MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 161, ending


__ADS_3

Keesokan harinya...


Matahari memancarkan cahaya dengan sangat cerah seperti ikut serta berbahagia atas kebahagiaan Acha dan Liani yang hari ini mereka rasakan, kedatangan sang suami yang sudah lama ditunggu-tunggu.


Acha dan Liani pergi ke pasar terdekat untuk berbelanja, "Hari ini mau masak apa aja emang?" kata Liani.


"Em tumis bayam, sayur nangka, tempe, sambal, ikan asin, gimana? apa ada tambahan, mau masak apa lagi?" kata Acha.


"Cukup segitu sudah banyak menu, dan itu semua cocok sekali, makanan kesukaan bang Muza dan Iki." kata Liani.


Acha tersenyum, "Iya bener banget Iki juga suka sayur nangka, dulu Uma sering masak tempe goreng, kemudian membuat sayur nangka, dan kami berdua makan, Iki memakannya dengan lahap, terus Bang Rafan sering bilang 'Ki lu doyan apa laper?' dan jawaban Iki 'Dua-duanya Bang.' mulutnya udah penuh banget." kata Acha terkekeh mengingat masa dulu.


Liani ikut tertawa, "Benarkah? Iki tidak pernah cerita tentang hal itu." kata Liani.


"Namanya juga Iki, gak bakal cerita tentang masa dulunya." kata Acha.


Terlihat sayuran yang segar berjejer diatas meja panjang, Liani dan Acha segera menghampiri pedagang sayuran, dan membeli sayuran yang mereka butuhkan, "Berapa harga bayamnya Bu?" kata Acha.


Acha memilih-milih sayuran, pedagang membantu Acha memilih sayuran, "Lima ribu perikat." kata pedagang.


"Saya beli 2 ikat saja." kata Acha.


"Owh iya, Ibu jualan nangka mentah?" kata Liani.


"Ada, neng mau beli berapa buah?" kata pedagang.


"Ingin melihat dulu besar nangkanya." kata Liani.


Pedagang menunjukan nangka, "1 saja mungkin cukup, nangkanya lumayan besar." kata Acha diangguki Liani.


Pedagang langsung mengemas semua sayuran yang dibeli Acha, setelah semua bahan-bahan yang dibutuhkan dibeli, Acha dan Liani segera pulang.


Di dapur Acha dan Liani sibuk memasak, terlihat Liani sedang memotong sayuran, dan Acha sedang mengulek bumbu, "Hari ini mereka akan kembali, tapi sampai saat ini mereka tidak memneri kabar, setidaknya sekali saja mengabari, sekarang mereka baru sampai mana? bagaimana perjalannya?" keluh Acha.


Liani tertawa kecil, "Apakah ini yang dinamakan rindu ." ejek Liani.


Acha melirik liani dengan tatapan tajam, Liani hanya tertawa kecil, kegiatan masak pun berlangsung, sekitar jam 11.30 siang akhirnya memasak selesai.


Di ruang makan dengan nuansa yang romatis, makanan sudah tertata rapi diatas meja, terlihat Acha sedikit khawatir dengan melirik jam dinding berkali-kali, "Kemana mereka? sudah jam segini masih belum ada kabar." gumam Acha sedikit kesal, Liani yang menyaksikan hanya menggeleng tersenyum.


Ting nong bel rumah berbunyi, Liani hendak beranjak membuka pintu tapi terdahului oleh Acha, "Nah mungkin itu mereka." gumam Acha sembari berlari kecil.


Acha segera membuka pintu, "Kenapa lam..." kata Acha.


Terlihat kurir yang tersenyum dengan membawa paket, "Selamat siang, paket atas nama ibu Liani." kata kurir.


"Sebentar ya pak." kata Acha


Acha langsung ke ruang makan dan duduk kembali, "Siapa Cha?" tanya Liani.


"Kurir antar paket." kata Acha datar.


Liani membulatkan mata, "Apa! Kenapa gak bilang." kata Liani yang langsung berlari keluar.


Di ruang makan Liani segera membuka paket, diletakkannya dua foto pernikahan beserta bingkai di atas meja makan yang di rias dengan lilin membentuk love.


Ach hendak mengambil dan melihat foto itu, "Foto?" kata Acha.

