Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 120. Resiko Terburuk


__ADS_3

"Bukannya kita udah sepakat... menunda kehamilan sampai Lingling selesai kuliah?"


Tenry bertanya hati-hati dengan suara kalem, jari telunjuk bermain-main di pipi istri.


"Siapa yang sepakat... itu keinginan Koko sendiri..."


"Sebelum nikah loh... masih ingat gak waktu kita konsultasi dokter soal KB apa yang cocok..."


"Lingling gak setuju waktu itu Ko... tapi gak mau berdebat, kita lagi pusing soal papaku, Lingling gak mau nambah masalah... setelah nikah Lingling sering minta gak nerusin KB... Koko yang gak setuju, Koko yang ngasih alasan... Lingling berkali-kali bilang loh pengen punya baby..."


Suara istri yang membulat keluar dari bibit yang mengerucut, pola bibir yang terkatup cemberut membuat Tenry tahu rasa kesal dan marah masih tertinggal di sana.


Istri benar adanya itu bukan kesepakatan, itu keputusan sepihak darinya istri hanya menyetujui dengan terpaksa. Sekarang jadi dilema karena gak ingin istrinya menangis, pemandangan sedih tadi seperti sebuah sentilan di hatinya, mengingat juga berbulan-bulan dia melihat wajah tidak bahagia yang telah dia salah artikan. Tapi ada hal lain yang lebih melukai hatinya...


"Baby... awalnya alasan Koko memang karena kuliah Lingling, karena Koko tahu itu satu-satunya cita-cita Lingling... Koko memang memprioritaskan itu untuk Lingling, bukan anak."


"Iya memang... Lingling gak mau berhenti kuliah Ko... tapi setelah Sansan lahir, Lingling jadi pengen punya baby juga... Ko Yongky juga ngasih masukan punya satu dulu, takut efek KBnya buat Lingling kalau kelamaan..."


Tenry terdiam. Dia memaklumi istrinya pola pikirnya sederhana saja, bukan perempuan yang punya keinginan muluk-muluk, dengan cara berpikir yang belum matang prioritasnya bisa segera berganti. Waktu masih single keinginannya hanya satu yaitu kuliah, tapi setelah menikah dan jadi istri wajar jika kemudian dia menginginkan jadi ibu.


"Tapi... sebenarnya Koko takut Lingling hamil... saat melihat Cici, udah menderita nahan sakit tau-tau harus caesar..."


"Semua ibu memang merasakan sakit bersalin Koko..."


Sekarang Holly turun dari pangkuan suami, tangan suami segera meraih tangan Holly dan menggenggamnya sehingga Holly tidak menjauh tapi duduk melekat di sampingnya.


"Baby... Koko melarang bukan tanpa alasan..."


"Apa alasan Koko?"


"Ko Yongky menjelaskan kenapa Cici seperti itu. Cici tinggi memang tapi panggulnya kecil... tubuh Lingling jauh lebih kecil kan... Koko browsing, nanya ke dokter yang tangani Cici juga, tinggi wanita di bawah 150 cm punya banyak resiko saat hamil dan melahirkan... baik ibu juga bayinya... bayi bisa lahir prematur, ibu bisa pendarahan... banyak pokoknya... Koko gak mau Lingling mengalami itu..."


Genggaman tangan suami terasa erat, suara yang rendah menunjukkan sesuatu yang berat sedang terucapkan. Holly merubah posisi duduk menyamping menghadap suaminya, melihat langsung sekarang gurat ketakutan yang nyata di wajah suami.


"Koko... semua hal ada resiko, hamil dan melahirkan juga... tapi ribuan bayi lahir setiap hari loh... berarti ada ribuan ibu yang selamat saat melahirkan dengan semua resikonya... kenapa Koko terintimidasi dengan itu..."


"Koko lebih memilih hidup berdua Lingling selamanya tanpa anak... gak mau punya anak jika ada resiko besar untuk Lingling..."

__ADS_1


"Kita belum mencoba kan..."


"Hidup bukan buat coba-coba... resiko kematian udah dikasih tau... Koko gak mau ada kejadian Koko harus memilih istri atau anak..."


"Astaga Koko... punya anak itu anugrah kan... meskipun ada resikonya semua ibu tetap mau melahirkan beberapa kali... mamaku sampai tujuh kali melahirkan loh... kalau mama memutuskan steril rahimnya saat anak ke tiga atau ke empat, Koko gak nikah sama Lingling loh..."


"Steril?"


"Iya KB secara permanen, sterilisasi namanya kalau pria itu vaksetomi..."


