
Pagi hari, di meja makan sudah tersedia menu sarapan sesuai dengan selera tiap anggota keluarga. Masih terlalu pagi untuk orang lain tapi tidak dengan keluarga ini, sebelum jam enam pagi biasanya sarapan sudah dimulai oleh Ci Cun, disusul anak-anaknya sedangkan sang kepala keluarga akan sarapan setelah berolahraga. Tenry menikmati sarapannya dalam diam. Ada mamanya di bagian ujung di kepala meja dengan aktivitas rutinnya.
Hari-hari yang dia jalani terasa dingin sepi dan hampa. Tadinya bersama Holly dia menemukan cinta yang beda, cinta yang dia inginkan yang langsung mengikat seluruh jiwanya, cinta yang menguat di raganya, penuh di semua bagian hatinya, cinta yang mengarah pada harapan masa depan. Bagai mimpi indah cerah dan hangat yang penuh semangat ingin dia gapai, tapi hanya sesaat, ketika dia yakin telah meraih dan menggenggam harapan itu, dia terjatuh dalam sebuah mimpi buruk yang dingin dan gelap. Mamanya membelokkan lalu kemudian Holly menghempaskan, tidak memberi kesempatan untuk dirinya melakukan sesuatu. Tapi dia teguh gak ingin menyerah dengan mudah, akan mencari Holly sampai menemukan dia kembali, bertahan hingga Ci Cun merestui.
Setiap pagi sebelum semua aktivitas padatnya dia mengambil kesempatan mengitari kampus sebuah universitas negeri di kota ini, mendatangi fakultas yang disebut Holly sebagai tempat kuliah pilihannya, memperhatikan banyak mahasiswa mencari kemungkinan ada Holly di antara mereka. Malam hari dia ke sana dengan motor masuk ke lorong-lorong di sekitaran kampus berharap bertemu Holly di salah satu kost-kostan.
"Ko... tolong cek ekspedisi, barang kita tertahan, ini mama terima wa dari Ambon, barang kita belum sampai sudah lewat lima hari..."
Ci Cun mengangkat muka memperhatikan anaknya sesaat lalu serius lagi dengan bendelan nota pinknya.
"Langsung ke sana jangan ditelpon, jawabannya suka lips service, beri peringatan kita akan putuskan kerjasama udah sering seperti itu..."
Tenry diam saja, dia sudah tahu hal itu dan dia sudah lakukan itu kemaren tapi dia malas menjelaskan pada mamanya. Sejak Holly menghilang dia malas berinteraksi dengan siapa pun, malas senyum, untung gak malas makan, bagaimanapun juga dia perlu energi untuk bekerja dan untuk terus mencari Holly di semua sudut kampus.
"Jangan lupa hari ini ke gudang yang di pelabuhan, ada pengiriman besar hari ini..."
Ci Cun memandang Tenry sekarang, gak ada jawaban apapun keluar dari mulut anaknya dan itu aneh.
"Ko?? Denger apa yang mama bilang tadi?"
Tenry menoleh sekilas lalu mengangguk. Dia meneguk habis air putih miliknya lalu bergegas naik ke kamarnya mengambil tas yang sehari-hari dia bawa berisi ponsel, dompet dan beberapa kebutuhan lain yang selalu digunakan saat kerja ke sana ke mari di banyak tempat usaha mereka.
"Ma... mama perhatiin Koko gak? Kayak berubah gitu... Ditanyain hanya mengangguk atau mengedikkan bahu..."
Hati Ci Cun terusik dengan pernyataan si bungsu.
"Tiap sore balik ke sini terus keluar lagi dengan motor... apa Koko gabung sama geng motor lagi kayak waktu SMA?"
"Sejak kapan Koko kayak gitu?"
"Udah lama ma... aku gak inget persisnya..."
Ci Cun coba menggali sesuatu dalam pikirannya, mengumpulkan ingatan tentang sikap anaknya terakhir ini, benar kata si Ivy Tenry jadi pendiam. Sejak kapan? Dia tidak memperhatikannya, dia fokus dengan kesembuhan serta terapi Beyvie sampai-sampai jarang berinteraksi dengan anak lelaki satu-satunya. Sebuah ingatan melekat di kepala, Holly. Apa Tenry berubah karena dia meminta anaknya mengalah untuk Beyvie?
Batin seorang ibu bergejolak saat mengingat pengakuan Tenry. Setahu dia Tenry dan Holly baru saja bertemu saat Tenry kembali ke tanah air, bahkan waktu itu pacarnya Glo masih ikut datang ke kota ini. Jadi tidak menyangka Tenry bisa punya hubungan dengan Holly secepat itu. Dan dia tidak menimbang apapun saat meminta Tenry mengalah selain kesembuhan Beyvie. Apa itu berpengaruh pada perilaku Tenry sekarang?
