MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 157


__ADS_3

Maafkeun author yang jarang up, author sibuk banget ngejar target di bulan suci romadhon ini, makasih buat kalian yang masih setia membaca cerita author, tetap semangat buat kalian.


malam 17 romadhon malam pertama kalinya wahyu turun kepada nabi Muhammad shollallohu'alaihi wasalaam, semoga kita mendapat rohmat.


Allohu'alam


happy reading, ada cinta disetiap katanya.


🕊🕊🕊🕊🕊


Acha terus melangkah mendahului Muza tanpa menjawab apapun, Muza berjalan sedikit cepat mengejar langkah Acha, "Um diem itu tandanya iya," kata Muza menahan tawa.


"Bener gak Ki?" kata Muza mengangguk samar pada Iki.


Iki berusaha memahami isyarat Muza, "Owh." gumam Iki mengangguk-angguk samar, "Iya 'kan katanya wanita itu kalo terdiam berarti setuju." kata Rizki menahan tawa.


Liani yang menyaksikan tingkah suami dan kakaknya, hanya tersenyum dan menggeleng samar.


Acha langsung mengambil koper dan memasukan satu persatu baju yang Muza butuhkan, Liani langsung membantu Acha melipat pakaian, Muza dan Rizki duduk di sofa menyaksikan.


Muza tersenyum, "Jadi gimana Um?" kata Muza, Acha melirik tajam dan Muza hanya membalas dengan menaik turunkan alis, Acha langsung fokus kembali melipat pakaian.


"Lah masih tetep diem, berarti Acha setuju nih." kata Iki.


Muza melangkah ke arah lemari dan mengambil kemeja putih, "Em baiklah kalo gitu, tapi pengen denger langsung dari Umi nya." kata Muza menahan tawa.


Rizki menghampiri Muza, "Wah udah siapin kemeja putih buat nikah di sana." kata Iki menahan tawa.


Muza dan Iki langsung berekspresi datar saat Acha menatapnya dengan tajam, Muza melipat kemeja dan memasukan ke dalam koper, "Jadi gimana Um?" kata Muza.


Acha tetap diam dan menatap tajam Muza, hingga akhirnya Muza meniup wajah Acha, Acha langsung memalingkan wajah dengan kesal, Muza langsung berdiri melangkah kesamping Iki.


Liani sibuk melipat pakaian, dan kemudian memeluk Acha "Eh udah dong kasian loh sahabat Liani."


"Ya 'kan kami cuma nanya apa keputusan Acha, ya 'kan Bang?" kata Iki menyikut Muza.


"Hem, iya emang salah ya nanya, perasaan kan Acha yang menawarkan, kalo Abang sih siap-siap aja di suruh cari istri lagi," kata Muza menahan tawa.


Muza dan Iki terduduk di hadapan Acha, "Tapi 'kan harus ada setuju dari istri pertama dulu." kata Muza.


"Em 'kan Acha yang nawarin otomatis Acha setuju dong." kata Iki.


"Emang iya Um? Jadi gimana-gimana nih." kata Muza.


Amarah yang dari tadi Acha tahan akhirnya meledak, setetes keristal bening terjatuh, dan Acha langsung mengusapnya, "Segimana Abi aja, Umi nggak peduli Abi mau main di belakang Umi kah, menikah lagi kah, cari madu kah, Umi nggak peduli!" kesal Acha langsung beranjak pergi.


Plak...Muza dan Rizki menyatukan telapak tangan, dan mereka berdua tertawa renyah, langkah Acha terhenti, Liani yang menyaksikan hanya menggeleng samar.

__ADS_1


Acha langsung berbalik dan menghapus air mata, "Kenapa ketawa!" kesal Acha.


Muza terkekeh dan langsung melangkah menghampiri Acha, Muza langsung memeluk tubuh kecil Acha, "Ih lepasin." kata Acha hendak menangis dan berusaha melepas pelukan Muza.


Muza tetap memeluk erat Acha dan mengusap lembut kepala Acha yang tertutup kerudung, "Sanah helwah (selamat ulang tahun) istriku sayang, bertepat 26 oktober ini usia Umi bertambah, dan selalu inget kalo usia bertambah maka umur berkurang, selalu bahagia dan semoga menjadi istri yang sholehah, maafin Abi yah udah buat Umi nangis." kata Muza.


Mendengar itu Acha langsung tenang amarahnya di dalam dekapan Muza, terdengar isak tangus Acha, Muza langsung melepas pelukan dan mengusap air mata Acha, "Eh kok nangis sih."


Acha segera mengusap air mata, "Biarin, abisnya bikin kesel." kata Acha.


Rizki dan Liani saling tersenyum, "Uma ambilin kuenya dulu." kata Liani.


"Eh jangan biar Aba aja, Uma di sini aja takut kecapean." kata Rizki.


Setelah mengambil kue di kulkas Iki langsung menghampiri Acha dan Muza, "Ini kuenya." kata Iki mengangkat kue ke atas kepala.


"Eh iya hampir kelupaan." kata Muza mengambil kue.


"Ayo potong kuenya Umi Acha dede pengen makan kue nih." kata Liani mengelus perut.


