
Ketiga cewek dengan postur serta pembawaan yang berbeda itu kompak memilih sebuah rumah makan ala-ala Jepang di lantai tiga mall ini.
"Ly... kamu pindah di mana sih sekarang?"
Faithly bertanya di sela mengunyah makanannya.
"Kamu tahu dealer mobil Suzuk*i yang terbesar di sini...ada jalan di sampingnya masuk sekitar seratus meter, ada kost-an bercat putih-hijau."
"Joy... kita mampir tempat kost Holly ya..."
Joy mengalihkan sebentar mata dari mangkok ramennya menatap Faithly, lalu mengangguk. Dia gak suka makan sambil ngobrol sebenarnya.
"Kenapa malah nyari kost di luar kampus?"
"Kak Nul yang nyari, aku ikut dia pindah, pacar kak Nul rumahnya deket situ..."
"Nuella maksudmu?"
"Iya... orangnya baik, udah kayak kakak... makanya aku ikut aja..."
"Udah gak kerja lagi dong kamu?"
"Iya..."
"Pantas gak pernah terlambat sekarang, terus udah gak ngantuk dalam kelas..."
Holly tersenyum masam, mengakui hal tersebut benar adanya.
"Iya, sempat gak fokus kuliah... Kerjaan terlalu banyak makanya suka gitu... cape sih hidup kayak gitu..."
"Kamu sih... hidup itu simple aja gak usah dibuat ribet, ada kakak yang biayain kuliah masih mau kerja aja, nikmati aja Ly..."
Joy menimpali, ramennya dengan cepat tandas tuntas sama kuahnya.
"Gak ada salahnya kali kerja sambil kuliah Joy... aku jualan online, lumayan dapet uang jajan lebih..."
"Kamu tuh jualan yang lain kek... ini jualannya helm..."
"Gak masalah apa barangnya yang penting lancar jaya..."
Holly menyimak, terbersit dalam hati untuk cari uang seperti Faithly. Uang bisa didapat dari mana aja bukannya hanya bekerja seperti yang dia lakoni selama dua bulan dan malah gak ada hasilnya, padahal badan serasa lulu-lantak setiap hari.
Holly mengunyah perlahan makanannya, berniat menanyakan pada Hanie soal ide jualan.
Ponselnya berbunyi... Koko lagi, tapi perasaannya udah gak sekesal tadi.
📱
"Ya Ko..."
"Udah makan?"
"Ini lagi makan ramen..."
"Di mana?"
"Di lantai tiga, hadap-hadapan sama tempat kita makan minggu kemaren..."
"Udah ke gramed?"
"Belum Ko, nanti selesai makan... Koko udah makan?"
"Udah..."
Telpon dimatikan, bibir Holly memberengut kesal masih pengen ngobrol sama pacar.
"Hei... bawaan kamu kesal meluluh dari tadi, Ly..."
"Masih mau ngomong udah ditutup aja..."
Holly tak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
Koko gitu amat sih...
"Hehehe... gak enak kan digituin, aku suka merhatiin kamu juga suka nutup telpon atau gak ngejawab panggilan Kokomu..."
Holly mengangkat mukanya menatap Faithly yang menertawakannya rasa kesalnya bertambah.
.
Di toko buku... tiga sahabat itu berpencar mencari kebutuhan masing-masing. Holly selesai mengambil kebutuhannya, beberapa ballpoint warna serta sebuah file holder plastik untuk menyimpan beberapa dokumen pentingnya.
Setelahnya iseng Holly ke rak novel, dia suka meminjam novelnya Nuella sekarang. Saat melihat-lihat di bagian itu, telinganya menangkap suara Brill di lajur sebelah. Untungnya rak buku di toko ini tinggi menjulang, menyembunyikan dengan baik tubuh Holly dari jangkauan pandang cowok itu.
Dia kebetulan di sini atau sengaja nyusul ke sini?
__ADS_1
Holly berjalan seperti mengendap melangkah tanpa suara, Holly buru-buru mencari dua temannya. Faithly ada di bagian alat music, sedang mencoba sebuah guitar, Holly dengan cepat melangkah.
"Fet... udah?"
