
"Sayang... nih minum dulu pilnya..."
Tenry si suami siaga jagain istri biar gak hamil dulu, masuk kamar dengan segelas air hangat di tangan. Holly sedang berbaring miring menghadap dinding. Dia padahal baru selesai menangis, baru bisa menangani gundah hatinya, malahan diminta untuk menelan sesuatu yang telah jadi racun di hatinya.
"Baby... bangun dulu terus hadap sini... entar kelupaan... berabe kan kalau lupa bisa bablas hamil..."
Begitulah momen setiap malam... setiap kali Holly gak pernah berniat untuk minum pil itu dan setiap kali pula Tenry selalu mengingatkan rutinitas yang harus dilakukan istri sebelum tidur.
.
☘️
.
Di akhir minggu, adakalanya Ci Cun masak besar dan mewajibkan anak-anak makan di rumah untuk makan siang dan makan malam. Seperti hari ini semua keluarga berkumpul di rumah, Ivy dan oma Cun rebutan menggendong baby Sansan, Holly hanya melihatnya dalam sedih, untuk mengalihkan kegalauannya dia mencoba membuat resep pudding yang baru dia pelajari dari chef di kafe.
Satu hal yang membuat dia bisa mengalihkan sedihnya adalah memperkaya kemampuannya mengolah berbagai dessert atau kue kecil yang disediakan di kafe, meminta diajari langsung sama chefnya seperti jadi kursus aja buat Holly.
Saat makan malam selesai...
"Nso Ling... puddingnya enak loh..."
Ivy yang lebih dulu mencicipi buatan tangan Holly, memuji hasil karya Holly kali ini.
"Syukur deh kalau enak, pertama mencoba soalnya... ternyata bisa langsung jadi..."
"Besok-besok Nso Lingling bisa buat toko dessert kayaknya... kemaren kue yang Nso buat juga enak loh..."
"Kursus buat kue aja Ling... biar tambah pintar..."
Beyvie memberikan masukan.
"Cukup belajar sama chef di kafe kayaknya aku udah bisa... dia gak pelit bagi tips kok... aku diajarin macem-macem..."
"Chef yang mana Nso?"
Ivy membulatkan mata, gadis tanggung ini mulai menyukai lawan jenis, yang bening-bening dengan tampang mirip pop idol selalu menarik perhatiannya, mungkin termasuk Chef Meldy karena tampangnya yang Asia banget, kulit putih dan tinggi dengan postur kurus tapi terbentuk karena latihan.
"Chef Meldy..."
"Chef Meldy itu yang mana Nso?"
"Itu... yang ada tatto kupu-kupu di leher..."
"Eh... yang itu... ganteng loh Nso... masih available gak?"
"Available?"
"Jomblo maksudnya..."
"Kata anak-anak sih... gitu..."
"Wah... boleh tuh buat Dede..."
"Bisa aja kamu, De... emang pudding atau pastry... begitu kamu suka boleh ambil..."
"Ya kan kalau masih jomblo Dede bisa pdkt... chef Meldy tipe Dede banget, Nso..."
"Ihh... jangan kayak gitu ahh... masa cewek yang mulai pdkt..."
Beyvie langsung menyanggah.
"Kalau suka kenapa gak..."
"Gak baik De... harus cowok yang mulai..."
"Sekarang mah bebas Cici... persamaan hak..."
__ADS_1
"Persamaan hak apa?"
Tenry datang bergabung, duduk lagi di samping istri di sekitar meja makan setelah terlibat percakapan sesama lelaki dengan Yongky dan papa Siong.
"Dede naksir chef Meldy, Ko... ganteng abis terus cool gitu... boleh dong Dede pdkt duluan..."
"Jangan ngebanting harga De... Justru cowok tuh ya jadi ilfeel liat cewek kayak murahan..."
Beyvie masih tidak suka sikap adik perempuannya.
"Seriusan Ci?"
"Iya... cowok tuh sifat basicnya suka menakhlukkan, suka cewek yang nantangin untuk ditakhlukkan..."
"Kalau suka gimana dong, dipendam aja gitu? Mana tahan sih menyukai dalam diam?"
Ivy memberengut, niatnya ditentang Cicinya.
"Ya dari pada kamu jadian tapi diremehin pacar, kamu yang bucin dia gak cinta... lebih bahagia tuh jadi cewek yang dibucinin tau gak..."
Holly hanya diam saja mendengarkan percakapan Ivy dan Beyvie sambil mencoba pudding buatan sendiri. Otaknya mengingat sesuatu, chef Meldy itu terlalu baik, suka nawarin ngajarin ini-itu dan jadi berubah dingin saat Tenry datang ke kafe.
"Baby... bagi puddingnya..."
Mulut Tenry terbuka siap menerima suapan. Holly melakukan keinginan suami, dibarengi sebuah pertanyaan...
"Enak gak?"
"Enak... enak... istri Koko makin pintar kayaknya..."
Sebuah ciuman di pipi Holly dari suami, ditanggapi datar Holly, entah kenapa dia gak seantusias dulu menerima semua perlakuan sayang suami, dia juga enggan bermanja. Mungkin karena kekecewaan soal anak yang terus bertahta di hatinya.
"Nih... buat Koko aja..."
Holly menggeser piring berisi potongan pudding ke depan suaminya.
"Suapin dong..."
"Makan aja sendiri dulu, Lingling mau ke toilet..."
