Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 144. Masih Aja Menghitung


__ADS_3

Holly bertanya-tanya, akhir-akhir ini kakak iparnya Yosie intens berhubungan dengan suami. Teringat saat syukuran wisuda kakak ipar itu sempat ngobrol lama dengan suami. Instingnya memunculkan rasa was-was, dia tidak ingin ada dari keluarganya yang memanfaatkan suami karena status sebagai keluarga.


Dia ingin membicarakan itu dengan suami, tapi dampak acara anniversary masih terasa, sejak akhirnya kembali ke rumah komunikasi masih tersendat. Pergi kerja masih dengan mobil masing-masing, hanya bercakap seadanya dan hanya berkaitan dengan Echa. Jika Echa dibawa Holly ke kafe, Tenry akan mampir sebentar untuk bermain, lalu pergi lagi dan nanti mereka bertemu di rumah pada malam hari.


Aktifitas udah normal sebenarnya, gak ada yang saling menghindar tapi entah kenapa keduanya seperti punya sekat sekarang. Holly bertanya-tanya apa yang menyebabkan suaminya mendiamkannya, begitu marahkan soal Brill... Tenry sendiri gengsi karena malu alasannya untuk cemburu terlalu kekanakan, dan banyak hal yang dia harus selesaikan soal pekerjaan membuat dia lupa berusaha memperbaiki hubungan mereka.


Hari ini di kafe...


Yosie sedang bercakap dengan Tenry sambil makan siang, terlihat sudah direncanakan suami karena suami datang ke kafe dan tidak naik ke ruang atas untuk makan berdua seperti biasa, tapi langsung mengambil tempat duduk di area kafe. Holly gak terlalu mempermasalahkan menyediakan makan dan minum walau sedikit mengerutkan keningnya saat tahu item yang dipesan kakak ipar adalah menu termahal di kafe ini dan dalam jumlah yang banyak pula.


Ternyata Yosie juga membawa lima orang temannya yang selama pembicaraan dengan Tenry mereka duduk di meja terpisah dan kemudian beberapa kali menambah pesanan, terlihat sekali memanfaatkan kesempatan makan gratis, sampai meminta take away juga. Jika itu keluarga atau temannya Holly tak akan mempermasalahkan, tapi ini orang-orang yang tidak dikenalnya dan terlihat tidak sopan karena mengganggu karyawan wanita yang melayani meja mereka.


Pintu kantor diketuk, lalu seseorang langsung membuka pintu sebelum Holly menyahut.


"Holly..."


"Iya? Ada apa Yos..."


"Aku udah selesai bicara dengan Tenry... mau pamit..."


"Iya..."


Holly menjawab pendek saja, penasaran sebenarnya tapi perasaan risau membuat dia malas berbasa-basi. Tapi dia berdiri juga dari tempat duduk, kurang sopan rasanya membiarkan Yosie begitu saja walau Holly juga gak menyuruh Yosie untuk duduk.


"Kapan-kapan aku bawa anak-anak makan di sini ya..."


"Iya... boleh aja..."


"Mereka juga pengen main ke rumahmu..."


"Ohh? Iya..."


Kali ini Holly menjawab ambigu antara senang aja keponakannya berkunjung, mengingat selama ini mereka seperti kehilangan kontak gak saling berhubungan, dalam beberapa tahun ini baru sekali bertemu saat syukuran wisuda. Tapi walau bagaimana pun keponakannya ini pernah begitu dekat dengannya. Sekalipun seribu kenakalan dan urusan tentang mereka pernah menyibukkan dan melelahkan dirinya, tapi tetap aja gak memungkiri mereka pernah menjadi bahagian dalam hidupnya.


Tapi di sini Holly mulai mengkhawatirkan sesuatu terutama mengenai kedatangan Yosie dan urusannya dengan Tenry.


Yosie maju beberapa langkah dari tempatnya berdiri...


"Papa ingin bertemu denganmu..."


Holly memang ingin bicara dengan sang papa, permintaan Lina waktu itu telah dia lakukan dan mama masih berkeras menunggu papa di rumah opa, jika papa serius papa ingin bersama lagi papa yang harus ke sana, itu sudah jadi keputusan mama. Mereka memang tidak bercerai, tapi mama gak ingin bersama lagi jika papa gak berubah.


"Ohh gitu ya... aku juga pengen ketemu, nanti aku minta papa datang ke sini aja... nanti aku telpon papa..."


"Jangan, nanti papa minta aku yang anterin lagi, kamu ke rumah aja, sesekali kamu ke rumah kami yang sederhana gak seperti rumahmu. Atau kalau pengen papa ke sini kamu yang jemput, aku sibuk..."


Holly memandang Yosie dengan gusar, ini apa? Dia gak sepenuhnya berubah, selalu meminta orang lain melakukan sesuatu dan hanya ingin melakukan sesuatu untuk orang lain jika berhubungan dengan kepentingan sendiri.


