MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 158


__ADS_3

Author datang lagi, mohon maaf selama ini jarang up dikarenakan banyak kesibukan yang tidak bisa di tinggalkanπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


happy reading semoga terhibur


πŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•Š


Muza yang menarik koper dengan langkah yang sedikit cepat menuju keluar rumah dan langsung memasukkan koper kedalam bagasi mobil.


Iki sibuk berbincang dengan sang anak dari perut Liani, "Do'a kan Aba ya Nak, kamu jangan membuat Uma kesusahan, jadilah anak yang baik." kata Iki mengelus perut besar Liani.


"Siap Aba." kata Liani


Muza langsung menghampiri Acha, Acha menatap Muza dengan rasa khawatir, "Kamu jangan khawatir ya Sayang, jangan gelisah tanpa alasan, do'a kan saja agar kami selamat dan di beri kelancaran." kata Muza mengusap lembut kepala Acha.


Acha tersenyum mengangguk, Acha dan Liani langsung mencium punggung tangan suami mereka masing-masing.


"Jaga diri baik-baik, assalamu'alaikum."


Acha dan Liani mengangguk, "Wa'alaikumussalam, fiiamanillah."


Disaksikannya mobil yang dinaiki Muza dan Rizki melaju pergi menghilang dihadapan Acha dan Liani, kemudian mereka langsung masuk kedalam rumah.


Acha terduduk di sofa dan menyenderkan kepalanya, Liani yang menatapnya dengan senyuman mengerti dengan ke khawatiran Acha, kemudian Liani menghampiri Acha dan duduk di sampingnya, "Tenanglah Cha, Bang Muza bakal bisa jaga diri, jaga hati, jaga iman dan nafsu." kata Liani terkekeh.


Acha hanya melirik tajam ke arah Liani yang membuat yawa Liani berhenti seketika, Liani mencolek hidung Acha, "Dih biasa aja kali tuh mata." kata Liani.


"Ini juga udah biasa." kata Acha.


"Hem, eh mau susu gak, sekalian nih aku mau bikin susu." kata Liani.


"Nggak, terimakasih." kata Acha.


"Yaudah aku kedpur ya." kata Liani.


Liani bergegas pergi ke dapur untuk membuat susu.


"Iya." kata Acha yang langsung menuju kamar.


Tak terasa matahari telah di gantikan oleh sang purnama, Acha yang sedang duduk di kasur terlihat khawatir, Acha hanya menggigit kuku jari telunjuknya dan beraut wajah gelisah, Acha mengarahkan pandangannya ke luar jendela, terlihat bulan yang bulatnya sudah terbentuk menjadi lingkaran penuh, teringat suatu malam bahwa dirinya dan Muza duduk di taman rumah memandangi indahnya bulan purnama.


Flash back on


Angin malam yang bertiup sepoy, bintang-bintang yang perlahan bermunculan membuat suasana malam semakin indah di tambahnya bulan purnama yang sangat bercahaya, Muza dan Acha yang memandangi langit dengan tersenyum, Muza melirik ke wajah istri tercintanya dan kemudian melirik kebulan, Muza melakukan hal itu berulang kali sehingga membuat Acha keheranan.


"Ada apa Bi?" tanya Acha.


Muza tidak menjawab akan tetapi Muza tersenyum dan menatap damai wajah Acha.


Acha melambai lambaikan tangannya di hadapan wajah Muza, tapi Muza tetap menatapnya sembari tersenyum manis, "Bi? Abi dengar Umi 'kan?" kata Acha.


"Iya dari tadi juga mendengarkan." kata Muza yang masih menatap Acha.


"Ekhem Abi apa yang sedang Abi perhatikan, apa Abi tidak ingin menikmati cahaya bulan purnama yang terang sekali." kata Acha yang mengarahkan wajah Muza ke atas langit.


Acha tersenyum melihat Muza, dan Muza kembali melihat Acha, "Ya Umi benar, bulan purnama yang sangat indah, tapi Abi rasa, bulan di sana cahayanya kurang terang, dan terkalah kan oleh cahaya yang lain." kata Muza.


