MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 125


__ADS_3

Tok tok tok...


Rafan mengetuk pintu rumah.


"Assalamu'alaikum? Sayang ini Aku, buka pintunya." kata Rafan.


Shilla yang sedang duduk di sofa memainkan handhpone.


"Wa'alaikumussalam warohmatulloh, sebentar." kata Shilla


Krek krek kunci pintu di buka, Shilla pun bergegas membuka pintu.


"Ustadz." kata Shilla mencium punggung tangan Rafan.


Rafan mengusap lembut kepala sang istri.


"Kamu belim tidur?" kata Rafan merangkul bahu Shilla dan masuk kedalam.


"Belum, kan nungguin ustadz." kata Shilla.


"Umm...perhatiannya." kata Rafan.


"Tar shilla ambil minum dulu," kata Shilla bergegas ke dapur.


"Eh mau minum apa tuan?" kata Shilla berbalik.


"Saya mau minum kopi hitam saja," kata Rafan.


"Siap tuan tunggu sebentar." kata Shilla.


"Hey nona?" goda Rafan.


"Iya tuan." kata Shilla terkekeh.


"Gulanya jangan banyak banyak, takutnya orang manis ini tambah manis." kata Rafan terkekeh.


"Percaya tuh orang manis mah nggak bakal suka ke yang rasanya manis manis, kaya Shilla." kata Shilla terkekeh dan langsung pergi ke dapur.


Shilla pun segera memracik kopi hitam.


"Ini dia tuan." kata Shilla memegang nampan.


"Tuan?" kat Shilla yang melihat ketidak beradaan Rafan di sofa.


"Aih Ustadz kemana ya?" kata Shilla melirik sana sini


Shilla pun meletakan secangkir kopi di atas meja.


"Dar..." kata Rafan.


"Astaghfirulloh... yaa Alloh yaa Alloh." kaget Shilla.


"Yaa Alloh ustadz ngagetin Shilla aja." rengek Shilla.


"Hehe yaa maaf, abis nya serius banget, nyari siapa?" kata Rafan.


"Nyari ustadz, ustadz abis dimana?" kata Shilla.


"Ganti baju." kata Rafan.


"Owh iya pinter ternyata." kata Shilla.


"Iyaa dong." kata Rafan duduk ke sofa.


Shilla mengikuti dan duduk di samping nya.


"Ini kopi nya." kata Shilla menyuguhkan secangkir kopi.


"Wah maksih sayang." kata Rafan.


Rafan langsung meneguk kopi, Shilla hanya menatap wajah teduh milik sang suami.


"Gimana terlalu manis apa terlalu pahit?" kata Shilla.


"Rasanya terlalu manis jika kopi ini di minum sembari memandang wajah mu nona." goda Rafan.

__ADS_1


"Hmmm..." Shilla percaya tak percaya akan gombalan sang suami.


"Iya seriusan, bagaimana secangkir kopi tidak terasa nikmat sedangkan yang membuat nya penuh cinta." kata Rafan.


"Itu lah cinta, kopi yang pahit pun menjadi manis karena cinta, cinta nya sang gula, yang tetap rela melarut walau pengorbanannya tak dianggap, hanya demi pujian untuk sang kopi." kata Shilla.


"Hoam..." Shilla yang sudah terlihat mengantuk.


Rafan menyenderkan kepala Shilla ke bahu nya.


"Udah malem, cepet bobo istriku sayang." kata Rafan mengelus kepala Shilla.


"Lain kali kalo emang suami mu ini pulangnya malem banget, tidur duluan aja jangan nungguin ustadz, jaga kesehatan." kata Rafan.


"Iya siap tuan." kata Shilla terkekeh.


................


Dikamar, Acha dan teman temannya sudah mebaringkan diri.


Ririn dan Rasi sudah masuk ke alam mimpi.


"Et dah langsung tidur aja ni anak." kata Liani.


"Haha udah nggak bisa nahan kantuk mungkin." kata Acha.


"Aduh ngatuk banget udah lima watt ini mata." kata Cilla.


"Ya udah cepet tidur atuh." kata Putri.


"Dih barusan tadi pada ngomong, sekarang udah pada tidur?" kata Acha keheranan.


"Udah Acha cepet bobo." kata Liani.


"Lili juga tuh." kata Acha.


"Iya ini juga mau bobo kok." kata Liani menarik selimut.


"Li?


"Lili beneran tidur?" kata Acha.


"...."


"Lah cepet baget pada tidurnya." gumam Acha.


Mata Acha masih terbuka, Acha melirik sesekali ke jam dinding.


