
"Mohon ijin semua nya." kata Acha.
"Iya Acha sayang." kata Gilang.
Yang membuat Acha langsung tertuju ke arah suara itu.
"Ciee." sorak semuanya.
"Dih apaan sih, Gilang ngapain lagi di sini, harusnya kan kerjain tugas dari Ustadzah Nurma." kata Acha.
"Kan Aku udah selesai ngerjain nya bep, makanya Aku kesini mau liat Kamu, Kamu ceritain kisah perjalanan hidup Kita kan?" kata Gilang.
Acha hanya menatap kesal dan menahan malu.
"Sumpah demi apapun, hari ini Acha banyak di malu maluin." jerit batin Acha.
"Eh udah udah Gilang, mau Saya kasih takziran Kamu?" kata Rafan.
"Eh kak Ustadz ipar, jangan lah masa tega mau ngehukum dedek iparnya." kata Gilang.
Rafan hanya menggeleng dan semua hanya terkekeh kecuali Acha yang tatapan nya tajam.
"Semangat be..." kata Gilang terpotong.
"Oke langsung saja." potong Acha.
"Bep." lanjut Gilang dengan suara rendah.
"Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh." kata Acha.
"Wa'alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh." jawab semuanya.
"Acha di sini akan sedikit bercerita tentang
Fatimah Az-Zahra - Putri Bungsu Rasulullah
Fatimah binti Muhammad atau lebih dikenal dengan Fatimah az-Zahra adalah putri bungsu Nabi terakhir, pemimpin dan suri tauladan kaum Muslimin, yaitu Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim. Ibunya, Khadijah binti Khuwailid, Ummul Mukminin yang bergelar Al-Kubra, sosok yang agung; salah seorang wanita penghulu surga. Fathimah adalah istri dari Ali bin abu thalib, Dia adalah ibu dari dua anak yang mulia; Hasan dan Husein.
Fatimah dilahirkan beberapa saat sebelum Nabi Muhammad sholallohu 'alaihi wasalaam diutus menjadi seorang Rasul. Fathimah mendapat gelar Al-Batuul, yaitu yang memusatkan perhatiannya pada ibadah atau tiada bandingnya dalam hal keutamaan, ilmu, akhlak, adab, hasab dan nasab. Ia juga mendapatkan julukan Az-Zahra, yang cemerlang. sedangkan kunyahnya (panggilannya) adalah Ummu Abiha (Ibu dari bapaknya).
Fatimah adalah putri bungsu Rasulullah sholallohu 'alaihi wasalaam kakak-kakaknya adalah Ummu Kultsum, Ruqayyah dan Zainab dan yang paling beliau cintai. Rasulullah pernah berkata tentang putri terkasihnya itu, "Fatimah adalah darah dagingku, apa yang menyusahkannya juga menyusahkan aku dan apa yang mengganggunya juga menggangguku." (Ibnu Abdil Bar dalam Al-Isti'aab)
Keutamaan Fatimah az-Zahra
__ADS_1
Fatimah adalah orang yang paling erat hubungannya dengan Nabi sholallohu 'alaihi wasalaam dan paling menyayanginya. Fatimah juga termasuk seorang mujahidah yang turut berjihad di medan perang, termasuk di Uhud. Ketika wanita-wanita sahabah keluar untuk memberikan pertolongan kepada kaum Muslimin, Fathimah pun turut serta. Ketika bertemu Nabi sholallohu 'alaihi wasalaam yang terluka, ia memeluk dan mencuci luka-luka ayahnya dengan air, sehingga darah semakin banyak yang keluar. Tatkala melihat hal itu, Fatimah kemudian mengambil sepotong tikar, lalu membakar dan membubuhkannya pada luka Rasulullah sehingga melekat dan darahnya berhenti keluar. (HR Tirmidzi)."
"Allohumma sholli 'alaa sayyidina muhammad." ucap semuanya menangis.
"Selain itu, Fatimah juga membantu kaum Muslimin yang lain, di antara tikaman tombak dan sabetan pedang, serta hujan anak panah yang menimpa kaum Muslimin. Ia memberikan pengobatan, menyediakan air minum bagi para prajurit, dan mempersiapkan urusan logistik pasukan Muslimin." lanjut Acha yang berusaha menahan tangisnya.
"Ya hubaabati ya sayyidati ya fatimah ya binta rosuulillahi ,sholaatullahi wa salaamuhul atmaanil akmalaani ala abiiki wa ala ummiki wa alaiki wa ala zaujiki wa ala ibnaiki wa ala man waalaakum lillah." semuanya bersholwat.
