MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 73


__ADS_3

...****************...


Keesokan harinya Muza sampai dirumah Silfa yang sedang membereskan piring kotor di meja makan.


"Assalamu'alaikum." kata Muza.


"Wa'alaikumussalam, Za Kamu pulang sekarang nak, katanya ada urusan." sambut hangat Umi nya.


"Iyaa Umi, atas ijin Allah semuanya udah beres." kata Muza.


"Ouh… bagus deh setidaknya Umi nggak perlu nunggu kamu sampe dua hari." kata Silfa yang tak bertanya urusan apa, karena Silfa percaya akan Putra nya.


"Kalo mau dapat kejar Aku wlee." kata Acha yang berlalari menghindar dari Liani.


"Achaa! balikin gak!" kata Liani yang mengejar Acha.


"Ampun deh usianya udah 20 tahun tetep kaya anak anak." keluh Silfa.


"Cha udah jangan lari tar jatuh lagi, sini balikin buku diary nya, pas dulu aja gak lari jatuh." teriak Liani sambil berlari.


"Iya Chaa jangan lari lari di tangga tar jatoh kaya dulu, udah udah ah Kalian, malu dong sama usia." kata Silfa.


"Haaa." teriak Acha yang kaki nya tergelincir di tangga.


Muza yang langsung menangkap nya.


"Acha udah mati..Hiks.." tangis Acha yang matanya memejam.


"Buka mata nya Cha, udah ada di surga." ledek Liani.


"Yang bener Li, alhamdulillah langsung ke surga." kata Acha.


"Buka aja." kata Liani terkekeh.


Acha pun membuka matanya perlahan, terlihat buram wajah seseorang, Acha pun memfokuskan matanya.


"Haa." teriak Acha karena melihat wajah Muza, Acha pun langsung berdiri.


"Haha ada syurga nya Cha?" ledek Liani.

__ADS_1


"Sumpah Liani ngeselin." kata Acha.


"Ih orang bener wajah Bang Muza mah kaya syurga dunia." kata Liani lari.


"Aaaww." teriak Acha yang hendak mengejar Liani tak jadi karena kaki nya sakit bekas tergelincir.


"Cha knapa?" Liani yang sudah di atas turun kembali.


"Kenapa Cha?" khawatir tante Silfa.


"Nggak papa kok Tante cuma sedikit sakit gara gara tergelincir tadi kayanya." kata Acha.


"Tahan ya Cha." kata Muza yang memegang kaki Acha dengan hijab (penghalang).


"Eh mau ngapain kak?" tanya Acha takut.


"Udah Cha tahan aja." kata Liani.


krek…


"Aaaa…" jerit Acha yang kaki nya diurut Muza.


"Masih sakit Cha?" kata Muza.


"Eh tapi sedikit enak dari sebelum nya, gak sakit kalo digerakin, makasih kak." kata Acha yang menggerakan kakinya.


"Yaudah lah Tante Acha pulang dulu deh." kata Acha.


"Kok langsung pulang." kata Tante Silfa.


"Iyaa tante udah jam 8 pagi, udah mah nginep di sini mulu tar Umanya sendiri." kata Acha.


"Yaudah hati hati, jalannya pelan pelan aja, apa mau dianter Liani aja?" kata Silfa.


"Iyaa yuk Liani anterin." kata Liani.


"Nggak usah Tante, Liani, Acha nggak mau ngerepotin, lagian juga masih bisa jalan kok, assalamu'alaikum." kata Acha dan mencium tangan tante Silfa dan berjalan dengan sedikit kesakitan.


"Wa'alaikumussalam." jawab mereka.

__ADS_1


......................


Acha pun sampai ke rumah walau jalannya sedikit pincang.


"Assalamu'alaikum." kata Acha.


"Wa'alaikumussalam, kaki Kamu kenapa Nak?" kata Bu Mariam.


"Ouh ini keseleo tadi." kata Maryam.


"Udah di urut, mau ibu urut?" kata Maryam.


"Ehh makasih Bu, tapi nggak usah, udah di urut kok sama kak Muza." kata Acha.


"Uma kemana Bu?" kata Acha.


"Sama Abi kamu jemput Abang Kamu." kata Mariam.


"Emang udah selesai ngajar di sana nya?" kata Acha.


"Belum kata Uma kamu sih, tapi nak Rafan pengen ngajar di pondok Kamu makanya ngundurin diri." kata Mariam.


"Ouhh gituu, yaudah Acha ke kamar dulu yaa." kata Acha.


......................


Sesampainya di kamar Acha pun langsung mandi menyegarkan diri Acha keluar dari kamar mandi dengan baju handuk mandinya dan membungkus rambutnya dengan handuk kecil.


"Huft." Acha menjatuhkan tubuhnya ke kasur, dan Acha pun menyadari adacpercikan air hujan yang membuat hatinya begitu tenang.


"*M*emang benar mendengarkan suara percikan air membuat kedamaian dan ketenangan, pantas saja Rasulullah sholallohu 'alaihi wassalam selalu menghilangkan kesedihan nya dengan cara mendengar deruan air yang mengalir, melihat wajah yang ceria dan melihat dedaunan hijau." batin Acha.


Hembusan angin yang membuat tirai kamarnya terbang menutupi wajahnya dan matahari yang bersinar.


"Gerimis tapi ada matahari suka ada pelangi." kata Acha langsung beranjak ke teras atas depan kamar nya, tempat biasa Acha datangi ketika Acha galau dan merenung untuk melihat bintang bintang di malam hari dan dedaunan hijau.


Acha pun ke teras melalui pintu menuju taman teras atas yang ter sedia dikamarnya, Acha yang sudah mengganti pakaian dengan pakaian syar'i menghirup udara dalam dalam, dan mengangkat wajahnya melihat langit sehingga air hujan yang bertetesan pun mengenai wajah nya.


"Maa syaa Allah." kata Acha dan Acha pun berputar dengan merentangkan tangan nya menikmati hujan.

__ADS_1


'Hakikat Yang Maha Pengasih hadir secara langsung laksana sinar matahari yang menerangi bumi.­'


❤Jalaluddin Rumi❤


__ADS_2