
"Ikhwan itu adalah Ustadz Rafan ku tersayang." kata Shilla mencubit kedua pipi Rafan.
"Yaa Alloh Shill, kirain siapa aja, kamu hampir ngebuat saya bersalah banget tau, karena serasa saya sudah memisahkan cinta dua orang." kata Rafan mengelus kepala Shilla.
"Eh kamu udah sholat witir?" kata Rafan.
"Udah dong." kata Shilla.
"Ih masa iya nggak liat tuh." kata Rafan.
"Ya gimana mau liat, kan pas tadi ustadz di bawah pada ngobrol sama sahabat karib." kata Shilla memukulkan bantal ke Rafan.
"Et gak kena." kata Rafan beranjak bangun dari duduknya.
Dan akhir nya Rafan berhasil menghindar dari serangan itu.
"Ih ngeselin awas ya." kata Shilla hendak mengejar.
"Eh iya nggak, saya mau berwudhu mau Sholat." kata Rafan berlari kecil.
Rafan segera masuk kamar mandi, Shilla hanya terkekeh.
......................
Mentari pun datang, cahaya yang menembus tirai kamar menelusuri sebagian wajah Shilla yang sedang duduk di depan cermin untuk berselok.
"Maa syaa Alloh." kata Rafan yang memeluk Shilla dari belakang.
"Ada yang lagi bersolek nih." kata Rafan melihat ke arah Shilla di cermin.
"Iya dong bersolek untuk sang suami." kata Rafan.
Dicermin terlihat Shilla yang tersenyum.
"Ingin melihat bagaimana dua raga tapi jiwanya bersatu?" kata Rafan.
Shilla yang menatap wajah teduh milik sang suami.
"Lihat di sana." kata Rafan menunjuk cermin.
"Itu lah dua raga tapi satu jiwa." kata Rafan.
"Ustadz dan Shilla adalah kita, dan kalo ustadz yang terluka, Shilla yang akan merasakan sakit, ustadz yang tertawa Shilla yang bahagia." kata Shilla.
Tok tok tok...
Pintu kamar Shilla di ketuk, Rafan segera melepas pelukan nya, Shilla beranjak dari kursi yang didudukinya.
"Assalamu'alaikum?" kata Raysa di luar
"Wa'alaikumussalam warohmatulloh, sebentar kak." kata Shilla.
"Owh iya ada tugas yang belum selesai." kata Rafanmenuju sofa dekat jendela kamar.
Shilla pun berjalan menuju pintu.
Krek...
Shilla membuka pintu.
"Iya kak?" kata Shilla.
"Kakak bawain sarapan buat kalian." kata Raysa masuk.
Rafan yang sudah duduk di sofa dengan laptop di depan nya.
"Wah pengantin baru pagi pagi udah sibuk di laptop aja nih, bukan nya sibuk sama istrinya." kata Raysa menaruh nampan yang dibawanya di meja kamar Shilla.
"Iya nih kak banyak tugas." kata Rafan.
"Hmm gitu, yaudah kalian sarapan dulu." kata Raysa.
"Iya kak makasih, padahal mah nggak usah repot repot bawa ke sini." kata Rafan.
__ADS_1
"Iya, yaudah kakak ke bawah dulu." kata Raysa.
"Yang lain udah sarapan?" kata Rafan.
"Iya udah dari tadi." kata Raysa.
Raysa langsung keluar dan menutup pintu.
"Yaudah kalo lagi sibuk sini Shilla suap in." kata Shilla.
"Nggak terlalu sibuk." kata Rafan menutup laptop.
Rafan mengambil sendok dan menyuapi Shilla.
"Ustadz dulu." kata Shilla.
Shilla menahan sendok dan menyuapkan nya ke Rafan.
"Sekarang baru suapi Shilla." kata Shilla.
Shilla pun disuapi Rafan, dan Shilla pun menyuapi Rafan.
"Nggak, udah kenyang, Shilla aja yang makan." kata Rafan.
"Kenyang? Baru juga satu suap." kata Shilla.
"Dalam satu suap tadi dipenuhi cinta dari yang menyuapi, walaupun satu butir nasi yang dimakan, kalo orang yang menyuapi dan memberinya dengan penuh cinta dan ikhlas akan terasa kenyang," kata Rafan.
"Yaudah sekarang kamu yang makan, biar ustadz yang menyuapi." kata Rafan.
"Bagaimana Shilla bisa makan kalo ustadz tidak makan." kata Shilla.
"Kalau Shilla yang makan sama aja ustadz juga sedang makan, ustadz akan kenyang kalo Shilla kenyang." kata Rafan.
