
Detik berubah menjadi menit, menit menjadi jam, jam menjadi hari, hari menjadi minggu, dan minggu menjadi bulan, sekarang kondisi Maria sudah mulai membaik.
Dikamar Maria yang sedang duduk bersama kedua anaknya, Maria mencium kening kedua anak nya dan memeluknya, Mereka bersiap siap untuk pergi dari rumah Acha.
"Ibu kenapa kita mau pergi dari sini?" kata Azam, Maria hanya terdiam.
"Iya Ibu tinggal disini kan enak." kata Naura.
"Sayang, kita udah lama tinggal disini dan merepotkan mereka, cukup sampai di sini saja kita merepotkan mereka, mereka merawat kita terutama ibu sampai sembuh kembali seperti ini, masa ibu sudah sehat gini masih merepotkan mereka." jelas Maria.
"Tapi mereka tulus kok membantu kita." kaya Azam.
"Iya sayang, ibu tau tapi jagan sampe kita seenaknya karema melihat ketulusan seseorang, kita harus punya malu, mereka membantu tanpa pamrih, sedangkan kita sangat ingin membalas kebaikan mereka tapi tidak tau dengan cara apa." kata Maria.
"Kata Ibu guru, kalo kita tidak bisa membalas kebaikan seseorang dengan apapun, kita harus ingat kita punya Alloh, kita berdo'a agar orang yang baik kepada kita dibalas dengan kebaikan sama Alloh." kata Azam.
"Semoga Ibu guru, Ustadz dan keluarganya dibalas dengan kebaikan, aamiin." kata Naura.
"Aamiin." ucapa Maria dan Azam.
"Yaudah, ayo sekarang kita pamit sama Ibu guru dan Uma nya." kata Maria.
Langkah mereka bertiga sedikit demi sedikit menghampiri Acha dan Fathma yang sedang makan siang, Maria, Azam dan Naura yang sudah siap pergi, langsung pamit pada Acha dan Fathma.
"Kalian mau kemana?" kata Fathma.
"Kami mau pergi." kata Azam.
"Loh kenapa nggak suka yah tinggal disini?" kata Acha.
"Ng-nggak buka begitu Nak Acha, kami senang kok tinggal di sini." kata Maria.
"Terus kenapa mau pergi, apa ada yang menyinggung perasaan kalian?" kata Fathma.
"Nggak bukan gitu juga." kata Maria.
"Terus apa? kalian marah sama Kami?" kata Fathma.
"Nggak Bu, kami nggak marah sama Ibu sekeluarga, saya malah tidak enak tinggal berlama-lama di rumah ibu, saya hanya merepotkan ibu saja." kata Maria.
"Yaa Alloh Bu, kami nggak merasa di repotkan kok." kata Acha.
"Tapi ibu yang tidak enak Nak Acha, kami pamit, kami harus pergi." kata Maria.
"Terus ibu mau pergi kemana, ibu ada uang?" kata Acha, Maria hanya menggeleng.
"Dengan tidak membawa uang, ibu mau pergi?" kata Acha.
Mendengar itu Maria langsung tertunduk Azam dan Naura menatap sang ibu yang terdiam mematung.
"Iya saya harus pergi kemana dengan keadaam tidak ada uang sepeser pun, makan saja di beri." batin Maria.
"Ibu sudahlah tetap tinggal disini kami tidak merasa keberatan kok, lagi pula Azam dan Naura juga sedang belajar." kata Acha.
"Iya Ibu, kamk masih ingin belajar." kata Azam diangguki Naura.
Maria hanya terdiam kebingungan, disisi lain ada perasaan tidak enak karena sudah lama Maria dan anak-anaknya tinggal di rumah Acha, di sisi lain ada anak-anaknya yang harus mencari ilmu.
"Gimana kalo gini aja, Maria tinggal sama Ibu aja di rumah kecil." kata Maryam.
Semuanya menatap ke arah Maria menunggu keputusan Maria, Maria tersenyum mengangguk menyetujui, semuanya bergembira.
"Baiklah kalo itu keputusan Kamu." kata Fathma.
"Mari Ibu tunjukan." kata Maryam.
Mereka pun segera pergi ke rumah kecil yang berada di belakang rumah Acha, rumah tempat tinggal orang yang bekerja di rumah Acha, sesampainya di rumah kecil itu, rumah yang sederhana sangat rapih dan bersih, Maryam segera menunjukkan ruangan per ruangan.
