
......................
Satu minggu kemudian setelah menghadiri pernikahan Rasi dan Rohman.
"Rasi dulu memang menyukai Rohman, dan ternyata Rohman pun begitu, Rohman ingin membuktikan cinta nya pada Rasi dengan tindak kan yaitu dengan membawanya ke jenjang halal, karena jika hanya berbicara saja tanpa bertindak semua juga bisa begitu." gumam Acha.
Ting nong... Bel Rumah berbunyi.
"Pasti undangan lagi nih." gumam Acha langkah demi langkah nya menuju pintu depan.
"Assalamu'alaikum Acha." kata Putri memeluk Acha.
"Wa'alaikumussalam warohmatulloh, Puput." kata Acha membalas pelukan.
"Ada apa nih?" kata Acha.
"Ayo masuk dulu." kata Acha.
"Eh nggak usah, Putri kesini mau anterin ini." kata putri menyerahkan surat undangan.
"Umm nikah sama siapa, kok calon nya nggak ikut." kata Acha.
"Ikut kok, kemana ya tadi, oh nah itu dia..." kata Putri menunjuk ke arah pria itu.
"Bagas?" batin Acha.
"Assalamu'alaikum Cha?" ucap Bagas menyatukan kedua tangan.
"Wa'alaikumussalam warohmatulloh." kata Acha menyatukan kedua tangan.
"Eh masuk dulu ayo." ajak Acha.
"Bukan nya gak mau..." kata Putri terpotong.
"Harus bagiin surat undangan." kata Acha.
"Ehehe iya Cha, maaf yaaa." kata Putri.
"Iya gak papa." kata Acha.
"Kami pamit ya assalamu'alaikum, jangan lupa, datang oke." kata Putri.
"Wa'alaikumussalam warohmatulloh oyaa siap." kata Acha.
"Lucu ya banyak yang nggak bisa di duga, Putri nikah sama Bagas, semoga Bagas emang udah bener bener berubah dan bisa membimbing Putri aamiin." gumam Acha.
"Wah tinggal Ririn dan Liani lagi nih Acha belmu nerima undangan dari mereka." gumam Acha.
......................
Satu minggu kemudian setelah menghadiri undangan pernikahan Putri dan Bagas.
"Putri dan bagas menikah, mereka bisa saling mengenal ternyata mereka bertemu di acara kajian akbar, yang dimana Putri di tugaskan menjadi moderator dan Bagas penceramah, tak di sangka Bagas sudah sebanyak itu berubah, alhamdulillah." gumam Acha.
"Assalamu'alaikum?" ucap Ririn.
Acha bergegas membuka pintu.
"Wa'alaikumussalam warohmatulloh, Ririn." kata Acha memeluk Ririn.
"Eh ustadz Faziel?" kata Acha.
"Jangan jangan kalian mau nikah juga." kata Acha.
Mereka hanya mengangguk tersenyum.
"Maa syaa Alloh, ayo masuk dulu." kata Acha.
Mereka pun masuk dan disuguhi air minum dan cemilan.
"Bukan nya kalian di jodohin sama orang tua masing masing ya?" kata Acha.
"Iya dan kami menerima perjodohan dari orang tua kami." kata Faziel.
"Maksudnya?" kata Acha keheranan.
"Jadi ikhwan yang waktu itu khitbah Ririn ternyata Ustadz Faziel." kata Ririn.
"Terus nasib wanita yang di jodohin sama ustadz Faziel gimana?" kata Acha.
"Iya nggak gimana giamana, ini saya mau nikah sama dia." kata Faziel.
"Maksudnya wanita itu Ririn?" kata Acha.
"Iya Cha, jadi ternyata bunda sama ayah Ririn sahabatnya umi sama abi ustadz Faziel." kata Ririn.
Mereka pun berbincang bincang, beberapa menit kemudian.
"Eh yaudah lah pamit harus nyebar undangan lagi nih." kata Faziel.
"Iya hati hati." kata Acha.
"Assalamu'alaikum." kata Ririn dan Faziel.
"Wa'alaikumussalam warohmatulloh." jawab Acha.
"Sungguh menyenangkan dijodoh kan dan meikah dengan seseorang yang kita cintai, Alloh memang pemilik cinta yang abadi." batin Acha.
Satu minggu kemudian setelah menghadiri pernikahan Ririn dan Faziel.
"Pernikahan itu bukan sebuah permainan, pernikahan itu persatuan dua keluarga, maka dari itu ikat lah dengan erat tali kekeluargaan itu."