"Udah jam sebelas malam, kenapa ini mata nggak bisa tidur? Hati pun gelisah, padahal sholat isya udah, kan biasanya yang tidurnya nggak tenang itu yang belum sholat isya." batin Acha.


Angin bertiup sepoy sedikit masuk melalui jendela membuat Acha merinding.


"Yaa Alloh dingin banget merinding pula." gumam Acha.


Acha menutup seluruh tubuh nya pakai selimut.


"Baca bacaan aja Cha, Allohulaaa ilaa ha ila huwal hayyul qoyyuum...." gumam Acha di balik selimut sembari membaca ayat kursi dan suroh suroh.


Krek...


Suara jendela tertiup angin, yang memang engsel jendelanya sudah loncer.


"Haa astaghfirulloh, kalo malam kerasa horor banget, yang lain udah pada tidur lagi." gumam Acha.


"Ayo Cha beraniin dong, beraniin." batin Acha.


Terdengar langkah kaki semakin mendekat.


"Ada orang tuh Acha beraniin liat ke luar ah." kata Acha membuka selimut yang menutupi wajahnya.


"Eh tapi gimana kalo bukan manusia." kata Acha menatap langit.


Tok tok tok...


Ketukan pintu yang menyadarkan lamunan Acha.

__ADS_1


Acha hanya membulat kan matanya kaget plus was was.


"S s si.. Siapa?" kata Acha.


"Rahma Cha." sahut nya.


"Rahma? Hufthh." gumam Acha bembuang nafas lega.


"Bentar." kata Acha menuju pintu.


Krek...


Pintu kamar dibuka.


"Rahma..." kata Acha memeluk Rahma.


"Ih apaan sih Cha kaya orang udah lama gak ketemu aja." kata Rahma melepas pelukan.


"Ih Rahma mah, dari tadi Acha nggak bisa tidur, Rahma belum tidur?" kata Acha.


"Belum kan tugas keamanan jaga." kata Rahma.


"Lah kok Ririn tidur." kata Acha.


"Bukan jadwal nya, hari ini jadwal Rahma Lasma sama Mega." kata Rahma.


"Ouh, Rahma mau ngapain ketok pintu?" kata Acha.


"Itu jendela belum kekunci masih kebuka, lupa ya kalian." kata Rahma.


"Owh iyaa Astaghfirulloh belum di kunci." kata Acha.


"Lain kali jangan teledor gimana kalo ada yang jahil, ini kamar ujung loh gampang buat di jahilin." kata Rahma.


"Iya siap gak bakal teledor." kata Acha.


"Yaudah Rahma ke pos keamanan, Acha cepet tidur, semoga mimpi indah, assalamu'alaikum." kata Rahma.


"Wa'alaikumussalam warohmatulloh." jawab Acha.


Rahma pun langsung pergi, langkah demi langkah nya mulai menjauh, melihat itu Acha segera masuk dan menutup pintu.


"Nah gara gara kamu nih, Acha mikir sana sini was was tau." omel Acha pada jendela.


Acha pun langsung menutup jendela.


Selembar kertas terjatuh karena tertiup angin yang masuk lewat sela sela jendela.


"Apa ini?" gumam Acha.


Acha mengambil selembar kertas itu.


"Owh surat dari si pengagum rahasia." kata Acha.


"Eh iya apa kabar dengan surat pas tadi siang, di bawa nggak yah sama Liani." gumam Acha.


Acha pun menuju ke arah lemari Liani.


Terdapat selembar kertas di atas lemari liani.


"Mungkin ini kali ya." gumam Acha mengambil selembar kertas itu.


Acha pun segera menuju kasurnya dan terduduk.


Acha langsung memperhatikan kata perkata untuk membandingkan kedua surat itu.


"Isi surat nya memang beda banget, dari si pengagum rahasia sangat romatis juga pengertian sepertinya memiliki hati yang lembut." gumam Acha.


"Dari si penggemar rahasia, ini seperti teror an tan pemaksaan, dan sepertinya orang ini punya hati yang kasar dan pendendam, eh astaghfirulloh jangan asal nilai orang Cha." gumam Acha.


"Penggemar rahasia? pengagum rahasia? Entah lah bingung siapa mereka, apakah mereka masih satu orang yang sama atau kah... Orang yang berbeda?" gumam Acha.


Acha membaringkan tubuhnya di atas kasur.


"Nggak deh, kalo mereka satu orang yang sama, kata kata suratnya pasti tidak akan bertolak belakang seperti ini, masa iya satu orang yang sama... Ah udah ah bisa jadi juga mungkin dia labil." gumam Acha.

__ADS_1


Tak terasa Acha mulai memejamkan matanya dan Acha pun masuk ke alam mimpi.


__ADS_2