
Keesokan harinya Acha yang sudah meminta ijin ke pihak warga terutama Pak Lurah untuk membuat kelas alam di taman komplek, setelah mendapat ijin Acha langsung ke kampung sebelah memanggil anak anak untuk membantu menghiasi tempat yang akan mereka gunakan untuk belajar.
Semua anak anak membantu mempersiapkan, Liani, Rizki dan Muza ikut serta membantu, taman sudah di penuhi hiasan hiasan, meja, alat tulis dan kursi, semua anak bergembira.
Setelah taman selesai di hiasi Pak Lurah meresmikan sekolah alam gratis untuk anak anak tak mampu, ucapan ucapan syukur di lantunkan dalam penyambutan.
Setelah acara selesai semuanya pergi kembali kerumah nya masing masing, kecuali Acha dan anak anak.
"Bu guru kapan kita belajar?" kata Farha anak berusia 10 tahun.
"Kita mulai belajar besok ya." kata Acha mengusap lembut pipi Farha.
"Asik." sorak Anak anak bergembira.
"Ya sudah, sekarang Kalian boleh pulang dan istirahat supaya besok belajarnya semangat." kata Acha.
"Siap bu guru, assalamu'alaikum." kata Anak anak yang mencium punggung tangan Acha.
"Wa'alaikumussalam, hati hati yah." kata Acha.
"Iya Bu guru." kata Anak anak dan langsung berlarian.
Acha tersenyum sembari memandangi langkah demi langkah mereka yang semakin menjauh dan punggung mereka mengilang perlahan dihadapan Acha.
"Wah kayanya seru nih ngajar, anak anak semangat sekali buat belajar." kata Muza.
"Eh Bang Muza, iya Bang tanpa kita sadari banyak banget anak di luar sana yang pengen dapet pendidikkan, kobaran semangatnya sangat besar." kata Acha.
"Iya benar, ide kamu keren tau Cha semoga sukses selalu." kata Muza.
"Aamiin makasih Bang atas do'a nya." kata Acha.
"Kalo ada waktu luang boleh dong saya bantu ngajar di sini." kata Muza.
"Boleh banget apalagi kalo sampe luangin waktu." kata Acha.
"Hehe iya in syaa Alloh," kata Muza.
"Mau pulang Cha?" kata Muza.
"Iya Kak tapi kaya nya mau ke pak Satpam komplek dulu, buat amanahin jagain taman ini." kata Acha.
"Yaudah ayo." kata Muza.
"Hah iya." kata Acha.
Langkah demj langkah mereka pun terhenti di depan pos Satpam.
"Assalamu'alaikum?" kata Mereka.
"Wa'alaikumussalam warohmatulloh." jawab Satpam.
"Pak, Saya kesini mau amanahin Bapak, kalo keliling nanti sering sering cek taman ya, soalnya sekarang taman jadi kelas alam sekolah gratis untuk anak yang tak mampu." kata Acha.
"Siap in syaa Alloh." kata Satpam.
Terlihat dua orang anak kecil laki laki dan perempuan yang duduk tersandar di pinggir pos Satpam, anak laki laki yang berumur 12 tahun dan anak perempuan yang berumur 9 tahun, anak anak itu bergembira saat mendengar ada kelas gratis, Acha langsung menghampiri mereka karena menyadari keberadaan mereka.
"Itu siapa Pak?" tanya Acha.
"Nggak tau, sudah 1 minggu mereka tidur di situ." kata Satpam.
"Mereka sudah makan?" kata Muza.
"Alhamdulillah kalo pas pagi sudah, setiap ada jatah makan, Saya bagi tiga dengan mereka." kata Satpam.
__ADS_1
"Maa syaa Alloh pak." kata Acha.
"Iya ini udah siang pasti mereka sudah lapar lagi, sedangkan jatah makan siang belum dikirim kemari." kata Satpam.
"Bang." kata Muza melambaikan tangan.
"Mau beli Ustadz?" kata Abang ketoprak menghampiri dan berhenti di luar gerbang komplek.
"Iya bang, 5 piring ya." kata Muza menghampiri.
"Pedes nggak Tadz?" kata Abang ketoprak.
"Um 2 jangan pedes, yang 3 sedang aja, nanti bawa ke pos Satpam aja." kata Muza.
"Iya Tadz beres deh." kata Abang ketoprak.
Setelah ketoprak di sajikan, Abang ketoprak segera membawa satu persatu ketoprak, dan Muza langsung membantu membawa ketoprak.
"Yang nggak pedes yang mana?" kata Muza.
"Yang ini sama yang ini." kata Abang ketoprak.
"Dek sini makan." kata Muza.
Kedua anak itu sedikit canggung, Muza langsung menghampiri dan mengajak nya bergabung untuk makan, Mereka pun segera menyantap makanan dengan lahap, Acha dan Muza yang melihatnya menjadi sangat Iba.
"Enak gak?" kata Muza diangguki kedua anak itu.
"Adek sudah habis, masih laper?" kata anak laki laki itu pada anak perempuan, anak perempuan itu hanya mengangguk, dan kemhdian anak laki laki itu memindahkan ketoprak yang ada di piring nya ke piring anak perempuan itu.
