
Untuk episode ini cerita sedikit membahas tentang haid semoga bermanfaat....
🕊🕊🕊🕊
Acha yang sudah membereskan meja makan, cuaca terasa sangat dingin, Acha dan Liani langsung memakai sweater, Acha tidak lupa untuk selalu membawa buku besar di tangannya, dan mereka langsung ke taman untuk mengajar, langkah demi langkahnya di penuhi perbincangan dengan Liani.
"Besok kita bakal kasih kejutan apa buat Bang Ustadz sama Iki?" kata Acha.
"Um gimana kalo..." kata Liani yang menjelaskan.
"Nah bagus banget kaya gitu." kata Acha.
Mereka pun sampai di taman, terlihat anak-anak sedang bercanda tawa, "Eh ada ibu Guru." kata Azam.
Anak-anak langsung duduk rapih, "Assalamu'alaikum anak-anak." kata Acha dengan lembut.
"Wa'alaikumussalam warohmatullohi wabarokatu." jawab mereka semangat.
Sedikit berbisik perbincangan Naura dan teman sebangkunya yaitu kaila, terlihat Naura yang memeluk perut, "Aduh sakit." keluh Naura.
Kaila yang melihat itu khawatir "Ra kamu sakit? Aku bilang ibu Guru yah."
Naura menahan rasa sakitnya, "Jangan, nanti juga sembuh sendiri." kata Naura.
"Kamu sakit apa?" kata Kaila.
"Perutku mules La, kayanya aku mau pup, mau ke kamar mandi dulu." kata Naura.
"Yaudah Kaila antar ya Ra, takut kamu kenapa-kenapa nanti." kata Kaila.
Naura tersenyum mengangguk, "Yaudah iya, makasih ya La." kata Naura.
"Yaudah ijin dulu sana, apa mau Kaila yang maju ijin ke ibu." kata Kaila.
"Eh tidak usah, biar Naura aja yang ijin." kata Naura.
"Beneran, kamu kuat kan?" kata Kaila diangguki Naura.
Naura langsung berdiri dan hendak maju kedepan, tapi Kaila langsung menarik Naura duduk ke kursinya, "Kenapa La?" bisik Naura.
"Ra... kamu haid?" bisik Kaila.
Naura mengernyitkan alis keheranan, "Haid?" kata Naura diangguki Kaila, "Iya itu rok kamu kaya banyak darahnya." kata Kaila.
"Darah?" kaget Naura yaang membuatnya menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di kelas.
"Darah?" bisik teman-teman yang ikut kaget.
Naura hanya menangis karena terkaget akan hal itu, Azam langsung menghapiri sang adik karena khawatir terjadi apa-apa, "Darah? Maksudnya apa Ra? Kamu sakit apa?" khawatir Azam.
"Naura sakit perut Kak." keluh Naura.
Acha dan Liani langsung menghampiri, "Kenapa sayang?" kata Acha.
Naura terlihat sedikit tegang antara takut dan khawatir, Kaila menjelaskan dengan sedikit berbisik, "Tadi Naura sakit perut Bu, terus mau ijin ke kamar mandi Kaila liat belakang rok nya Naura banyak darahnya, kayanya Naura haid deh Bu." jelas Kaila.
Acha dan Liani saling menatap karena mengerti bahwa wanita yang sudah berusia 9 tahun kurang 16 hari hijriyyah pasti akan mengalami itu, "Kaila sudah mengalami hal itu?" kata Acha di angguki Kaila, "Iya sekitar 3 bulan yang lalu, awalnya kaget tapi ibunya kaila menjelaskan dan sekarang kaila gak takut lagi." jelas Kaila.
Acha mencubit hidung Kaila, "Pintar sekali, dan kita tidak boleh takut dan khawatir akan hal itu." kata Acha.
__ADS_1
Acha langsung melepas sweater yang sedang dipakainya, "Naura berdiri." kata Acha.
Naura pun melakukan hal yang di katakan Acha, Acha langsung mengikat kan lengan sweater nya di pinggang Naura sehingga menutupi bagian belakang.
Liani dan Acha tersenyum mengusap lembut kepala Naura, "Sekarang Naura ikut Ibu ke rumah Ibu." kata Acha
Acha tersenyum, "Li..." kata Acha, Liani mengangguk dan tersenyum mengerti apa yang dimaksud Acha yaitu untuk menjaga anak-anak sebentar.
