
Holly menanti dengan tidak sabar kedatangan suami dan anaknya yang sudah sejam lalu berangkat dari kota. Kepala Holly selalu terangkat, setiap kali ada kendaraan melewati rumah tempat mereka menginap yang bersebelahan dengan kantor desa di mana letak posko KKT mereka. Bahkan udah dua kali dia keluar dari halaman rumah dan menatap hingga ujung jalan mengharapkan mobil mereka muncul dari sana.
Baru lima hari di sini, setiap hari dua kali melakukan vc dengan suami dan anak tersayang, tapi itu gak cukup buat Holly untuk melepas rindu. Berpisah seperti ini membuat hatinya mengerti bahwa suami dan anaknya adalah hal yang paling berarti untuknya.
Sekarang Holly bolak-balik berjalan di teras, telpon tidak tersambung sejak lima belas menit lalu.
"Gelisah terus dari tadi... kenapa Holly?"
Rivanna si sekretaris posko merasa terganggu dengan pergerakan Holly.
"Eh... lagi nungguin suamiku sama babyku..."
"Aku masih gak percaya kamu udah nikah Holly, kalau gak liat foto kalian..."
"Hehe... udah tiga tahun lebih aku nikah, Van..."
"MBA ya... hehe..."
Selly nyeletuk sambil tertawa entah karena apa.
"MBA? Maksudnya?"
Holly berhenti lalu menatap penuh tanya pada Selly yang duduk sambil mengangkat kaki di kursi teras.
"MBA gak tau kamu? Polos amat? Udah tekdung duluan..."
"Ehh??"
Holly masih mengernyitkan dahinya.
"Ya ampun... Udah nanam saham duluan cowok kamu, kamunya udah hamil say..."
Selly melanjutkan dengan mimik wajah kepo, pengen tahu sosok Holly yang sebenarnya.
Belum sempat Holly menyanggah, mobil sedan suami udah berhenti di depan kantor desa. Holly yang langsung mengenali mobil mereka segera berlari dengan wajah yang sumringah penuh kegembiaraan, senang banget akhirnya bisa melihat lagi secara langsung baby Ezar.
Pintu belakang terbuka dan suster Lena belum bergerak turun, baby Ezar sedang terlelap di gendongannya.
"Echa... mami kangen..."
"Bentar bu... saya turun dulu..."
Suster Lena bergeser turun dengan perlahan dan hati-hati. Holly bergeser dengan gak sabar menunggu suster Lena keluar dengan sempurna dari dalam mobil. Si papi menoleh ke arah istri yang mata fokus melihat baby Ezar. Holly mengulurkan tangan melepaskan kain gendongan dari pundak suster Lena lalu meminta untuk mengendong baby Ezar.
Baby terbangun dan menangis.
"Sayang... ini mami yang gendong..."
Holly membujuk lalu mulai mencium baby Ezar.
Baby Ezar menangis makin kencang lalu menoleh pada papinya yang sudah berdiri di sisi sang mami, mengulurkan tangan minta dipeluk papi.
"Dek... mami kangen, masa udah gak mau mami gendong sekarang?"
Holly berkata setengah gak percaya baru beberapa hari berpisah, baby Ezar sudah melupakan dirinya.
"Sini mami... Echa kaget... baru bangun... tenangin dulu ya, diajak main pelan-pelan..."
Tenry mengambil baby Ezar dari tangan Holly.
"Masa Echa lupain mami secepat ini sih..."
Holly sedih tapi babynya sedang menangis, terpaksa dia memberikan baby Ezar pada Tenry. Baby Ezar bersandar di bahu papinya, terlihat masih malas dan masih mengantuk. Holly berputar ke belakang suaminya, memandang dengan rindu buah hatinya, mengusap sayang kepala sang baby. Di sudut mata, air mata sudah menggenang. Dia tadi begitu berharap akan langsung melihat senyum yang menggemaskan serta celotehan riang baby Ezar.
"Mami kangen Echa... mami kangen Adek..."
Ucapan sayang lolos di bibir Holly.
"Papi gak dikangenin, dari tadi papi dicuekin..."
Holly tersadar, terlalu fokus pada baby Ezar, hingga lupa menyapa suami.
"Kangen pi... kangen banget..."
Pinggang suami langsung dipeluk dari belakang, tapi posisi badan masih di belakang suami, masih memandang baby Ezar. Bayinya menatap dirinya beberapa saat kemudian berpaling lagi, sekarang sudah mengemut jari tangannya. Holly mencium lembut pipi baby Ezar.