"Nah habiskan ya, kakal sudah kenyang." kata anak laki laki itu.
"Kalian adik kakak?" kata Muza diangguki mereka berdua.
"Nama kalian siapa?" kata Acha.
"Kalian tinggal dimana?" kata Acha.
"Kami tinggal di tempat yang menurut Kami nyaman dan aman." kata Azam.
"Orang tua kalian dimana?" kata Satpam.
Mendengar itu mereka berdua tertunduk sedih.
"Eh maafin, Bapak gak maksud bikin kalian sedih." kata Satpam.
"Iya tidak mengapa Pak, Kami tidak bersedih kok, walau tidak ada orang tua tapi kami masih punya Allah, lihat makanan ini, Kami bisa memakan nya karena ijin dari Allah, makanan ini dari Allah dikirim melalui pernataranya yaitu Bapak dan Kakak kakak ini." kata Azam.
Butiran kristal bening jatuh membasuhi pipi Acha dan Muza, rasanya seperti tertampar mendengar seorang anak yang mengatakan itu.
"Sungguh rasa Syukur Kalian sangat besar, Kalian menempatkan Allah di setiap perjalanan Kalian." kata Acha.
"Jadi kalian gak punya orang tua?" kata Muza.
"Iya dulu Kami punya pahlawan super yang selalu menajga dan merawat Kami, Ibu sangat mencintai Ayah, tapi setelah mendengar kematian Ayah ibu jadi depresi dan Ibu pergi entah kemana, sekarang kami mencari Ibu, tapi kami tersesat disini, ini kota yang asing bagi Kami." kata Azam.
"Jadi kalian lagi cari Ibu kalian." kata Muza diangguki mereka.
"Kalian tinggal disini aja dulu di pos Satpam bareng Bapak, kalo Kalian mah, kan Kalian sering Bapak tawarin tapi nggak mau." kata Satpam.
"Tapi kata Ibu Kami tidak boleh sembranagan mengikuti perintah seseorang yang baru Kita kenal apalagi tidak kenal." kata Azam.
"Tapi kan sekarag Kita udah teman." kata Muza diangguki mereka.
"Jadi Kalian mau kan tinggal di sini, Nanti Kita Cari Ibu kalian bareng bareng." kata Acha.
__ADS_1
"Beneran Kak?" kata Mereka bergembira.
"Iya, tapi ada Syarat nya." kata Acha yang membuat mereka berdua keheranan.
"Syarat?" kata Naura.
"Iya, mau gak?" kata Acha.
"Apa syaratnya Kak? kalo sulit Kami nggak sanggup." kata Azam.
"Kalian berdua harus ikut belajar bareng anak anak lain nya di sini." kata Acha.
"Belajar Kak?" kata Azam bahagia diangguki Acha.
"Mau banget Kak, dari dulu kami memimpikan bisa belajar dan sekolah." kata Azam.
"Oke deh, besok sudah di mulai belajar nya, jangan lupa kalian dateng ya, ke taman komplek, di sana." kata Acha menunjuk ke arah depan.
"Iya Kak siap." kata Azam dan Naura semangat.
"Kakak yang mengajar?" kata Azam diangguki Acha.
Acha mendapat pesan dari Uma nya agar segera pulang.
"Ustadz Acha pulang duluan ya, Uma udh WA." bisik Acha diangguki Muza.
"Yaudah Kakak pamit pulang, sampai bertemu di sekolah." kata Acha.
"Siap Ibu guru." kata Mereka berdua.
Muza segera membayar semua ketoprak.
"Ustadz makasih yah traktirannya." kata Satpam.
"Iya Pak, duluan ya Pak, assalamu'alaikum." kata Muza dan langsung pergi.
"Wa'alaikumussalam jangan bosan bosan ya." kata Satpam terkekeh.
"Haha iya Pak siap." kata Muza.
"Jadi Kakak ini Ustadz." gumam Azam.
"Ustadz?" kata Azam yang membuat langkah Muza terhenti dan langsung menengok ke belakang.
"Makasih, semoga Allah membalas semua kebaikan Ustadz." kata Azam.
"Terimakasih kembali, aamiin, duluan ya jaga diri Kalian, pak nitip ya." kata Muza.
"Iya siap Ustadz." kata Satpam.
Muza pun langsung bergegas pergi.
"Mereka berdua baik banget ya Pak, pasti anak nya beruntung dapet orang tua seperti mereka." kata Azam yang membuat Satpam terkekeh, Axam hanya menatap heran.
"Mereka bukan suami istri, Ustadz Muza belum menikah, dan Ustadzah Acha sudah tapi 6 bulan yang lalu suami nya meninggal dunia." kata Satpam.
"Innalillahi semoga Ustadzah Acha mendapat pengganti yang lebih baik, aamiin." kata Azam.
Beberapa menit kemudian Adzan dzuhur pun berkumandang.
"Alhamdulillah." ucap Mereka.
"Yuk Shalat." kata Satpam.
"Tapi pak baju Kami kotor." kata Azam.
__ADS_1
"Yaudah kalian pake baju Bapak aja coba, nanti kalo ada rezeki Bapak belikan." kata Satpam diangguki Mereka.