"Inilah dia, Az-Zahra', puteri Nabi sholallohu 'alaihi wasalaam, puteri sang pemimpin. Dia memberi contoh ketika keluar bersama 14 orang wanita, di antara mereka terdapat Ummu Sulaim binti Milhan dan Aisyah Ummul Mu'minin rodhi Allohu anh. dan mengangkut air dalam sebuah qirbah dan bekal di atas punggungnya untuk memberi makan kaum Mu'minin yang sedang berperang menegakkan agama Allah subhana wata'alaa.
Pernikahan Fatimah az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib
Kisah cinta yang sudah terpendam sejak lama, kisah cintanya sangat terjaga kerahasiaannya dalam kata, sikap dan ekspresi Mereka bahkan konon syaithanpun tak bisa mengendusnya, Mereka bisa menjaga izzah Mereka, hingga Allah telah menghalalkannya.
Ali bin Abi Thalib adalah keponakan dan salah satu sahabat yang istimewa dimata Rasulullah sholallohu 'alaihi wasalaam. Selain beliau tinggal langsung bersama Rasulullah, dia juga seorang pemberani yang pernah menggantikan posisi tidur Rasulullah disaat hijrah dan juga seorang mujahid perang yang gagah.
Sementara Fatimah, putri Rasulullah sholallohu 'alaihi wasalaam yang taat, penyayang dan sangat peduli pada Rasulullah sholallohu 'alaihi wasalaam, selalu ada disamping ayahnya dalam setiap kisah perjuangan sang ayah membumikan nilai-nilai islam di tengah kafir Quraisy.
Ali sudah menyukai Fatimah sejak lama, kecantikan putri Rasulullah ini tak hanya jasmaninya saja, kecantikan Ruhaninya melintasi batas hingga langit ketujuh.
Kendalanya adalah perasaan rendah diri muncul di benak Ali, apakah mampu Ia membahagiakan putri Rasulullah dengan keadaannya yang serba terbatas, Demikian kira-kira perasaan yang ada pada Ali saat itu.
Pada suatu ketika, Fatimah dilamar oleh seorang laki-laki yang selalu dekat dengan nabi, yang telah mempertaruhkan kehidupannya, harta dan jiwanya untuk Islam, menemani perjuangan Rasulullah sholallohu 'alaihi wasalaam sejak awal-awal risalah ini.
Ali merasa belum ada apa-apanya bila dibanding dengan perjuangannya dalam menyebarkan risalah Islam, entah sudah berapa banyak tokoh-tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan dakwahnya. Sebutlah ‘Utsman, ‘Abdurrahman bin auf, Thalhah, Zubair, Sa’d bin abi Waqqash, Mush’ab. Ini yang tak mungkin dilakukan oleh anak-anak seperti Ali. Tak sedikit juga para budak yang dibebaskan oleh Abu Bakar sebutlah Bilal bin rabbah, khabbab, keluarga yassir, ‘Abdullah ibn mas’ud.
Dari sisi finansial Abu Bakar seorang saudagar, tentu akan lebih bisa membahagiakan Fatimah, sementara Ali?, hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.
Melihat dan memperhitungkan hal ini, Ali ikhlas dan bahagia jika Fatimah bersama Abu Bakar, meskipun ia tak mampu membohongi rasa-rasa dalam hatinya yang ia sendiri tak mengerti, apakah mungkin itu yang namanya cinta?
Namun ternyata lamaran Abu Bakar ditolak oleh Fatimah sehingga hal ini menumbuhkan kembali harapannya. Ali kembali mempersiapkan diri, berharap dia masih memiliki kesempatan itu.
Namun ujian bagi Ali belum berakhir, setelah Abu Bakar mundur muncullah laki-laki nan gagah perkasa dan pemberani. Seseorang yang dengan masuk Islamnya mengangkat derajat kaum muslimin, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. Seorang yang diberi gelar Al-Faruq.
Ya, dialah Umar ibn Al Khaththab. Pemisah antara kebenaran dan kebatilan juga datang melamar Fatimah.
Ali pun ridho jika Fatimah menikah dengan Umar, ia bahagia jika Fatimah bisa bersama dengan sahabat kedua terbaik Rasulullah setelah Abu Bakar yang mana Rasulullah sampai mengatakan “Aku datang bersama Umar dan Abu Bakar”.
Namun kemudian Ali pun semakin bingung karena ternyata lamaran Umar pun ditolak.
Setelah itu menyusul Abdurahman bin Auf melamar sang putri dengan membawa 100 unta bermata biru dari mesir dan 10.000 Dinnar, kalo diuangkan dalam rupiah kira kira 55 milyar. Dan lamaran bermilyar-milyar itupun ditolak oleh Rasulullah.
Akan tetapi kekhawatiran Ali bin Abi Thalib belum berakhir sampai di sini karena ternyata sahabat yang lainpun melamar sang Az Zahra. Usman bin Affan pun memberanikan dirinya melamar sang putri, dengan mahar seperti yang dibawa oleh Abdurrahman bin Auf, hanya ia menegaskan kembali bahwa kedudukannya lebih mulia di banding Abdurrahman bin Auf karena ia telah lebih dahulu masuk islam.
