MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 102


__ADS_3

Mentari pagi pun muncul dengan sinarnya yang terang, di sembut gembira oleh Alam dan penduduknya.


Acha dan para sahabatnya duduk di depan kelas sambil menunggu jam pelajaran di mulai dan kedatangan sang guru.


Mungkin semua itu sudah menjadi tradisi para murid yang nongkrong di luar menunggu sang guru.


Dan saat guru muncul pasti Mereka berhamburan masuk dan itu bukan lah suatu adab kepada guru.


Eits tapi Mereka berbeda, mereka akan menghampiri untuk memdapat Ridho sang guru.


"Maa syaa Alloh mataharinya cerah banget secerah waja Cilla." kata Cilla.


"Dan secerah hati Puput." kata Putri.


"Haha iya in aja lah." kata Mereka terkekeh.


"Maa syaa Alloh, iya mataharinya cerah banget ya, sayang nya kita nggak bisa melihat jelas bentuk nya." kata Ririn.


"Betul sekali matahari nggak sembarangan dilihat oleh semua orang, hanya orang tertentu yang bisa liat." kata Acha.


Rahma yang sedang tefokus menghafal menyadari kedatangan Raysa.


"Ustadzah." kata Rahma.


Rahma dan teman temannya pun segera menghampiri Raysa kemudian mencium tangan nya.


"Syuut." kata Raysa yang meletakan jari telunjuk di mulut.


Rahma dan teman temannya hanya mengangguk, mengikuti Raysa dengan berjalan di belakang Raysa.


"Nah iyaa kalian para wanita juga harus seperti itu supaya tidak dilihat sembarang orang, matahari tertutupi cahayanya, dan kalian juga harus ter tutup oleh cahaya pula, anggap aja cahaya nya itu Hijab kalian..." Ustadazah Raysa yang muncul di belakang mereka.


"Nah iya betul, hijab itu penghalang pelindung tubuh manusia seperti pakaian dan kerudung." kata Acha membalik.


Acha hanya membulatkan matanya kaget.


"Us.. us.." kata Acha menepuk nepuk bahu teman nya yang masih terfokus melihat keindahan Alam yang cerah.


"Kenapa sih Cha?" kata Mereka berbalik.


"Ustadzah Raysa.." kata Mereka,


Mereka langsung menghampiri dan mencium tangan Raysa.


Teman temannya yang ada di dalam kelas hanya terkekeh, dan mendapat lirikan tajam dari Acha.

__ADS_1


"Kok Ustadzah di sini?" kata Acha.


"Yaa kan jadwal Ustadzah ngajar di sini." kata Raysa.


"Belum bel tapi." kata Cilla.


"Ya Alloh, kalian terlalu fokus, dari tadi Bel berbunyi, ya kan Rah?" kata Raysa.


"I iyaa Ustadzah." kata Rahma di belakang Raysa.


"Makanya jangan kebiasaan nongkrong depan kelas." kata Raysa.


"Iya ustadzah, tapi kan nyaman aja Muroja'ah, belajar, ngapal sambil menikmati keindahan alam." kata Acha.


"Yaudah iya yang penting nambah ilmunya." kata Raysa terkekeh.


Raysa pun masuk kedalam kelas, di ikuti Acha dan yang lain nya di belakang.


"Rahma kamu kok nggak ngasih." bisik Acha.


"Nggak boleh sama Ustadzah." kata Rahma berbisik.


"Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh." ucap Raysa.


"Wa'alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh." jawab semua.


"Oke kita bahas tentang Shalat yaa, karena Usatdzah perhatikan santriwati masih banyak yang belum sempurna gerakan nya, kalo Ikhwan Ustadzah gak tau soalnya beda tempat, tapi in sya Alloh ustadzah akan menerangkan." kata Raysa.


"Oke yang pertama kan niat, mungkin kalian sudah pada bisa niat semua shalat, yang kedua 1. Keadaan telapak tangan ketika melakukan takbiratul ihram yaitu dengan membentangkan tangan secara sempurna dan tidak menggenggam, jari tangan tidak terlalu lebar atau pun terlalu rapat membukanya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memulai shalat, beliau mengangkat kedua tangannya dengan dibentangkan. (HR. Abu Daud 753, Turmudzi 240, dan dishahihkan al-Albani)," jelas Raysa.


"Lurus mengarah ke kiblat Ustadzah?" kata Gilang.


"Yaa Alloh, ya iya lah Gilang, kan salat menghadap kiblat." kata Raysa terkekeh.


"Kemudian saat membaca Allohu akbar harus jelas jangan sampe membacanya jadi wallohu akbar atau Allohu wakbar, itu nggak boleh terus hamzah nya jangan di panjangkan kaya Aallohu akbar atau ba nya di panjangin Allohu akbaaar dan di tasjid Allohu akbbbar itu nggak boleh, yang benar tu Allohu Akbar, hams nya juga kenain Akbar jangan Akebar itu salah ya, hams kan membuang angin sedikit jadi Akbar, dan kalo berjama'ah takbirotul ihram kita harus sesudah imam, kalo berbarengan salat berjama'ah nya batal."


"Kemudian Ruku' tumaninah, ruku' itu harus punggung dan kepala lurus, Gilang kedepan." kata Raysa.


Gilang pun kedepan


"Nah seperti ini, jadi kepala sama punghung lurus, jadi kalo sudah selesai membaca subhana robbial 'adzimii wabihamdih tiga kali jangan langsung berdiri tapi tumaninah dulu, diam sejenak sekitar seperti kita membaca 'subhanalloh walhamdulillah walaa ilaha illalloh wallohuakbar' jadi lama diamnya selama seperti kita membaca tasbih tahwid takbir." kata Raysa.



