Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 49. Koko yang Terlalu itu Manusiawi


__ADS_3

Hari ini hanya ada dua mata kuliah dan selesai di jam setengah satu, jam di mana perut mulai teriak minta haknya. Itu sebabnya saat jam pembelajaran berakhir, mahasiswa dengan cepat berhamburan meninggalkan ruang kuliah dengan tujuan utama umumnya ke kantin di bagian belakang fakultas ini, atau tempat makan lain di sekitaran kampus.


Holly paling malas berdesakan, memilih menunggu keluar ruangan paling belakang. Kebiasaan ini akhirnya menular pada Joy dan Faithly.


Pertemanan di bangku kuliah terasa sedikit berbeda bagi Holly, terlebih di saat sekarang setelah hampir satu semester setiap hari bertemu di ruangan yang sama. Atmosfirnya lebih terbuka dan lebih friendly ketimbang masa SMA, karenanya Holly merasa lebih percaya diri menjalin pertemanan. Mungkin karena masih di semester satu jadi semua masih berbaur, semisal soal tempat duduk saat mengikuti kelas, atau saat ada pembagian tugas kelompok, gak ada pilih-pilih teman.


Memang sih tetap aja ada yang lebih dekat dibanding yang lain, sama seperti Holly, Joy, Faithly yang mulai nyaman satu sama lain beberapa waktu terakhir.


"Kamu langsung pulang, Joy?"


Holly bertanya, sambil berjalan ke dekat tempat duduk Joy. Mereka duduk berjauhan tadi.


"Mau ke gramed sih rencananya... mau beli mouse, punyaku kemaren jatuh terus rusak deh... mau temenin?"


"Boleh sih..."


Holly menjawab kurang yakin, seseorang suka mengontrol kegiatannya sekarang melebihi siapa pun.


"Fet... kamu ikut kita?"


Giliran Faithly yang ditanyain Joy, dia masih membereskan milik pribadinya ke dalam tote bag merah miliknya.


"Ikut lah... sekalian makan... bawa helm lebih gak Joy?"


"Gak mungkin gak bawa Fet... adikku suka nebeng juga..."


"Kok kalian bisa seangkatan sih?"


"Hehe... aku pernah tinggal kelas saat SD..."


"Wehh... cewek pintar..."


Bahu Faithly ditonjok Joy. Holly hanya senyum kecil.


"Mmh... kita ke Gramed yang mana?"


Holly bertanya kemudian.


"Yang di mall aja...kan sekalian makan, pengen makan ramen..."


Joy menjawab yakin, udah lama kepengen makan ramen pedas kesukaannya.


"Oh... ok..."


Si Koko punya permintaan aneh belakangan ini, Holly harus memberitahu kegiatannya. Jadwal kuliahnya udah dihafal sang Koko, padahal Holly sendiri yang melakoninya masih suka lupa. Holly mengambil gawainya lalu mengetik sesuatu di sana, pendek aja... 'mau ke gramed di mall' dan send. Belum satu menit chatnya terkirim ponselnya sudah berbunyi.


📱


"Ya... Koko..."


"Ngapain di sana? Entar sore aja bareng Koko ya..."


"Ada yang mau dibeli... Koko lagi sibuk kan... Lingling pergi bareng temen..."


"Ya udah Koko nyusul ke sana..."


"Ko... gak usah... jangan ninggalin kerjaan... ya?"


"Pergi bareng siapa aja?"


"Temen Ko..."


"Siapa?"


"Joy sama Faithly..."


"Joy sama Faithly itu cewek apa cowok sih?"


Astaga Koko...


Tarikan napas jengkel dibarengi perubahan suasana hati membuat Holly malas membalas pertanyaan sang Koko. Kaya gini termasuk perhatian atau apa...


"Lingling..."

__ADS_1


"Joy itu cewek Ko... Faithly juga... udah pernah bilang kan sebelum ini..."


"Iya... iya..."


Terdengar suara Koko bercakap dengan orang lain entah siapa.


"Ko... udah ya... "


.