Mendengar itu Acha langsung melihat ke arah langit mencari-cari cahaya yang Muza maksud, "Mana tidak ada cahaya yang lebih terang dilangit selain bulan purnama itu." kata Acha sedikit meledek karena yang di katakan Muza tidak benar.


Muza tetap memandangi wajah Acha yang anggun, "Siapa yang bilang di atas langit, 'kan Abi tidak bilang di langit." kata Muza.


Acha melihat-lihat sekitar, "Iya sih, terus apa? di sekitar sini juga tidak cahaya yang Abi maksud."


Muza mengernyitkan alis, "Ck ck ck masa iya Umi gak menemukan cahaya yang bisa mengalahkan cahaya bulan."


Acha melirik kearah Muza, "Umm ya gimana yah, emang kenyataan nya begitu 'kan." kata Acha, Muza hanya tersenyum mengangguk.


"Kok cuma mengangguk doang sih." kata Acha.


"Terus Abi harus apa?" kata Muza.


"Ya kasih tau Umi lah." rengek manja Acha.


"Umm gitu, Umi bawa cermin gak?" kata Muza.


"Untuk apa? Umm pasti buat pantulin cahaya dari bulan 'kan?" kata Acha.

__ADS_1


"Ih sotau, udah mana cerminnya?" kata Muza.


"Ya Umi gak bawa cermin." kata Acha.


Muza mlihat-lihat sekitar, saat berbalik kebelakang Muza langsung tersenyum, "Nah Umi lihat ke jendela kamar kita." kata Muza.


Acha langsung berbalik, Muza tersenyum, "Gimana Umi sudah lihat cahaya yang Abi maksud?" kata Muza.


Acha tersenyum, "Tuh 'kan kata Umi juga apa, pantulan bayangan bulan di kaca." kata Acha tersenyum bahagia karena merasa pemikirannya benar.


Mendengar itu senyum Muza berubah menjadi kepasrahan, "Yaa Allah Umi." keluh Muza.


Acha yang tersenyum langsung keheranan melihat suaminya, "Kenapa apa Umi melakukan kesalahan?" kata Acha polos.


Muza mengarahkan wajah Acha ke kaca jendela, "Yang Abi maksud itu ini, bagaimana abi bisa memandangi cahaya dan keindahannya bulan sedangkan disisi lain ada yang lebih indah dah wajib Abi pandang." kata Muza


Menyadari ucapan Muza Acha langsung tertunduk dan tersenyum malu, Acha melihat ke arah samping dan terlihat seekor tikus, "Tikus! Tikus tikus." jerit Acha.


Mendengar itu Muza sedikit khawatir, "Mana dimana tikus."


Flash back off


Mengenang kisah itu Acha tertawa sendiri dikamar, tok tok tok... terdengar suara ketukan di pintu kamar yang menyadarkan tawanya, "Masuk." kata Acha.


Liani membuka pintu kamar Acha dengan membawa bantal dan selimut, "Aku tidur sama kamu ya Cha, boleh kan." kata Liani nyengir kuda.


"Iya boleh lah, kaya sama siapa aja." kata Acha tersenyum.


Liani langsung masuk dan duduk di samping Acha, "Emang belum ngantuk?" kata Liani.


"Um belum, ketambah gak biasa tidur jam 9 malem." kata Acha membaringkan tubuh.


"Terus biasa tidur jam berapa?" kata Liani berbaring di samping Acha.


"Jam 21.05." kata Acha terkekeh dan langsung memejamkan mata.


"Ih ngeselin banget, liat tuh Nak kelakuannya Umi Acha." kata Liani mengelus perut dan langsung menyelimuti tubuh dan tertidur.


...****************...


Malam berganti siang, siang berganti malam, hari berganti minggu, tak terasa penantian Acha dan Liani akan terobati dengan kepulangan para suaminya besok, dengan harapan selamat sampai rumah.