"Iya-iya sabar ya de." kata Acha terkekeh.


Acha langsung memotong kue, "Siapa yang mau disuapin duluan?" kata Acha.


"Abi lah," kata Muza.


"Nggak apa-apalah, kali-kali suapan pertama buat dede yah, ya 'kan de." kata Liani mengelus perut.


Mereka pun tertawa renyah, dan Liani menyuapi balik Acha, Acha mengunyah perlahan kue, dan sedikit ada yang aneh dan keras dalam kunyahan, Acha langsung menegluarkan, "Apa ini?" kata Acha.


Acha langsung membersihkan benda yang terlumuti coklat dari kue, mereka tersentum menyaksikan Acha, Acha membulatkan mata dan tersenyum, "Cincin?" kata Acha diangguki mereka semua.


"Umm." kata Acha yang hendak menangis terharu.


Muza merangkul bahu Acha dan mendekatkan kepala acha ke dada bidangnya, "Kan udah tambah usia, jangan cengeng dong." kata Muza terkekeh.


Acha memukul pelan dada bidang Muza, "Ini bukan cengeng tapi terharu." kata Acha.


Mereka terkekeh dan langsung kembali meneruskan pekerjaan yang tertunda, "Emang berangkatnya kapan?" kata Acha.


"Abis duhur." kata Muza.


Beberapa menit kemudian adzan pun berkumandang, mereka langsung sholat, setelah itu Liani dan Acha memasak di dapur, Muza yang sedang berdiri merapihkan rambutnya di hadapan cermun, dengan kemeja birunya membuat Muza terlihat tampan dan berwibawa, dikamar tamu Iki pun sedang berdiri di depan cermin memakai dasi dengan kemeja greentea nya membuat Iki terlihat lebih ceria.


Makanan sudah sedia di atas meja makan, Iki langsung duduk disamping Liani, "Wah ada capcai." kata Iki, Liani membantu Iki menyajikan makanan ke piring.


Terlihat Muza keluar dari kamar, mereka semua memandang ke arah Muza dan tertawa renyah, Muza keheranan melihat mereka, Muza melihat kanan kiri belakang, "Ngetawain Abang?" kata Muza.

__ADS_1


Mereka yang masih tertawa mengangguk, "Iya."


Muza mengernyitkan alis, "Emang ada yang aneh yah." gumam Muza keheranan.


"Abang dari dulu pake dasinya kaya gitu kebiasaan, emang belum bisa juga pake dasinya?" kata Liani terkekeh.


Muza langsung melihat kearah dasinya yang hanya di ikat simpul mati, "Ya gimana busanya cuma ngiket." kata Muza santai.


"Ya 'kan Abi biasanya minta bantuan Umi." kata Acha menghampiri Muza dan memasangkan dasi dengan benar.


"Uminya 'kan lagi hari bahagia mana bisa Abi merepotkan Umi dihari bahagia." kata Muza.


"Umi kan istri Abi, ya hari bahagia Umi tuh ketika dapat ridho Abi." kata Acha sibuk mensimpulka dasi.


Setelah selesai dan dasi terpasang rapih, Muza memegang kedua bahu Acha, "Ridho Abi akan ada di setiap langkah kebaikan Umi."


Acha menatap wajah muza sembari tersenyum, dan Muza kembali meniup wajah Acha, "Ih kebiasaan." kesal Acha.


"Eh Abi mau makan takut telat." kata Muza berlari kecil le arah meja makan."


Acha menmbuang nafas secara kasar dan langsung melangkah ke meja makan untuk membantu Muza menyajikan makanan ke piring.


Setelah selesai makan mereka bergegas melangkah keluar, "Eh koper Abi mana Mi?" kata Muza.


Acha menepuk dahi, "O... Astaghfirulloh masih dikamar." kata Acha hendak berbalik.


Muza mengkentikan Acha, "Abi aja." kata Muza diangguki Acha.


Muza langsung masuk kedalam, "Eh Cha kok lu belum bilang makasih sama Muza?" kata Iki.


Acha mengernyitkan alis, Iki langsung melirik ke arah cincin yang di pakai Acha, Acha mengikuti lirikan Iki, "Astaghfirulloh iya lupa."


"Eh tapi jangan bilang makasih sekarang, nanti aja sebulan mendatang, nanti pulang bisnis bakal bawa kado spesial buat lu, katanya kado hari pernikahan lu sama bang Muza yang ke 1 tahun 'kan." kata Iki.


"Emang iya kado apa?" kata Acha.


"Kado.. eh nggak boleh kasih tau siapa-siapa dulu kata bang Muza geh." kata Iki.


"Ih cepetan kasih tau apaan, kan Bang Muzanya di dalam." kata Acha.


"Um gimana ya, yaudah iya deh lu kan sahabat gua." kata Iki.


"Katanya apapun yang lu inginkan nanti di turuti, terutama yang cari Madu, siap-siap punya madu lu." kata Iki.


Mendengar itu Acha terdiam dan hanya membulatkan matanya.


Liani sedikit menyikut Iki, "Hush Aba yah,"

__ADS_1


"Jangan dengerin Iki mah Cha." kata Liani.


__ADS_2