Langkah Acha dan Naura terlihat sudah sedikit menjauh, Anak-anak terlihat tegang dan khawatir terutama Azam, Liani berusaha menenangkan anak-anak dari rasa khawatir, "Eh tenang anak-anak itu bukan hal yang bahaya, Naura bakal baik-baik saja dan akan segera kembali kemari, jadi kita tunggu Naura dulu oke." kata Liani, diangguki para murid
Kaila hanya tertawa kecil melihat ketegangan teman-temannya.
...****************...
Naura masih menangis dan khawatir, Acha berjongkok di hadapan Naura dan menghapus air matanya, "Sayang kenapa kamu nangis, apa perutnya masih sakit?" kata Acha.
Naura menggeleng samar, "Sudah lumayan sembuh, tapi Naura takut kata Kaila bahwa Naura haid dan banyak darah di rok Naura pafahal gak ada yang luka." jelas naura dengan tangis.
Acha menghapus air mata yg berjatuhan di pipi Naura, "Kenapa harus takut dan apa yang ditakutkan?" kata Acha tersenyum.
"Naura takut terjadi apa-apa pada diri Naura, apakah haid itu sebuah penyakit? Dan apakah akan membahayakan Naura?" kata Naura dengan polos.
Mendengar itu Acha tertawa, Naura langsung keheranan melihat Acha, "Kenapa Ibu tertawa?" kata Naura penasaran.
"Tidak apa-apa," kata Acha, Acha mencubit hidung Naura, "Yang dikatakan Kaila itu benar sayang, kamu mengalami haid, dan itu hal yang wajar bagi setiap wanita, wanita yang sudah berusia 9 tahun kurang 16 hari hijriyyah pasti suatu saat akan mengalami haid, itu usia minimalnya dan maksimalnya tidak terbatas, dan masalah darah, haid memang seperti itu mengeluarkan darah." jelas Acha.
"Jadi Naura juga akan haid?" kata Naura.
Acha tersenyum, "Iya sayang, haid itu sudah menjadi kodratnya seorang wanita, dan tenang saja kamu jangan takut, haid tidak datang tiap hari, pada umumnya wanita mengalami haid 1 bulan sekali, dan mulai sekarang Naura jangan takut dan kaget lagi, kaila juga sudah mengalami haid." kata Acha.
"Benarkah?" kata Naura, Acha mengangguk samar, "Iya sayang."
Naura menyernyitkan alis, "Apa ini Bu?" kata Naura polos.
Acha tersenyum, "Ini namanya p*mbalut, biasa di gunakan ketika kita sedang haid, supaya tidak tembus kepakaian kita." jelas Acha.
"Owh gitu." kata Naura.
"Iya, yaudah sekarang kamu ke kamar mandi, bisa kan menggunakannya?" kata Acha.
Naura mengangguk samar, "Iya, waktu itu ibunya Kaila mengajarkan kami." kata Naura dan Naura pun langsung masuk kekamar mandi.
Acha tersenyum, "Maa syaa Allah sekali ibunya Kaila beliau sudah mengajarkan pada putringa hal yang akan terjadi pada wanita." batin Acha.
Acha mondar mandir di depan kamar mandi sembari memikirkan sesuatu, "Owh iya ide yang datang di waktu yang tepat, aku harus mengajarkan tentang haid pada anak-anak, agar kelak yang belum mengalami haid mereka tidak kaget dan takut, merela harus mengenal kodrat wanita." gumam Acha.
Naura pun keluar kamar mandi, "Eh sudah Nak, yaudah sekarang kita kembali ke taman." kata Acha diangguki Naura.
...****************...
Dikelas anak-anak sibuk bertanya pada Liani, "Bu kata Bunda wanita bakal mengalami keluar darah dari k*maluannya, apa ya namanya Cica lupa, umm ha-had eh bukan apa yah ha apa yah," kata Cica yang bingung sendiri.
"Haid Ca." kata Kaila.
"Nah itu iya benar haid." kata Cica.
Semuanya tertawa melihat Cica, Acha dan Naura datang, "Assalamu'alaikum? " ucap Acha dan Naura.
"Wa'alaikumussalam," jawab semua.
__ADS_1
"Dek gimana udah sembuh." khawatir Azam, Naura tersenyum mengangguk.
