Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 9. Pemaksaan yang Keren


__ADS_3

Tenry melakukan beberapa panggilan di sebuah nomor, masih tidak tersambung. Dua hari yang lalu dia sempatkan mampir ke toko dan memberikan nomor perdana untuk Holly. Apa Holly memang tidak memasang kartu perdana itu atau malahan ponselnya yang sudah rusak karena ternyata bekas si Hanie.


Tenry seminggu ini sibuk bersama sang mama di toko baru mereka, banyak barang yang masuk, sementara karyawan untuk toko ini belum siap untuk bekerja, masih sementara dilatih. Dan sejak semalam Tenry pengen ngobrol dengan Holly, gak tahu kenapa dan gak ada yang perlu juga, hanya pengen aja mendengar suara lembut Holly. Akhirnya Tenry menghubungi nomor yang lain.


📱


"Kenapa Ten?"


"Aku pengen ngomong sama Lingling... Han..."


"Oh??? Bentar..."


Hanie menghembuskan napas mengatasi risaunya, lalu meneriakkan nama adiknya. Dia melanjutkan meladeni pembayaran dari seorang pengunjung. Agak lama baru Holly datang mendekati Hanie.


"Apa Han...?"


"Tuh, si Tenry nelpon nyari kamu."


"Kenapa?"


"Mana aku tahu, tanya aja sendiri..."


Mulai tak tenang, ada rasa was-was ko Tenry menanyakan kartu yang belum dia pasang, tapi Holly meraih ponsel Hanie dari meja.


"Iya... Ko, ada apa?"


Tenry senyum di balik ponsel saat mendengar suara Holly. Suara Holly terdengar manis, rasa manis yang seperti oksigen langsung menyebar ke seluruh aliran darah sampai ke otaknya, membangkitkan rasa betah untuk berlama-lama bicara, ingin mendengar lebih banyak kata-kata dari mulut Holly.


"Lingling... udah makan?"


"Belum... toko lagi ramai Ko... nanti dikit lagi. Ko Tenry ada perlu apa sama Holly?"


Di seberang si Ko Tenry jadi salah tingkah ditanyain langsung tanpa basa-basi, jadi hilang semua kosakatanya.


"Mmm... Ehh... Koko jemput kamu makan siang ya?"


"Nanti aja Ko, tenaga Holly lagi dibutuhkan di sini... udah ya Ko..."


Holly menutup panggilan, meletakkan ponsel Hanie di meja kasir lalu segera mencari pelanggan yang dia tinggalkan sebentar demi telpon itu. Rasa sesal menutup pembicaraan dengan Ko Tenry dan rasa sesal menolak ajakan makan melintas sesaat, tapi segera ditepis Holly. Dia tidak boleh larut dalam keinginan hatinya untuk selalu berdekatan dengan Ko Tenry.


Dan di tempat lain, Tenry mengerutkan dahi menerima penolakan Holly. Setahu dia Holly ketika diminta melakukan sesuatu walau bertanya tapi tak akan menolak. Belum sempat menanyakan sesuatu yang paling penting juga. Niat hati belum surut, samperin aja langsung.


"Ma, aku keluar makan siang sebentar..."


Tenry pamit pada mamanya yang sedang sibuk mengecek semua hal. Wanita yang sangat gesit dan tak pernah diam, ada aja yang terpikirkan untuk dikerjakan.


"Mama bawa makan siang kan? Kenapa repot keluar?"


"Lagi pengen makan sesuatu yang lain ma..."


"Makanan dari rumah lebih enak, Koko..."


"Tahu ma... gak ada yang ngalahin masakan mama... tapi lagi pengen aja..."


"Jangan lama-lama perginya, masih banyak pekerjaan di sini..."


"Siap Ci Cun..."


Tenry tertawa saat melihat mata mama membulat karena panggilannya. Dia sering menggoda si mama dengan panggilan semua karyawan dan orang yang bekerja dengan mamanya, sekalipun mamanya suka protes dan menyebutnya tidak hormat.


"Koko..."


Tenry berbalik mendengar teriakan sang mama.


"Jemput Dede dulu, udah pulang sekolah, om Welly lagi anterin papa gak bisa jemput dia..."


