
Langkah Muza terhenti, karena mendengar lantunan ayat suci yang merdu, yang tak lain adalah lantunan dari Acha.
"Maa syaa Allah, begitu tenang nya hati Ku mendengar lantunan seindah ini." Batin muza yang berdiri dekat pintu kedua (pintu untuk masuk kaum santriwati) dari masjid bawah.
"Maa syaa Allah ning enak tenan suarane, eh tapi lebih enak suara Ku ya gak Ki?" kata Faziel yang so soan logat jawa.
"Apaan sih.." kata Muza.
"Dih gituan, iya ke buat nyenengin hati sahabat, dapet pahala loh." kata Faziel.
"Iya in deh." kata Muza.
Acha yang sedang mengaji dan menyadari pujian itu langsung berhenti, dan pura pura menatap sinis, untuk menutupi rasa malu mengingat pas di tempat wudhu.
"Eh Alki sama Faziel udah dimana? Ada sebagian Santriwan baru yang menunggu pengen mengaji ke Antum." kata Shilla.
"Ini nih Shil nganter Alki ketempat wudhu jam nya ketinggalan." kata Faziel seakan tak mau disalahkan.
"Dihh siapa coba yg mau nganterin pas tadi." kata Muza membela diri.
Acha yang reflek hanya terkekeh melihatnya.
"Eh teteh kenapa ketawa, ngebales Saya yah pas tadi gara gara Saya ngetawain teteh, pas teteh jatoh yaa.." sindir Faziel terkekeh.
Acha hanya membulatkan matanya dan langsung mengarah ke Al quran.
"Eh sembarangan ngetawain orang jatoh." kata Cilla.
"Emang kenapa teh, hah." kata Faziel.
__ADS_1
"Eh Kamu, mau cari masalah sama saya." kata Cilla berdiri.
"Ayo siapa takut." kata Faziel.
"Eh udah udah, malu udah gede." kata Shilla.
......................
"Iyaa, kaya bocil, yaudah Kami duluan." kata Muzaa menarik Faziel, menghindar dari perdebatan.
"Shodaqollahul'adzim." ucap Shilla, dan Acha pun mengucap ulang.
"Yaudah kita mending ke masjid atas, sambil nunggu isyaa ajak Shilla.
"Kak kenapa Kita gak ngaji di masjid atas aja." tanya Acha penasaran.
"Iyaa bener tuh." kata Mereka yag menyetujui pertanyaan Acha.
Langkah demi langkah menaiki tangga.
......................
Mereka pun sampai di masjid atas.
"Jadi Umi kak Shilla mau nya gitu gak harus naik tangga dulu." jelas Shilla.
"Apa masalah nyaa kak?" tanya Cilla penasaran.
"Jadi gini santri santri disini kalo mau ngaji berlarian karena takut guru duluan yang datang." jelas Shilla.
__ADS_1
Mereka hanya mengerutkan alis karena heran.
"Jadi gini kalo guru yang nungguin Kita itu bukan akhlak santri, jadi sebagai santri maka Kita yang harus nungguin guru." jelas Shilla yang mengerti ekspresi Mereka.
"Owh gituu, pantesan pada awal awal, baruu tauu hehe." kata Rasi.
"Iya gak papa yang penting udah tau kan." kata Shilla.
"Iya kak." kata Mereka.
"Eh terus kak pas tadi Puput liat santriwan pas ada Ustadz Rayis baru datang Mereka yg sedang jalan di depan berhenti bersalaman dan menunggu Ustadz Rayis berjalan di depan juga." kata Puput.
Acha yang mendengar nama Ustadz Rayis hatinya gembira bahagia dan bibirnya pun tersenyum refleks, tiada yang merhatikan senyumannya.
......................
Acha pun tersadar dari lamunannya itu karena ada yang memerhatikan Mereka di balik pintu dan Acha langsung berekspresi datar.
"*A*staghfirullah Cha, Cha, obsesi Lu masi ada kali ya." bantin Acha.
"Jadi itu juga di anjurkan disini Kita tidak boleh mendahului guru, saat Kita sedang berjalan Kita harus berjalan di belakang guru, jadi kalo kita sedang jalan dan dibelakang Kita ada guru kita harus berhenti dulu dan membiarkan guru berjalan didepan Kita, itu salah satu adab kepada guru." kata Shilla.
"Owhh gitu yaa kak pantesan, pas Aku kesini kak Muzaffar di suruh manggil Ustadz Fatih, dan kak Muza jalan di belakang Ustadz Fatih." kata Acha dan menyadari ada senyuman dibalik pintu.
"Kenapa Cha?" tanya Shilla yang menyadari bahwa Acha terfokus kearah pintu.
"Itu tu kak kaya ada orang di depan pintu." kata Acha sambil mengisyaratkan dengan melirik ke arah pintu.
"Iyaa.. siapa yaa itu." kata Shilla sambil berusaha melihat karena kaca nyaa berwarna hitam.
__ADS_1
'Kau senantiasa menari di dalam hatiku, meski tak seorang pun melihat-Mu, dan terkadang aku pun ikut menari bersama-Mu.'
❤Jalaluddin Rumi❤