
Matahari pun menenggelamkan diri dan di ganti oleh sang rembulan, perlahan cahaya sang rembulan memudar karena kedatangan cahaya sang surya yang neti cerah.
Bertepat tanggal 7 Februari Rafan segera ke butik untuk mengambil sang gaun yang di pesannya satu bulan lalu.
......................
Mobil di hentikan di depan butik.
"Selamat pagi pak ada yang bisa saya bantu?" sambut nya ramah.
"Sekitar satu bulan yang lalu saya memesan gaun di sini, saya janji nya pas tanggal enam, tapi kemarin saya sangat sibuk sehingga tidak sempat kemari, jadi hari ini deh datang nya." kata Rafan menunjukan sebuah nota sebagai bukti.
"Baik pak, akan kami kemas dulu." kata pegawai itu.
Gaun yang sudah di kemas pun di serahkan pada Rafan.
"Makasih mba." kata Rafan meninggal kan butik.
"Terima kasih kembali." kata pegawai.
Rafan pun segera melajukan mobilnya, mobil pun memasuki gerbang pondok.
Halaman pondok mulai dari gerbangu utama sedang di hias, Rafan menghentikan mobil diparkiran umum tepat nya di depan perpustakaan pondok.
Rafan segera menuju rumah dengan berjalan cepat.
Di dalam rumah ramai orang orang terutama kaum hawa sedang membantu memasak, karena sudah banyak tamu yang berdatangan.
(Kebayang kan nikah an putri kiyai kaya gimana?)
Langkah demi langkah Rafan menaiki tangga.
"Assalamu'alaikum?" ucap Rafan masuk kamar.
Rafan menyembunyikan bingkisan gaun itu di belakang.
"Wa'alaikumussalam warohmatulloh." jawab Shilla.
Shilla langsung menghampiri dan mencium punggung sang suami.
"Bawa apa?" kata Shilla memeriksa.
"Sesuatu." kata Rafan menghindar.
"Nggak asik ah." kata Shilla berbalik badan.
"Eh kok gitu sih." kata Rafan menghampiri Shilla den mencubit hidung nya.
"Ih sakit tau." kata Shilla mengusap usap hidung.
"Makin cantik aja kalo lagi marah." goda Rafan.
"Apaan sih," kata Shilla mencubit perut Rafan.
"Aww sakit istriku." kata Rafan.
"Itu pembalasan nya." kata Shilla.
"Mana? Sekarang liat Kamu bawa apa." kata Shilla.
"Nggak, ini rahasia." kata Rafan.
"Owh jadi gitu, sekarang rahasia rahasiaan." kata Shilla.
Shilla mencondongkan wajah nya kehadapan Rafan.
"Apa jangan jangan kamu punya simpanan ya?" selidik Shilla.
"Hah? Ng nggak kok, aku nggak ada istri lain kok." kata Rafan.
"Wah semakin jelas nih, aku kan cuma ngomong simpenan bukan istri, dan kamu bilang istri? Apa jangan jangan kamu beneran ada istri simpanan?" kata Shilla.
"Nggak sayang, beneran cuma kamu istri aku." kata Rafan.
"Nggak meyakinkan." kata Shilla memalingkan muka.
"Terus supaya kamu percaya aku harus apa?" kata Rafan.
"Balik badan sekarang aku nggak mau liat wajah kamu," kata Shilla.
"Yaa Alloh sayang, jangan ngomong gitu." kata Rafan.
"Udah aku nggak mau denger apa pun, sekarang balik badan." kata Shilla.
Shilla membalikan badan Rafan sembari memalingkan muka tak melihat muka Rafan.
"Terus aku harus gimana lagi?" kata Rafan.
Shilla hanya terkekeh tanpa di ketahui Rafan.
"Kamu tega banget sih, ngebuat aku yang selalu ingin melihat menatap memandang wajah kamu setiap saat, dan sekarang kamu membuat aku tak ingin melihat wajah kamu." kata Shilla.
"Sayang jangan bilang gitu..." kata Rafan hendak membalik.
"Jangan berbalik, kalo berbalik berarti kamu bener ada istri lain." kata Shilla.
"Iya iya nggak." kata Rafan pasrah.
Rafan yang memunggungi Shilla dengan tangan ke belakang menyembunyikan bingkisan itu.
"Owh gaun." batin Shilla yang melihat bingkisan.