Holly mematikan ponsel tanpa menunggu jawaban. Muka kesel jelas tergambar di wajah mungilnya, Koko membuat ruang geraknya jadi terbatas.


Dia baru belajar dan menikmati hidup sendiri seperti yang pernah singgah di pikirannya dan menjadi mimpinya berkali-kali saat masih di rumah dulu, saat di mana dia gak punya apa yang namanya milik pribadi bahkan tubuh kecilnya menjadi tangan dan kaki orang rumah untuk mengerjakan sesuatu. Dua bulan di tempat kost bu Rikha nasibnya kembali sama.


Sekarang dengan keadaan yang jauh berbeda seharusnya dia mulai nyaman, tapi hal yang lain tiba-tiba menjadi bagian hidupnya sehari-hari. Kehadiran Koko dengan semua hal yang dia berikan dan dengan semua perhatiannya jadi seperti kekang, sebuah ikatan yang mulai membuat sesak.


"Yuks Holly... berangkat..."


Joy menepuk lengan Holly dan berlalu ke arah pintu yang sekarang lengang. Holly mengekori dengan malas. Saat mulai menuruni tangga...


"Kenapa muka kamu mendadak galau, padahal baru terima telpon dari Koko kan kamu?"


Faithly menyamakan langkahnya dengan Holly menuju area parkir. Joy berjalan sendiri agak ke depan.


"Gak papa Fet, biasa lah... terlalu perhatian sih... apa terlalu sayang... atau terlalu ngatur sekarang... gak jelas bedanya..."


"Sayang pastinya... biasa kok cowok kadang semakin posesif kalau udah sayang... santai aja, apalagi dia pernah merasa kehilangan kamu..."


"Itu sih alasannya, tapi kok makin lama makin gak enak aja... kayak nganggap aku lemah dan gak dewasa..."


"Emang kamu ngerasa udah dewasa ya... umurmu tujuh belas, aku hampir sembilan belas, tuh si Joy malah udah dua puluh tahun... di antara kita kamu paling kecil, casing kamu juga paling kecil..."


"Fet... aku lagi curhat, ihhh..."


"Gak usah ngeluh kali, kalau udah malas sama Kokonya, kasihkan aku aja, hehehe... kamu memang masih kecil kok belum boleh pacaran..."


Faithly mempercepat langkahnya lalu berjalan mundur sambil melihat Holly dari atas sampai bawah dengan mimik muka jenaka...


"Tuh kan, merajuk kayak anak kecil... makanya Kokomu kayak gitu... hehehe..."


Faithly berlari kecil dengan gaya kocak melewati Joy.


"Apalagi sih... kamu suka banget ledekin Holly..."


Joy menahan tangan Faithly hingga gadis itu akhirnya berjalan lagi, tak lupa balik badan dan masih menggoda Holly yang masih dengan tampang merajuknya.


"Hehe... tuh lihat deh mukanya Holly, Joy... emang beneran kan dia imut banget, kayak adek aku sih tampangnya..."


"Yang kamu bilang anak kecil malah udah pacaran, kita apa?"


"Eit... jangan salah, aku punya pacar juga kali..."


"Gak pernah lihat..."


"Lagi ikut pendidikan, pacarku calon jendral..."


"Udah bapak-bapak dong..."


"Gak dong... masih cowok perjaka kali jendralnya dua puluh tahun lagi hehehe... kamu doang sih yang jomblo, cantik-cantik gak ada yang melirik, kelewat judes sih ya..."


"Aku yang gak mau...Fet, ribet punya pacar kayak Holly jadinya gak bebas... kayak kamu ditinggalin juga... apa enaknya pacaran..."


"Belum ngerasain enaknya makanya ngomong kayak gitu... Ly...enakan punya pacar apa gak punya?"


Faithly teriak sambil berbalik berjalan mundur, kebiasaan.


"Tauk..."


Holly masih dengan sikapnya tadi.


"Fet... lihat tuh... siapa yang lagi duduk di motornya Holly..."


Mata Faithly langsung menyipit dan mendadak melotot kembali...

