hp... huaaah... Cici jangan mati huaaah..."
"Nyalain speaker De..."
Rasa cemas langsung menguasai hatinya, ada apa dengan Cicinya...
"Udah..."
"Mbak tolongin Cici..."
"Udah... tangannya udah mbak Sin perban... Ini langsung ke rumah sakit aja ya..."
"Iya mbak Sin... cepetan mbak..."
"Ini mau diangkat ke mobil..."
"Bawa ke rumah sakit Medika aja, lebih deket dari rumah..."
"Iya..."
"De... kamu telpon mama, Koko mau telpon Rein..."
"Iya... huahhhh..."
Apa yang dilakukan Cicinya sudah bisa Tenry bayangkan. Sambil menelpon Rein mobil Tenry pacu secepatnya, untuk jalan ini masih termasuk jalan pribadi mereka karena belum ada rumah lain di sekeliling kompleks tanah mereka. Tak sampai lima menit Tenry sudah tiba di rumah, Cici sementara dimuat di mobil kuning miliknya, sementara Rein sang dokter sudah siap menunggu di rumah sakit.
"Cici sadar gak?"
"Iya... masih, tapi udah lemah..."
Mbak Sin menjawab dengan wajah penuh airmata, kasihan sama nasib anak bossnya.
"Cici... bertahan ya..."
Tenry mengusap pipi Cicinya yang dipeluk mbak Sin di jok belakang, terasa dingin. Kecemasan semakin bertambah di hatinya, hanya bisa berdoa dalam hati memohon kemurahan Yang Maha Kuasa.
"Om Fecky... ngebut ya... tapi hati-hati juga, aku nyusul dengan mobilku... De... sini ikut Koko..."
"Dede mau sama Cici... huahhh..."
Rombongan kecil itu segera melesat ke rumah sakit, bahagia sesaat tadi telah berganti dengan serbuan pikiran serta perkiraan apa yang akan terjadi di depan sana...
.
Jika hidup terlempar ke jurang yang dalam, tangan-Nya tak kurang panjang untuk mengeluarkan kita dari sana... saat kita menengadah ke atas, saat itu mata kita akan melihat tangan-Nya... Jangan berhenti berharap.
.
🦋
.
Tengkyuuuu semua yg masih membaca cerita ini...
__ADS_1
lv u all ~
.