Tenry berbalik menghadap sang istri.
"Kok nangis..."
Tenry mengecup sayang dahi sang istri.
"Kangen banget sama papi... sama Adek..."
"Ini udah di sini kita berdua, masa masih kangen..."
__ADS_1
Tenry senyum, istri tersayang sedang baper.
"Iya... Echa belum mau mami gendong..."
Airmata bertambah volumenya, turun sekarang di pipi istri yang kulit wajahnya sedikit berubah, terlihat merah-merah karena banyak berada di bawah terik matahari.
"Sabar sayang, dia masih pengen bobo itu... harusnya mami jangan langsung gendong dia, biarkan sampai dia bangun sendiri..."
"Udah ditahan-tahan kangennya sejak semalam, makanya mami... hikss..."
"Jangan nangis ahh... tuh diliatin orang... kita mau berdiri di jalan aja?"
"Eh... iya... ayo masuk..."
Holly mengeringkan pipinya, sekali lagi mengecup pipi baby Ezar lalu berpegang di pinggang suami dan mengikuti langkah suami sambil tetap memandang baby Ezar, senyum-senyum mencoba menarik perhatian si baby.
"Sus... turunin barang buat ibu ya dari bagasi..."
Tenrry meninggalkan perintah untuk suster Lena yang sejak tadi hanya berdiri mengamati dua majikannya.
"Iya pak..."
Beberapa teman seposko sedang mengamati keluarga kecil dengan drama perjumpaan kembali di tepi jalan, beberapa masih memandang dengan penasaran.
"Kamu ngomong apa tadi... mereka udah nikah tiga tahun lebih, anaknya belum setahun itu..."
"Moga-moga Holly gak tersinggung..."
Selly dan Rivanna saling menukar pandangan dan saling berbisik.
"Selamat siang..."
Tenry menyapa teman-teman Holly saat memasuki teras.
"Siang... kak... mari kak..."
Selly menjawab mewakili teman-temannya. Merasa terpukau dengan penampilan suami teman barunya.
"Ganteng abizzz Van..."
Selly berbisik lagi pada Rivanna.
"Kakak suaminya Holly ya?"
Pertanyaan bernada belum percaya terlontar dari bibir Selly.
"Iya..."
"Duduk kak atau masuk ke dalam deh..."
"Terima kasih, di sini aja dulu..."
Selly jadi cerewet, sambil memamerkan senyum
"Holly, kenalkan ke kita dong..."
Sekarang teman-teman posko yang cewek pada keluar di teras. Ini tamu pertama dari keluarga anggota posko yang datang berkunjung.
"Ehh...iya ya... teman-teman... ini suamiku, panggil Ko Tenry aja. Papi... ini Selly, Rivanna, Hana, Meyta, kita berlima cewek di posko ini... yang lainnya cowok tinggalnya beda rumah..."
"Oh... maaf ya gak bisa salaman, ini babynya belum bisa dilepas..."
Tenry tersenyum formal.
"Anakmu cowok ya Holly?"
Hana bertanya dan ikut mendekat ke posisi baby Ezar. Ikut bermain juga mengganggu baby yang berpindah-pindah menatap maminya dan Hana.
"Iya..."
Holly menjawab pendek, masih memperhatikan dan mencari perhatian baby yang udah mula menegakkan tubuhnya di gendongan papi.
"Lucu banget... gemesin... Hi Dek... kenalin... onty Hana..."
Hana memegang pergelangan tangan baby Ezar. Si baby senyum kecil tapi menarik tangannya.
"Umur berapa?"
"Sepuluh bulan..."
"Udah berapa anakmu?"
"Baru satu... udah dua tahun lebih nikah baru punya..."
Holly mulai menggelitik baby Ezar, dan berhasil... anak yang dikangeni tertawa dan memandang Holly dengan mata persis papi Tenry.
__ADS_1
"Mamiii... mami..."
Celotehan yang dirindu akhirnya terdengar. Betapa senang hati si mami saat mendengar anaknya memanggil dirinya. Holly mengulurkan dua tangannya, dan si baby Ezar dengan mimik malu tapi mau segera memiringkan tubuhnya ke arah sang mami.
"Aduuh... senangnya mami, ternyata Echa gak lupa sama mami..."
Holly menyambut baby miliknya lalu mengecup berkali-kali pipi gembul anaknya, dengan bunyi yang segera membuat Echa tertawa, menuntaskan rindu pada buah hatinya. Bahagia di hati Holly tak terkira.
