MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 100


__ADS_3

Langkah demi langkah Liani menghampiri Acha.


"Cha, maen tinggal tinggal aja." kata Liani.


"Abisnya kesel berani banget Gilang kasih surat itu ke Acha, lewat dek Safa lagi, gimana kalo dek Safa cerita ke Ustadzah Raysa sama Ustadz Rayis, malu nanti Acha uh huh." kata Acha.


"Nggak bakal Safa bilang, udah udah jangan kesel gitu, jelek tau senyum dong senyum." kata Liani terkekeh melihat kekesalan Acha.


"Abisnya nyebelin sih." kata Acha.


"Eh terus surat yang Farhan kasih udah di baca?" kata Liani.


"Belum, udah males ah, nggak mau inget inget." kata Acha.


Langkah mereka pun terhenti.


"Eh itu bukannya Uma sama Abi kamu Cha?" kata Liani.


"Mana?" kata Acha menengok sana sini.


"Tuh di dalem Rumah Abi." kata Liani yang menggerakan kepala Acha ke arah rumah kiayi Fatih.


Di dalam Rumah kiayi Fatih ada dua keluarga yang sedang bermusyawarah, di Meja banyak makanan yang di sajikan, dan ada 4 buah bingkisan besar.


"Alhamdulillahirobbil 'alamiin, Subhanalloh, walhamdulillah, wallohuakbar, Allohumma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa alii sayyidina muhammad, asyhadu 'alaa ilaha ilalloh wahdahu laa syarika lah wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rosuluh. Kami datang kepada keluarga bapak untuk melamar putri bapak yaitu Ananda Shilla untuk menjadi Istri putra Kami Rafan." tutur dari Qayyis sebagai wali.


"Apakah Rafan sudah benar benar mantap?" kata Fatih.


"In syaa Allah Rafan sudah mantap Bi, Rafan datang kemari bersama kedua orangtua karena ini adalah hasil dari istiqoroh Rafan." kata Rafan.


"Alhamdulillah, kalo begitu, Abi tidak bisa memutuskan sebelum mengetahui keinginan Shilla." kata Fatih.


Semua pandangan tertuju pada Shilla.


"Gimana shil kamu mau menerima pinangan nya?" tanya Fatih.


Shilla hanya mengangguk kemudian menunduk dan tersenyum.


"Segala puji bagi Mu yaa Allah, iya yang bisa menolak pinangan dari seseorang yang namanya selalu ku sebut dan ku pinta di setiap sujud salat malamku, beliau yang datang untuk meminang ku suatu lebahagiaan yang tak terhitung, semoga ini yang terbaik dari-Mu, dan semoga hubungan kami sampai ke ikatan suci yaitu pernikahan aamiin." batin Shilla.


"Alhamdulillah." Ucap semuanya.


Fathma pun menyerahkan bingkisan (seserahan) yang dibawa untuk mempelai wanita.


"Maaf hanya bisa memberikan ini." kata Fathma yang menyerahkan 1 paket bahan dan peralatan make up, perhiasan, pakaian dan buah buah an.


Shilla hanya tersenyum.


"Semua ini tak senilai dengan memiliki pendamping seperti Ustadz Rafan, Uma meridhoi Beliau menjadi suamiku pun sudah cukup untuk Shilla." batin Shilla.


❤Suatu kebahagiaan yang haqiqi yaitu ketika seseorang yang kita sebut namanya di setiap do'a, orang yang selalu kita pinta kepada sang pemilik hati, ditakdirkan untuk kita, sungguh itulah sebuah kekuatan do'a dengan penuh cinta, yang mengutamakan cinta terhadap robb nya, jika ingin sesuatu, dan keinginan itu dianggap mustahil, maka minta lah pada Alloh, karena Alloh akan membuat yang mustahil menjadi tidak mustahil, nikmat mana lagi yang engkau dustakan!❤


Mereka pun meneruskan perbincangan untuk kelanjutan yaitu mencari tanggal pernikahan.


"Gimana kalo di tanggal 10 Februari, itu waktu yang bagus." kata Kiayi Fatih yang sudah menghitung waktu.


"Jika mamang tanggal 10 Februari waktu bagusnya, In syaa Allah." kata Qayyis.


Shilla dan Rafan hanya saling melirik dan tertunduk kembali dengan senyuman.


......................

__ADS_1


Acha yang mondar mandir di bawah pohon kebingungan


"Masuk jangan masuk jangan, jangan ah nggak sopan." gumam Acha yang berdebat dengan dirinya sendiri.


"Bang Rafan juga kok ada, ada apa ini, Uma nggak Chat dulu ke Acha kalo mau ke sini." gumam Acha.


