MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halamam 40


__ADS_3

Pov Silfa


"Huftt...alhamdulillah beres juga." batin Ku.


Bertepat jam 10 malam, Kami yang sedang mencicipi cemilan. Alki dan Rafan beserta suami Ku pun bergabung menikmati cemilan.


"Om Tante Kita pamit pulang udah larut malem, takut Uma sama Abi khawatir." kata Rafan.


"Iyaa maksih buat cemilan nya enak." kata Acha mengangkat ibu jari.


"Eh nginep atuh." kata Ku.


"Tau Lu Cha." kata Liani.


"Emang kalian rumah nomor berapa?" kata suami Ku sedang meminum kopi.


"Nomor 100 om." kata Rafan.


"Uhuk uhuk." suami Ku tersedak mendengar itu.


Aku membulatkan mata Ku karena perasaan yang campur antara kaget dan bahagia.


"Yaudah Kita pamit, assalamu'alaikum." kata Rafan.


"Wa'alaikumussalam hati hati Nak." kata Ku.


Setelah mendengar pernyataan dari Rafan Aku dan suamiku hanya terdiam kaget, karena Kami tidak mengenali anak dari sahabat karib kami, sungguh kuasa Allah walaupun aku dan Acha pernah berkomunikasi bahkan pas tadi, tapi Aku tak menyadari Mereka anak sahabat karib Ku.


......................


"Pantas rasanya saat pertama kali melihat Acha hatiku sudah cocok, ternyata Acha putri dari Fathma." batin Ku


......................


Flashback on


Tepat pada 10 februari saat aku melahirkan Alki.


"Wah anak kamu cowo Fa, ganteng banget." kata fathma.

__ADS_1


"Iyaa alhamdulillah, semoga bisa secerdas Al." kata ku yang mencubit gemas pipi Al.


Muhammad rafan al qayyis namanya, anak yang usianya baru satu tahun tapi sudah cerdas dan fasih dalam berbicara.


"Aamiin." kata kami.


"Kamu belum ngisi lagi fat?" kata ku.


"Belum do'ain aja." kata Fathma.


"Iyaa aku do'a in, kalo tar punya anak cewe kita jodoh anak kita." kata ku.


"Iyaa semoga aja, in syaa Allah kan jodoh udah menjadi qodarullah." kata fathma.


flash off


......................


"Apakah Fathma masih mengingat waktu itu ya." batin ku.


"Umi?" subuah kata yang menyadarkan Ku.


"Alki mau ke kamar dulu ya." kata Alki.


"Liani juga Umi, udah ngantuk, yuk Naila." kata Liani, yang mengajak Naila, karna Naila suka gak bisa tidur kalo gak tidur sama Liani.


"Iya sayang, selamat beristirahat." kata Ku.


......................


Di ruang tamu hanya tersisa Aku dam suami ku.


"Umi, pantesan ya liat Rafan sama Acha kaya gak asing, udah kerasa kaya anak sendiri." kata suami Ku.


"Iyaa Abi, padahal Acha pernah kerumah yang di komplek B, waktu itu Umi ge ngerasa kaya pernah kenal." kata Ku.


"Yaudah nanti kita berkunjung kesana besok." kata suami Ku.


......................

__ADS_1


Pagi pun tiba Kami sarapan.


"Ki Kamu mau kepondok sekarang? Kan bakal ada selametan rumah kita hari ini." kataku yang melihat Alki memakai tawb coklat.


"Nggak kok Umi, pas malem Shilla chat, katanya gak usah kepondok tar aja lusa." kata Muza.


"Alhamdulillah kalo gitu." kata Abi.


"Emang kenapa kalo bang Muza gak kepondok." kata Liani.


"Kita mau berkunjung ke sahabat karib Abi dan Umi, beliau tinggal di komplek sini, sambil mengundang untuk acara selametan rumah kita." kata Ku.


"Owh undang keluarga Acha juga yaa Mi." kata Liani.


"Iyaa sayang." kata Ku.


"Maaf Mi, Bi, tapi Muza gak bisa ikut berkunjung, ada janji soalnya." kata Muza.


"Iyaa gak papa sayang, yang penting Kamu hadir tar malem." kata Ku.


"Yaa pasti lah Umi ku sayang." kata Alki.


"Wihh pantesan udah rapih, bang Muza ada janji sama siapa nih?." selidik Liani.


"Apaan sih kamu Li." kata Alki.


"Alki pamit yaa assalamu'alaikum." kata Alki.


"Wa'alaikumussalam." kata Kami.


......................


Jam pun menunjukan pukul 10 siang.


"Li Kamu sama Naila jagain rumah yaa." kata Ku.


"Siap Umii." kata Ku dengan menghormat.


"Naila jangan nakal ya." kata Ku.

__ADS_1


"Siap Umi, nggak bakal nakal." kata Naila tertawa dan berpelukan dengan Liani.


__ADS_2