"Nah disini ada 2 kamar, Ibu tinggal di kamar ini, dan kamar 1 lagi buat kalian." kata Maryam.
Mereka langsung menuju kamar yang akan ditempati oleh Maria dan anak-anak, setelah pintu di buka terlihat kamar yang sederhana dan indah sangat layak untuk dihuni.
"Wah bagus." kata Azam dan Naura.
"Kalian suka?" kata Acha.
"Suka Bu." kata Azam dan Naura.
__ADS_1
"Kita keliling sekitar yuk." kata Acha.
"Bu Maria istirahat aja, anak-anak mau Acha ajak keliling sekitar sini." kata Acha diangguki Maria.
Acha, Azam dan Naura pun langsung melangkah pergi.
"Itu rumah juga Bu guru?" kata Azam.
"Iya, rumah kecil yang itu rumah tempat tinggal pak sobari." jelas Acha.
"Nah kalo itu taman belakang rumah, disana ada danau kecil, Ibu kalo lagi sedih sering menyendiri di sana." kata Acha.
Langkah merekapun langsung menuju taman.
"Wah indah sekali, kalo kami bersedih, boleh gak merenung disini." kata Azam.
"Boleh, tapi emang kalian sedih kenapa, masih anak-anak kok." kata Acha terkekeh.
"Kan sedih tuh manusiawi." kata Azam.
"Iya-iya, yaudah yuk, kalian harus istirahat." kata Acha diangguki Mereka.
Mereka bertiga langsung kembali ke rumah kecil, terlihat dimaja sebuah makanan yang sudah disajikan, Azam dan Naura bergegas berlari menuju meja.
"Wah pisang goreng." kata Azam dan Naura.
"Iya makan aja." kata Maryam.
Azam dan Naura langsung menyantap pisang goreng, Acha, Maryam dan Maria tersenyum menyaksikan itu, Acha berpamitan kembali ke rumah dan disetujui Mereka, Acha langsung kembali ke rumah, sesampainya di rumah terlihat Rojak yang sedang berbincang dengan Qayyis.
"Assalamu'alaikum?" ucap Acha memasuki rumah dan langsung mencium punggung tangan Rojak dan Qayyis, karena bagaimana pun Rojak adalah Bapak mertuanya Acha, walau Mufid sudah tiada, Mertua tetaplah mertua dan masih Mahrom untuk Acha.
"Wa'alaikumussalam, eh abis dimana?" kata Rojak.
"Abis di rumah belakang Bi." kata Acha.
"Kamu duduk dulu di sini, abi Rojak mau bicarain sesuatu sama kamu." kata Qayyis.
Walau kebingungan Acha tetap duduk, Acha sudah tak enak perasaan karena penasaran kenapa kedua abinya ini memerintahkan nya berada di antara pembicaraan mereka.
"Adakah ikhwan yang cocok dengan hatimu?" kata Rojak.
"Cha apa sebaiknya kamu menikah lagi." kata Rojak.
Acha hanya tetap terdiam dan menunduk, tak terasa butiran kristal bening terjatuh dari matanya mengingat kejadiah pahit yang sudah lama di pendamnya, Acha memejamkan mata dan mengatur napas.
"Acha belum siap untuk hal itu, Acha masih trauma dengan semua kejadian itu." kata Acha.
"Tapi Nak itu semua sudah qodarulloh, kematian sudak takdir, semua manusia pasti mengalami hal itu, biarkan Mufid bahagia di sana, jika kamu bahagia Mufid akan lebih bahagia Cha." kata Rojak.
Acha hanya terdiam dengan tetesan air matanya yang berjatuhan.
"Baiklah Nak, Abi bakal tunggu keputusan Kamu, abi cuma mau kamu menjalani kehidupan baru, mau kamu bahagia." kata Rojak.
"Sekarang kamu istirahat aja, kayanya kamu kecapean." kata Rojak diangguki Acha.
Langkah demi langkah Acha pun menaiki tangga menuju kamarnya, Acha langsung masuk kamar dan menangis.
Keesokan harinya Acha langsung bersiap siap pergi ke taman untuk mengajar, langkahnya terhenti dedap murid-murid yang sudah terduduk rapih, kegiatan pun dimulai dan diawali dengan do'a, Acha terlihat murung dan tidak bersemangat hari ini, murid-murid hanya menatap satu sama lain.
Muza datang dan menjumpai Acha yang sedang melamun dihadapan murid-muridnya.
