MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 147


__ADS_3

6 bulan berlalu kini anak anak sudah lancar membaca dan rapih dalam menulis, meski ada beberapa bagian anak yang belum bisa karena usianya yang paling muda dari semua, salah satunya Niza murid termuda terimut, terlucu dan jarang bicara di kelas, Niza masih sulit dalam menulis, terkadang tulisan nya sering telbalik, Acha selalu memperhantikan nilai Niza yang bagus di dalam bidang seni menggambar.


Dikelas hari ini pembelajaran di ajar oleh Muza, Muza sedang menerangkan, murid murid memperhatikan Muza dengan serius.


Waktu istirahat telah tiba, seperti biasa makanan dan minuman dibagikan pada para Murid, semua anak langsung mencari tempat yang nyaman untuk makan.


Terlihat Niza yang sedang jongkok menyendiri, melihat itu Muza segera menghampiri Niza, terlihat Niza yang sedang menulis di tanah menggunakan telunjuk tangannya.


"Eh Niza lagi bikin apa?" kata Muza.


"Niza lagi nulis Ustadz." kata Niza.


Sontak Muza melihat kearah tanah, terlihat tulisan huruf R, C, Z, dan angka 2, 3, 4, 5 yang terbalik.


"Bukan seperti ini nulisnya." kata Muza yang menulis di tanah dengan telunjuk tangannya, Nizam memerhatikan dengan cermat.


"Coba tiru sama Niza" kata Muza diangguki Niza.


Niza segera menulis di tanah apa yang Muza contohkan dengan jari telunjuknya.


"Sekarang Niza makan dulu ya keburu masuk belajar lagi." kata Muza diangguki Niza.


Niza mengarahkan sendok ke arah air pancur taman yang jauh dari posisinya dan seperti sedang bermain, kemudian sebagian teman teman nya mengejek Niza, Niza hanya menghiraukan dan langsung menyantap makanan, menyaksikan tingkah Niza itu Muza hanya tersenyum menggeleng.


"Niza? makan nya sudah habis?" kata Muza diangguki Niza.


"Sekarang kembali ke tempat duduk Kamu ya." kata Muza diangguki Niza.


Niza bergegas melangkah ke tempat duduknya, dan selalu memandangi selembar kertas yang ada di atas mejanya.


"Eh Zam, tadi Ibu Acha chat Ustadz nyuruh Kamu kerumahnya, mau minta tolong katanya." kata Muza.


"Na'am Ustadz, Azam ijin ya, assalamu'alaikum." kata Azam mencium punggung tangan Muza.


"Wa'alaikumussalam, hati-hati." kata Muza.


"Iya Ustadz." kata Azam.


Azam pun bergegas pergi, langkah demi langkahnya mulai menjauh dan punggungnya mulai menghilang dari pandangan Muza.


"Nah sekarang tugasnya, menggambar alam, jadi kita akan pergi ke luar komplek." kata Muza.


"Hore." sorak gembira para Murid.


"Tapi sebelum itu kita main tebak-tebakan dulu, siap ya." kata Muza diangguki para Murid.


"Apa bahasa inggrisnya kupu-kupu? yang bisa tinggal tulis kedepan." kata Muza.


Para Murid kebingungan saling menatap satu sama lain mencari jawaban, Niza hanya tertunduk dan terlihat bibirnya seperti bergumam sesuatu.


"Niza kamu kenapa, kamu tau jawabannya?" kata Muza yang membuat Niza sontak terkaget.


"Bu-Butterfly Ustadz." kata Niza gugup dan di tertawakan teman temannya yang membuat Niza kembali tertunduk.


"Eh sudah sudah jangan tertawa berlebihan itu nggak baik." kata Muza yang membuat Mereka langsung terdiam.

__ADS_1


"Niza jawaban Kamu benar sekali, tolong tuliskan ke depan." kata Muza.


Niza terlihat kaget dan gugup, Niza maju kedepan dengan tertunduk, perlahan langkah kakinya maju ke depan untuk melaksanakan perintah dari sang guru, spidol di genggamnya terlihat bergetar.


"Tenang ya jangan gugup, silahkan tulis." kata Muza.


Niza segera menulis, setelah menulis teman teman nya menertawakan Niza karena Niza menulis dengan terbalik, Muza hanya keheranan dengan Niza, Niza langsung bergegas duduk ketempat duduknya.


"Syut, kata Ustadz kan jangan tertawa berlebihan, ya sudah Kalian langsung berbaris di depan gerbang komplek, jangan lupa bawa alat menggambar." kata Muza.


"Na'am Ustadz." kata para Murid.


Para Murid yang semangat dan langsung berhamburan lari berbaris di depan gerbang komplek yang barisnya diatur oleh pak Joni.


Dikelas Niza yang masih terduduk memandangi selembar kertas yang sedang dipegangnya.


"Kok Acha nggak bilang ya kalo ada murid yang masih keliru dalam menulis." batin Muza yang dari tadi memandangi Niza.


Niza segera mengambil alat menggambar dan langsung pergi keluar karena menyadari bahwa Muza dari tadi menadanginya, kertas yang tadi di pandangi Niza masih tergeletak dimeja, Muza segera melangkah ke arah meja Niza dan melihat sebuah lukisan yang indah sekali.


"Maa syaa Alloh indah sekali lukisan pemandangan alam ini." gumam Muza.


"Iya Ustadz, Niza memang belum benar dalam menulis tapi Niza punya kelebihan lain, lukisannya sangat indah." kata Acha yang baru datang.