"Bukannya ada mobil sekolah..."

__ADS_1


"Ada, tapi dia gak mau ikut mobil itu, suka lama baru sampai rumah, dia paling terakhir diantarkan soalnya..."


"Kalau gitu aku gak balik lagi ke sini ya..."


"Ehhh... balik! Mama tunggu... mama pulang bareng kamu..."


"Ma... cape dong bolak-balik..."


"Segitu aja cape, gimana mau tangani semua usaha mama??? Jangan manja Ko..."


Tenry tak punya argumen lagi jika mama sudah bicara seperti itu. Dia menyadari bebannya sebagai satu-satunya anak lelaki dalam keluarga. Orang tuanya sudah mengisyaratkan itu, dia yang akan meneruskan, Cicinya hanya akan menangani beberapa usaha, adiknya masih SMP, berbeda dengan dirinya sejak SMP sudah dilibatkan dalam bisnis, adiknya malah dimanja orang tuanya. Tak bisa dia ingkari bahwa tanggung jawab terbesar ada di pundaknya.


Tenry menyetir menuju sekolah adiknya, rencananya buyar, tadinya dia mau menjemput Holly, dengan begitu Holly pasti tidak akan menolak. Ponselnya berdering, Glo memanggil, lagi-lagi Tenry mengabaikan. Beberapa deringan disusul notifikasi sebuah pesan. Tenry hanya menatap jalan di depannya.


Kurang lebih empat puluh lima menit kemudian, di halaman sebuah sekolah internasional, Tenry hanya membuka sedikit kaca mobil saat meminta seorang sekuriti memanggil adiknya.


"Koko... lamaaaa..."


Si Dede manja ngedumel saat duduk di jok depan.


"Koko dari Marina, tahu sendiri gimana macetnya siang begini..."


"Tahu begitu, Dede naik mobil sekolah aja tadi..."


"Salah sendiri..."


Si Koko segera menjalankan kembali mobilnya.


"Ko, mampir KF*C ya... Dede laperrrrr..."


"Koko buru-buru, makan di rumah aja..."


"Udah laper bingiiitz Ko... nanti maagku kambuh tanggung jawab loh..."


Tenry melirik sebal pada adiknya.


"Iya... Koko yang bayar, uangku habisss bisbis..."


Si Koko diam konsentrasi ke jalan di depannya. Adiknya beneran lapar kayaknya gak punya tenaga, biasanya gak bisa diam langsung pasang audio dan ngedance, kali ini hanya duduk bersandar dengan malas. Mobil berbelok di jalur drive thru. Dede memesan beberapa menu, Tenry memesan juga 3 buah burger keju.


"Koko matikan ac ya, nanti baunya tertinggal di mobil..."


"Yaaa Ko... panas dong..."


Dede protes dengan mulut penuh, dijawab Tenry dengan menurunkan kaca di dua sisi jendela kemudian meminta sebuah burger, mengunyah sambil menurunkan kecepatan mobil dan berpindah di jalur lambat.


"Ko... ponselnya bunyi dari tadi... angkat napa, berisik..."


Si Koko gak peduli, menghabiskan burgernya lalu menyodorkan kertas pembungkus pada Dede. Si Dede merampas dan memasukkan kertas itu ke kotak sampah, dan memperhatikan ponsel yang terus bernyanyi sendiri. Glo Cintaku.


"Wiiih... lebay banget, Glo Cintaku... tapi kok gak diangkat?"


Tenry gak berhasil menahan tangan gesit adiknya, udah on lagi maklum dua paha ayam atas dan bawah udah bersarang di perutnya. Dengan lincah pula menepis tangan Koko yang coba merebut ponsel miliknya.


📱


"Ada apa Glo cintaku?"


Suara dilembut-lembutkan, dicoba seperti suara wanita dewasa.


"Ehhh, siapa kamu? Mana Tenry?"


"Ada di sampingku..."


Suara manja Dede membuat Tenry tertawa tanpa suara, akhirnya membiarkan adiknya menguasai ponselnya.


"Heiii kasihkan ke Tenry ponselnya, aku pengen ngomong, siapa sih kamu... aku pacar Tenry, tahu..."

