MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 110


__ADS_3

'Baiklah kita umumkan, juara ketiga santri putra diraih oleh jeng jeng.'


"Kak plis kak jangan di gantung." kata santri putra.


Naura hanya terkekeh.


'Oke juara ketiga di raih oleh Gilang, juara kedua diraih oleh Jamal, dan juara pertama di raih oleh Achaa,'


"Yey." kata Cilla dan puput meloncat loncat.


'Eh salah ya ini putra ya putra.'


"Yahh." rengek Cilla dan Putri.


"Aneh kalian mah udah tau tadi santri putra." kata Acha.


"Iya sih iya." kata Cilla.


'Juara pertama di raih oleh jeng jeng jeng, Rohman.'


"Yeyy." teriak Rasi yang menjadi pusat perhatian semua orang.


Rasi yang menyadari langsung tertunduk malu.


"Ciee..." ledek teman teman nya.


"Apa sih." kata Rasi tersenyum malu.


'Eh iya yang juara silahkan maju kedepan, nanti yang putri juga langsung maju aja gak usah mau kan biasanya malu maluin.' Naura terkekeh.


"Yah kakak mah." rengek santri putri.


'Oke lanjut ke santri putri, juara ketiga di raih oleh Widyaa.'


"Yah..." kata Widya and the gengs.


"Bersyukur dong segitu juga dapet." sindir Acha.


Widya langsung memalingkan muka dan langsung maju ke atas panggung.


'Juara kedua di raih oleh Rahma, dan juara pertama di raih oleh...'


Semuanya tegang.


"Pasrah lah kayanya kita gak dapet." kata Liani.


"Syukuri aja menang gak menang yang pentingkan kita udah partisifasi buat memeriahkan Acara hari santri ini." kata Acha


Teman teman nya mengangguk tenang.


'Shohibah Lillah.'


"Aaa." mereka berpelukan.


'Silahkan maju kedepan, juara ini hasil dari nilai juri di nilai dari kostum dan sholawat atau syair yang di pentaskan.'


Juri pun membagikan hadiah ke sang juara, dan yang tidak masuk juara hadiah di bagikan oleh panitia.


'Bagi yang tidak mendapatkan juara jangan berkecil hati kalian juga akan mendapat hadiah, terimakasih atas partisifasinya dalam memeriahkan acara hari santri ini, tak terasa kita sudah di penghujung waktu, kita akhiri dengan hamdalah.'


"Alhamdulillahirobbil 'alaamiin." ucapa semua.


'Santri...'


"Bisa!" ucap semua.


'Santri...'


"Hebat!" ucap semua.


'Santri...'


"Hidup lillahi ta'alaa Aamiin." ucap semua.


'Aamiin, oke kita bersalaman satu sama lain, saling memaafkan, sholawat bareng bareng juga.'


"Sholatulloh salaamulloh 'alaa thohaa rosulillah, sholatulloh salaamulloh 'alaa yaasiin habibillah...." sholawat badriah di lantunkan sembari bersalaman.

__ADS_1


Naura membacakan Renungan.


Wahai para santri.


Ingatlah tujuan datang dan beradanya kalian di sini.


Untuk melaksanakan tholabul ilmi.


Dan menggapai derajat tertinggi di mata Sang Ilahi.


Ingat lah kenapa kedua orang tua kita yang mengirim kita kemari.


Bukan mereka tak menyayangi.


Tapi mereka menginginkan yang terbaik untuk sang putra putri.


Karena mereka ingin engkau yang menjadi pembela atas mereka di pengadilan Alloh nanti.


Karena mereka ingin engkau mandiri.


Menyayangi mereka dengan bakti.


Dengan cinta yang tak terganti.


Dengan keluasan pengalaman dan ilmu yang di cari.


Wahai para santri .


Saatnya engkau buktikan diri.


jadilah engkau pemimpin yang adil untuk negeri.


Akhlak yang mulia selalu kau junjung tinggi.


Yakinlah, ada sesuatu yang menantimu setelah sekian banyak kesabaran yang kau jalani, yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit.


Turuti apa yang dikatakan guru karena gurumu adalah orang tua kedua mu di sini.


Jadilah kalian seperti bunga yg memberikan keharuman bahkan kepada tangan yang telah merusaknya.


Betapa terhormatnya ilmu, karena orang yang tidak memilikinya mengatakan bahwa dia memiliki ilmu. dan betapa tidak terhormatnya kebodohan, karena orang yang memilikinya mengatakan bahwa dia tidak bodoh.