"Ma..." kata Shilla terpotong karena satu suapan dari Rafan meluncur ke mulut.
"Udah jangan bicara aja kalo lagi makan, sekarang makan ya sayang." kata Rafan menyuapi Shilla.
"aaa..." kata Rafan menyuruh Shilla membuka mulut.
"Sabar ustadz, masih penuh ini." kata Shilla dengan mulut nya yang di penuhi makanan.
"Kalo mulut penuh jangan ngomong, takut ada yang jatuh." kata Rafan terkekeh.
Shilla sedikit kesal dan menerutkan alisnya.
"Aaaa...." kata Rafan menyuapi.
Shilla tidak membuka mulut karena mulutnya masih sedikit penuh.
Shilla menelan makanan bulat bulat.
"Minum minum." kata Shilla.
"Ini...minum." kata Rafan membantu Shilla minum.
"Pelan pelan dong makan nya." kata Rafan.
"Ya ustadz sih kan kata Shilla juga masih penuh, udah ah Shilla udah kenyang." kata Shilla.
"Eh abisin mubazir." kata Rafan menyuapi Shilla.
"Ustadz, kan Shilla udah bilang, Shilla udah kenyang." kata Shilla mengunyah makanan.
"Udah makan mubazir tau, supaya kamu gemuk juga." kata Rafan.
"Ustadz mau Shilla gemuk kaya ustadzah Nurma? Shilla sih nggak mah." kata Shilla.
Rafan terkekeh melihat sang istri.
"Kenapa?" kata Shilla.
"Nggak, lucu aja bayangin kamu gemuk kaya ustadzah Nurma." kata Rafan tertawa renyah.
__ADS_1
"Aaa ustadz..." rengek Shilla.
"Udah cepet ke kampus sana kasian santriat nya nungguin." kata Shilla mendorong punggung Rafan keluar kamar.
Shilla segera menutup pintu tapi di tahan Rafan.
"Eh laptopnya ketinggalan." kata Rafan.
Shilla membiarkan Rafan masuk, Rafan pun segera mengambil laptop.
"Makan yang banyak supaya gemuk, lucu kayanya." ledek Rafan yang berlari kecil.
"Ih ustadz..." rengek Shilla hendak mengejar Rafan.
"Ngeselin banget untung sayang." gumam Shilla yang berdiri di depan kamar.
Shilla kembali masuk ke kamar, karena Rafan sudah berlari menjauh.
......................
"Eh Rafan kenapa buru buru gitu?" kata Aisy.
"Ini Umi mau ke kampus." kata Rafan.
"Masih pagi jangan terburu buru gitu santai aja." kata Aisy
"Iya Umi, yaudah Rafan ke kampus dulu, Assalamu'alaikum." kata Rafan menvium tangan Aisyah.
"Wa'alaikumussalam warohmatulloh." kata Aisy tersenyum.
......................
Langkah demi langkah Rafan memasuki ruang Ustadz dan Ustadzah.
"Assalamu'alaikum?" ucap Rafan.
"Wa'alaikumussalam warohmatullloh." jawab Muza dan Faziel.
"Baru ada kalian." kata Rafan meletakan laptop di meja kerjanya.
"Iya ustadz lagian baru jam setengah tujuh pagi." kata Muza.
"Eh gimana lomba nya?" kata Rafan.
"Alhamdulillah lancar." kata Muza.
"Gimana?" kata Rafan.
"Belum di umum in Tadz, kayanya minggu depan." kata Faziel.
"Kalian ke sana lagi?" kata Rafan.
"Iya Tadz, ngambil penghargaan nya kalo menang." kata Faziel terlekeh.
"Ya kan mungkin semuanya kesana lagi." kata Rafan.
"Nggak Tadz, pengumuman nya lewat online, kalo masuk juara baru kesana ambil penghargaan." kata Muza.
Jam terus berputar para Ustadz Ustadzah yang tidak tinggal di Rumah khusus Usatdz Ustadzah berdatangan.
"Udah jam delapan nih, saya duluan." kata Rafan.
"Buru buru amat Tadz, perasaan baru aja ketemu masa langsung rindu." kata Faziel terkekeh.
"Maksudnya? Ya kan harus ngajar tepat waktu." kata Rafan.
"Owh ngajar toh, kirain mau ketemu sama sang istri tercinta." kata Faziel terkekeh.
"Ada ada aja kamu mah." kata Rafan.
"Yaudah saya duluan assalamu'alaikum." kata Rafan.
Langkah demi langkah Rafan pun terhenti di depan kelas.
__ADS_1