Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 48. Ada Cara untuk Bahagia


__ADS_3

Kost ini agak bebas, tidak ada istilah jam sekian pagar ditutup, tidak pernah ditanyakan id pengunjung, tidak ada aturan ketat soal siapa yang boleh dan tidak boleh berkunjung. Aturannya hanya satu, tidak membawa orang lain menginap, dan satu lagi jangan parkir di depan pintu pagar 🤭.


Di lantai bawah ada semacam lobby sekaligus difungsikan untuk ruang tamu. Ada satpam yang berjaga di ruangan ini, satpam yang punya multi tugas, ngatur parkiran yang gak terlalu luas biar rapih dan cukup buat nampung kendaraan penghuni kost, juga suka jadi kurir nerusin barang titipan untuk penghuni, suka disuruh angkat galon air ke kamar dan terakhir buat jagain tempat titipan helm penghuni atau pengunjung... 😁


Di Kamar Holly, di lantai dua kost-an ini...


"Eh... ketsnya di luar aja, tuh... itu tempat sepatu milikku, taroh situ aja."


Holly melarang Hanie membawa masuk sepatu yang sudah ditentengnya. Hanie melakukan sesuai instruksi si pemilik kamar, dia statusnya tamu sekarang. Sebelum masuk Hanie menatap lorong antara kamar itu, ada banyak sepatu di luar kamar.


"Gak akan hilang Han... haha..."


Holly yang melihat gelagat Hanie, jadi tertawa. Hanie duduk di karpet tebal warna ungu sambil membuka kaos kakinya.


"Kost-an ini aman ya Ling?"


"Sejauh ini aman sih... memang gak seperti kost-an bu Rikha yang ketat soal pengunjung dan punya jam berkunjung... tapi aku rasa aman aja..."


"Kayaknya semua orang bisa masuk, tadi aku bilang nyari kamu langsung disebut nomor kamar dan letak kamarmu..."


"Koko malah langsung naik aja kalau ke sini..."


"Langsung ke dalam kamar ini?"


"Iya... Setiap pagi bawain aku sarapan sekarang... kadang sore suka mampir lagi... gak tau kenapa ke sini terus... takut aku menghilang lagi katanya..."


Holly menjelaskan dengan bibir manyun, suka kesel diungkit-ungkit soal menghilang dulu. Hanie menatap Holly lama, ada resah datang bersamaan dengan penjelasan Holly. Di toko Tenry sebebas itu juga masuk kamar Holly, tapi bedanya ada Hanie. Di sini... Hanie takut sesuatu...


"Ling... kenapa gak balik ke toko sih..."


"Ehh... aku... aku takut bertemu Ci Cun... Mau minum coklat panas?"


"Udah minum tadi sebelum ke sini..."


Holly mengambilkan Hanie satu botol air mineral dari dalam sebuah lemari. Hanie menerima itu sambil mengedarkan pandangan ke seluruh kamar.


"Lengkap banget kamarmu..."


"Tapi udah gak bisa bergerak banyak... sempit sama barang-barang... Koko kalau gak dilarang masih mau nambah sofa kecil... ini aja banyak barang yang gak aku pakai..."


"Udah kayak kamar keluarga baru merit nih..."


Hanie memindai satu demi satu barang di dalam kamar itu, ada dispenser besar yang galonnya di bawah, ada kulkas, tv flat, air cooler, dan beberapa perangkat masak listrik.


"Itu apa?"


Hanie menunjuk sebuah benda di pojok kamar dekat pintu kamar mandi.


"Mesin cuci portable..."


"Apa dibolehin bu kost nih barang elektronik banyak begini..."


"Kamar ini bisa Han... meter pulsa sendiri..."


"Mewah banget tau gak, kamu kost fasilitasnya kayak gini... di rumah kita aja tv udah barang mewah..."


"Makanya suka gak enak Han... jadi beban aja buatku..."


"Apa sih... sok beban-beban... nikmati aja kali..."