❤26.dey❤
"Assalamu'alaikum?" ucap Rizki.
"Iki?" gumam Acha langsung turun dan membuka pintu.
"Wa'alaikumussalam warohmatulloh." kata Acha.
"Cha bantuin Iki." kata Rizki.
"Bantuin apa?" kata Acha.
"Udah ayo ikut." kata Rizki.
__ADS_1
Acha pun mengikuti, mereka berdua langsung duduk di kursi tamam depan rumah Acha.
......................
"Mungkin ini waktunya untuk memberi tahu Acha bahwa aku lah sang pengagum rahasia itu." batin Muza.
"Cha saya datang untuk melamar kamu." gumam Muza.
Muza pun bergegas pergi dengan sebuah cincin disakunya.
......................
"Aku mau lamar Liani." kata Rizki.
"Seriusan?" kata Acha bahagia.
"Iya tapi, gerogi ngomong nya, makanya mau latihan sama Acha." kata Rizki.
"Siap deh." kata Acha.
"Acha sejujur nya Aku sudah lama mengagumi mu, dan sekarang aku memberanikan diri untuk meminang mu, mau kah kau menjadi ibu dari anak anak ku?" kata Rizki berlutut.
Langkah Muza terhenti melihat itu.
"Mungkin sudah terlambat, dan aku harus mengikhlas kan jika itu yang terbaik." batin Muza dan kembali pergi.
"Ah Iki masa pake nama Acha, gimana kalo pas nanti lamar Liani nya nama Acha yang disebut." kata Acha terkekeh.
"Iya yah." kata Rizki.
"Yaudah ulang." kata Acha.
"Liani sejujur nya Aku sudah lama mengagumi mu, dan sekarang aku memberanikan diri untuk meminang mu, mau kah kau menjadi ibu dari anak anak ku?" kata Rizki.
"Maaf Aku tidak bisa." kata Acha.
"Yah gak asik ah." kata Rizki.
"Iya iya." kata Acha tertawa renyah.
"Iya aku mau Rizki,sejujur nya aku pun mencintai mu sejak dulu." kata Acha terkekeh.
"Yaudah sana kerumah Liani, semangat yo." kata Acha mendorong punggung Iki untuk Pergi.
"Iya iya nanti diwaktu yang tepat." kata Rizki.
"Keburu ada yang nikung nanti." kata Acha.
"Jangan ngomong gitu, udah lah Iki pulang, makasih assalamu'alaikum." kata Rizki.
"Wa'alaikumussalam warohmatulloh, sama sama." kata Acha.
Rizki pun segera pergi.
"Hari ini aku di kejutkan oleh hal ini, Liani yang mencintai Rizki dari sejak dulu, dan Akhir nya Alloh meluluh kan hati Iki untuk meneruskan ke jenjang halal." batin Acha.
Acha pun langsung masuk rumah dengan tersenyum senyum.
"Siapa lagi yang nikah teman mu nak?" kata Fathma.
"Lalu tadi siapa?" kata Fathma.
"Iki, katanya mau lamar Liani tapi gerogi makanya latihan bareng Acha." kata Acha terkekeh.
"Ada Muza juga kan?" kata Fathma.
"Ustadz Muza? Nggak ada tuh." kata Acha.
"Tapi tadi Uma liat ada tapi balik lagi." kata Fathma.
"Apa iya." batin Acha.
"Entah lah Uma, Acha ke kamar dulu ya." kata Acha.
"Iya sayang." kata Fathma.
"Apa iya si pengagum rahasia itu ustadz Muza, masa iya sih, kalo iya dan beliau benar benar ke sini tadi bisa salah paham antara aku dan Iki." batin Acha menepuk dahi nya.
"Eh tapi jangan ke ge er an dulu Cha." gumam Acha.
...****************...
Satu minggu kemudian, Rizki memberanikan diri untuk menemui keluarga Liani.
"Assalamu'alaikum?" ucap Rizki.
"Wa'alaikumussalam, eh Ki masuk masuk." kata Muza.
Rizki pun masuk dan duduk di sofa.
"Dek ambil air ada tamu." kata Muza.
"Iya bang bentar." kata Liani.
Liani pun membawa air putih.
"Ini bang, eh Ki?" kata Liani.
Liani pun duduk di samping Muza.
"Maksud dan tujuan Iki kesini mau...." kata Rizki.
"Mau..?" kata Muza.
"Rizki kemari mau melamar Liani bang." kata Rizki.
Muza hanya membulatkan matanya terkaget.
Liani hanya tersenyum dan menunduk.