"Pergi ma..."
Suara Tenry berpamitan dengan kalimat singkat tanpa menoleh padanya membuat Ci Cun sadar anaknya dingin sekarang, bahkan mungkin marah pada dirinya.
"Tuh ma... bener kan... Koko gak kayak dulu... Cici belum mau ngomong banyak, sekarang ditambah Koko seperti itu, dua-duanya kayak gak kenal sama Dede sekarang..."
Ivy mengeluh sedih biasanya bisa bermanja pada dua kakaknya sekarang gak bisa, berbicara dengannya pun mereka malas.
"Dede berangkat sekolah ma..."
Anak bungsu yang berseragam putih abu-abu sekarang melangkah gontai menyeret ransel beratnya karena buku pelajaran yang tebal-tebal.
"Iya... hati-hati... jangan ke mana-mana setelah pulang sekolah..."
"Iya... iya..."
Setelah sempat terputus dengan celotehan kesal Ivy, Ci Cun kembali memikirkan keadaan anak-anaknya. Holly... dia suka anak itu, tapi dia lebih memilih Hanie jika sebagai menantu, Hanie lebih dibutuhkan sekarang khusus buat Beyvie yang terlihat gak menolak lagi ide jodoh menjodohkan ini. Menerima keduanya sangat tidak mungkin, belum pernah ada di keluarga mereka. Ci Cun berdiri menuju kamar, ingin bicara serius dengan suami yang hari ini tidak ke lapangan untuk kegiatan rutinnya berolahraga.
"Siong... mau sarapan sekarang?"
Ci Cun bertanya pada suami yang sibuk di belakang meja kerja yang tersedia di situ. Mereka berdua gak punya panggilan khusus, gak kepikiran tentang hal romantis karena dua-duanya penggila kerja, jadi sejak awal menikah gak ada kamusnya tentang romansa indah seperti kata sayang atau rayuan, yang ada bahkan percakapan di tempat tidurpun tentang bisnis.
__ADS_1
"Boleh... boleh..."
Ko Siong langsung berdiri tapi segera mengernyit saat melihat istri tidak beranjak keluar malah duduk di tepi ranjang.
"Loh... katanya mau sarapan?"
"Aku ngomong sebentar... ini serius..."
Tubuh yang masih tegap walau di usia yang tidak muda lagi, berjalan mendekati istrinya lalu duduk bersama di tepi tempat tidur.
"Tentang apa?"
"Tenry... dia pacaran dengan Holly... tapi kita butuhnya Hanie untuk masuk dalam keluarga, Cici gak boleh seperti ini lagi..."
"Kenapa dengan hal itu?"
"Holly itu adiknya Hanie..."
"Ikutin anak-anak aja maunya apa... kenapa dibuat rumit? Cici gak suka Hanie kan? Gak usah dipaksa..."
"Siong... kamu yang bilang Hanie bawa Hoki kan? Kamu setuju juga kita jodohkan dia sama Cici, kenapa berubah? Cici udah setuju..."
"Iya, tapi jangan paksa Cici buat keputusan sekarang, dia belum stabil..."
"Baik... tapi Cici yang harus jadi prioritas, Tenry aku minta mengalah..."
Ci Cun sangat teguh dengan niat hatinya, semua sudah dihitung dengan baik, sejak lama dia sudah memilih dan tahu untung ruginya, walau tak memungkiri terusik dengan kelakuan Tenry, jangan-jangan dia telah menyakiti anaknya.
"Kamu bilang Hanie gak pernah menanggapi?"
"Setelah kejadian itu, dia gak menolak... hanya bilang gak ingin adiknya sakit hati..."
"Dia diam... aku gak ngerti..."
"Kau lebih tahu anak-anak. Mengenai hal ini pertimbangkan lagi jangan ada yang merasa dikorbankan. tapi juga tidak boleh dua-duanya, kurang bagus seperti itu, aku belum pernah ketemu hal begini, itu tidak biasa..."
"Tenry tampaknya gak menerima saat aku ngomong supaya dia mengalah untuk Cici... dia juga bertingkah aneh, gak seperti biasa..."
"Cuunn... jangan sampai kamu memaksakan kehendakmu pada anak-anakmu dan akhirnya semua jadi korban..."
"Jadi harus bagaimana?"
"Sabar dulu, prioritas pada kesembuhan Cici dulu, setelah dia sembuh baru ngomong soal ini..."
"Cici udah 27 tahun juga... usianya udah pas untuk nikah..."
"Jangan gegabah... tenangkan hatimu juga... ayo, aku sarapan sekarang..."
Ko Siong berdiri dari tempat tidur lalu keluar kamar.
Ci Cun menyiapkan sarapan suaminya lalu duduk menemani.
"Cici mana?" Ko Siong bertanya saat melihat tempat Cici sarapan, piringnya masih bersih.