"Aku suka takut juga... gak bisa ngebalas yang sama ke Koko, jadi takut dia kecewa sama aku suatu hari nanti, secara aku kan baru mulai jalanin hidup aku, takut nanti aku milih sesuatu yang Koko gak suka, kayak misalnya milih belum mau nikah dulu, mau kerja dulu..."


"Hehe... udah dewasa kayaknya kamu Ling..."


"Dewasa apanya..."

__ADS_1


"Iya... udah mikir jauh ke depan, udah punya tujuan, udah mulai paham tentang hidup, gak hanya nangis doang atau nyerah gitu aja terhadap nasib..."


"Ihh... masih suka nangis kok, semalem kangen kamu aku nangis, makanya aku telpon minta kamu datang ke sini..."


"Hehe... itu sih karena kamu lahirnya bulan desember, lagi banyak hujan, makanya kamu kelebihan stok air mata..."


"Ga jelas ahh..."


Kedua adik kakak itu tertawa.


"Tapi kayaknya kamu hepi deh... bisa tinggal sendiri sekarang..."


"Kadang merasa hepi... tapi kadang suka ngerasa bersalah kalau inget rumah. Aku hidupnya nyaman, semua serba cukup sekarang, kamu ngasih uang, Koko juga... tapi inget mama yang suka kehabisan uang, ingat rumah kita seperti apa, aku suka sedih, Han... kayak merasa udah egois banget, hidup senang sendiri..."


Hanie tersenyum dalam haru, adiknya gak berubah sedikitpun, selalu merasa gak layak menerima dan menikmati hal-hal yang baik untuk dirinya.


"Anggap aja itu pemberian baik yang datang dari atas khusus untuk kamu, hidup kamu terlalu banyak sedihnya, makanya malah merasa gak normal saat menikmati yang sebaliknya..."


"Apa iya begitu?"


"Iya... jalani dengan hepi aja, fokus sama kuliah karena udah diberi banyak kemudahan sekarang... Hidup itu gak semuanya suram dan gelap, gak melulu penuh airmata, jangan mau menderita jika ada cara untuk bahagia..."


"Keren kata-katanya... posting Han... di Ig atau fb..."


"Hahaha... malas ah, entar dibilang sok pintar, sok bijak..."


"Tapi beneran keren kata-katanya... bisa jadi motivasi buat orang loh..."


"Itu buat kamu... bukan buat orang lain... gak ada yang salah jika hidupmu lebih enak dibanding orang lain, karena waktu kamu bahkan menderita karena mereka belum tentu mereka merasa bersalah..."


"Makin keren tuh..."


"Aku serius Ling..."


"Iya aku tahu... aku suka gitu... gak tahu kenapa punya persepsi buruk tentang diri sendiri."


"Kamu ngomong udah kayak dosen aku... hehe..."


"Anggap aja begitu... kamu dapat kuliah pagi soal cara untuk hidup lebih bahagia..."


"Topiknya keren tapi dosennya sendiri gak tahu gimana cara meraih kebahagiaan untuk hidupnya sendiri... hehehe..."


"Omongan mahasiswa beda ya sekarang..."


"Iya dong... bukti kamunya gak sia-sia udah keluarin duit banyak buatku... aku jadi pintar, hehe..."


"Begitu ya..."


Suasana pagi yang diwarnai tukar cerita kakak adik yang penuh kehangatan di kamar ini mendahului tugas matahari pagi di persada...


Pintu diketok dari luar... Holly tahu siapa yang datang, sambil berdiri dia mengguman nama pacar yang gak bosan bawain sarapan setiap hari...


"Itu Koko pasti..."