"Lamar?" kata Muza diangguki Rizki.
"Tapi bukan nya kemarin pas di taman, kamu sama Acha..." kata Muza.
"Eh itu cuma latihan Bang." kata Rizki.
__ADS_1
"Alhamdulillah setidak nya masih ada peluang untuk hamba yaa Alloh." batin Muza.
"Abang sih setuju aja, tapi itu juga tergantung Liani nya." kata Muza
"Terus umi sama abi abang gimana?" kata Rizki.
"Kami merestui kok nak kalo memang Liani nya bersedia." kata Ilham memasuki rumah.
"Gimana Li?" kata Muza.
Liani hanya mengangguk.
"Alhamdulillah yaa Alloh." kata Rizki.
"Minggu depan saya tunggu kedatangan kamu bersama orang tua kamu." kata Ilham.
"Iya siap om." kata Rizki.
Mereka pun saling berbincang bincang penuh canda tawa, apa lagi Kebahagiaan ini yang telah di tunggu Liani bertahun tahun.
"Ya sudah Iki pamit dulu, dan akan membicarakan semua ini lebih lanjut pada umi dan abi." kata Rizki.
"Iya nak hati hati." kata Silfa.
"Assalamu'alaikum." ucap Rizki mencium punggung tangan Ilham dan Muza.
Rizki menyatukan kedua tangan nya pada Silfa dan Liani.
"Wa'alaikumussalam warohmatulloh." jawab mereka.
Langkah demi langkah Rizki pun menjauh hingga punggung nya tak terlihat lagi.
"Aciee..." goda Muza.
"Apa an sih bang." kata Liani.
Semuanya tetawa renyah.
"Setidak nya aku masih ada harapan untuk menemui Acha dan kedua orang tua nya." batin Muza.
"Assalamu'alaikum?" ucapa Rizki memasuki rumah.
"Wa'alaikumussalam warohmatulloh." jawab Umi dan Abi Rizki yang sedang duduk.
Rizki pun segera duduk bergabung.
"Mi, Bi, Minggu depan Rizki mau khitbah Akhwat pilihan Rizki." kata Rizki terus terang.
"Bagus itu, siapa Akhwat nya nak?" kata hilwa.
"Liani." kata Rizki.
"Owh anak nya buk Silfa itu?" kata Hilwa di angguki Rizki.
"Yasudah kalo itu keputusan kamu, ya kab Bi?" kata Hilwa di angguki Zainul.
"Makasih umi abi." kata Rizki.
"Yaudah Iki mau kasih tau Acha dulu." kata Rizki diangguki Umi dan Abi nya.
"Assalamu'alaikum." ucap Rizki mencium tangan kedua orang tuanya.
"Wa'alaikumussalam warohmatulloh, hati hati nak." jawab kedua orang tuanya.
Rizki bergegas berlari hingga punggung nya tak terlihat dari pandangan orang tuanya.
"Anak kitu sudah dewasa ya bi." kata Hilwa.
"Iya Mi dan udah bijak sana, membawa seorang Akhwat ke jenjang halal." kata Zainul.
......................
"Assalamu'alaikum?" ucap Rizki.
Krek... Pintu di buka.
"Wa'alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh, eh Iki?" kata Fathma.
"Tante." kata Iki menyatukan tangan.
"Acha nya ada gak tante." kata Rizki.
"Ada di taman belakang." kata Fathma.
"Oke makasih tante." kata Iki.
Rizki segera bergegas ke taman belakang.
"Assalamu'alaikum Acha?" ucap Rizki.
"Astaghfirulloh wa'alaikumussalam." jawab Acha terkaget.
"Melamunin apa sih Cha?" kata Rizki.
"Si pengagum rahasia itu?" kata Rizki.
"Enggak, eh gimana pas tadi udha ke rumah Liani nya?" kata Acha.
"Alhamdulillah udah." kata Rizki.
"Terus gimana gimana?" kata Acha.
"Ya gitu." kata Rizki.
"Gitu gimana?" kata Acha.
"Alhamdulillah di terima dengan baik." kata Rizki.
"Alhamdulillah, terus pake kata kata yang kita latihan, emang itu nggak terlalu alay yah." kata Acha terkekeh.
"Haha nggak malu ngomong gitu di depan orang tua Liani." kata Rizki terkekeh.
"Yah percuma dong minghu kemaren latihan, eh tapi nggak papa yang pentingkan Iki udah berani menemui ortu Liani." kata Acha.
Satu minggu berlalu...
__ADS_1