__ADS_1
Tidak disangkaa tidak diduga, ternyata Rasulullahpun menolak lamaran Usman bin Affan.
Empat sahabat sudah memberanikan diri dan mereka semua telah ditolak oleh Rasulullah sholallohu 'alaihi wasalaam.
“Mengapa bukan engkau saja yang mencobanya kawan?” seru sahabat Ali,
"Mengapa engkau tak mencoba melamar Fatimah? aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
“Aku?” tanyanya tak yakin.
“Ya, Engkau wahai saudaraku!”
“Aku hanya pemuda miskin, apa yang bisa aku andalkan?”
Sahabatnyapun menguatkan “Kami dibelakangmu, kawan! "
Akhirnya Ali bin Abi Thalib pun memberanikan diri menjumpai Rasulullah untuk menyampaikan maksud hatinya, meminang putri nabi untuk jadi istrinya. Awalnya beliau hanya duduk di samping Rasulullah dan lama tertunduk diam. Hingga Rasulullahpun bertanya ”wahai putra Abu Thalib, apa yang engkau inginkan?”
Sejenak Ali terdiam, dan dengan suara bergetar Ia pun menjawab, ” Ya Rasulullah, Aku hendak meminang Fatimah” Mendengar jawaban Ali ini beliau sholallohu 'alaihi wasalaam tidak terkejut. "Bagus, wahai Ibnu Abu Thalib, beberapa waktu terakhir ini banyak yang melamar putriku, tetapi Ia selalu menolaknya, oleh karena itu, tunggulah jawaban putriku”
Kemudian Rasulullah meninggalkan Ali dan bertanya kepada putrinya, ketika ditanya Fatimah hanya terdiam dan Rasulullah sholallohu 'alaihi wasalaam menyimpulkan bahwa diamnya Fatimah pertanda kesetujuannya.
Rasulullah kemudian mendekati Ali dan bersabda "Apakah engkau memiliki sesuatu yang akan engkau jadikan mahar wahai Ali?
Ali pun menjawab ” Orang tuaku yang menjadi penebusnya untukmu ya Rasulullah, tak ada yang Aku sembunyikan darimu, Aku hanya memiliki seekor unta untuk membantuku menyiram tanaman, sebuah pedang dan sebuah baju zirah dari besi”
Dengan tersenyum Rasulullah sholallohu 'alaihi wasalaam bersabda "Wahai Ali, tidak mungkin engkau terpisah dengan pedangmu, karena dengannya engkau membela diri dari musuh-musuh Allah subhana wata'ala dan tidak mungkin juga engkau berpisah dengan untamu karena ia engkau butuhkan untuk membantumu mengairi tanamanmu, Aku terima mahar baju besimu, jual lah dan jadikan sebagai mahar untuk putriku” Wahai Ali engkau wajib bergembira sebab Allah sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di Langit sebelum Aku menikahkan engakau di Bumi" Diriwayatkan oleh Ummu Salamah rodhi Allohu anh.
Ali bin Abi Thalib menjual baju besi tersebut dengan harga 400 dirham dan menyerahkan uang tersebut kepada Rasulullah sholallohu 'alaihi wasalaam, dan Nabi pun membagi uang tersebut ke dalam 3 bagian. Satu bagian untuk kebutuhan rumah tangga, satu bagian untuk wewangian dan satu bagian lagi di kembalikan kepada Ali bin Abi Thalib sebagai biaya untuk jamuan makan untuk para tamu yang menghadiri pesta.
Setelah segala-galannya siap,dengan perasaan puas dan hati gembira dan di saksikan oleh para sahabat Rasulullah mengucapkan kata ijab kabul pernikahan putrinya
Kemudian Nabi sholallohu 'alaihi wasalaam bersabda:
"Sesunguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah Putri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, Maka saksikanlah sesunguhnya Aku telah menikahkanya dengan mas kawin empat ratus dihram (nilai sebuah baju besi) dan Ali Ridho (menerima) mahar tersebut.
Maka menikahlah Ali dengan Fatimah Pernikahan mereka penuh hikmah walau di arungi di tengah kemiskinan Bahkan di sebutkan oleh Rasulullah sangat terharu melihat tangan Fatimah yang kasar karena harus menepung gandum untuk membantu suaminya,"
"Maa syaa Allah, jika Allah sudah menakdir kan dua insan untuk bersatu, walaupun bisa dikatakan Mereka terpisah jauh Mereka tetap akan bersatu, dan jika Allah menakdirkan dua insan agar tidak bersatu sedekat apapun mereka maka mustahil untuk bersatu." kata Acha.
"Maa syaa Allah, maa syaa Allah." ucap semua.
"Oke lanjut ya," kata Acha.
__ADS_1