Hanie jadi ingat kekuatirannya sebelum ini. Dia lelaki dan dia tahu tentang sesuatu yang mungkin saja terjadi antara Holly dan Tenry di kamar ini. Bagaimana cara ngomong ke Holly? Apa dia punya pemahaman soal seperti itu, sementara rasanya sungkan membicarakan hal sensitif seperti itu antara kakak-adik seperti dirinya dan Holly, beda lagi kalau antara sesama saudara perempuan. Dia ingin Holly punya prinsip yang baik sebagai cewek, adiknya sudah beranjak dewasa sekarang, dia pesimis mama mereka pernah memberitahu tentang norma pergaulan yang benar.


Untuk bicara dengan Tenry rasanya lebih tidak mungkin...


"Sayang... morning..."


Tenry memeluk Holly sembari meninggalkan sebuah ciuman di kepala gadis itu saat Holly membuka pintu. Tenry kaget ada Hanie dan segera melepaskan pelukannya.


"Han..."


"Ten..."

__ADS_1


Keduanya masih kaku untuk saling menyapa, walau gak berantem sebenarnya tapi sesuatu yang terjadi soal mereka membuat hubungan mereka merenggang, ini baru bertemu lagi setelah beberapa bulan ini...


"Aku beli makanan dua bungkus aja, gak tahu ada kamu..."


Akhirnya Tenry buka suara sambil memindahkan nasi kuning lengkap yang dia bawa ke piring.


"Gak papa Ten... aku sarapan di toko aja nanti..."


"Aku cariin makanan di deket sini aja, Han..."


"Eh... Lingling duduk sini, nanti Koko yang nyari..."


"Aku aja..."


Holly mengambil dompetnya lalu keluar kamar. Tertinggal dua lelaki yang masih canggung satu dengan yang lainnya.


"Ten... makasih, kamu melakukan banyak hal untuk Lingling..."


Hanie mencoba mengurai kekakuan.


"Hei... dia pacar aku kan... gak ada makasih kali Han..."


"Dia adek aku juga... wajar dong bilang makasih ke kamu..."


Tenry melirik dengan tersenyum masam.


"Apa sih... kayak orang lain kita berdua, aneh..."


Tenry langsung meninju lengan Hanie, Hanie meringis.


"Maaf..." Hanie berujar kemudian.


"Untuk?"


"Semuanya... situasi kita, aku yang gak mampu mengambil sikap sama Ci Cun..."


"Udahlah... emang jalannya seperti ini, mengalir aja sekarang..."


Hanie menganggukkan kepala menyetujui.


"Tapi Han... soal Lingling aku gak berubah... aku gak akan melepas dia meskipun mama menolak dengan keras..."


"Iya... aku ngerti... semoga Cici Bey bisa sembuh secepatnya biar masalah ini clear..."


"Iya... semoga..."


"Oke... aku pulang aja... titip Lingling ya, aku gak bisa setiap hari nengokin dia, kamu tahu sendiri toko lagi padet kerja, lagi pindah-pindah barang ke bangunan baru..."


"Sip... gak usah diingetin juga aku bakal jagain dia..."


"Jagain semuanya Ten... sampai dia selesai kuliah dengan baik... jagain dengan baik dan benar, ini permintaan aku sebagai kakak Lingling..."


"Hehh... apa maksudnya..."


"Kamu tahu maksudku apa... kamu pria dewasa aku juga..."


Pandangan mata Hanie berubah tajam disertai wajah serius dan wibawa seorang kakak yang baru pertama ditunjukkan pada Tenry. Tenry hanya mengacak rambut bagian belakang kepalanya karena salah tingkah saat otaknya bisa menerjemahkan ekspresi Hanie. Soal kerjaan bisa jadi Tenry itu boss Hanie, tapi soal tanggung jawab sebagai kakak, Tenry harus tunduk dan menghormati posisi Hanie.


Saat keluar dari kamar kost itu, Hanie lega, entah dari mana tiba-tiba berani ngomong ini, tapi perasaan sebagai kakak yang sayang adiknya membuat dia merasa berhak mengingatkan Tenry.


.


🦋


.

__ADS_1


Makasih byk utk atensi readers semua...


.


__ADS_2