
Tiga hari kemudian pada tanggal 10 Februari resepsi di selenggarakan.
Halaman pondok, mulai dari gerbang utama di hias dengan indah karpet merah sudah terhampar, santriat semuanya turun tangan membantu di bagian bagian tertentu.
Tamu tamu berdatangan, terutama kiayi kiayi dan santri dari pondok lain.
Acha, Cilla, Putri dan Liani jaga buku tamu, Acha dan Cilla jaga buku tamu di pintu gerbang utama, kemudian Putri dan Liani jaga buku tamu bagian pintu gerbang samping, sedangkan Rasi dan Ririn menjaga buah buahan dan makanan penutup.
"Maa syaa Alloh, liat geh santriwan yang pake peci merah" kata Shilla menyandarkan dagunya di tangan.
"Hush kamu tuh jaga pandangan." kata Acha.
"Assalamu'alaikum," kata Rohman yang mencium tangan kiayi.
"Wa'alaikumussalam." kata Kiayi.
"Ahlan wa sahlan syukron katsiron sudah datang, tafadhol untuk mengisi buku tamu." kata Rohman menyambut sembari berjabat tangan dengan santri santri yang berjalan di belakang kiyai.
"Yaa Alloh Cha mau ke arah sini." kata Cilla bar bar.
"Astaghfirulloh, malu Cil ada kiayi nya, jangan malu maluin pondok." bisik Acha.
"Ahlan wa sahlan." sambut Acha menyatukan kedua tangan nya.
Kiayi itu hanya tersenyum Ramah, dan kemudian mengisi buku tamu.
"Assalamu'alaikum." ucap Qayyis.
"Wa'alaikumussalam warohmatulloh, hey ente Qayyis." kata Kiayi.
"Kok kenal sama Abi." batin Acha.
"Ahlan wa sahlan sahabatku, maa syaa Alloh udah lama ane gak berjumpa dengan ente Rojak." sambut Qayyis memeluk.
"Iya, alhamdulillah Alloh mempertemukan kita." kata Rojak membalas pelikan.
"Owh kiayi Rojak, ini kiayi Rojak lah kak Mufidnya kemana? udah lama nggak ketemu, terakhir ketemu pas usia nya sembilan tahun, mungkin dekarang sudah berbeda di usianya yang ke 23 tahun." batin Acha yang melihat sebuah gelang yang sedang di pakai tangan.
Gelang itu pemberian mufid saat kiayi Rojak berpamit pindah rumah ke beda provinsi.
Flash back on
"Acha...Acha..." teriak Mufid yang mencari cari Acha di taman rumah.
Acha hanya terkekeh di persembunyian nya, Acha bersembunyi di balik semak semak.
"Cha di sini ternyata." kata Mufid.
"Eh ketauan deh." kata Acha nyengir kuda.
"Kamu ya udah tujuh tahun loh usia kamu, masih aja sembunyi di semak semak gimana kalo ada ulat." kata Mufid.
"Hah ulat?" kaget Acha.
Sontak Mufid langsung tertawa renyah.
"Kenapa?" kata Acha.
"Baru juga denger kata ulat langsung takut, gimana kalo ada beneran." kata Mufid terkekeh.
"Ih kak Mufid nih." rengek Acha.
"Ini buat kamu." kata Mufid memberikan sebuah gelang.
"Apa ini?" kata Shilla melihat lihat benda itu.
"Itu namanya gelang kaoka." kata Mufid.
"Owh gitu..." kata Acha yang memakai nya.
"Yah kak Mufid gimana sih, masa iya gelang selonggar ini di kasih ke Acha." kata Acha.
"Ya kan supaya gelangnya pas sampe Acha dewasa, kan nggak tau kapan kita bisa bertemu lagi." kata Mufid.
"Maksudnya nggak bakal ketemu lagi?" kata Acha heran.
"Kakak sekeluarga mau pindah ke provinsi lain Cha." jelas Mufid.
"Yah Acha di tinggal dong pokok nya Acha mau ikut." rengek Acha.
__ADS_1
"Eh kan Acha nggak bisa bobo tanpa Uma, gimana Acha kalo ikut kakak mungkin Acha nggak bakal bobo tiap hari." kata Mufid.
"Iya yah, tapi..." kata Acha.
"Udah nanti kakak bakal kabarin Kamu terus." kata Mufid.
Flash back off
Mengingat itu Acha sedikit kesal.
"Ah kenapa mengingat itu, Acha masih marah karena kak Mufid waktu itu bohong, katanya mau ngabarin Acha ternyata nggak." batin Acha.
"Eh mana Acha, sudah lama ane tak jumpa, terakhir jumpa masih kecil acha tuh." kata Rojak.
"Mana ya tadi ada di sekitar sini." kata Qayyis menengok sana sini.
"Abi?" kata Acha yang ada di meja buku tamu.
Qayyis melirik dan menegas kan wajah sang putri yang terlapisi make up natural.
"Owh ini dia, yaa Alloh pangling abi liat kamu ber make up gini, Abi kira bukan kamu nak." kata Qayyis mengusap lembut kepala Acha.
"Owh ini Acha, sudah besar lagi Acha." kata Rojak.
"Iya." kata Acha menyatukan tangan dan tersenyum.
"Ini siapa putri ente juga Qay." kata Rojak pada Cilla.
"Bukan pak kiayi, Cilla santri di sini sekaligus sahabat Acha." kata Cilla menyatukan tangan.
"Mufid nggak ikut Jak? mungkin Acha sudah rindu udah lama gak jumpa sama Mufid." kata Qayyis.
