
......................
"Assalamu'alaikum." kata Ririn membuka pintu kamar.
"Wa'alaikumussalam." kata teman teman nya yang sedang sibuk memakan cemilan.
Ririn pun duduk bergabung dengan teman teman nya, dengan menghela nafas.
"Kenapa Rin?" kata Acha.
"Tadi ketemu sama Bang Ustadz." kata Ririn.
"Geuning kieu karasana
putus cinta teh sedihna
aduh teu aya landongna
iwal pendak jeung anjeunna." Cilla menyanyikan syairan.
"Teu disangka teu di duga
anjeun ku tega-tegana
dimana akal salira
ka abdi janten merana." Acha meneruskan.
Acha dan Cilla terkekeh.
"Acha juga tau syairan nya?" kata Cilla.
"Tau dong." kata Acha.
"Emang yang tadi apa?" kata Ririn.
"Syairan sunda masa Ririn nggak tau." kata Cilla terkekeh.
"Iyaa seriusan baru denger." kata Ririn.
"Iya puput juga baru denger, tapi enakeun lanjutin." kata Putri.
"Abdi reuwas rejeung bengong
teu benteun jeung jalmi oon
waktos anjeunna teh ngomong
ka abdi lewat telepon
wayahna urang papisah
ayeuna jeung salawasna
ku sim abdi diwalerna
na'am ri kitu hoyongna." lanjut Liani.
"Liani juga tau?" kata Ririn dan Puput.
"Iyaa lah kalo Acha tau ya pasti Liani tau." kata Liani.
"Kok bisa?" kata Ririn.
"Ya bisa lah pas di SMK dulu, guru agama sering nyanyiin syairan, jadi Kami yang ngedengernya hafal." Kata Acha.
"Apa aja yang hafal?" kata Cilla.
"Syairan cinta dalam diam, duh angin nu ngahiliwir." kata Acha.
"Wah Cilla juga hafal nanti kapan kapan kita duet oke, tapi sekamar." kata Cilla.
"Oke." kata Acha, Liani, Cilla, dan Rasi.
"Terus kita gimana, kan nggak bisa." Kata Putri.
"Kan sekarang udah jaman modern tinggal cari aja di youtube." kata Ririn.
"Nah iya pinter." kata Acha.
"Wah jangan jangan rasi juga tau kan asli sunda." kata Ririn, Rasi hanya tersenyum.
"Ayo keluarkan suara mu rasi." kata Putri.
"Sim abdi mah moal maksa
ri anjeun geus henteu suka
karna abdi mah rumasa
sim abdi teh jalmi hina
sateuacan abdi ngarti
arti hidup tau diri
mungkin ieu tos takdirna
abdi jeung anjeun papisah." lanjut Rasi.
"Karna abdi teh wanita
teu kawasa jeung teu daya
saukur bisa ngadu'a
supados anjeun bahagia
abdi moal putus asa
tibang leungit hiji cinta
sugan we aya gentosna
langkung tibatan salira." lanjut Acha.
"Anjeun mah seseurian
sim abdi mah seseugrukan
soca ngalirkeun cisoca
ngaraos asa dihina
abdi ikhlas jeung narima
kana sadaya-dayana
karna abdi mah rumasa
narimakeun lapang dada." Lanjut Cilla.
"Sesegrukan apa?" kata Putri.
__ADS_1
"Itu loh put ka nangis tersedu sedu gitu." kata Ririn.
"Wah emang Ririn ngerti sunda?" kata Putri.
"Sedikit, kan kalo ke rumah nenek pada ngomong sunda, jadi dikit dikit ngerti lah." kata Ririn.
"Udah lanjut lanjut, lagi meresapi nih." kata Ririn terkekeh.
"Ciee yang lagi putus cinta." ejek Cilla.
"Dih siapa lagi yang lagi putus sinta." kata Ririn.
"Masa sihh." goda Cilla.
"Iyaa, lanjut Li." kata Ririn.
"ke oo." kata Ririn.
"o kee." kata Cilla.
"Teu kapikir tidituna
teu disangka tidinyana
anjeun ngomong rek satia
horeng mah ngan modal dusta
duh gusti abdi tulungan
manah nuju kanyeurian
kakasih nu janteun idaman
ayeuna janten sang mantan." lanjut Liani.
"Asekkk mantan." kata Putri.
"Dihh huu apaan sih." kata Cilla.
"Udah udah lanjut gak nih." kata Rasi.
"Lanjut dong, kerasa soalnya, walau nggak ngerti geh." kata Puput terkekeh.
"Pamenteu anjeun kabayang
dipangkuan dilamunan
siangna janteun kenangan
wengina janteun impenan
sim abdi geuring emutan
sapertos jalmi nu edan
tumbuhna tangkal percintaan
akhirna kanalangsaan." lanjutan Rasi.
"Ieu syi'ir landong manah
ka abdi nu nyeuri mana
daripada dilamunan
mendingan bikin syi'iran
mung sakieu riwayatna
abdi ge hoyong bahagia
sanaos teu jeung anjeunna." Acha, Rasi, Liani dan Cilla barengan.