"Sekarang Naura duduk ke tempat duduk Naura." kata Acha.
Naura akan melepas sweater milik Acha, "Eh jangan di lepas pakai saja dulu." kata Acha.
Naura mengangguk samar, "Iya Bu." kata Naura dan langsung berjalan ketempat duduknya.
"Li gimana kalo kita beri penjelasan fiqih tentang haid ke anak-anak, supaya suatu nanti mereka yang belum haid tidak kaget karena mengalami haid." bisik Acha.
"Ide bagus, ilmu itu memang harus di ajarkan diwaktu kecil." kata Liani.
"Anak-anak kan ini waktunya menggambar gimana kalo kita ganti jadwalnya dengan fiqih haid? Diajarkan nya fiqih haid di sini supaya kalian yang belum mengalami haid tidak takut dan kaget saat mengalami haid, gimana setuju gak?" kata Acha.
"Setuju Bu nambah-nambah ilmu agama juga 'kan." kata Azam.
"Iya Bu setuju." jawab mereka setelah mendengar ucapan Azam.
"Baik siapkan buku catatan, kita mulai, kalian bawa buku yang masih kosong 'kan?" kata Acha.
"Iya bawa Bu." jawab mereka.
"Nah untuk materi ini khususkan dibuku itu oke." kata Acha.
"Oke Bu." jawab mereka.
Acha sibuk menjelaskan dan anak-anak sibuk mencatat, "Haid Itu sudah menjadi kodrat kaum wanita, yang memasuki usia akil balig yaitu setelah genap usia 9 tahun kurang 16 hari hijriyah, setara dengan 8 tahun 11 bulan 14 hari, mengeluarkan darah atau bisa di sebut haid atau menstruasi,"
"Darah itu
berasal dari rahim, itulah yang disebut darah haid, dan untuk selanjutnya darah itu akan keluar secara berkala biasanya sebulan sekali, wanita yang usai melahirkan juga mengalami keluar darah, tapi itu bukan haid melainkan nifas,"
"Jadi haid adalah darah yang keluar dari rahim secara berkala melalui k*maluan, bukan setelah melahirkan, dan pada usia dewasa yaitu genap
usia 9 tahun kurang 16 hari hijriyah,"
"Belajar haid bagi wanita adalah fardlu 'ain, jadi wajib bagi setiap wanita, Sebab haid terkait dengan berbagai kewajiban sebagai muslimah, semisal tentang shalat yang wajib dikerjakan dan lainnya, dan setiap setiap wanita pasti mengalaminya,"
"Bagi pria hukum belajar haid adalah fardlu kifayah, fardlu kifayah itu suatu kewajiban yang di kerjakan oleh satu orang atau sekelompok orang maka gugur kewajiban, jadi contohnya misal di desa kita tidak ada yang mempelajari ilmu agama sama sekali, maka satu desa akan terkena dosa, dan kalo sudah ada salah seorang penduduk di desa kita yang mempelajarinya, maka gugur lah dosa dan kewajiban penduduk yang lainnya, kalo fardlu 'ain itu wajib untuk setiap individu dan dosanya akan ditanggung secara individu."
"Allahua'lam, bisa dimengerti?" kata Acha.
"Iya Bu." jawab mereka.
"Nah buat para wanita kalian jangan takut dan kaget lagi kalo mengalami haid, karena semua wanita akan mengalami hal itu dan kita harus bisa menerimanya, anggap saja sebagai kasih sayang Allah untuk kita." kata Acha.
"Iya siap Bu."
"Yasudah kita akhiri permbelajaran ini deng mengucap lafadz hamdalah." kata Acha.
"Alhamdulillahirobbil 'alamiin." ucap semua.
Satu persatu murid mencium punggung tangan Acha dan Liani, serelah semuanya pergia, Naura dan Kaila menghampiri Acha, "Ibu Guru bolehkah ba'da (setelah) dzuhur kami berkunjung ke rumah ibu?" kata Naura.
"Tentu, tentu saja boleh, rumah ibu terbuka untuk kalian." kata Acha.
"Oke makasih Bu, kami permisi, assalamu'alaikum." pamit Kaila dan Naura mencium punggung tangan Acha dan Liani.
"Wa'alaikumussalam hati-hati." kata Acha dan Liani.
__ADS_1
Setelah membereskan buku, Acha dan Liani bergegas kembali ke rumah.