"Seriusan sayang, aku nggak ada apa apa, aku nggak menyembunyi in sesuatu dari kamu kok." kata Rafan.
__ADS_1
Krek...
Pintu kamar dibuka.
"Sayang?" kata Rafan berbalik dan sudah tidak ada Shilla di belakang nya.
"Wah masih marah kayanya." gumam Rafan.
Rafan segera menyimpan bingkisan di kasur dan langsung berlari ke bawah.
Sesampai nya di bawah Rafan menengok sana sini mencari keberadaan Shilla.
"Umi, Uma?" kata Rafan.
"Iya nak." kata Aisy dan Fathma yang sedang berbincang.
"Shilla dimana?" kata Rafan.
Aisyah dan Fathma menggeleng menahan tawa.
"Mabruk alfa mabruk, 'alaika mabruk, mabruk alfa mabruk yaumiladzik mabruk," lagu yang di lantunkan Shilla.
Rafan langsung berbalik.
Shilla yang sedang berdiri memegang tumpeng sembari tersenyum.
"Astaghfirulloh..." kaget Rafan yang hendak menabrak Shilla.
Pandangan mereka saling bertemu dan bertatapan.
"Ekhem ini di umum loh." kata Fathma menyadarkan tatapan mereka.
"Eh nasi kuning? ada apa ini?" kata Rafan kebingungan.
"Sanah helwah bang ustadz." kata Shilla.
"Hah ulangtajun, Aku?" kaget Rafan.
Semua nya mengangguk tersenyum.
"Masa masih muda pikun, sama hari pengurangan umur lagi." kata Acha.
"Sanah helwah bang." kata Acha memeluk Rafan.
Rafan memeluk Acha dan mengusap lembut kepala Acha.
'Saya janji nya pas tanggal enam, tapi kemarin saya sangat sibuk sehingga tidak sempat kemari, jadi hari ini deh datang nya.' ingatan itu terlintas di pikiran Rafan.
"Barakallohu fii umrik ustadz." kata teman teman Acha.
Rafan hanya tersenyum dan masih keheranan.
"Astaghfirulloh iya." kata Rafan menepuk dahi.
"Yaudah duduk duduk." kata Aisy.
"Assalamu'alaikum?" ucap Muza dan Faziel masuk rumah sembari menyatukan tangan.
"Maa syaa Alloh ada yang lagi merayakan hari bertambah usia dan mengurang nya umur nih." kata Muza menghampiri.
"Sanah helwah Tadz, barakallohu fii umrik." kata Muza memeluk Rafan.
"Syukron Ki." kata Rafan.
"Mabruk Alfa mabruk," lagu di lantunkan Acha yang mengawali, dan disambung semua nya.
"Alaika mabruk, mabruk alfa mabruk yaumiladzik mabruk, selamat hari milad, semoga dapat rahmat, dari Allohu ahad, bahagia dunia akhirat, barakallohu fii umrik." ucap semua.
Do'a pun dilantunkan, setelah selesai nasi kuning pun di sajikan.
"Bismillahirohman nirohiim." ucap semua.
Semua nya langsung menyantap makanan yang sudah di sajikan.
Beberapa jam kemudian dzuhur pun berkumandang, kaum Adam langsung menuju ke masjid.
Setelah melaksanakan sholat semuanya kembali melaksankan kesibukan masing masing.
"Udah pengantin baru mah istirahat aja." kata Rasyid.
"Hehe iya Tadz." kata Rafan.
Langkah demi langkah Rafan menaiki tangga.
Krek...
"Assalamu'alaikum Umi?" kata Rafan masuk kamar.
"Wa'alaikumussalam Abi ku tersayang." jawab Shilla mencium punggung tangan Rafan.
Mereka berdua terkekeh.
"Sekarang Umi Abi nih?" ledek Shilla.
"Terus nggak mau tah." kata Rafan.
"Kalo nggak gimana?" canda Shilla.
"Ya harus mau." kata Rafan.
"Yaudah lah iya in aja, anggap aja itu permintaan maaf dari umi." kata Shilla.
"Maaf untuk apa?" kata Rafan.
__ADS_1
"Pas tadi Umi udah nuduh Abi yang nggak nggak, itu prank dong Bi, seriusan, nggak ada maksud buat nyakitin Abi kok." kata Shilla.
"Owh iya pas tadi umi udah bikin abi bingung ummm, mau di maaf in gak?" kata Rafan.
"Mau..." kata Shilla mengangguk tersenyum.