"Hahh... eh iya..."
"Mau beli guitar ya?"
Holly memperhatikan tangan Faithly yang ternyata lihai memainkan alat musik petik itu.
"Baru rencana sih..."
Faithly mengantung kembali guitar ke tempat semula.
"Kalau mau beli guitar bagusan merek xxx..."
Gantian Brill yang mengambil guitar dan mulai memainkan alat tersebut sambil menatap Holly. Holly mundur seketika, orang yang dia hindari sekarang senyum padanya.
"Fet aku nyari Joy aja ya..."
Holly langsung berlalu sambil mencari sosok Joy di bagian depan toko. Belum sampai ke bagian yang dia tuju tangan kanannya ditangkap seseorang.
"Ling..."
"Hahh? Eh... Koko ke sini?"
Mimik Holly langsung berseri-seri, tiba-tiba dia menyadari dia butuh Koko di sampingnya, ada kak Brill yang bikin resah, dan dia gak tahu harus bersikap seperti apa. Holly memeluk pinggang Tenry dengan satu tangan sangking senangnya bertemu di sini. Sementara Tenry yang lagi kangen dan yang lagi bucin langsung menyambut tubuh kecil yang merapat padanya. Tangan Tenry berpindah mengacak sayang bagian atas kepala lalu berpindah merangkul bahu Holly.
"Beli apa?"
Lambat mereka melangkah di antara rak berisi ransel-ransel.
"Beli ballpoint.... sama file holder."
Holly mengangkat tas toko berisi barang dan segera berpindah tangan.
"Yang Koko kasih udah habis ya, satu dus loh?"
"Hehe... iya... suka lupa..."
"Masih aja teledor ya, lupain ballpoint di mana-mana..."
Koko menghitung ballpoint dalam tas belanja.
"Tambah lagi..."
"Belajar jangan lupain barang..."
"Iya... iya..."
Holly meringis diberitahu soal kebiasaan buruknya.
"Masih ada yang mau dibeli?
"Udah Ko... Bayar aja sekarang..."
Joy sudah mengantri di kasir. Holly melepas diri dari rangkulan Koko, membiarkan Koko yang mengantri untuk untuknya, kalau ada Koko gak usah sok mau bayar sendiri, percuma.
"Si Fet mana, Ly?"
"Gak tahu..."
Holly malas mencari, ada kak Brill yang suka aneh di sini.
Saat selesai membayar dan menuju pintu keluar Holly sengaja menempel pada Kokonya. Tenry senyum-senyum, Holly bertingkah manja itu fine-fine aja buatnya, malah menggemaskan.
"Ko... kita mau pulang, Koko gimana?"
"Lingling bareng Koko ya..."
"Motorku? Temen-temen mau ke kostku juga..."
"Temenmu bisa bawa motor gak?"
"Joy doang, dia bawa motor miliknya..."
"Aku yang bawa deh... sini kuncinya..."
Seseorang tiba-tiba bersuara di belakang mereka.
Ehh??? Nih cowok normal gak sih?
Tenry berhenti terpaksa Holly ikut berhenti juga. Holly menatap aneh kakak tingkatnya yang sedang tersenyum, Faithly dan Joy juga.
"Oh... gak bawa kendaraan sendiri ya?"
__ADS_1
Tenry bertanya sambil melempar senyum ramah pada Brill.
"Bawa sih... gampanglah, bantuin temen dulu..."
Brill juga tersenyum lalu mengulurkan tangan pada Tenry... segera dua cowok itu saling berjabat tangan.
"Brill... temen satu jurusan mereka bertiga..."
Holly melongo gak ngerti dengan sikap Brill. Sedikitnya si Brill udah tahu siapa Tenry karena beberapa kali melihat dari jauh saat Tenry datang menyamperi Holly di kampus. Jika dia beneran suka, masa segitu coolnya di hadapan saingan beratnya. Pacar ini ceritanya, statusnya udah kuat sementara dia seseorang yang coba masuk di hubungan ini dengan ngotot.
"Oh... temen kuliah juga, oke deh... Ling, kuncinya kasihkan ke Brill..."
Holly menarik Tenry agak menjauh.