"Hi ih Abi apaan sih, iya sih rindu, tapi Acha masih kesel kalo nginget pas dulu." batin Acha.
"Ada tadi balik lagi nunggu Umi nya." kata Rojak.
"Emang kemana ustadzah Tari nya?" kata Qayyis.
"Tadi kaki nya keseleo, jadi mereka di... eh itu mereka." kata Rojak.
"Umm santriwan berpeci merah itu." bisik Cilla.
"Owh ternyata Kak Mufid cowo itu." batin Acha.
"Assalamu'alaikum? pak Qayyis, mana Fathma?" kata Tari menyatukan tangan.
"Sedang duduk bersama pengantin." kata Qayyis.
Mufid hanya melirik kan pandangan nya pada Acha dan segera menunduk kembali.
"Maa syaa Alloh, siapa wanita ini." batin Mufid.
Acha yang selalu memalingkan wajah nya tak ingin melihat ke arah Mufid.
"Cha liat geh santriwan itu ngelirik lagi ngelirik lagi sama Acha." bisik Cilla.
"Bodo, Acha nggak pikirin, dan gak mau liat." bisik Acha yang tak melirik sedikit pun.
"Cuci mata Cha." bisik Cilla.
"Hmm..." jawab Acha singkat.
"Terus Acha mana? sudah lama tak jumpa, mungkin sekarang udah jadi gadis cantik ya." kata Tari.
"Ini." kata Rojak.
Acha tersenyum dan langsung mencium punggung tangan Tari.
"Ini Acha? kenapa seperti tak mengenal ku, apa Abi belum kenalin putra nya ini." batin Mufid.
Mufid pun langsung melirik ke arah tangan Acha, dan Mufid tersenyum melihat kaoka pemberian nya di pakai di tangan Acha.
"Yuk mari mari." kata Qayyis.
Acha hanya terdiam tanpa menyapa Mufid walau dengan senyuman.
"Sombong sekali masa iya sudah lupa." gumam Mufid yang berjalan dan sedikit terdengar oleh Acha.
"Bukan nya sombong, coba pikir aja sendiri." kata Acha.
__ADS_1
Langkah Mufid terhenti dan melirik ke arah Acha, Acha langsung memalingkan wajah, Mufid pun kembali meneruskan langkahnya.
"Masa iya nggak inget sama omongan nya dulu." gerutu Acha.
"Kamu kenal dia Cha, maa syaa Alloh ketampanan nya membuat Cilla leleh Cha." kata Cilla.
"Ih apaan sih Cilla." kata Acha terduduk.
"Ceritain dong Cha gimana dia." kata Cilla.
"Nggak ah males nyeritain tentang dia." kata Acha.
Mufid yang sedang menikmati makanan selalu memikirkan kata Acha tadi.
'Bukan nya sombong, coba pikir aja sendiri.'
"Apa maksud nya coba? apakah sebesar itu kesalahan ku sehingga Acha sangat kesal" gumam Mufid.
Terlintas rekaman peristiwa dulu di memori ingatan Mufid.
'Yah Acha di tinggal dong pokok nya Acha mau ikut.'
'Eh kan Acha nggak bisa bobo tanpa Uma, gimana Acha kalo ikut kakak mungkin Acha nggak bakal bobo tiap hari.'
'Iya yah, tapi...'
'Udah nanti kakak bakal kabarin Kamu terus.'
"Astaghfirulloh kayanya yang itu deh." gumam Mufid menepuk dahi.
"Kenapa Fid?" tanya Rojak.
"Mufid lupa sesuatu, Mufid pergi sebentar ya bi." kata Mufid.
"Iya." kata Rojak.
Mufid pun segera pergi menemui Acha.
"Cha kaka mau ngomong sama kamu." kata Mufid.
"Ngomong aja di sini." kata Acha.
"Tapi..." kata Mufid menyadari ada Cilla di sana.
"Santai aja dia sahabat Acha." kata Acha.
"Owh..." kata Mufid.
"Kakak minta maaf ya." kata Mufid.
"Untuk apa?" kata Acha.
"Mungkin kamu lebih tau maksud tujuan ini." kata Mufid.
"Aduh masa Cilla jadi nyamuk sih." batin Cilla.
"Kamu nggak tau kalo kakak juga pengen ngabarin kamu dulu, tapi di sana Abi langsung memasukkan kakak ke pondok, sedangkan tidak boleh menghubungui siapapun selain orang tua, masa iya kakak bohong ke ustadz." jelas Mufid.
"Yaa Alloh Acha udah egois tanpa tau alasan nya." batin Acha.
"Acha yang minta maaf ke kakak gara gara sikap ke kanak kanak an Acha marah nggak jelas ke kakak." kata Acha.
"Nggak Acha nggak salah kok." kata Mufid tersenyum.
"Um pengen peluk deh." kata Acha.
"What?" kata Cilla.
Mufid dan Acha hanya terkekeh.
"Eits sekarang kita udah baligh yah, dan sudah bukan mahrom." kata Mufid.
"Nanti kakak halalin kamu dulu deh." kata Mufid terkekeh.
"Bisa aja kakak tuh." kata Acha tertawa renyah.
Tak di sadari ada Muza yange mnyaksikan semua itu.
"Jika melihat nya bahagia, saya lebih bahagia walau bercanda dan tau dengan yang lain." gumam Muza.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian resepsi pun terlaksanakan dengan lancar, dan akhir nya bertepat jam delapan malam santri berfoto dengan pengantin.