"Ada syaratnya." kata Rafan.
"Apa syaratnya? jangan yang berat berat." kata Shilla mendekat.
"Segimana abi dong." kata Rafan.
"Yah yaudah deh iya, apa syaratnya?" kata Shilla.
"Syaratnya umm..." kata Rafan.
Shilla hanya mengangguk angguk tersenyum sembari menunggu jawaban dari Rafan.
"Apa ya?" kata Rafan melirik Shilla.
"Ih jangan gantung, cepet geh, apa?" kesal Shilla.
"Pokok nya umi harus mau nerima hadiah dari abi." kata Rafan mencari cari benda yang tadi di taruh nya.
"Perasaan di taro di atas kasur deh." gumam Rafan kebingungan.
"Di lemari kali ya." gumam Rafan.
Rafan pun mencari cari di lemari.
"Ekhem, Abi nyari ini." kata Shilla yang berdiri dan sudah memakai gaun itu.
"Umi nggak bakal tau..." kata Rafan berbalik.
Rafan hanya mematung melihat kecantikan Shilla di tambah gaun yang mewah itu.
"Bi? Abi?" kata Shilla menyadarkan Rafan.
"Maa syaa Alloh bidadariku, untung udah makhrom jadi gak zina mata." gumam Rafan.
Shilla hanya terkekeh.
"Cantik ya Bi." kata Shilla.
"Um apan biasa aja." kata Rafan.
"Ih ngeselin, oh kadi gitu ya, fine." kata Shilla langsung masuk kamar mandi.
Shilla langsung menghampiri Rafan dengan kesal.
"Ini gaun nya makasih." kata Shilla memmberikan gaun pada Rafan.
Shilla pun langsung Pergi keluar kamar.
"Dasar cewe baperan, padahal kan cuma bercanda." gumam Rafan yang terdengar Shilla.
Shilla hanya tersenyum mendengar itu dan langsung melanjutkan langkah nya.
"Tanpa di ragukan lagi, seorang suami pasti mendapat kebingungan seperti ku saat ini, entah apa yang istriku ingin kan." gumam Rafan.
Rafan segera merapih kan gaun itu.
Shilla pun masuk ke kamar dengan membawa sepiring nasi.
"Bi makan dulu, tadi abi makan nya sedikit doang." kata Shilla menyuapi Rafan.
Rafan yang sedang mengunyah hanya menatap keheranan sang istri.
"Tadi marah sekarang ko..." kata Rafan yang langsung terbungkam oleh satu suapan lagi.
"Wahai suami ku yang mulia, jika bahasa istrimu yang belebiha itu adalah tabiatnya, tabiat wanita memang seperti itu, yang iya katakan dan kehendaki itu bukan makna yang sesungguhnya," kata Shilla.
"Terus apa?" kata Rafan.
Satu suapan meluncur lagi ke mulut Rafan.
"Tabiat wanita itu mereka mengira bahwa kata katanya tidak akan berpengaruh dan membuatmu atau lebih tegasnya kaum pria peka, kecuali jika kami kaum wanita membumbui kata kata kami dengan sesuatu yang berlebihan, supaya kalian peka, maka bersabarlah menghadapi kami, Fahimtum?" kata Shilla.
"Fahimna." kata Rafan.
Dan satu suapan mendarat lagi.
"Udah kenyang." kata Rafan sembari mengunyah.
Shilla pun meletakan piring di meja.
"Sungguh aku bisa mengerti tentang kitab apapun, tapi wanita tetap tidak bisa aku mengerti." gumam Rafan.
Shilla hanya terkekeh.
"Tidak ada kah kursus atau apapun buntuk belajar memahami wanita." kata Rafan.
"Ada?" kata Shilla.
"Dimana?" kata Rafan.
"Ya dalam keluarga mu, berusaha lah untuk memahami istri mu ini." kata Shilla.
"Berikan saya materi guru." kata Rafan terkekeh.
"Wanita kalo bilang udah lama gak jalan jalan, berarti mereka pengen keluar untuk jalan jalan" kata Shilla.
"Kalo suami nya nggak peka pasti bilang 'kan satu minggu yang lalu kita udah jalan jalan, masa mau jalan jalan lagi' maka pria itu harus peka." kata Shilla.
__ADS_1
"Susah emang ya buat mengerti wanita, hanya Alloh yang mengerti wanita." kata Rafan.
Rafan dan Shilla pun terkekeh.