"Eh Cha Kamu." kata Muza, Acha hanya tersenyum.


"Afwan ya Ustadz ngerepotin." kata Acha.


"Eh nggak kok, kan kata Saya juga, kalo ada waktu luang Saya bakal bantuin Kamu ngajar disini." kata Muza.


"Syukron Ustadz, eh anak anak pada kemana?" kata Acha.


"Assalamu'alaikum, ini bukunya simpen dimana Ustadzah?" kata Azam yanh sedang memegang beberapa buku.


"Wa'alaikumussalam warohmatulloh." jawab Acha dan Muza.


"Owh iya simpan di meja Ibu aja, makasih ya Azam, Ibu jadi ngerepotin Kamu." kata Acha.


"Iya Bu nggak papa Azam seneng kok bantuin Ibu." kata Azam tersenyum dan langsung menyimpan buku diatas meja guru.


"Yaudah Kamu cepet nyusul teman teman Kamu," kata Acha diangguki Azam yang hendak pergi.


"Alat menggambarnya." kata Muza.


"Eh iya khilaf Azam." kata Azam segera mengambil ke mejanya.


Setelah Azam menggenggam alat gambar miliknya, Azam terdiam keheranan melihat ke arah papan board, Azam segera mendekat ke arah papam board, Muza dan Acha hanya memperhatikan gerak gerik Azam.


"Kenapa Zam?" kata Muza.


"Ini siapa yang nulis Ustadz?" kata Azam.


"Niza yang nulis." kata Muza.


"Ada yang bawa cermin?" kata Azam.

__ADS_1


"Pertanyakan hal ini pada perempuan." kata Muza terkekeh.


"Ibu bawa gak?" kata Azam.


"Bawa, tapi buat apa?" kata Acha memberikan sebuah cermin kecil yang ada di tasnya.


"Tuh kan bawa, udah kebiasaan perempuan kaya gitu." kata Muza.


"Ih usil aja Ustadz, yaudah apa salahnya, coba nanti Ustadz bawa juga, kalo gak punya tar Acha kasih, Acha ada dua di rumah." kata Acha terkekeh.


"Nggak usah, makasih loh yah." kata Muza.


"Nggak kebayang kalo Ustadz Muza bawa-bawa cermin." kata Azam terkekeh.


"Nggak boleh gitu lah Zam sama Ustadz, harusnya kamu sebagai cowo belain Ustadz." kata Muza.


"Iya-iya afwan Ustadz." kata Azam.


Azam segera mengarahkan cermin ke tulisan yang ada di papan board, Azam melihat bayangan tulisan itu di dalam cermin.


"Butterfly?" gumam Azam.


"Ada apa Zam?" kata Acha.


Acha dan Muza segera menghampiri dan melihat apa yang Azam lihat, mereka terkagum, Muza yang awalnya tak mengerti apa yang Niza tulis sekarang sudah paham, bahwa Niza menulis Butterfly dengan terbalik.


"Kenapa pas tadi Saya tidak memahami semua ini, ini adalah sebuah imajinasi tinggi, seharusnya semua tau Niza bukannya tidak bisa menulis dengan benar, tapi Niza menulis dengan melihat sudut pandang lain." kata Muza.


"Iya Ustadz dan dengan itu Niza menulis sesuatu yang bisa dilihat menggunakan Cermin." kata Azam.


"Owh iya pas tadi juga Niza mengarahkan sendok ke arah air pancur disana." kata Muza.


Azam, Acha dan Muza bergegas ke tempat dimana pas tadi Niza makan, Muza segera mempraktekkan apa yang dilakukan Niza pas tadi,


"Tadi Niza duduk disini." kata Muza duduk di tempat itu.


"Kemudian mengangkat sendok setinggi ini, eh mana sendok mana?" kata Muza.


Azam bergegas mengambil sendok miliknya dan memberikan nya pada Muza, Muza mengangkat sendok itu, dari sudut pandang lain terlihat bahwa air pancur itu mengalir dalam sendok bukan ke bak penampung, dan bunga seperti tumbuh di gagang sendok.


"Indah sekali." kata Muza.


"Apanya Ustadz?" kata Acha.


"Lihat pakai imajinasi." kata Muza.


Acha dan Azam pun segera melihat ke arah sendok yang di angkat Muza, mereka tertegun melihat pemandangan itu, terkadang imajinasi itu tidak semua orang bjsa memahaminya, hanya orang orang tertentu yang dapat melihat imjinasi.


"Maa syaa Alloh, Niza imajinasinya bagus banget, tapi orang-orang tak memahaminya." kata Azam.


"Iya Zam, terkadang begitulah manusia berkomentar, mengejek tanpa tau apa yang seseorang itu lihat, nyatanya semua imajinasi ini indah." kata Acha.


"Iya, maka dari itu Kita harus bisa melihat sesuatu dari sudut pandang orang yang kita jumpai, seperti halnya Niza, orang orang menertawakannya tapi dia tetap diam menikmati pemandangan yang dia buat melalui imajinasi, tetapi jika kita melihat Niza dengan sudut pandang Niza sendiri, hal yang Niza lihat akan terlihat oleh kita, seperti tadi kita sudah melakukan apa yang Niza lakukan dan akhirnya kita tahu apa yang Niza lihat." kata Muza diangguki Acha dan Azam.


"Yaudah ayo, kan mau melukis pemandangan alam." kata Acha.

__ADS_1


"Eh iya sampe lupa, ayo." kata Muza merangkul Azam.


Mereka langsung berjalan menuju ke depan gerbang.


__ADS_2