MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 68


__ADS_3

"Pas tadi siang, Saya memberitahukan hasil istiqoroh saya pada Abi, dan Saya siap meminang Raysa." kata Ustadz Rayis.


Ustadz Rayis pun bercerita.


Flash on


"Jadi gimana hasil nya." Kata Ustadz Fatih.


"Rayis?" kata Ustadz Fatih.


"In syaa Allah Rayis menerima pernikahan ini." kata Ustadz Rayis.


brugkkkk


Kitab yang Acha pegang terjatuh.


"Astaghfirullah Cha, ini kitab loh." kata Liani membereskan.


"Astaghfirullah." kata Acha langsung membereskan kitab kemudian langsung pergi tanpa pamit.


"Cha..?" kata Liani.


"Eh minum dulu nih makan kuenya juga.." kata Shilla yang membawa nampan berisi air dan kue Liani hanya mengambil Air gelas kemasan.


"Makasih Kak." kata Liani tersenyum.


"Achanya mana?" kata Shilla.


"Achanya tadi duluan Kak." kata Liani.


"Loh kenapa?" kata Shilla.


"Ada panggilan alam kayanya." kata Liani.


"Ouhh, yaudah bawa aja ini." kata Shilla memasukan kue ke box.


"Makasih kak, Liani pamit, assalamu'alaikum" kata Liani.


"Wa'alaikumussalam, makasih juga yaa." kata Shilla.


"Iyaa kak." kata Liani.


Flash off


"Saya yang melihat tingkah aneh Acha dan terlihat kekecewaan di mata Acha.." kata Ustadz Rayis.


Flash on


"Bi, Rayis pamit sebentar." kata Ustadz Rayis.


"Kemana?" kata Ustadz Fatih.


"*Ada urusan sebentar." kata Ustadz Rayis dan diangguki Ustadz Fatih.

__ADS_1


"Raysa Saya tinggal dulu." kata Ustadz Rayis dan di angguki Ustadzah Raysa.


Flash off*.


"Saya pun mengikuti Liani, sampai akhirnya.." kata Ustadz Rayis.


Flash on


Terdengar isak tangisan seorang gadis.


"Chaa..?" kata Liani memeluk Acha.


"Lii, dua kali Allah patahkan harapan Acha." tangis Acha di pelukan Liani.


"Syutt jangan bilang seperti itu, Allah nggak salah dalam hal ini, kita yang salah, karena terlalu berharap pada manusia, sesungguhnya harapan yang tidak akan mengecewakan hanya harapan kepada Allah, jangan nangis Cha..Aku nggak bisa liatnyaa" laiani yang ikut nangis.


"Tapi bang ustadz jahat.." kata Acha menangis.


"Acha tuluskan mencintai ustadz Rayis?" kata Liani menangis dan di angguki Acha yang masih menangis dipelukan Liani.


"Kalo begitu ikhlaskan, biarkan perjuangan Acha berakhir dengan pengorbanan, korbankan hasrat Acha untuk memiliki Ustadz Rayis, masa iyaa Acha hancur disaat orang yang Acha cintai bahagia, harus nya Acha lebih bahagia." kata Liani.


"Acha bahagia kok, tapi hati Acha masih belum menerima." kata Acha menangis.


"*I*stighfar Cha, semuanya udah qodarullah, Acha taukan kalo Allah ngusir hambanya yang tidak mau menerima taqdir kan pernah minta sama Allah suapaya diberikan jodoh yang terbaik, mungkin Ustadz Rayis bukan yang terbaik buat Acha, dan asal Acha tau Allah akan menggantikan yang hilang dengan yang lebih baik lagi." Liani dan Acha mengangguk di pelukan Liani.


"Sekarang Acha jangan nangis." kata Liani menghapis air mata Acha.


"Tarik nafas.." kata Liani tarik nafas Acha pun mengikuti.


"*H*uufttt... Astaghfirullah." kata Acha menghembuskan nafas sepanjang panjang nya.


"Sekarang kita teriak bareng yah." kata Liani dan diangguki Acha.


Flash off


"Dari situ Saya langsung pergi dengan rasa bersalah, Saya sudah membuat seorang wanita menangis karena Saya.." kata Ustadz Rayis.


"Ustadz harus yakin kepada sang pemilik hati, mungkin saja Allah telah membuat Acha ikhlaskan." kata Muza dan di angguki Ustadz Rayis.


Adzan Isya pun berkumandang.


"Eh udah adzan, yuk ke masjid.." kata Ustadz Rayis.


Mereka pun ke masjid begitu pula para santri.


Shalat berjama'ah pun selesai semua santri kembali ke kamar masing masing karena latihan qori' diliburkan.


......................


Muza dan Ustadz Rayis duduk di depan rumah Ustadz Fatih, menunggu Acha, terlihat sekelompok santri putri.


"Li..? Sini." Panggil Muza.

__ADS_1


Liani dan sahabatnya menghampiri Muza Dan Ustadz Rayis, Mereka hanya menyatukan tangan Mereka.


"Yaudah Kami duluan ya Li, Ustadz." Kata Rasi diangguki oleh Liani, Muza, dan Ustadz Rayis.


......................


Setelah teman teman Liani pergi.


"Acha kemana? Beliau tidak berjama'ah?" kata Ustadz Rayis.


"Iyaa Ustadz, Acha sakit dan tidak mengikuti jama'ah Maghrib dan Isya, tapi sudah izin ke Kak Shilla kok." kata Liani.


"Sakit apa?" kata Ustadz Rayis.


"Haduh Ustadz Rayis pake introgasi segala, masa iya Aku bilang gegara masalah tadi siang." batin Liani.


"Li..?" kata Muza yang menyadarkan Lamunan Liani.


"..Ustadz Rayis nanya itu." Lanjut Muza.


"Eh afwan Ustadz, iyaa sakit, demam Ustadz." kata Liani.


"Sudah minum obat?" kata Ustadz Rayis.


"Iyaa sudah Ustadz." kata Liani.


"Beliau kuat buat jalan?" kata Muza.


"Iyaa in syaa Allah Bang." kata Liani.


"Tolong sampaikan pada beliau, agar segera keruangan Saya." kata Ustadz Rayis.


"Na'am Ustadz, Liani permisi, assalamu'alaikum." kata Liani menyatukan tangan dan langsung pergi.


"Wa'alaikumussalam warohmatullah." jawab Muza dan Rayis.


......................


Sesampainya di kamar Acha yang sedang berbaring di atas Sajadah.


"Assalamu'alaikum." kata Liani masuk.


"Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh." jawaban yang semangat dari teman teman nya.


"Chaa..?" panggil Liani.


"Kenapa Li?" kata Acha.


"Acha masih sakit?" kata Liani.


"Alhamdulillah udah mendingan." kata Acha.


"Kalo jalan kuat gak?" kata Liani.

__ADS_1


"In syaa Allah kuat, alhamdulillah lemesnya udah berkurang kok, emang kenapa?" kata Acha.


__ADS_2