"Assalamu'alaikum?" ucap Muza dengan nada sedikit tinggi
"Wa'alaikumussalam, astaghfirulloh." ucap Acha kaget, para murid hanya terkekeh.
"Kok masih pagi udah nggak semangat sih, semangat dong yakan anak-anak?" kata Muza diangguki para Murid.
"Afwan ya semuanya ibu lagi kurang enak badan." kata Acha.
"Ibu istirahat aja, kan ada Ustada Muza." kata Azam.
"Nah iya bener tuh." kata Muza.
Acha pun segera duduk dipinggiran taman, Muza segera memberi dan menjelaskan materi pada para Murid, sedikit lirikan Muza mengarah ke Acha, terlihat Acha yang sedang gelisah.
"Acha kenapa nggak biasanya kaya gini." batin Muza.
__ADS_1
"Oke anak-anak sampai disini dimengerti?" kata Muza.
"Iya Ustadz." kata para Murid.
"Waktunya makan siang ya." kata Muza.
"Asik." kata para Murid.
"Sebentar ya Ustadz tanya Bu guru dulu." kata Muza yang tidak melihat box nasi.
Muza langsung menghampiri Acha, tapi Acha tetap melamun gelisah.
"Cha box nasi belum ada?" kata Muza, terlihat Acha yang hanya terdiam.
"Cha?" kata Muza.
"Hah iya kenapa?" kaget Acha.
"Ada apaan sih, kok melamun mulu?" kata Muza.
"Hah nggak kenapa-napa." kata Acha tersenyum menutupi kesedihan yang sedang mekanda dirinya.
"Tadi Ustadz nanya apa?" kata Acha.
"Box nasi belum ada." kata Muza.
"Astaghfirulloh, Acha lupa pesan." kata Acha menepuk kening.
"Yaa Alloh, berarti..." kata Muza.
"Maaf." kata Acha.
"Yasudah saya beli dul, kamu jelasin ke anak-anak." kata Muza diangguki Acha.
Langkah Muza langsung memasuki mobil dan langsung pergi, Acha segera menemui anak-anak dan meminta pengertian dari mereka.
"Maaf ya, ibu lupa pesan makannya, tapi tenang aja kok Ustadz Muza lagi beli." kata Acha.
"Iya Bu nggak papa." kata para Murid.
"Ibu lagi sakit yah?" kata Azam.
"Nggak, emang keliat pucet tah." kata Acha.
"Iya Bu, pucet banget." kata Azam.
"Ibu kalo sakit duduk aja." kata Naura yang menuntun Acha duduk di kursi depan.
"Ibu tau gak?" bisik Naura, Acha hanya menggeleng.
"Niza sekarang mulai bisa benulis dengan benar, atas bantuan Ustadz Muza yang selalu mengajari Niza" bisik Naura.
"Masa iya?" kata Acha diangguki Naura.
"Keren ya ustadz Muza, ibu kalah deh." kata Acha terkekeh.
"Kata Ustadz Muza kalo maungajarin anak-anak itu harus bertahap janngan sekaligus, apalagi kalo sampe dibentak nan..." kata Naura.
"...nantinya bukan bisa malah anak itu semakin ketakutan, dan kita hrus mengajari anak-anak sambil bermain." kata Acha.
"Ibu tau?" kata Naura.
"Tau lah, kan ustadz Muza juga sering bilang gitu ke ibu." kata Acha.
"Iya Bu, dan nyatanya Niza pun perlahan bisa menulis dengan baik, karena ustadz Muza mengajarinya dengan bermain, seperti belajar menulis di tanah dan pasir." kata Naura.
Mobil Muza pun datang dan terhenti.
"Zam bantuin." kata Acha diangguki Azam.
Acha dan Azam pun segera menghampiri membantu Muza membawa nasi box dan langsung membagikan nya kepada para Murid.
"Sudah kebagian semua?" kata Muza.
"Sudah Ustadz." kata Mereka.
"Alhamdulillah kalo sudah." kata Muza.
__ADS_1
"Silahkan Azam pimpin do'a." kata Acha.
Azam pun segera memimpin do'a untuk makan, setelah itu merekapun segera menyantap makanan, melihat kebahagiaan pada anak-anak Acha dan Muza ikut bahagia, saat tersenyum bahagia sedikit lirikan refleks terjadi, pandangan Muza dan Acha saling bertemu, para murid yang menyaksikan nya hanya bersorak 'cie cie' yang membuat Acha kembali tersadar dari tatapan.