"Koko... Lingling pulang sendiri aja, gak usah sama Koko... ya... nanti ketemu di kost aja... ya?"
Tenry harus dibujuk, biasanya apa yang dia putuskan gak akan berubah meskipun Holly protes, tapi sekarang dia benar-benar gak suka sama cara Brill.
"Kenapa? Gak suka ya Koko anterin pulang?"
"Bukan... gak suka aja motorku dibawa orang lain..."
"Dia temen kalian kan?"
"Gak begitu akrab, Lingling gak suka sikapnya... ayolah Koko Lingling pulang sendiri aja... nanti malam aja Koko dateng ke kost, kan sekarang ada temen-temenku mau ke sana... nanti Lingling cium Koko deh..."
Bagian terakhir kalimatnya disampaikan dengan berbisik sambil berjinjit dekat telinga sang Koko, dua tangannya berpegangan pada lengan Tenry.
"Hahaha... Sekarang? Kalau ciumnya sekarang Koko ijinin..."
Tenry juga berbisik sambil mengusap gemas kepala Holly, menikmati sikap Holly yang seperti ini ternyata bisa seketika menghilangkan rasa capenya sejak pagi hari berkutat dengan semua pekerjaannya.
"Ihh Koko... nanti, banyak orang kan..."
"Hahaha...."
Tenry merasa seperti seorang anak kecil yang sedang dibujuk pakai permen.
"Boleh ya Koko?"
Tenry menatap mata Holly yang penuh harap. Jadi ingin mencium di sini aja, gak usah Holly yang minta lakuin itu. Tapi belum pernah sih dapet ciuman dari gadis kecilnya, jadi penasaran gimana tingkahnya jika melakukan itu nanti.
Posisi mereka berdua yang cukup dekat dengan interaksi yang begitu intim, membuat Brill melengos.
"Mundur aja kak Brill, lihat mereka udah saling sayang, masa tega sih mau ngerusak hubungan orang..."
Faithly ngomong setengah berbisik.
"Gak ada yang pasti di dunia ini, gak usak sok nasihatin gitu... hidup hidup aku... gak ada hubungannya sama kalian..."
"Dasar ganjen gila... abnormal... udah kelihatan maksud lo apa, jangan sok baik..."
Ketus Joy menyerang Brill dengan suara keras, membuat Tenry dan Holly menegok bersamaan.
"Kak Brill, makasih udah mau bantuin, tapi Holly mau pulang sendiri... lagian Koko sibuk masih harus kerja..."
Tenry melirik Holly yang kali ini tegas berbicara dan dengan tegas menolak keinginannya, sesuatu menyelusup... senang juga karena Holly terlihat membatasi diri dengan cowok.
"Ya udah... Koko anterin ke motormu..."
Holly mengangguk.
"Brill... lain kali ya, tapi makasih udah niat bantuin..."
Tenry pamit pada Brill lalu menarik bahu Holly dan berjalan menyesuaikan dengan langkah kecil Holly menuju parkiran.
"Kak Brill... see you..."
Joy menarik tangan Faithly yang masih bersikap sopan.
"Gak usah baik-baikin dia ahh..."
"Eh... besok-besok kita butuh dia juga... kasihan juga tahu ngeliat orang yang cintanya bertepuk sebelah tangan..."
"Salah dia kenapa masih memupuk harap, udah tahu Holly gak suka, udah tahu Holly punya pacar masih aja ngotot kayak gak ada rasa malu..."
"Keren tahu lihat pejuang cinta kayak dia..."
"Ehh Fet, kamu di pihak siapa sih?"
"Holly lah... aku kan cuman bilang keren lihat perjuangannya... tapi gak ngedukung niatnya kali..."
Di belakang mereka, Brill melangkah lambat. Jika dibilang rada gila mungkin iya mengejar seseorang yang kenyataannya sudah punya pasangan. Tapi dia entah kenapa gak bisa mengontrol hatinya bila melihat sosok Holly. Rasa ingin memiliki begitu kuat melawan akal sehatnya. Ingin dia berada di posisi Tenry untuk memanjakan gadis itu...
.
__ADS_1
.