"Kemudian i'tidal tumaninah, jangan lupa setiap pergantian dari setelah membaca surah pendek kemudian ruku', terus ruku' bangun ke i'tidal harus mengangkat tangan membaca Allohu Akbar, dan kalo berjama'ah saat imam mengatakan sami' Allohu liman hamidah, kita tinggal meneruskan 'Robbanaa lakal hamdu mil us samawaati wamil ul ardhi wamil u maa syi'ta min syain ba'du', oke lanjut." kata Raysa

__ADS_1


"Kemudian sujud tumaninah, telapak tangan di lebarkan supaya benar benar menempel dengan sajadah tanpa ada halangan dari sesuatu yang kita pakai seperti mukena bagian dahi juga kalo sujud jangan sampe ada penghalang untuk menempel pada sejadah," jelas Raysa.



"Rambut sehelai pun kalo menghalangi jidat itu nggak boleh dan bagi ikhwan harap kalo pake peci agak di keatasin," jelas Raysa mempraktekan dengan peci yang dipakai Gilang.



"Dan untuk perut buat ikhwan karus di kempiskan dan buat akhwat jangan, jadi lepas aja.


"Terus ustadzah kalo pas dari i'tidal mau ke sujud itu lutut dulu apa tangan dulu yang turun?" tanya Acha menagngkat tangannya.


"Boleh apa pun baik mau tangan dulu atau pun lutut dulu bebas tapi sunnah nya lutut dulu," jelas Raysa.


"Yang penting jangan muka dulu gimana jadinya nanti." hibur Raysa sembari memperaktikan.


Semua keseriusan terpecahkan oleh tawa.


"Oke cuma itu doang sih yang Ustadzah perhatiin masih banyak salahan, kalo selanjutnya alhamdulillah sempurna." kata Raysa.


"Ada tambahan nih, Penggunaan Mukena yang Membatalkan Shalat Aurat perempuan (yang harus tertutup) dalam shalat adalah semua anggota badan kecuali telapak tangan dan wajah. Sedangkan ketika bersujud wajah yaitu bagian dahi harus menempel ke tanah dalam pandangan Mazhab Syafi’i.l, dalam pandangan mazhab Syafii, terhalangnya telapak tangan, dahi dan anggota sujud lainnya oleh sesuatu yang bergerak (pakaian) maka membuat salat tidak sah. Dalam kitab Fathul Mu'in, Syekh Zainuddin Al-Malibari menulis, 'Jika seseorang sujud di atas sesuatu yang bergerak karena gerakannya misalnya seperti ujung serban. Maka, salatnya menjadi tidak sah. Oleh sebab itu, jika sujud di atas ujung serban tersebut, maka salatnya batal terlebih jika seseorang itu dengan sengaja dan tahu akan keharamannya. Akan tetapi, jika ia tidak sengaja maka ia mengulang sujudnya.'


"Dalam tradisi masyarakat kita, rata rata mukena menjadi busana mayoritas yang dipakai perempuan ketika shalat. Baik mukena terusan yang bersambung dari atas hingga bawah (tidak terpotong), maupun mukena potongan yang terbagi atasan dan bawahan, sama-sama memiliki kekurangan, yaitu terutama pada bagian lengan dan telapak tangan, bisa jadi lengan yang terlalu panjang ataupun ruang telapak tangan yang terlalu lebar, menutupi telapak tangan yang sunnahnya menempel terbuka pada lantai (alas shalat semisal sajadah) ketika bersujud. Demikian juga dengan bagian muka. Terkadang asesoris yang berlebihan dalam mukena yang terpasang di bagian muka, menghalangi jidat menempel di alas shalat ketika sujud. Sungguh yang demikian ini dapat menyebabkan shalat tidak sah


"Oleh karena itu, hendaklah bagi perempuan untuk berhati-hati memakai mukena, dikarenakan jika sampai ada bagian dari mukena yang menutupi bagian muka (jidat) ketika bersujud, maka sujudnya dianggap tidak sah dan secara otomatis shalatnya pun tidak sah, karena sujud adalah bagian dari rukun shalat."


"Imam Taqiyuddin Asy-Syafi’i dalam Kifayatul Akhyar memberi penjelasan mengenai masalah tersebut,


فَلَو سجد على جَبينه أَو أَنفه لم يكف أَو عمَامَته لم يكف أَو على شدّ على كَتفيهِ أَو على كمه لم يكف فِي كل ذَلِك إِن تحرّك بحركته


Artinya, Ketika seseorang bersujud dengan dahi dan hidung tidak menempel ke tanah (alas shalat) maka tidak sah, atau bersujud diatas serban (yang merupkan bagian dari busana) maupun lengan baju yang sedang ia pakai juga dianggap tidak sah, karena kesemuanya itu menempel dengan badan."


"Dengan artian apa saja yang sedang dipakai seseorang dalam shalat seperti mukena, serban, peci dan lain-lain yang menghalangi dahi menempel ke alas shalat ketika bersujud maka tidak sah, sedangkan untuk sajadah dan serban yang sengaja digunakan sebagai alas sujud maka tidaklah mengapa, karena tidak termasuk sesuatu yang ia pakai yang tidak mengikuti gerakan dalam shalat sebagai mukena."


"Maka dari itu ustadzah bilang buat para ikhwan kalo mengenakan peci sedikit dikeataskan." jelas Raysa.


"Wallohu'alama kita akhiri dengan membaca hamdalah." kata Raysa.


"Alhamdulillahir robbil 'alamiin." ucap semua.


"Assalamu'alaikum." ucap Raysa yang langkah demi langkahnya keluar kelas.


"Wa'alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh." jawab semua


happy reading salam sayang dari author

__ADS_1


jangan lupa like vote comen


maaf kalo banyak salahan


__ADS_2