Holly beranjak dari tempat duduknya menghindari suami dan menuju toilet yang ada di dekat dapur.
"Nso Lingling kenapa ya... Dede perhatiin Nso tuh gak kayak dulu, jadi banyak diam ngomong seperlunya... Dede kan suka curhat ke Nso Lingling... biasanya suka heboh kalau kita ngobrol... sekarang kayak ada masalah gitu..."
"Kayaknya kurusan juga Tenten... makannya dikit banget aku perhatiin..."
Beyvie menyambung...
"Masa sih? Perasaan Lingling biasa aja..."
Tenry memandang istrinya yang keluar dari toilet, memperhatikan istrinya dengan seksama mencari tahu benar tidaknya perkataan Ivy dan Beyvie.
"Sayang..."
Tenry memanggil sang istri yang terlihat menuju tangga mau naik ke ruang atas. Tenry mengulurkan tangan memberi isyarat supaya Holly mendekat. Holly mendekat lagi ke area meja makan, membatalkan niat untuk naik ke kamar, terlebih dia menangkap pandangan Beyvie yang memperhatikan dirinya.
"Lingling sakit ya?"
Tenry langsung menarik pinggang istrinya menempel padanya masuk dalam pelukannya. Tenry menelisik tubuh istrinya dan coba membuka ingatan di bagian mana istrinya berubah.
"Gak..."
Holly menjawab pendek.
"Kamu terlihat lesu Ling... jangan-jangan hamil..."
Beyvie nyeletuk menyatakan pemikirannya.
__ADS_1
"Lingling hamil?"
Mama yang keluar dari kamar peka telinganya langsung buru-buru mendekat, hati seorang oma yang langsung kesetrum karena menginginkan banyak cucu sekarang.
"Eh... belum kok... Lingling belum hamil ma..."
Holly menjawab pelan sambil melepas diri dari pelukan suami.
"Periksa Ling... bentar... mama minta mbak Sien atau si Nita beli testpack..."
Mama begitu antusias segera ke dapur.
"Gak akurat ma, ngecek malam-malam, lebih bagus pagi hari..."
Beyvie mengingatkan sesuai pengalamannya sendiri.
"Iya... tapi testpacknya beli sekarang..."
Mama melanjutkan langkah ke dapur.
"Lingling gak mungkin hamil Ci... Cici tahu kan..."
Holly berkata lemah pada Beyvie disambut anggukan kepala Beyvie.
"Aku naik aja ya... gigiku lagi sakit..."
Alasan gigi sakit muncul lagi karena airmatanya sempat keluar gak bisa ditahan, alibinya setiap kali Tenry mendapati dia menangis sedih.
"Besok harus ke dokter gigi ya.., jangan nolak lagi..."
Tenry menjawab tapi gak direspon Holly, bergegas dia naik ke kamar, toh dia gak perlu membantu apapun di sini, hanya kamar aja yang dibereskan sendiri atau menyimpan sendiri baju-baju mereka yang udah digosok, intinya hanya urusan kebersihan kamar pribadi mereka yang menjadi urusannya sendiri di rumah ini.
Duduk lebih lama bersama papa mama mertua dan Ivy serta Beyvie dan Yongky seperti ini membuat dia selalu sakit hati karena yang dibahas adalah soal anak, awalnya soal pertumbuhan Sansan, kemudian mulai membicarakan soal keinginan mendapatkan cucu laki-laki yang membawa nama marga mereka, sementara suaminya tutup mulut gak mau mengakui kenapa Holly belum hamil juga.
Dari pada dia menangis di depan semua dia memilih naik ke kamar aja, terlebih jika harus menerima testpack dari mama mertua nanti, dia merasa hatinya gak kuat lagi.
Tak lama Tenry naik...
"Sayang... masih sakit giginya?"
Holly diam gak berbalik. Tenry menunggu di tepi tempat tidur, Holly gak bergerak karena airmata udah ngalir lagi, beberapa bulan dia berusaha menyimpan resahnya sendiri berusaha fokus pada kuliah dan pekerjaannya tapi semakin lama dia semakin gak kuat menahan tekanan tentang anak, tentang kehamilan, dan tentang suaminya.
"Sayang... jangan tidur dulu ya... minum pilmu dulu... masa tiap malam harus Koko ingetin sih..."
Karena cuma Koko yang mau aku gak hamil...
Ingin meneriakkan kegundahan hatinya, tapi dia gak punya keinginan lagi untuk sekedar menjelaskan perasaannya sekarang.
"Lingling... kalau gak bisa nahan sakit giginya minum juga obat pereda nyeri... ayo bangun..."
Minum obat apa yang bisa meredakan nyeri di hati?
Tenry meraih tubuh kecil istri membantu dia duduk di tempat tidur, lalu dua tangannya menyodorkan gelas berisi air dan pil penghancur harapan Holly.
"Minum sekarang..."
Kepala Holly terangkat, saat melihat dua tangan Tenry, tangisnya meledak dengan suara tangisan yang juga gak bisa ditahan. Holly menutup wajahnya dengan tangannya.
"Sayang... Koko anterin ke dokter aja kalau kayak gini... nanti Koko minta tolong Rein hubungin temennya..."
Masih menutup wajahnya Holly menggeleng, bahunya berguncang karena tangisan sedihnya tertumpah sekarang, sedih karena suami masih aja salah menanggapi.
.
🦋
.
__ADS_1
Hii... pa kabar semuanya...
.