"Oh iya... mbak.... buatin aja omeletnya Cici..."
Ci Cun melongok sejenak di dapur lalu naik ke ruang atas. Sejak pulang dari rumah sakit anaknya masih harus diingatkan untuk semua hal termasuk untuk makan, masih seperti robot yang harus diperintah untuk melakukan apa-apa, bahkan mandi pun masih harus diingatkan. Masuk ke kamar anaknya yang tidak pernah dikunci sekarang, terlihat Beyvie yang meringkuk di bawah selimut. Dalam keadaan normal anaknya sepagi ini sudah merawat bunga mahal miliknya. Dan seperti dirinya Beyvie termasuk gadis yang tidak bisa diam sejak punya usaha sendiri. Tapi sekarang... anak ini belum bergairah melakukan apapun selain mengurung diri di kamar...
__ADS_1
Hati yang sesaat tadi bimbang karena sikap Tenry, kini yakin lagi tentang niatnya untuk Beyvie.
Koko lelaki, bisa menangani perasaannya sendiri...
Ci Cun membelai kepala anaknya dengan sayang.
"Cici... bangun nak... sarapan dulu..."
Beyvie menggeliat lalu bangkit dari tempat tidur, tanpa bersuara dia menuju kamar mandi. Ci Cun menuju jendela dan menyibak tirainya. Tak lama Beyvie keluar lagi, terlihat lebih segar walau baru membilas wajah dan sikat gigi.
"Sini... sisiran dulu..."
Ci Cun menuntun anaknya duduk lagi di depan meja rias, menyisir rambut dengan hati-hati. Bagaimana dia gak memprioritaskan perasaan Beyvie, anaknya sekarang seperti saat masih TK dulu, hanya urusan pribadi di kamar mandi yang gak diurus Ci Cun, seperti mayat hidup saja, matanya kehilangan cahaya, tak pernah ada senyum menghiasi wajah cantiknya. Ci Cun gak tega bahkan selalu khawatir anaknya mengulang perbuatan bodohnya.
"Ci... kita jalan-jalan ke luar negeri mau? Cici yang pilih mau ke mana..."
Anaknya hanya mengangguk dengan tatapan kosong, apapun yang dibicarakan responnya sama.
"Hari ini Cici mandi ya... dandan yang cantik, kita mau ketemu dokter, ada jadwal konseling kan..."
Cici bediri tiba-tiba lalu bergegas je kamar mandi.
"Cici... mau apa?"
Ci Cun kaget dengan reaksi Beyvie yang begitu spontan.
"Mandi..."
Ci Cun menghela napas lega... semoga anaknya akan lebih baik ke depannya.
.
🌳
.
Tenry terpaksa berhenti di sebuah minimart, ada kursi yang tersedia di selasar depan, dia duduk di salah satunya. Hujan deras mengguyur menghentikan pencahariannya sore menjelang malam ini. Hari ke sekian, tak menghitung lagi, tapi tak ada niatan untuk berhenti sampai menemukan sendiri.
Hanie tak banyak membantu hanya menjanjikan jika Holly menghubungi dia pasti beritahu. Dia tak mendesak Hanie untuk bicara pada mamanya karena cukup mengerti posisi Hanie. Persahabatan mereka memang terganggu dengan hal ini, sehingga hubungan mereka agak kaku belakangan, tapi dia berusaha memposisikan diri sebagai sahabat tidak menekan Hanie, terlebih dia tahu rasa sayang Hanie pada Holly.
Semua sedang dilema memang, termasuk mamanya. Hanya berdoa dalam hati kondisi psikis Cicinya membaik dan bisa menentukan sendiri apa maunya.
Tenry membuka fbnya berselancar di sana dan terpaku pada sebuah unggahan beberapa hari yang lalu, sebuah foto Holly bersama seseorang, gadis kecil yang sedang menjadi pusat kerinduannya. Sejak Holly pergi dia membuka akun gadis itu di ponselnya, dia yang buatkan dulu jadi tahu passwordnya. Tenry mengkonfirmasi banyak permintaan pertemanan, berharap ada di antaranya teman kuliah Holly. Dan hari ini dia bisa tersenyum ada foto terbaru Holly yang bisa mengobati rindunya.
Tenry masuk ke akun yang memposting foto tersebut, menelusurinya dengan tak sabar... dan bibirnya tersenyum semakin lebar, info yang dia cari dia temukan... tempat kost gadis bernama Nuella Sharon Felicia.
Hujan masih deras bahkan disertai gemuruh kilat di langit, rasa dingin mulai menyebar di pori-pori kulit, tapi hati seseorang menghangat...
Koko kangen Ling...
.
🦋
.
👍🙏
__ADS_1
Terima kasih buat atensi readers sekalian.....