__ADS_1


Liani memukul punggung tangan Acha, "Jangan dipegang nanti hiasannya hancur." kata Liani.


"Aw... sakit! Padahal mah pengen lihat doang." rintih Acha yang mengusap-usap punggung tangan kanan.


"Yaudah, kalo lihat doang gak ada yang ngelarang, yang penting jangan di pegang." kata Liani tertawa kecil.


Detik jam terus berjalan, bel berbunyi dan nyatanya yang menekan tombol bel rumah, bukanlah seseorang yang di tunggu, mereka memutuskan menunggu di ruang tamu.


Ting nong mendengar bel berbunyi Acha yang hendak duduk langsung berjalan ke arah pintu, "Mungkin itu mereka, ini terakhir dan jika nanti bel berbunyi lagi, gak bakal Acha buka, biar Liani aja." gumam Acha.


Setelah pintu dibuka ternyata tukang koran yang datang, "Koran." gumam Acha.


Bapak itu menyerahkan koran, "Maaf Bu, kami terlambat menyebar koran hari ini, karena ada sedikit kendala." kata tukang koran.


"Owh tidak masalah, terimakasih Pak." kata Acha.


"Terima kasih kembali Bu, saya pamit." kata tukang koran.


Acha langsung menutup pintu dan duduk sambil meremas koran, dan melemparnya, "Apa ini? Yang datang kurir, penjaga kebun, tukang jahit, tukang semir, dan sekarang tukang korn keliling, sehabis ini apa lagi coba tukang beca? Dan yang ditunggu tak kunjung datang, jangankan datang, mengabari? Tidak!" kesal Acha dengan tetesan air mata.


Liani mengusap pipi Acha yang di basahi butiran air mata, "Sabar Cha mungkin macet, ditambah perjalanannya panjang, udah jangan nangis, cengeng amat." kata Liani menenangkan.


Acha mengangguk tersenyum, "Siapa yang cengeng, air mata ini tuh bukti dari rasa ke khawatiran." kata Acha


Adzan Dzuhur pun berkumandang, Acha dan Liani segera melaksanakan shalat, setelah selesai shalat Acha merapihkan kerudung dengan berdiri di depan cermin.


Ting nong bel berbunyi, karena sudah lelah dengan suara bel dan nyatanya bukan orang yang ditunggu-tunggu, Acha tetap sibuk merapikan kerudung, "Cha? bel rumah bunyi, Liani buka yah." kata Liani diangguki Acha


Liani segera membuka pintu, terlihat kurir membawa bunga yang Liani pesan, "Pesanan atas nama ibu Liani." kata kurir.


"Terimakasih kembali." kata kurir yang langsung pergi.


Terlihat mobil Muza akan masuk ke halaman rumah, Liani berjalan sedikit cepat ke kamar Acha, "Cha bang Muza udah sampai." kata Liani.


Acha tersenyum gembira dan langsung berjalan dan hampir terjatuh, "Cha? Kamu tidak apa-apa?" khawatir Liani.


Acha tersenyum, "Tidak apa-apa, cuma sedikit pusing." kata Acha.


"Mau minum obat dulu?" tanya Liani.


"Tidak, mungkin dengan melihat wajah bang ustadz bisa sembuh." kata Acha.


"Dih mulai bucin lagi nih." kata Liani terkekeh.


Acha dan Liani berjalan bersampingan sembari berbincang dan membuat canda.


Iki mengeluarkan koper, "Bang Muza duluan aja, Iki yang akan bawa ini semua." kata Iki diangguki Muza.


Langkah demi langkah Muza diasikkan berbincang dengan seorang wanita cantik yang sedang hamil, mereka melangkah masuk kedalam rumah, tak sengaja Acha melirik ke arah pintu, langkah Acha terhenti menyadari ada seorang wanita yang sedang hamil masuk kedalam rumah bersama Muza.


Acha terdiam mematung tak percaya dengan semua yang sedang disaksikannya, penglihatan Acha mulai buram dan Acha jatuh pingsan, Iki yang sibuk membawa koper menyadari hal itu, "Acha!" teriak Iki yang membuat semua orang tertuju pada Acha.


Suasana menjadi tegang, Muza segera menggendong Acha ke dalam kamar, setelah Acha di baringkan Muza segera mengoleskan minyak angin di kening Acha.