"Yaudah ayo katanya mau ke bang Rafan." kata Liani.


"Kita tunggu di sini aja, nggak enak kalo masuk." kata Acha, diangguki Liani.


Di bawah pohon Mereka duduk, sayup sayup angin meniup wajah Mereka dengan lembut.


"Aduh lama banget udah 10 menit ini." kata Acha.


"Nah itu Mereka pada keluar." kata Liani.


Acha pun beranjak terbangun dari duduknya.


"Umaa." kata Acha menghampiri Mereka diikuti Liani.


......................


"Assalamu'alaikum." kata Acha dan Liani


Mereka pun mencium tangan ke yang mahrom, dan menyatukan tangan ke yang bukan mahrom.


"Shill, kamu temenin ya, Abi ada urusan dulu." kata Kiayi Fatih, dan diangguki Shilla.


"Ustadz Qayyis saya permisi ke dalam ya, soalnya masih ada yang harus di karjakan." kata Kiayi Fatih menjabat tangan dan berpelukan dengan Qayyis.


"Iya." kata Qayyis memeluk balik.


Kiayi Fatih pun langsung ke dalam.


"Eh kamu kok bilang nya gitu." kata Fathma.


"Kalo emang iya kenapa, orang Uma ke sini cuma mau liat abang doang kok." kata Rafan.


"Ih abang ya, eh iya Abang kenapa tadi pas jam 3 sore telpon Acha." kata Acha.


"Nah ini Uma sama Abi ke sini makanya Abang telepon." kata Rafan.


"Kenapa bukan Uma kalo gak Abi yang telpon." kata Acha.


"Emang beda ya kalo Abang yang telpon?" kata Rafan.


"Umm nggak juga sih." kata Acha.


"Aneh, apa guna Acha kesal tadi, kalo sama aja." kata Liani terkekeh.


"Nah iyaa." kata Rafan.


"Udah udah iyaa, dan sekarang Acha butuh jawaban, ada apa ini?" kata Acha.


"Rahasia dong nanti juga kamu tau." kata Qayyis.


"Yahh gituan." rengek Acha.


Fathma membuka mobil dan mengabil sebuah bingkisan.


"Ini buat kamu sama temen temen." kata Fathma memberikan bingkisan.

__ADS_1


"Apa ini Uma?" kata Acha.


"Makanan ringan, terus itu ada keripik tempe, kamu kan suka tempe makanya Uma beliin di jalan tadi." kata Fathma.


"Ouhh, makasih Uma, Abi juga." kata Acha.


"Uang saku kamu masih ada?" kata Qayyis, diangguki Acha.


"Pinter anak Abi bisa menghemat money." kata Qayyis.


"Iya dong Acha..." kata Acha berbangga.


"Huh." kata Rafan mencubit hidung Acha.


"Ih abang ya, sakit tau." rengek Acha.


"Udah udah janga berantem aja, udah pada dewasa kan." kata Fathma memeluk kedua anaknya.


"Yaudah Uma sama Abi pulang yah, jaga diri baik baik." kata Fathma.


"Iya pasti dong." kata Acha, mencium tangan kedua orang tuanya.


Fathma dan Qayyis pun masuk kedalam mobil.


"Assalamu'alaikum." kata Fathma dan Qayyis.


"Wa'alaikumussalam, fiiamanillah." kata semuanya.


Mobil pun melaju cepat hingga menghilang dari pandangan.


"Ana ke ruangan ya." kata Rafan sedikit gerogi.


"Na'am." kata Shilla tersenyum.


Shilla yang tersenyum manis melihat kepergian Rafan, kemudian tertunduk malu.


Acha dan Laini hanya ke heranan dan banyak pertanyaan dibenak mereka.


"Kak Shil?" kata Acha dan Liani.


"Hah iya?" kata shilla tersadar.


"Kak Shilla baik baik aja kan?" kata Acha diangguki Shilla.


"Emang kenapa?" kata Shilla.


"Nggak sih, cuma diperhatiin dari tadi kak Shill senyum senyum gitu liat bang Rafan." kata Acha di angguki Liani.


"Masa iya sih?" kata shilla, diangguki


Wajah shilla yang memerah menahan malu.


"Eh yaudah kaka duluan ya mau ke ruangan kesehatan." kata Shilla, diangguki Acha dan Liani.


Langkah demi langkah shilla pun menjauhi leberadaan Acha dan Liani.


Acha dan Liani hanya saling menatap keheranan.


"Ada apa ini tidak dapat di pahami." kata Acha.


"Acha aja nggak paham apalagi Lili." kata Liani.

__ADS_1


"Yaudah ke Asrama yuk." kata Acha menarik lengan Liani.


__ADS_2