
"Owalah rumahnya di situ baru tau Aku, berarti Aku mondok di pondok itu." kata Ku menunjuk pondok dan diangguki oleh kak Shilla dan bang Muza.
"Yaudah duluan ya assalamu'alaikum." kata kak Shilla.
"Wa'alaikumussalam." kata Ku dan bang Muza.
......................
"Hati hati kak takut ada yang culik." kata Ku sedikit teriak, dan Kak Shilla hanya menengok dan tersenyum.
......................
"Yaudah yuk Bang." kata Ku, Aku dan Bang Muza pun menaiki motor.
"Eh kamu gimana dek, lulus? Harus lulus lah kalo sampe nggak awas aja." ledek bang Muza.
"Yaelahh, lulus lah Bang, masa seorang Liani yang cerdas gak lulus." kataku berbanngga diri.
"Dih, bukan nya kalo ada tugas yang sulit nanya ke Acha wk." ledek bang Muza.
"Yehhh kata siapa? So tau Abang tu." kataku sambil cemberut manja.
"Kata Umii, Umi cerita dan sering ngeluhin kamu ke Abang." kata bang muza dengan tertawa kecil.
"Iyaa tah Bang, Umi sering ngeluhin sikap Aku?" kataku sedih.
"Haha selo aja Abang cuma bercanda jangan dia nggap serius." kata bang Muza tertawa.
"Yeh Abang nih." kataku memukul manja bahu nya, Kami pun tertawa.
......................
Di sepanjang perjalanan Aku dan bang Muza berbincang dan tak terasa sampai dirumah.
__ADS_1
"Bang? Ada mobil Abi nih, emang Abi udah pulang." kataku sembari melepas helm.
"Iyaa pas tadi pagi." kata bang Muza.
Kami pun masuk.
"Assalamu'alaikum." kata ku dan Muza, dan mencium tangan Umi.
"Wa'alaikumussalam warohmatullah." kata Umi dan Naila.
"Loh Abi kemana Umi? Di depan ada mobilnya." tanya Ku.
"Owh tadi ke rumah pak kiyai dulu, eh gimana hasilnya Li?" kata Umi.
"Alhamdulillah Umi lulus." kataku.
"Udah siap modok dong ini mah." kata seseorang yang suaranya tak asing.
"Yaudah Kamu ganti baju dulu sana." kata Abi.
"Iyaa abis itu langsung turun Kita makan siang." kata Umi yang membawa makan ke meja makan di bantu oleh Naila.
......................
Aku pun naik ke atas menuju kamar ku.
"Huh udah jam 1 siang." kataku yang melihat jam dan menjatuh kan tubuh ku kekasur.
"Eh udah dzuhur dong Aku udah shalat belum yaa lupaa." gumam ku.
"Li cepet shalat dzuhur Kamu belum shalat itu." teriak Bang Muza di luar kamarku.
"Iyaa Bang." teriak ku.
__ADS_1
"Tau aja kalo Gw lagi lupa wk." gumam Ku dan terkekeh.
Setelah selesai shalat Aku pun memakai baju gamis warna hijau tosca dan kerudung sedikit lebar warna hitam. Aku pun segera turun kebawah, langkah demi langkah Aku menuruni tangga.
......................
Langkahku pun terhenti karena tersadar keluarga ku memerhatikanku.
Aku mengerutkan kedua alisku mengisyaratkan pada mereka raut melas.
"Maa syaa Allah, Umi gak salah liat nih?" kata Umi denga tertawa kecil.
"Kenapa Umi gak cocok ya? Yaudah Lili ganti lagi deh." kata ku yang akan kembali ke atas.
"Eh gak usah Li, udah cepet sini, pantes plus cantik kok." kata Abi.
"Iyaa kak Lili cocok banget pake gamis, mau jadi anak pondok yaa." ledek Naila.
"Ih apaan sih Kamu Nay, eh tapi makasih ya Ikan Nila." kataku mencubit pipinya yang cabi.
"Ih Naila bukan Nilaa." rengek Naila manja.
"Canda Ikan Nila gak usah nangis, tar cantiknya ilang." kataku dengan nyengir kuda.
"Haaa Umii, ka Lilinya." rengek Naila manja.
"Syutt udah udah." kata Umi.
"Wihhh Siapa nih? Ihh Lili yaa, Lili bukan sih." ledek Bang Muza yang langkah demi langkahnya menuruni tangga.
......................
"Bukan Bang ini mah ruh nya." kataku sedikit kesal.
__ADS_1