Tenry diam, di satu sisi dia gak ingin Holly frustrasi lagi, bisa-bisa depresi seperti Cicinya dulu, tapi hatinya belum rela jika Holly harus menanggung kesakitan saat hamil dan melahirkan nanti.


"Koko... Lingling bisa punya anak dua atau tiga, bisa juga gak punya anak, atau meninggal saat melahirkan anak perta..."


Tangan Tenry cepat menutup mulut Holly dan dengan suara keras menegur istrinya...


"Jangan ngomong kayak gitu!"


"Dengerin dulu Ko... Lingling bicara soal semua kemungkinan yang bisa terjadi, gak ada yang tahu ke depannya hidup manusia seperti apa... tapi... kalau ada hal yang baik menanti kenapa kita ketakutan pada hal yang buruk yang belum tentu terjadi..."


"Sayang..."


Suara lembut istrinya memecah rambahan pikiran Tenry, senyum lebar segera menghias wajahnya.


"Koko mau dipanggil seperti itu... hehe..."


"Boleh... tapi Koko harus ijinkan Lingling hamil... ya?"


"Baby... itu bukan hak Koko, itu hak Yang Di Atas..."


"Iya maksudnya... Koko jangan minta Lingling minum pil lagi ya?"


Tangan Tenry terangkat membelai kepala istrinya yang sedang menatap penuh binar harap, dia lama kehilangan sorot mata seperti itu, raut wajah istri yang cerah sekarang, meskipun mata masih sembab tapi pancaran wajah ini begitu penuh hasrat, menunjukkan bahwa benar-benar anak adalah prioritas istrinya sekarang.


Tak tega membunuh harap yang tergambar nyata, akhirnya kepala Tenry mengangguk. Holly tak perlu ekspresi atau tanda yang lain, anggukan itu lebih dari cukup untuk memunculkan ribuan bahagia di pori-pori dan menyebar ke seluruh jiwanya.


Tangan kecilnya memeluk suami... portal airmata terbuka lagi, lolos beberapa tetes dari ujung mata, tapi kali ini dengan makna berbeda.

__ADS_1


"Makasih sayang... Lingling sayang Koko... sayang banget..."


"Hei... kenapa nangis..."


"Lingling senang Ko... hehehe..."


Tenry tersenyum, lalu menyambar bibir mungil yang juga sedang tersenyum, meneruskan dengan aktivitas saling memanjakan yang sebelum ini begitu jarang mereka lakukan. Keinti*man pertama di kamar baru di rumah baru di atas ranjang baru yang masih terbungkus plastik.


.


Setelah menit-menit romantis, segera semua penghalang di antara suami istri itu sirna... Holly kembali cerewet mengungkapkan apa yang dia inginkan di rumah baru ini.


"Koko... itu kenapa kamar atas masih polos... Koko lupa ya apa yang Lingling minta... tadi Lingling nangis lihat kamarnya kosong..."


"Oh itu ya penyebabnya, tapi baguslah, Koko jadi tahu perasaan Lingling... sebelum ini ditanyain gak mau terus terang. Nanti kita buat ya, kebetulan kamar kita belum beres... sekalian aja..."


"Apa yang belum beres, udah selesai kan?"


"Itu di bagian headboard tempat tidur Koko gak suka warnanya, terlalu gelap... Koko juga gak suka penempatan lampunya..."


"Oh gitu... Lingling sih suka semua, hanya ruang belajar Lingling kenapa di bawah sini, maunya di lantai atas aja..."


"Oh gitu... nanti kita pindah ke kamar satu lagi di sebelah kamar anak... mau kayak gitu?"


"Iya... iya... kamar anak satu aja dulu, hehe... Lingling tuh mau anak satu aja dulu, setelah selesai kuliah baru kita nambah satu atau dua... ya Ko?"


Tenry melengos, hatinya masih belum lega, belum sepenuhnya rela walaupun tadi udah memberi ijin istrinya gak lanjut menggunakan KB... mendengar istrinya berencana punya anak tiga seperti memberikan berton-ton beban di punggungnya. Bukan karena gak bisa menghidupi sih, hanya saja... mungkin benar kata istrinya dia terintimidasi dengan artikel soal wanita bertubuh pendek punya resiko tinggi untuk hamil dan melahirkan.


.


🦋


.


Guys, angka 120 buatku itu panjang dan lamaaa... Tenry dan Holly butuh lebih banyak episode rupanya hehehe... asal pembaca tetap menyukainya aku senang-senang aja nulisnya... wasalam 🙏


.

__ADS_1


__ADS_2