__ADS_1


"Pacaaaarrr? Eh, pelakor kali, aku calon istri tahuuuu..."


"Ehh...siapa yang pelakor, aku udah enam tahun jalan sama Tenry yaa, kamu yang pelakor..."


"Enam tahun jalan? Pantas aja gak nyampe-nyampe, aku lari-larian sama Koko, makanya mau nikah sekarang..."


"Apaa? Jangan bercanda kamu... aku yang akan nikah sama Tenry."


"Gimana dong... aku udah dilamar tuch..."


Tenry tak bisa menahan tawanya lagi, adiknya belajar dari mana usil seperti itu, kebanyakan nonton Youtub e sih ini, bisa pintar buat drama, suara yang dispeaker membuat Tenry geli juga mendengar reaksi Glo. Suara Tenry yang terbahak sampai ke telinga Glo.


"Ten... gila, siapa sih perempuan ini..."


"Koko ihh... kenapa ketawa sih, gak asik tau gak, kan aku belum selesai..."


"Belum selesai apanya, heiiii siapa sih kamu?"


Glo masih menjerit di ponsel.


"Diih, kayak kunti suaranya... sakit tau gak telingaku. Nih Ko... gak jadi, padahal pengen banget denger si Glo cintaku nangis karena aku..."


Suara manja Dede khas anak remaja membuat Glo ingat sesuatu...


"Ivy... sorry aku teriak-teriak, kamu Ivy kan?"


"Tauuk..."


Terpaksa Tenry mengambil ponsel yang digerak-gerakkan di depan wajahnya. Tenry mematikan speaker.


"Glo..."


"Sayang... kamu kok gak pernah jawab telpon aku, aku udah sejam di bandara, jemput ya..."


"Di bandara? Bandara sini?"


"Iya... Samratulangi... aku nunggu kamu..."


"Tapi aku gak bisa, ini baru jemput Dede dari sekolah mau anterin dia pulang, terus mau jemput mamaku setelahnya, aku juga belum sempat makan siang, Glo..."


"Sama, aku juga udah kelaparan, abis kamu gak jawab telponku dari tadi... aku gak mau tahu, aku gak akan ke mana-manav, nunggu disini sampai kamu jemput..."


Ini yang membuat Tenry malas akhir-akhir ini, bertemu lagi setelah LDR-an, sifat pemaksa Glo jadi sebuah ganjelan di hati. Dulu sepertinya Glo gak seperti itu. Dia mematikan ponsel dengan kesal dan meletakkan di dekat tuas persneling. Beberapa bunyi notifikasi menyusul kemudian. Tangan adiknya kembali bergerak cepat dan membuka ponsel tanpa kunci layar itu.


'Aku nunggu sampai kamu datang'


'Aku gak akan makan sampai kamu datang'


Dede membaca dua pesan terakhir dari Glo.


"Keren... pemaksaan banget..."


"Pemaksaan kok keren..."


"Iya... Koko kan gak tegaan, kenapa keren, pasti Koko ke sana, pemaksaan yang sukses itu keren..."


Tenry tak meresponi logika ngawur adiknya. Tapi bener kata adiknya, mengingat sifat keras kepala Glo yang sekarang udah gak lucu lagi, dia pasti akan lakuin sesuai dengan teks pesan itu. Lagi pula Glo ke sini gak ada siapa-siapa yang dia kenal dekat selain Tenry.


Rahang kokohnya seketika mengeras, ada rasa jengkel tapi masih sadar hubungan mereka masih ada, dia belum ngomong apapun pada Glo sejak menyadari perasaannya berubah. Glo masih pacarnya, dan dia mulai menyukai seseorang.


Jengkel bertambah, rencananya benar-benar ambyar, burger yang sudah dia beli untuk Holly dia tarik dari pangkuan si Dede, mulai makan roti bulat berlapis daging sayuran keju itu --batal ya ngasih burger buat Holly-- sambil memikirkan tindakan apa yang harus dia lakukan mengenai nasib hubungannya dengan Glo, setelah Glo datang ke sini dia pasti akan lebih repot.


.


.


🦉

__ADS_1


__ADS_2