Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 46. Ketemu Tetangga


__ADS_3

"Kemaren ke mana seharian?"


Keke bertanya saat melihat Rommel masuk ke ruangan belakang tempat Keke mengolah dessertnya.


"Jemput Nuella..."


"Di kampungnya?"


"Iya..."


"Jauh ya?"


"Lumayan, sekitar dua jam-an dari sini..."


"Nanti ulang tahunnya Junior Nuella diajak ya..."


"Dia lagi sibuk skripsi kak... hanya acara anak-anak juga kan..."


"Kan kita orang dewasa ngumpul juga..."


"Iya aku coba nanti... kak keke tau sendiri dia gimana, gak bisa dipaksa juga..."


"Dia kayak masih belum ingin lebih dekat dengan keluarga kita... kalau pun datang saat diundang acara gak pernah sampai selesai udah minta pulang..."


"Iya, gak tau kenapa... mungkin kalau udah jadi istri aku baru dia berubah..."


"Udah mikir nikah kamu?"


"Iya lah, udah mau 26..."


"Kak Keke umur 28 baru menikah..."


"Beda kan, aku pengen serius sekarang, udah  enam tahun sama Nuella..."


"Udah selama itu? Perasaan sejak kuliah deh baru ngomong soal Nuella..."


"Iya sih... resmi jadi pacar setelah lama temenan, tapi udah bareng terus sejak SMA..."


"Kalau udah serius ngomong sama papa mama, Mel..."


"Iya... nanti aku ngomong. Ehh... Kak, aku mau ngasih rantang tiap hari buat Nuella ya... sama temennya, Holly...."


Rommel menunjuk dua rantang baru berukuran kecil yang dia simpan di meja dekat pintu penghubung ke dapur.


"..."


"Gak enak kalau buat Nuella aja, temennya yang bayarin kost Nuella selama enam bulan..."


"Baik banget temennya, kalau banyak uangnya masa digratisin rantang... "


"Holly kayak Nuella gak mungkin bayar kost-an mahal kayak itu. Pacar Holly yang bayarin sih..."


"Ehh?? Baik banget pacarnya... cocok sama kamu tuh... gak tega lihat orang lain kesusahan... "


"Ya... hidup bukan untuk diri kita aja kan kak... berkat bukan hanya kita terima untuk dinikmati sendiri, lebih bahagia memberi dari pada menerima, kayak puas gitu saat bisa membantu orang lain menyelesaikan masalah..."


"..."


"Boleh kak? Makanan tiap hari banyak lebihnya, kadang tante Lenda suka buang makanan sisa kemaren, dari pada dibuang kan lebih baik dibagi... lagian itu untuk calon istri aku loh..."


"Nuella mungkin iya, tapi temennya..."


Nada keberatan masih mewarnai suara Keke.


"Nuella cerita kalau temennya kuliah sambil kerja di kost-an mereka, gaji gak dibayarkan udah masuk dua bulan, temennya diancam ibu kost, Nuella diusir karena belain, makanya mereka pindah... lagian berapa sih porsi makan mereka berdua, Holly itu makannya masih banyakan Yica, kak..."


Keke sibuk dengan kue pesanan, seperti biasa langsung minim tanggapan jika sudah menyangkut orang lain, walau sejak nikah dengan Ben dia agak berubah, lebih cerewet sekarang.


Rommel bisa saja memutuskan sendiri niatnya untuk Nuella dan Holly toch dulu sering bawa makanan tanpa ngomong ke kakaknya, tapi waktu itu gak rutin dia lakukan. Sekarang dia merasa harus ada ijin karena Nuella tinggal hanya berjarak beberapa rumah dari sini, niatnya tiap hari bawain sang kekasih hati makan siang. Apalagi dia tahu Nuella sekarang sedang berhemat karena butuh banyak biaya untuk ujian skripsi dan ujian komprehensif, belum lagi persiapan wisuda.


"Kak Keke... calon istri aku lagi butuh bantuan, lagi nabung buat ujian akhirnya, lumayan kan uang makan siangnya bisa disimpan... masa aku bisa bantuin terus diam aja, lagian itu gak akan membuat kak Keke rugi..."


"Calon istri terus kamu ahh... ya udah... kamu atur sendiri..."


Rommel cengengesan...


Hati Keke melembut, kadang sisi kemanusiaannya perlu disentuh dulu dengan kalimat penjelasan yang panjang baru dia tergerak melakukan sesuatu. Hidupnya dulu yang begitu berat, berjuang sendiri tanpa uluran tangan orang lain, sehingga dia susah untuk bersimpati dengan keadaan orang. Dalam persepsinya dia bisa melewati gimana susahnya hidup, harusnya orang lain juga bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri. Hatinya baik sebenarnya tapi hanya pada orang-orang yang dia kenal.


"Makasih kak..."


Senyum Rommel mengembang sempurna, Rommel juga memberikan ciuman singkat di pipi Keke tanda terima kasih.


"Ehh... kenapa kalian semua jadi kayak papi Niol sih... suka cium sembarangan..."


"Itu hebatnya pengaruh papi Niol..."

