
Satu minggu berlalu kini Acha yang dulu yang sering mengharapkan manusia telah pergi entah kemana, dan sekarang hanya ada acha yang menyerahkan hidupnya untuk Allah.
"Yaa Allah ampunilah dosa hamba yang besar, kecil, sengaja dan tidak sengaja sesungguhnya engkau lah yang maha pengampun, bebaskan lah hamba dari segala dosa dosa, sucikan jiwa dan raga hamba terutama hati hamba, beri kelapangan dada pada hamaba dalam menerima taqdirmu terutama taqdirmu yang tidak sesuai keinginan, seindah indahnya rencana lebih indah dari rencana dan taqdirmu, sesungguhnya Engkau lah sang pemilik hati dan atas izin Mu hati ini sudah ikhlas, bismillah mulai detik ini hamba lepas perasaan ini lillahi ta'ala, hanya pada Engkau lah sebaik baiknya pengharapan." tangis acha di sepertiga malam.
Pagi pun tiba semuanya bersiap siap untuk ke kampus.
"Kini Aku merasakan kedamaian hidup, memang benar jika tidak ingin kecewa kita jangan berharap pada makhluk, tapi berharap pada sang maha kholiq, karena kunci kedamaian adalah syukuri jalani dan niqmati." kata Acha dijendela kelasnya sedang menghirup udara segar.
"Itu lah rasanya jika kita selalu dekat sama Allah, Allah akan ingat kita ketika kita mengingatnya." Kata Liani.
Bel pulang pun berbunyi, Acha dan sahabatnya berkumpul di gazebo tempat biasa mereka merencanakan sesuatu hal yang baru.
"Guys ada planning buat masa depan?" tanya Acha.
"Ada tapi belum bisa ngewujudin." rengek Cilla.
"Makanya dari itu kita harus ngewujudin dari sekarang." kata Acha.
"Gimana caranya?" kata Ririn.
"Agar selalu semangat, kita motivasi sirikita dengan cara kita tulis impian kita dan kita tempel dimading kamar gimana?" kata Acha.
"Wah bagus tuh." kata Mereka.
"Terus kita harus buat grup apa nih buat perlombaan besok." kata Ririn.
"Nah berhubung Kamu yang nanya duluan Kamu ada gak saran." kata Acha.
"Apaa yaa muslimah berkarya, gimana?" kata Ririn.
"Boleh juga, kalo yang lain ada gak takut nya ada saran?." kata Acha.
Mereka pun menyebutakan saran masing masing
"Liani kemana nih, tinggal Liani lagi yang belum ngasih saran." kata Ririn.
"Tadi Liani di panggil Abang nya ada keperluan." kata Acha.
"Owhhh." kata mereka serentak.
__ADS_1
"Selamat sore Shohibah Lillah." kata Liani ceria.
"Nah bagus tuh saran dari Liani, udah itu aja gimana?" kata Ririn diangguki yang lainnya.
"Apaan maksudnya? saran?" Liani bingung.
"Kita lagi bikin nama grup buat lomba besok." kata Acha, Liani hanya mengangguk.
"Jadi fixs yaa nama grup kita Shohibah Lillah." kata Acha.
Mereka pun menyatukan tangannya dan di intruksikan oleh salah satu
"Shohibah Lillah," intruksi Acha
"Ceria, berkarya, sholihah Allohuakbar." kata Mereka serentak.
"Bismillah kita harus semangat buat besok oke." kata Acha.
......................
Malam harinya Mereka pun menulis cita cita Mereka.
"Kalo yang lain apa nih rencananya." kata Acha.
"Bismillah kalo Puput pengen jadi da'iah, aamiin." kata Putri.
"Bismillah, kalo Cilla pengen jadi desainer aamiin." kata Cilla.
"Bismillah, kalo Ririn pengen jadi qori', aamiin." kata Ririn.
"Bismillah, kalo Lili pengen jadi fotografer, aamiin." kata Liani.
"Dan Acha bagaimana? Apa yang Acha inginkan?" kata Liani.
"Bismillah Acha pengen jadi motivator, aamiin." kata Acha.
"Aamiin." kata Mereka serentak.
"Yuk ah bobo, udah malam, Kita harus bangun awal." kata Acha.
__ADS_1
......................
Keesokan harinya Mereka pun bersiap untuk lomba, Mereka pun menuju musholla.
"Ihh males banget harus ngelewatin kamar khadijah, kenapa ini tangga kelantai bawah cuma ada satu jalur, kenapa di pinggir kamar Annisa gak dibuat tangga supaya Kita gak ngelewatin geng widya." kata Cilla ngerocos.
"Syutt bisa diem? kalo pun mau bikin tangga di samping kamar Annisa mau dimana kan nyatu temboknya sama belakang rumah Abi." kata Ririn gemes.
"Udah lah biarin aja Mereka mah, Mereka mah Mereka Kita ya Kita." kata Acha .
"Tapi Mereka suka kelewat batas, apalagi ke Kamu kan Cha kaya yang benci aja." kata Puput.
Mereka pun melewati setiap kamar, dan penghuni kamar khadijah sudah ada di depan kamar nya.
"Tuh kan bukan nya cepet ke musholla malah nongkrong depan kamar, apa coba maksudnya." kata Cilla.
"Mungkin mau ngehujat Acha lagi." kata Puput.
Mereka pun melewati Widya dan kawan kawan yang sedang duduk di depan kamar Khadijjah.
"Eh ada siapa itu namanya Kita gak tau yaa." kata Widya.
"Ya iya lah gimana mau tau diakan gak ta'arufan." kata Lasma.
"Haha pura pura pingsan gara gara gerogi gak mau ngomong di depan banyak orang." kata Widya dan teman teman sekamarnya tertawa.
"Ihhh." kesal Ririn yang ingin menjambak kerudung Widya dan ditangkis oleh lasma tapi Acha melindungi Ririn.
"Aww." jerit Acha sakitan.
"Chaa..." khawatir teman sekamar Acha.
"Dasar, beraninya maen kasar!." kata Cilla gereget.
"Apaan? mau apa hah." kata Lasma.
"Udah ah Cill jangan ladenin mereka buang buang waktu." kata Ririn menarik Cilla.
'Dalam perjalanan itu tak ada lorong sempit yang lebih sulit dari ini, beruntunglah orang yang tak membawa kedengkian sebagai teman.'
__ADS_1
❤Jalaluddin Rumi❤