Beberapa jam setelah adzan subuh berkumandang mereka segera mengerjakan shalat subuh, tak terasa jarum jam seperti berputar dengan cepat, matahari pagi muncul dengan sinarnya untuk menyinari dunia, Acha dan Liani sedang membuat sarapan di dapur, terdengar kerusuhan di depan rumah, mendengar itu Acha dan Liani bergegas keluar rumah.


Saat membuka pintu terlihat orang-orang sedang berkumpul menyaksikan tetangga baru Acha sedang adu bicara dengan sang suami, "Aku tau kamu pasti bohong 'kan, buktinya siapa wanita tadi."


Perlahan Acha menghampiri, "Ada apa ini?" kata Acha.


Seorang wanita sebaya dengan Acha segera memeluk Acha dengan tangisnya, Acha hanya kebingungan, "Kenapa Ta?" kata Acha mengusap kepala Lista.


Lista hanya menangis di pelukan Acha.


"Ibu-ibu semuanya harap bubar ini bukan tontonan." kata Liani dengan nada tinggi.


Semuanya bubar, "Dasar sedang hamil juga marah-marah aja," celoteh salah seorang yang membuat Liani kesal tapi Liani berusaha menahannga, kemudian Acha mengajak Lista dan Arya masuk ke dalam rumah.


Mereka duduk di sofa, Lista tetap menangis, Arya terdiam menunduk, "Ayo dong jelasin supaya cepat selesai, apa masalahnya." kata Liani.


"Tapi saya sudah menjelaskan nya ke Lista Mba, bahwa wanita itu bukan siapa-siapa." kata Arya.


"Kalo bukan siapa-siapa lantas mengapa semesra itu, kamu kira saya bodoh apa!" kata Lista emosi.


"Ya sudah segimana kamu saja, kalo kamu gini terus, saya bakal pergi dari sini." kata Arya.


"Pergi aja sana." kata Lista


Acha menenangkan dan berusaha memadamkan api yang sedang berkobar, "Istighfar jangan ambil keputusan kalo lagi marah, nanti berujung penyesalan.


"Iya bener, kamu juga Arya, jangan lari dari masalah, jadi laki tuh yang jantan, jelasin rundingin musyawarahin." kata Liani.


Arya kembali duduk, "Oke sekarang rendam dulu amarahnya, kita omongin baik-baik, coba jelasin gimana awalnya?" kata Acha.


"Jadi gini Cha, kan aku tau kalo hari ini Arya pulang dari bisnis nya di luar kota," kata Lista, Arya hanya terkaget mendengar Lista yang biasa menyebut 'mas Arya' dan hari ini Lista hanya menyebutnya dengan nama 'Arya' saja.


"...dan aku bakal ngasih surprise dengan menunjukan surat keterangan dari Dokter kalo aku sedang hamil sudah 2 bulan..." kata Lista.

__ADS_1


Mendengar hal itu semuanya tersenyum bahagia, "Kamu sedang mengandung, alhamdulillah." kata Arya bahagia.


Lista hanya terdiam dan tidak menjawab, kemudian Lista meneruskan penjelasannya pada Acha, "...terus, saat aku membuka pintu Arya sedang berpegangan tangan sama wanita lain."


"Astaghfirulloh itu tidak seperti yang kamu pikirkan." kata Arya


"Lalu apa? Penglihatan saya salah gitu!" kata Lista.


"Aw." keluh Lista sembari memegang perutnya.


Melihat itu semuanya khawatir,Arya bergegas menghampiri Lista, "Sayang kamu kenapa, kamu gak apa-apa kan?" khawatir Arya.


"Jangan sentuh saya! Saya baik-baik saja." kata Lista.


Arya mundur dan kembali duduk, "Baik jika itu yang kamu inginkan."


"Tenang Ta jangan emosi sama banyak pikiran gak baik buat kandungan kamu." kata Liani.


"Lista sudah baik-baik saja?" kata Acha diangguki Lista.