__ADS_1


"Wah... nih anak kecil pengagumnya cakep-cakep... Kak Brill masih usaha aja ya... padahal udah tahu Holly udah punya pacar..."


Faithly kini berhenti menunggu Holly yang masih melangkah dengan lambat.


"Ly... ada kak Brill, nungguin kamu pasti..."


Holly memperhatikan sosok yang duduk santai di atas motornya, mobil cowok itu terparkir jauh dari motor Holly. Holly akhirnya harus menyingkirkan rasa kesal sesaat tadi karena si Koko dan juga Faithly yang gemar menggodanya. Dia harus berpikir lagi sekarang bagaimana menolak dengan sopan apapun ajakan Brill untuknya.


"Hai... kak Brill..."


Faith coba menyapa. Cowok cool ini jarang menyapa siapapun, menurut Joy sih suka jaim aja mentang-mentang banyak yang naksir.


"Hai..."


Matanya menatap Holly yang sedang berlatih dalam hati untuk kalimat penolakan jika saja cowok ini mengajak dirinya jalan atau main ke mana seperti yang sudah-sudah.


"Eh... permisi kak Brill... kita mau pergi..."


Faith jadi juru bicara tiga gadis ini. Joy memang gak suka sama kakak tingkat yang satu ini, terlalu percaya diri dan sok cool aja... karakternya gak original gak asli katanya terlalu dibuat-buat... emang barang ya nyari yang ori?


"Aku perlunya sama Holly aja kok, kalian pergi aja sana..."


"Kami perginya bertiga... lo yang harus menyingkir dari motor orang..."


Mata Joy menatap tajam setajam cutter baru. Joy gak ada basa-basinya dan merasa gak perlu beramah-ramah, secara mereka berdua seumuran, gak ada kak Brill di daftar orang yang perlu dia hormati.


"Kalem dong... nyolot aja..."


Brill berdiri dari motor hitam milik Holly tapi gak bergerak menjauh. Awalnya Holly ragu untuk segera naik, tapi dorongan untuk menjauhi kakak tingkat ini membuat dia langsung menaiki kendaraannya.


"Permisi ya kak..."


Holly senyum kecil lalu menghidupkan motornya. Joy dan Faithly sudah naik di motornya Joy sedang memasang helm. Holly melakukan yang sama dengan helmnya dan tak menduga sesuatu yang tak diinginkan terjadi, Brill membantu dia mengenakan helm, mengambil helm di tangan Holly lalu memasangkan di kepala.


"Ehh... kak Brill, Holly aja..."


Holly menepis tangan Brill, tapi kalah tenaga, hingga akhirnya Brill leluasa memakaikan dengan sempurna. Kemudian Brill menahan motor Holly dengan dua tangannya, Holly gak bisa menjalankan motornya jadinya.


"Pengen ngajak kamu jalan sih, tapi ada temen kamu, lain kali ya... jangan nolak..."


"Aku gak bisa kak... kapan pun itu... maaf..."


"Aku juga gak akan berhenti sampai kapan pun... maaf juga... sampai kamu bilang iya mau jalan sama aku..."


"Kak Brill... aku udah bilang kan, gak bisa... ya gak bisa..."


"Karena udah punya pacar? Gitu?"


"Iya..."


"Kalian belum merit kok... belum terikat..."


"Kak Brill aneh..."


"Gak... aku realistis kok, aku suka sama kamu dan itu manusiawi. Dan berharap jadi pacar kamu itu harapan yang realistis kan, aku ngejar kamu juga itu manusiawi... gak ada yang aneh..."


"Mau jadi pembinor ya..."


"Kamu bukan bini orang..."


Astaga cowok ini jauh lebih mengesalkan dibanding Koko...


"Terserah kak Brill deh... "


Holly mals meladeni lagi, dia kemudian menjalankan motornya dengan berani, hingga akhirnya tangan Brill terlepas. Jadi berharap ada si Koko sekarang...


.


.


🦋


.

__ADS_1


__ADS_2