__ADS_1


Sebuah suara khas muncul di pintu antara dapur dan bagian belakang ruko ini, dan dia langsung melakukan hal yang sama, lengkap di semua sisi wajah, Benaya sambil menahan Junior di gendongannya mencium mesra wajah istrinya diiringi tawa Rommel.


"Istri harus digituin Mel... meskipun bibirnya menolak tapi sebenernya suka baper kalau kita lupain hal kayak gini..."


"Siapa yang baper... Rommel belum punya istri juga... Inyo suka aneh ahh..."


Rommel makin keras tertawa melihat cebikan kakaknya.


"Jangan suka nipu diri sendiri loh, kak... emang bener kan suka baper kalau Kak Bipi langsung berangkat kantor dan lupain ritualnya..."


"Dihhh... kalian makin mirip kelakuannya..."


"Hehehe... sini Nior... main sama Momel... papi udah mau berangkat tuh..."


Rommel menarik bocah yang mau tiga tahun itu dari gendongan Ben, tapi anak itu makin menempel pada papinya. Kedua tangannya melekat erat di leher papi dengan kepala bersandar di bahu kokoh sang papi.


"Ndak mau... Niol ikut papi..."


Suara kecilnya sudah terdengar tegas, lucu aja kadang jika dia menolak sesuatu, suaranya bisa membulat seperti barusan.


Keke segera mencuci tangannya di wastafel yang tersedia, anaknya sedang rewel dan selalu membuat drama ini setiap pagi. Tangan Ben mengusap punggung anaknya, belakang kerjaan begitu menyita waktunya sehingga baru bisa pulang rumah malam hari saat anaknya sudah tertidur. Karenanya setiap pagi dia akan menunggu anaknya bangun, memandikan kemudian baru bersiap ke kantor. Untung saja posisi dan jabatannya memungkinkan dia datang sedikit lebih lambat dibanding karyawan biasa.


"Sini Dek... sama mami ya..."


"Ndak... ndak..."


Anak yang sejak kecil sudah terlihat gantengnya itu menepuk-nepuk kaki kecilnya ke perut papinya, tanda penolakan.


"Beli es krim yuk..."


Rommel membujuk, ini seperti jadi tugas pagi harinya sekarang, Keke suka kewalahan membujuk anaknya yang selalu berkeinginan kuat terhadap sesuatu. Terbiasa menghadapi kedua anak perempuannya yang begitu berbeda, selalu menurut apa kata Keke, menghadapi anak sendiri Keke malah harus dibantu orang lain.


"Mel... ini bukan saatnya makan es krim, jangan suka janjiin sesuatu yang gak sesuai waktunya..."


Keke suka marah jika orang-orang terlalu memanjakan Junior, si Franklin Delanno Rosevelt, terlebih jika menghancurkan cara dia mendidik, bahkan suaminya suka diomeli saat mengiyakan hal-hal yang diinginkan anaknya.


"Sini Adenya, Nyo..."


"Bakal nangis kenceng kalau dipaksa, mam..."


"Gimana dong..."


"Aku coba bujuk dulu... udah mandi juga bareng Nior tadi, tinggal ganti baju..."


"Inyo belum sarapan loh..."


Keke memang gak punya kosakata membujuk anak, sejak anaknya bisa bermain sendiri dia hanya mengawasi dalam diam dan menjawab seperlunya apa yang ditanyakan. Dia suka kehabisan bahan untuk mengajak anaknya bermain bersama, dulu juga dia jarang meladeni dua anak gadis miliknya untuk bermain. Walau tetap aja anaknya akan tetap mencari dirinya minta dikeloni jika sudah mengantuk.


"Mel... ikut kak Bipi keluar... nanti kamu ambil Nior di luar..."


"Jangan dibeliin es krim, Nyo..."


"Iya... sweety..."


Keke ingin meneruskan pekerjaannya yang sejenak terhenti, tapi sisi keibuannya berbicara, kasihan juga anaknya jika terus-terusan rewel saat melepas papanya berangkat kantor. Di luar, Ben mengajak anaknya bermain lebih dahulu, jika pergi begitu saja anaknya pasti akan menangis dalam waktu yang lama.


"Niol suka gukguk? Tuh... lihat, ekornya dia goyang-goyang, lucu kan..."


Ben coba mengalihkan perhatian anaknya. Dan berhasil, Junior mengangkat kepalanya yang bersandar di bahu papinya, tapi pegangannya di leher belum dia lepas. Dia memperhatikan apa yang ditunjuk sang papi tapi gak lama kembali lengket ke wajah papinya.


"Kak Mel..."


Holly mendekat ragu karena ada seorang pria sedang mengendong anak kecil di dekat Rommel.


"Hei... Holly... mau ke mana?"


"Ini kak... mau beli kuota, kata kak Nul, di sini jualan pulsa..."


"Oh... belum buka sih sebenernya, nanti siang biasanya, tapi gak papa deh buat kamu... tunggu bentar aku ambil kunci lemari dulu... ehh... iya... ini papinya Nior..."


"Saya Holly, om... temennya kak Nuella..."


Holly menunduk sejenak tanda sikap hormat, dan Ben hanya mengangguk dan tersenyum tipis.