"Aku juga banyak kerjaan, nanti lihat waktu kalah aku bisa jemput..."


"Holly, jangan mentang-mentang sibuk orang tua dinomorduakan, kamu juga wajib ngurus papa... kamu salah satu anak jangan tutup mata soal papa, jangan bebankan ke kami semuanya, sudah empat tahun papa numpang di rumah kami..."


Holly semakin gusar di sini. Kakak iparnya gak sadar lebih sepuluh tahun dia numpang di rumah mama dan semua urusan rumah tangga mereka banyak dikerjakan Holly, lagi pula rumah yang sekarang adalah pemberian opa, bukan hasil keringat kakak iparnya ini. Holly sangat paham laki-laki ini sama malasnya dengan papanya, kerjaan setiap hari hanya nongkrong bersama teman dengan gaya parlentenya, hidup dari gaji Herlina.


"Ekhm... kami gak tutup mata Yos... saya rutin kirimin papa uang..."


Tenry berbicara di belakang Yosie, kemudian melangkah melewati iparnya hingga berdiri di samping Holly. Istri yang kaget Holly membulatkan matanya memandang suaminya, sesuatu yang baru dia ketahui yang tak pernah dibicarakan suami selama enam tahun pernikahan mereka. Tenry mengerjabkan mata mengirim isyarat akan menjelaskan nanti.


"Eh... oh... eh... masalahnya, papa selalu minta uang..."


Yosie mendadak gugup perkataannya di dengar Tenry, dia hanya bermaksud mengatakan itu pada Holly dengan tujuan supaya Holly ikut menanggung biaya hidup si papa mertua tanpa mengetahui tentang apa yang Tenry telah lakukan.


"Begitu... masih ada perlu sama Holly? Soalnya kami harus berangkat sekarang, masih banyak urusan..."


"Oh... udah gak ada, saya juga ada urusan penting, saya hanya pamit sama Holly..."

__ADS_1


"Ok... yuk sayang..."


"Aku pergi dulu Holly, Tenry..."


Tenry mengangkat tangannya pada Yosie lalu tanpa melihat Yosie lagi menarik lembut tangan Holly. Holly mengikuti suami tanpa tahu mau ke mana karena gak ada rencana keluar bersama sebelumnya, mereka jarang bicara sekarang. Yosie pun buru-buru meninggalkan kafe itu lewat pintu di depan diikuti teman-temannya.


"Kita mau ke mana Ko?"


Holly akhirnya bertanya setelah tadi merasakan tangannya digenggam dengan hangat oleh suami, lalu sekarang ganti tangan itu merangkul bahunya, mendekapnya erat... perasaan indah secepat kilat menyusup di hatinya yang telah lama menanti kehangatan ini... membuat dia ikur merapatkan tubuhnya dan tangannya naik ke pinggang suami, ada yang sedang menyatukan kerinduan...


Tenry menyambut tindakan istri dengan sebuah ciuman singkat di kepala. Lalu batal membawa Holly menuju ruang atas tapi ke arah pintu keluar lewat samping menuju mobilnya.


"Kita jalan-jalan dulu aja ya... berdua... udah lama gak  keluar berdua..."


"Kenapa mendadak sih?"


Aliran percakapan jadi lancar sekarang...


"Tiba-tiba kepikiran dan pengen berdua..."


"Bentar kalau gitu, Lingling ambil tas dulu..."


Holly melepaskan dirinya dari pelukan Tenry lalu berbalik menuju kantor, mungkin gak balik lagi ke sini. Ada perasaan heran tiba-tiba suaminya punya ide jalan-jalan di tengah kesibukan mereka, hari ini dia tahu masih ada sisa pekerjaan yang harus dikerjakan suami. Tapi hatinya diliputi rasa bahagia tak terkira, mereka sudah berbicara layaknya seorang suami dan seorang istri... terasa tidak ada sekat lagi di hati, yang ada hanyalah kerinduan untuk melewati waktu berdua... Holly pun menyukai ide jalan-jalan ini.


Di mobil...


"Mau ke mana kita Ko..."


"Belum tahu... bagusnya ke mana?"


"Koko ihh... Lingling maunya pulang rumah, kangen Echa..."


"Echa terooos... sesekali suami juga dipikirin..."


"Apa... Koko ditinggal istri begitu aja..."


"Ihh... siapa yang gak mau ngomong... udah ditanya-tanya gak mau jawab, Lingling kesel kan... masa Lingling disalahin..."


"Udah ahh jangan diingat-ingat yang itu... udah selesai... ya? Koko minta maaf, tapi Koko gak suka kalau marahan Lingling tinggalin rumah, itu yang bikin Koko tambah marah... jangan buat lagi..."


"Iya Ko... maafin Lingling juga..."


Tenry mengusap kepala Holly dengan sayang. Tenry yang sekarang adalah Tenry yang begitu sayang istri.


"Sini tangannya... Koko pengen disayang-sayang juga..."


Tenry mengambil tangan Holly lalu meletakkan di kepalanya.