......................
"Maa syaa Allah." kata Shilla yang datang.
"Eh kak Shil." kata mereka bergegas menghampiri dan saling mencium tangan.
"Siapa yang lagi putus cinta nih, nyanyiin syi'iran putus cinta segala." kata Shilla.
"Hehe cuma lagi latihan suara kak." kata Acha.
"Tapi bagus deh waktu luang nya ke pake." kata Shilla.
"Eh iya kata Ustadzah Nurma besok kan jam pelajaran nya, dan Kalian belum cerita ke depan kan?" kata Shilla.
"Iya Kak emang kenapa?" kata Acha.
"Iya Ustadzah nurma gak bakal masuk..." kata Shilla.
"Yey asiikk." kata Mereka semangat.
"Huh Kalian tuh, bahagia di atas penderitaan Ustadzah Nurma." kata Shilla.
"Hehe astaghfirullah, Kami tuh berdosa banget." kata Acha.
"Emang kenapa gak masuk kak?" kata Rasi.
"Putrinya lagi sakit." kata Shilla.
"Innalillahi, huh Acha Kamu." kata Cilla.
"Lah kok Acha, orang Kalian juga geh." kata Acha.
"Udah udah, jadi besok Kakak di suruh gantiin beliau." kata Shilla.
"Uhh syukak." kata Cilla.
"..dan kakak sibuk banget di UKS, mungkin Kalian ceritanya di depan UKS aja, supaya Kakak bisa nilai plus jaga UKS juga." kata Shilla.
"Hah di umum dong kak." kata Putri.
"Lah iya kan yang lain juga bisa denger." kata Shilla.
"Nego dong kak di dalam UKS nya aja." rengek Cilla.
"Dih, nggak ada nego nego, yaudah Kakak pamit, assalamu'alaikum." kata Shilla.
"Yahh." rengek Mereka.
"Wa'alaikumussalam." kata Mereka saling mencium tangan Shilla.
......................
Mentari pun menampakan diri dengan malu malu, seperti biasanya setelah selesai mengaji Santriat mengantri kamar mandi dan bersiap siap untuk ke kampus.
"Subhanallah, ck ck ck." kata Cilla menggeleng.
"Kenapa Cil?" kata Acha.
"Liat tuh." kata Cilla mengarah ke widya yang sedang tertidur di tempat wudhu.
__ADS_1
Cilla dan Acha pun terkekeh, dan saling menatap merencankan sesuatu.
"Ehh Ustadzah Nurma, kok disini kan katanya nggak bakal masuk." kata Acha sedikit meninggikan suara.
"Hah Ustadzah? assalamu'alaikum Ustadzah, Widya cuma..." kaget widya yang langsung terbangun dan menengok sana sini.
Acha dan Cilla terkekeh.
"Kamu kenapa Wid? kok bawa bawa Ustadzah Nurma. mimpiin Ustadzah Nurma yaa.." ledek Cilla terkekeh.
"Ihh ngeselin banget sih." kata Widya akan masuk kamar mandi.
"Heh hehey, Siapa yang nungguin di sini siapa yang masuk.." kata Acha.
"Eh dari tadi Saya nungguin kamar mandi nomor 01 ini." kata Widya.
"Eh nggak bisa gitu orang Kami yang nunggu di sini dari tadi." kata Cilla.
"Saya udah duluan nunggu disini." kata Widya.
"Ya Kamu kan tadi tidur di tempat wudhu kok, nggak nunggu di sini." kata Acha terkekeh.
Widya hanya menahan malu karena ketauan ketiduran, dan langsung akan masuk kamar mandi lagi.
"Ehh heh Kita duluan." kata Acha dan Cilla menghalangi.
"Saya lah." kata Widya.
Dan Mereka bertiga hanya tercengo karena ada santriwati lain yang masuk mendahului mereka.
"Hu uh gara gara Kalian ini." kesal Widya.
"Dih ngapain nyalahin Kami, Kami kan hanya menegakan keadilan." kata cilla.
"Uhhh." kesal Widya.
......................
Setelah rapih mereka langsung berangkat ke kampus.
"Udah semua?" kata Acha.
"Udah dong." kata Liani.
"Eh Ririn mana?" kata Rasi.
"Hadiroh." kata Ririn menghampiri Mereka.
"Yuk, bismillah." kata Acha.
"Iyaa bismillah." kata Mereka semua.
......................
Sesampainya di area kampus.
"Gimana Kalian udah siap?" kata Shilla.
"Siap dong kak bismillah." kata Mereka.
"Yuk kita ke area UKS." kata Shilla.
Deg! Ririn yang melihat Faziel di depan UKS.
"Kak ini para ustadz mau nonton kami?" kata Ririn.
"Iyaa kan Mereka belum jam pelajaran, biasanya kan pada stand di sini." kata Shilla.
"Ouhh, asekk ada ustadz Muza sama Ustadz Rafan, Cilla jadi semangat." kata Cilla.