"Tunggu bentar ya, Holly..."


"Iya kak Mel..."


Holly berdiri canggung tapi menatap Junior, sudah beberapa kali Rommel membawa anak cakep ini ke kostan, dan pernah bermain dengan Holly. Pada dasarnya Holly jadi suka anak-anak karena terbiasa mengurusi lima ponakannya. Mengatasi rasa canggungnya Holly menyapa Junior...


"Niol... main sama kakak lagi mau? Mobil trucknya Niol ketinggalan di kamar kakak loh..."


Junior menatap Holly yang sedang senyum padanya... dia ingat Holly, ingat mainannya.


"Mobiy tuk... minta..."

__ADS_1


Junior melorot turun dan melangkah pasti ke arah Holly.


"Mobiy Niol, ayoo... ambiy..."


"Sekarang?"


Junior mengangguk sambil meraih tangan Holly. Ben mengawasi saja, melihat sikap spontan anaknya yang dengan cepat turun dari pelukannya juga sikap Rommel yang mau aja melayani pembelian pulsa padahal belum waktunya dia buka ruko, gadis kecil ini mungkin bukan orang asing bagi keluarganya, hanya dia mungkin yang tidak kenal aja.


"Nior sama siapa?"


Keke muncul di pintu yang terbuka sedikit, heran Nior sekarang bergandengan dengan seseorang yang baru dia lihat. Holly menyadari siapa wanita cantik berlengsut pipit ini.


"Saya Holly, teman Kak Nuella, tante..."


"Ehh... kok tante, panggil kakak aja..."


"Gak mau ngaku ya udah tante-tante... udah tiga anaknya kali mam..."


"Apa sih, Nyo... aneh aja dengernya."


Ben tertawa sambil merangkul bahu istrinya, dan sebuah kecupan berlabuh di rambut istrinya. Holly tersenyum melihat pemandangan manis pagi-pagi.


"Inyo ahh..."


Keke malu, ada orang lain suaminya seperti gak ada sopan-sopannya. Tetapi sesuatu melintas...


"Tadi siapa namanya?"


"Holly, kak..."


Holly menjawab sambil sedikit menahan tangannya yang digoncang Junior.


"Ehhh... ehm, ingat sesuatu gak sih, Nyo..."


"Apa??"


Suami menatap gak mengerti.


"Holly... Holly... masa gak ingat? Pura-pura deh..."


"Maksudnya? Aku baru sekarang ketemu dia, apa yang harus diingat?"


"Ihh... mantan sendiri lupa, namanya Holly kan... sama namanya..."


Keke cemberut dan suaminya tertawa senang.


"Astaga... yang kayak gitu gak pantes disebut mantan... tapi kayak ada yang cemburu nih..."


"Ihh..."


Ben hapal tangan Keke pasti siap mencubitnya, tangan itu langsung dipegangnya, kemesraan kecil pagi-pagi yang biasanya di tempat tidur berpindah di sini, ada yang perang cubitan dan gelitikan. Sementara Holly agak kelabakan menahan tangannya yang terus ditarik Junior, bahkan sekarang minta gendong.


"Ayo... ambiy mobiy..."


Holly kemudian mengangkat tubuh gembul Junior.


"Kak... saya bawa Junior ke kost boleh? Mobilnya ada di kost saya..."


Dua insan yang sedang sibuk menahan rasa digoda dan menggoda, tersadar. Keke memerah mukanya menyadari kelakuan mereka berdua seperti remaja yang kembali jatuh cinta di depan orang lain. Junior fix ada di pelukan Holly yang bertubuh kecil.


"Aduuh Nior... jalan aja, jangan minta gendong, kasihan kak Hollynya kecil begitu..."


"Gak papa kak... aku pamit ke kost sebentar dengan Junior..."


"Iya boleh... tapi gak usah digendong Niornya, Holly..."


"Ndak mau..."


Nior menjawab dan sekarang gantian mencapit leher Holly, sambil menggeleng berkali-kali. Holly hampir kehilangan keseimbangan, anak lucu ini memang berat.


"Sini, Niol sama Momel aja, kita ke tempat kak Holly ya..."


Dengan kekuatannya, Rommel mengambil Junior sambil berjalan sehingga anak itu tidak meronta. Holly mengikuti dari belakang. Keke memandang lega, setidaknya drama anak kehilangan bapak tercinta gak diperpanjang episodenya --part Holly Tenry aja yang dibanyakin... gitu kan 😁🤭


"Berarti masih sempat dong..."


Sebuah bisikan maut disertai hembusan napas seseorang mampir di telinga Keke.


"Apa?"


Keke membalas dengan tatapan maut, tapi kalah terintimidasi tatapan menggoda suaminya serta sapuan tangan di sebuah area sensitif. Ben sih hanya menuruti sebuah nasehat yang bagus... hubungan dengan istri di pagi hari meningkatkan mood kerja dan meninggalkan rasa bahagia yang lebih besar... Keke akhirnya dengan rela mengikuti tarikan tangan hangat sang suami dengan muka yang bersemu merah...


.


.

__ADS_1


🦋


.


__ADS_2