Perlahan Acha membuka matanya, disaksikannya Muza dan wanita hamil itu berdiri berdampingan, Acha segera membuang muka ke arah lain, hal itu membuat Muza keheranan.


Liani yang mengerti sikap Acha langsung mengajak wanita hamil itu keluar kamar, "Bi, kita nunggu di ruang makan aja." kata Liani diangguki salma.

__ADS_1


"Bi?" batin Acha.


Muza duduk di sampong Acha, "Umi kenapa?" tanya Muza sembari mengelus lembut kepala Acha.


"Siapa wanita itu?" tanya Acha yang membuat Muza tertawa renyah.


"Jadi Umi pingsan gara-gara hal ini?" kata Muza.


Acha terdiam dengan menatap ke arah lain, Muza tersenyum memandangi wajah Acha, wajah yang sudah lama tidak ditatapnya, "Abi rindu semua ini, manja dan marahnya Umi." kata Muza yang membuat Acha sedikit melirik ke arah Muza.


"Wanita itu bibinya Abi dan Liani, beliau adik dari Abi Ilham." kata Muza.


Mendengar itu Acha terlihat sedikit kaget, "Bibi?" gumam Acha.


Acha memeluk Muza dengan erat, "Maafin, Umi marah tanpa tau yang sebenarnya." kata Acha.


Muza mengusap kepala Acha dengan lembut, "Sudah biasa, kalo tidak seperti itu, namanya bukan Acha." kata Muza terkekeh.


Tok tok tok, Acha dan Muza segera melepas pelukan, "Masuk." kata Muza.


Terlihat Iki dan seorang dokter, mereka berdua segera masuk, "Iki yang telepon dokter, soalnya takut Acha kenapa-kenapa." kata Iki.


Muza dan Acha hanya tersenyum mengangguk, Dokter segera memeriksa Acha, dokter tersenyum "Selamat Pak, anda akan menjadi seorang Ayah, sekarang usia kandungannya 1 bulan 2 minggu." kata Dokter.


Muza langsung memeluk Acha dengan erat, suasana menjadi tangis haru antara Muza dan Acha, "Alhamdulillah..." ucap Acha dan Muza.


8 bulan kemudian Acha yang sedang menyapu lantai tiba tiba merasa mulas, "Abi..." ucap Acha dengan lemas.


Ditemuinya Acha yang sudah tergeletak di lantai, "Astaghfirullah Umi." kaget Muza.


"Bawa Umi kedokter, perut Umi mulas." kata Acha.


Muza segera mengangkat dan membawa Acha ke rumah sakit, setelah itu Muza langsung mengabari keluarga, sebagian keluarga menunggu diluar, Muza, Fathma dan Silfa di ruang persalinan menemani Acha.


Muza terus bedzikir membantu Acha yang juga berdzikir, "Allah....." teriak Acha.


Tangis dua bayi kembar memenuhi ruangan, mendengar tangis bayi semuanya bahagia, "Alhamdulillah..." Ucap semua.


Muza segera mengadzani sang putra dan putrinya secara bergantian.


Semua keluarga pun masuk untuk melihat, "Suasana yang bahagia harus dikenang." kata Iki masuk ruangan bersama Liani yang menggendong bayi cantik berusia 8 bulan.


Mereka semua berfoto dengan bantuan seorang perawat, dan Kisahpun berakhir.


Tamat


Anggap saja ini bukan coretan kisah tentang seorang wanita yang mengejar cinta seorang manusia dan berharap mendapatkan balasan cinta dari orang yang ia cinta, tetapi coretan kisah kehidupan yang mengajarkan bagaimana sebuah masalah dunia berubah menjadi indahnya kehidupan dengan menyerahkan seluruh hidup dan cintanya kepada Yang Maha Kuasa.


🌹🌹🌹


Akhirnya cerita Muzacha end juga, mohon maaf yanh sebesar besarnya bila banyak kata yang kurang mengenakkan, karena author masih dalam tahap belajar.


Mohon maaf atas segala kekurangannya, karena author juga seorang manusia yang sering melakukan banyak kesalahan, dan jika ada yang baik itu semua datang nya dari Allah SWT.


semoga cerita receh dan aneh ini bisa memotivasi reader


salam hangat dari author, ada cibta disetiap katanya💞

__ADS_1


__ADS_2