"Iyaa semangat Cilla." kata Muza dan Rafan terkekeh.
"Umm ustadz cocwit." kata Cilla.
"Dih Cilla apaan sih." kata Acha.
"Dih apaan sih, Acha cemburu yah?" kata Cilla.
Deg! Mendengar itu hati Acha terasa tak karuan.
"Hah, ce cemburu? Sama Siapa?" kata Acha.
"Yaa ke Cilla sama Ustadz Muza, mana mungkin kan sama Ustadz Rafan kan Abang nya Acha." kata Cilla polos.
Acha hanya membulatkan matanya.
"Masa iya sih cemburu, kapan Acha jatuh cinta sama Ustadz Muza, dulu sih emang pernah kagum, tapi kan sekarang b aja." batin Acha.
"Oke udah yaa debat nya, mau dari Siapa dulu?" kata Shilla.
"Karena Rasi ketua akhawat di kelas, jadi Rasi dong." kata Puput.
"Rasi? Kok Rasi sih." kata Rasi ke heranan.
"Oke yaudah Rasi tafadholly." kata Shilla.
"Iya kak syukron." kata Rasi maju.
"Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh." kata Rasi.
"Wa'alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh." jawab yang mendengar salam.
"Di sini Rasi akan bercerita tentang
Kesabaran Sumaiyyah dalam Mempertahankan Iman (Wanita Pertama yang Syahid dalam Islam)
Sabar adalah salah satu sifat terpuji yang telah ditanamkan Islam kedalam hati para wanita mukminah dari kalangan para shahabiyat, dan menumbuhkannya dalam sanubari mereka, sehingga salah seorang diantara mereka pada saat menghadapi berbagai cobaan dan musibah bagaikan gunung yang kokoh tak bergerak, dan bagaikan singa di sarangnya, ia tidak takut dan tidak ragu.
Mereka telah mengalami berbagai siksaan lahir dan batin, mengalami sakit parah, kemiskinan yang mencekik, kehilangan orang-orang yang dicintai. Namun itu semua tidak menggoyahkan keimanan mereka, tidak membunuh semangat mereka, tidak menjadikan mereka berkeluh kesah, lemah dan gelisah.
Diantara shahabiyat yang mendapat anugerah tersebut adalah Sumaiyah, seorang wanita yang pertama kali mendapatkan syahid dalam Islam.
Kisahnya,….
Dalam ketegaran menghadapi siksaan, tampak sekali sikap Sumaiyah binti Khabbat, ibu Ammar bin Yasir radhiallahu ‘anhu, sebagai contoh terdepan dan bukti yang sangat tepat dalam hal ini.
Abu Jahal, panglima kezhaliman memakaikan baju besi pada Sumaiyah, kemudian menjemurnya dibawah terik panas matahari yang membakar. Walaupun begitu ia bersabar dan mengharap pahala, ia tidak berharap sesuatu kecuali Allah dan Hari Akhir. Ketika sikap beliau ini mematahkan kesombongan Abu Jahal, dan mengobarkan kemarahan di hatinya, Abu Jahal melakukan apa yang dilakukan oleh para penguasa zhalim lagi jahat ketika tak mampu berbuat apa-apa. Karena ketegaran Sumaiyah radhiallahu ‘anha dalam agamanya, Abu Jahal mendekatinya, kemudian menusuknya dengan tombak hingga meninggal dunia.
Dalam kitab ‘Usdhu al-Ghabah’, al-Hafizh Ibnu hajar mengatakan, “Abu Jahal menusuk sumaiyah dengan tombak yang ada ditangannya pada *********** hingga meninggal dunia. Beliau adalah orang yang mati syahid pertama dalam Islam, beliau dibunuh sebelum hijrah, dan beliau termasuk diantara orang yang memperlihatkan keislamannya secara terang-terangan pada awal datangnya Islam.”
Ini adalah merupakan pelajaran bagi setiap mukminah yang diinginkan oleh orang-orang yang brbuat dosa untuk dicopot dari agamanya, hendaknya ia meneladani ketegaran, keteguhan dan kesabaran Sumaiyah. Semboyannya adalah perkataan Abu Athiyah,
“Bersabarlah dalam kebenaran, engkau akan merasakan manisnya
Kesabaran demi kebenaran terkadang harus melalui kepedihan.”
Hal ini juga menunjukkan bahwa sabar itu tidaklah ada batasnya, sampai Allah mendatangkan keputusan dan ketetapan-Nya.
Wallahu'alam bishowab."
"Sekian, saya undur diri wassalam, assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh."
"Wa'alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh." jawab semua.
__ADS_1
"Maa syaa Allah, syukron jazakillah khair menginfirasi banget kisah nya, jadi Kita itu harus tegar dalam menghadapi sesuatu apa lagi tentang iman, jangan sampe keimanan Kita tergoyah dengan apapun yang fana." kata Shilla.
"Dan selanjutnya siapa yang mau maju." kata Shilla.