"Sekarang saya ingin mendengar penjelasan dari kamu Arya, siapa wanita yang dimaksud Lista?" kata Acha.


"Saya tidak mengenal wanita itu, wanita itu hanya membantu membereskan berkas-berkas saya yang jatuh Mba." kata Arya.


"Kalo hanya membantu tidak usah semesra itu bisa 'kan?" kata Lista.


"Mesra dari mananya coba." kata Arya.


"Tadi pegangan tangan sambil senyum-senyum."


"Astaghfirulloh Dek, pegangan tangan dari mananya, itu tadi beliau menyerahkan berkas-berkas milik Mas, kalo soal mas senyum, ya masa Mas cemberut ke orang yang udah bantuin Mas." kata Arya.


"Orang aku liat sama mata kepala aku sendiri." kata Lista.


"Terkadang apa yang kita lihat itu belum pasti benar Dek, kita harus tau yang sebenarnya." kata Arya.


"Ya terus apa hah! apa? coba jelasin." kata Lista.


"Kan tadi Mas udah jelasin adek nya nyolot gak percaya." kata Arya


Menyaksikan itu Liani dan Acha menepuk kening, "Astaghfirulloh."


"Terus kalian berdua maunya gimana? Pisah iya?" kata Liani yang sedikit geram.


Arya dan Lista hanya tertunduk dan terdiam.


"Hus jangan bilang gitu." bisik Acha pada Liani.


Liani mengatur nafas sembari beristighfar, "Astaghfirulloh, maaf gak sengaja bilang kaya gitu, abis nya kalian tuh... Ya gitu lah susah buat di jelasin."


"Iya Mba saya juga ngerti kok, tapi sumpah Mba saya memang senyum tapi saya gak pegang tangannya." kata Arya.


"Terus kamu Lista hal apa yang membuat kamu yakin kalo mereka sedang bepegangan tangan." kata Liani.


"Kalian tau 'kan masalah di komplek ini, bentar-bentar berita si A suaminya abis pulang bisnis bawa istri muda kadang ada yang udah punya anak dari istri mudanya, siapa tau kan yang tau istri mudanya Mas Arya.


"Astaghfirulloh Dek, gak semua orang itu sama." kata Arya.


Arya senang karena Lista sudah mengucapkan kata 'Mas Arya' menandakan bahwa amarahnya mulai mereda.


Arya menghampiri Lista dan jongkok dihadapan Lista yang terduduk di sofa, Arya memegang kedua tangan Lista mengusapnya lembut, "Mas kan udah pernah bilang sama kamu kalo Mas itu gak tertarik buat punya istri banyak, bagi Mas cukup satu yaitu kamu." jelas Arya.


"Aku pegang kata-kata Mas." kata Lista.


"Jadi ini cuma salah paham nih, udah baikan 'kan sekarang?" kata Liani sedikit meledek.


"Jangan sampe kaya tadi lagi malu di liat orang, kalo punya masalah bicarakan baik-baik, musyawarah berdua, harus bijak dalam menenilai dan bertindak." kata Acha.


"Iya makasih yah udah bantu." kata Arya dan Lista.


"Tidak usah makasih, udah kewajiban sesama muslim kalau ada yang berselisih kita hrus menjadi tali untuk menyatukan dan menyelesaikan selisih paham." kata Acha.


"Iya bener, bukan jadi yang ngobarin api, kadang kan jaman sekarang nih kalo ada yang berselisih paham bukannya di damaikan malah diadu domba, kan makin makin tuh masalah, menjadi-jadi, kalian jangan sampe kena bisikan setan-setan berupa tetangga yang sering ngomong yang aneh-aneh." kata Liani.


"Yaudah, 'kan udah damai nih gimana kalo kita sarapan bareng, Aku sama Liani udah masak nasi goreng, yuk mau yah." kata Acha.

__ADS_1


"Yaudah deh kalo di paksa mah gak bisa nolak." kata Lista.


Mereka berempat pun langsung ke rumah Acha dan sarapan pagi bersama.


__ADS_2