"Hihihi... Koko kayak suami kekurangan kasih sayang..."


"Itu kalimat Koko ahh..."


"Hihihi..."


Holly tertawa, memang itu suka sekali diucapkan suami saat dia bermanja minta disayang-sayang.


"Ini beneran hanya jalan-jalan, bukan karena ada sesuatu?"


Holly melanjutkan mengejar alasan Tenry mereka mendadak jalan, dia merasa curiga suami tiba-tiba menyela percakapannya dengan Yosie tadi.


"Gak ada apa-apa... udah Koko bilang tadi tiba-tiba kepikiran, kangen Lingling, sekalian baikan, emang gak boleh?"


"Bukan gak boleh, jadi curiga ada sesuatu..."


"Gak ada, itu aja... cuma... maafin soal papa, Koko gak pernah kasih tahu..."

__ADS_1


"Gak masalah sih buat Lingling, tapi jujur Lingling kaget... enam tahun loh Koko gak bicarakan itu sama Lingling..."


"Iya... awalnya Koko berpikir hanya sekali dua kali... tahu-tahu papa sering minta, ya udah Koko terusin ngasih toch itu papa mertuaku..."


"Jadi tiap bulan Koko ngasih uang?"


"Iya..."


"Gimana caranya? Papa ketemu Koko?"


"Gak... Koko mau buatin rekening papa gak mau, katanya gak bisa menggunakan ATM... jadi Koko suruh ke gudang yang di pelabuhan setiap tanggal 5... Meini, bagian keuangan di sana yang ngasih..."


"Berapa banyak?"


"Dua juta..."


"Astaga Ko... ada duit segitu sih papa tambah malas kerja... papa gak berulah kan... gak minta tambah, gak minta ini-itu?"


"Hehe... Meini pintar, dia cukup garang sih makanya papa takut, kalau papa datang minta tambahan, bulan berikutnya Meini potong jatah papa sebanyak yang papa minta... Meini juga suka bilang... kalau om macem-macem, bulan depan jatah om bakal dihentikan sama bapak... gitu sih... padahal Koko gak pernah bilang seperti itu... tapi Koko kasihan sih, mertua sendiri kan... kayak gak hormat... Koko dilema sebenarnya, sedikit khawatir Ci Cun tahu tentang itu. Di keluarga Koko orang yang bekerja itu mendapat upah, Lingling aja istri Koko harus kerja, karena begitu memang aturan di keluarga kita... tapi itu papa dari istriku... jadi ya begitu jadinya..."


"Kenapa gak kasih tahu?"


"Koko tahu Lingling suka gak enak ada keluarga minta ini-itu, Lingling dulu merasa malu waktu papa minta sesuatu sebelum kita nikah... makanya Koko gak bilang-bilang..."


"Iya... memang Lingling malu sih sekarang... papa ternyata gak berhenti... dulu mama yang harus nanggung hidup papa, sekarang anak-anak..."


"Udahlah... berapa sih yang kita kasih, gak seberapa juga tiap bulannya, untuk orang tua selagi kita punya Koko gak keberatan..."


"Ya udah... kalau papa seperti itu aja... gak masalah... tapi Ko... Lingling gak nyaman soal Yosie... ada urusan apa sama Koko?"


"Oh... dia kan tahu banyak soal jual beli mobil, banyak linknya katanya... Koko minta tolong mau menjual beberapa mobil truk, mobil box sama mobil pick up, udah waktunya meremajakan kendaraan operasional, kemarin ada kejadian mobil box terbalik untung sopirnya selamat... ada truk yang patah as roda belakang... banyak masalah soal mobil operasional akhir-akhir ini... jadi Koko pikir udah waktunya diganti..."


"Beneran hanya itu? Lingling takut Yosie macem-macem... udah tahu gimana orangnya..."


"Jangan berprasangka buruk Ling... gak baik... Gak usah khawatir Koko ditipu ya... Koko juga sedikit ngerti soal jual beli mobil bekas..."


Holly menarik napas lega, dia terlalu curiga dan itu gak baik.


"Jadi... kita ke mana Ko?"


"Ke pantai boleh... ke gunung juga boleh... Lingling pilih mana?"


"Mmm... nginap hotel boleh gak?"


"Apalagi yang ada di otak Lingling hah? Hehehe..."


"Koko juga mau kan... jangan munafik deh... sebulan loh puasa... hehehe..."


"Kebiasaan... marahan masih aja menghitung yang itu..."


"Hihihi..."


"Ini kebalik deh... biasanya suami yang otaknya suka geser kalau soal itu... ini... istri Koko bener-bener deh..."


"Becanda Ko... becanda..."


"Ihhh... ini istri minta dimakan aih ya...."


Si Koko menghentikan mobil lalu menghabisi wajah sang istri yang terkekeh-kekeh... bahagia menyergap di kalbu, sepi dan sedih pun usai....


.


🍀


.

__ADS_1


__ADS_2