"Ada tamu..."
Ibu asuh para anak posko, tuan rumah tempat mereka menginap sebulan ini keluar dari rumah.
"Eh iya bu... ini suamiku... Ko Tenry. Ko, ini bunda Maya, mama asuh kita semua..."
Tenry bersalaman dengan tuan rumah tempat istrinya menginap sambil tersenyum ramah.
"Bawa masuk ke dalam, Holly. Ini anakmu ya... gak nyangka kamu paling kecil di antara teman-temanmu, ternyata udah nikah bahkan punya anak... sekarang jamannya nikah muda sih ya..."
"Suamiku udah gak muda lagi, bunda..."
"Oh? Masa? Kirain masih mahasiswa juga... Umur berapa sekarang?"
"Saya tiga puluh satu sekarang tante..."
"Oww? Selisih umur kalian jauh ya..."
"Delapan tahun tante..."
"Ohh... pantas aja Holly langsung diajak nikah ya..."
Tenry tersenyum.
"Anak-anak... kalian jadi ikut bunda ke pasar?"
Bunda Maya sekarang beralih bertanya pada gadis-gadis yang jadi anak asuh sementara.
"Jadi dong bunda... kita ada keperluan semua, indimart cuman ada di kecamatan kan?"
Meyta langsung menjawab.
"Iya... cuma satu-satunya di kecamatan ini... makanya anak-anak kampung suka bilang itu mall... ayo siap-siap kalau gitu... kecuali Holly ya... gak mungkin ninggalin suami dan anak kan... pasti kangen juga..."
Tenry menanggapi dengan senyum kecil. Dia yang paling kangen istrinya, makanya bela-belain datang bawa baby mereka, tapi yang diciumi istri sejak tadi hanyalah anaknya.
Saat rombongan meninggalkan rumah itu...
"Di sini gak ada orang lagi? Kita aja di sini sekarang?"
Tenry bertanya saat tersisa mereka bertiga di dalam rumah, suster Lena sedang duduk diam di teras rumah sambil mengutak-atik hpnya.
"Iya... suami bunda Maya dan anaknya sejak pagi udah ke kecamatan, katanya mereka jualan di pasar, nah pasar itu paling ramai di hari minggu... temen-temen sekalian mau ke kiosnya bunda Maya... katanya sih nanti sore baru balik..."
Tenry tersenyum lebar lalu keluar menuju mobil yang sudah diparkir di dalam halaman rumah. Tenry mengeluarkan stroller dari bagasi.
"Suster... ajak Echa jalan-jalan ya... keliling di kampung, Echa pasti suka... mumpung cuacanya bagus, adem pula..."
Di dalam rumah...
"Echanya mau diajak jalan-jalan sama suster Lena..."
Tenry mengambil anaknya dari pelukan si mami lalu segera keluar dan mendudukkan anaknya di stroller, memasang seatbeltnya kemudian melambai pada Echa...
"Echa jalan-jalan dulu ya... mami ada urusan sama papi... bye bye..."
Suster Lena dengan gesit tapi hati-hati mendorong stroller itu, sebelum baby Ezar teriak protes. Sekarang Ezar udah mulai menolak duduk di sana, kecuali langsung dibawa jalan. Suster Lena peka dengan keinginan majikannya untuk berduaan dengan istri tersayang. Dia juga seorang istri dari seseorang yang LDR-an selama ini, jika pulang kampung dengan berbagai cara dia dan suami akan menyempatkan waktu untuk melebur hasrat.
"Mami ikut..."
Tangan sang istri segera ditahan, lalu istri dibawa masuk ke dalam.
"Papi kangen... kamar mami di mana?"
Tenry berbisik sambil mendorong menutup pintu depan rumah itu.
"Ehh?"
Holly tertawa. Gelagat suami sudah dia hafal, apalagi dengan sorot mata seperti sekarang. Jujur, dia juga kangen. Pelukan suami jadi erat sekarang saat melihat respon istri, terlebih saat Holly menunjuk sebuah pintu.
Saat masuk ke dalam kamar, Tenry tersenyum, di dalam kamar ada dua tempat tidur ukuran single, dia sungkan melakukan aktivitas intim mereka bila istrinya berbagi tempat tidur dengan orang lain...
Koko Tenry, semesta mendukungmu untuk menyalurkan hasrat dan rindumu 😄
.
🦋
__ADS_1
.