......................


Bertepat jam 17.00 para santri kembali ke kamar masing masing, mereka merebahkan tubuhnya yang kelelahan.


Acha yang sedang membuat kata kata di buku diary nya, Cilla sedang menggambar, putri sedang memainkan handphone nya, Rasi sedang menghapal hadist, dan Liani sedang mengambil gambar teman teman nya yang sedang sibuk.


Drett... dret... dret...


"Rin handphone kamu bunyi tuh." kata Acha.


Tak ada sahutan.


"Rin..?" Acha melihat sekitar kamar.


"Ririn kemana?" kata Acha.


"Kamar mandi bep." kata Cilla yang fokus dengan gambar nya.


Krek...


Pintu kamar terbuka.


"Assalamu'alaikum." ucap Ririn.


"Wa'alaikumussalam warohmatulloh." jawab semua.


"Rin handphone kamu dari tadi bunyi tuh kayanya ada yang telepon." kata Acha.


"Hah iya tah, kaya nya bunda deh." kata Ririn.


Ririn bergegas mengambil handphone nya yang sedang di carger.


"Ahhh iyaa bunda." kata Ririn.


Pandangan teman teman nya langsung tertuju ke Ririn.

__ADS_1


"Bukan nya diangkat kalian mah." kata Ririn.


"Nggak enak lah Rin." kata Acha terkekeh.


"Huh biasanya suka main angkat aja." kata Ririn.


"Eheh kan kitanya lagi pada fokus." kata Cilla.


"Iya dari tadi fokus banget, sampe ada sepulih foto candid kalian di kamera ini." kata Liani.


"Ih Liani jail ah, hapus." kata Acha.


"Nggak mau buat kenangan wle." kata Liani.


"Coba sini liat!" kata Acha hendak merebut kamera.


"Nggak!" kata Liani menghindari rampasan Acha.


Dret... dret.. dret..


Handphone Ririn berbunyi kembali.


"Syutt Ririn mau angkat telepon dari bunda." kata Ririn menenangkan kedua sahabatnya itu.


Acha dan Liani mengangguk.


"Assalamu'alaikum bunda?" kata Ririn.


(Wa'alaikumussalam warohmatulloh, nak gimana kabar kamu?)


"Alhamdulillah Ririn baik bunda, bunda sehat kan?" kata Ririn.


(Alhamdulillah sehat nak, nak bunda mau ngomong...)


"Mau ngomong apa bunda?" tanya Ririn.


(Ada keluarga sahabat ayah datang kemari buat khitbah kamu, gimana Rin kamu mau terima?)


Ririn terdiam tanpa kata.


(Rin..?)


"Hah iya bunda?" kata Ririn.


(Gimana?)


Ririn berjalan ke ujung kamar menjauhi keberadaan teman teman nya.


"Tapi Ririn masih kuliah bunda." kata Ririn


(Iya beliau siap kok nunggu kamu lulus, jadi tinggal nunggu jawaban kamu ya atau tidak, orang nya baik loh sholeh, ngerti agama tampan pula, kamu terima yaa, bunda cocok banget sama beliau.)


"Kalo menurut bunda sama aya beliau yang terbaik, In syaa Alloh Ririn terima." kata Ririn dengan berat hati.


(Alhamdulillah, yaudah ya nak bunda kasih tau ayah dulu, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam warohmatulloh." jawab Ririn menutup telepon.


Ririn menunduk pasrah.


"Mungkin ini yang terbaik, hari ini Ririn sudah menjadi milik orang itu, dan tidak baik kalo Ririn masih mengharap kan bang Ustadz." batin Ririn.


Tak terasa kristal bening jatuh ke pipi Ririn segera menghapus.


"Bersyukurlah atas siapapun yang datang. Karena masing-masing telah dikirim sebagai pemandu dari luar."


❤Jalaluddin Rumi❤


......................


Adzan maghrib berkumandang semua santri bergegas menuju masjid dan melaksanakan shalat berjama'ah.


"Senyuman tidak terlukis di bibir seorang Ririn yang selalu ceria kaya Acha, ada apa ini?." batin acha.


"Apa tadi yang bunda nya katain di telepon, sampe Ririn murung gini?" batin Liani.


Setelah itu mereka talaqi pada sang guru.

__ADS_1


Dilanjut salat isya berjama'ah.


__ADS_2