MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
halaman 38


__ADS_3

"Emang Kalian rumah nomor berapa?" kata Iham yang kemudian meminum kopi.


"Nomor 100 om." kata Rafan.


"Uhuk uhuk." Iham tersedak mendengar itu, dan Silfa kaget.


Dan Mereka hanya keheranan.


"Yaudah Kita pamit, assalamu'alaikum." kata Rafan.


"Wa'alaikumussalam hati hati nak." kata silfa.


Acha dan bang Rafan pun pergi.


......................


"Bang tungguin apa, jalan nya jangan cepet cepet." kata Acha yang tertinggal di belakang Rafan.


"Segini juga udah pelan Dek." kata Rafan terkekeh.


"Yaa Allah Abang tega bener harusnya adeknya yang di depan, abangnya jagain di belakang." rengek Acha .


"Rumah 103 gelap amat, Acha kan takut sama tempat gelap, hmmm.." batin Rafan merencanakan sesuatu.


"Hu uh apaan lagi tu rumah masih gelap aja." batin Acha.


"Cha buruan jalan nya Abang udah ngantuk banget nih." kata Rafan yang langkah demi langkahnya semakin cepat.

__ADS_1


"Apaan lagi bang Rafan jalan nya cepet banget sama aja kali Acha ge ngantuk, padahal jalan nya b aja gak usah cepet cepet, gak tau apa adek nya takut apalagi tu rumah..arghh kesel ah." batin Acha meledak ledak.


......................


Bertepat didepan rumah 103 Acha yang ngedumel dari tadi sampe tak menyadari ketidak hadiran Rafan di depan nya.


"I..iyaa bang.." kata Acha yang hendak berlari menyusul Rafan.


Hanya suara jangkrik dan katak yang terdengar di kesunyian malam.


"Bang? Bang rafan dimana? Abang acha takut...kok Abang gitu sih disini gelap Bang." kata Acha takut dan kemudian menangis.


"Haaa.." kaget Acha karena bahunya ada yang memegang.


"Bang Rafan.. Tolongin Acha." kata Acha menangis dan pasrah, Acha hanya tertunduk tidak mau menengok ke belakang.


"Aduhhh muless..Bang Rafan tolongin Acha, masa tega tinggalin adek nya sendirian malem malem begini." rengek Acha yang kemudian berjongkok dan memejamkan matanya.


"Nggak lah mana ada Abang tega tinggalin kamu." kata Rafan terkekeh.


"Haa." kaget Acha plus bahagia dan langsung berdiri.


"Abang.. Abang kemana tadi." kata Acha memeluk Rafan, dan Rafan hanya terkekeh.


"Dari tadi Abang di belakang Kamu Dek." kata Rafan.


"Jadii.. Yang tadi Abang? Jahat baget sumpah, udah tau adeknya takut sama tempat gelap." kesal Acha melepas pelukan dan mencubit perut Rafan.

__ADS_1


"Aww, sakit dek." kata Rafan.


"Sakit kan, nah anggap aja balasan kecil Acha." kata Acha.


"Iya iya ampun dek, kan kata kamu kalo abang itu harus dibelakang jagain adek, salah abang dimananya coba." kata Rafan membela diri.


"Yaa iyaa tapi nggak gitu juga dengan menanakut nakuti adeknya." kata Acha dan langsung pergi mendahului Rafan.


......................


Rafan mengambil batu dan melempar ke pohon yang ada dihalaman rumah no 103. Brugh kresk kresk suara batu yang terjatuh melewati daun daun.


"Abang.." kata Acha yang sudah didepan kembali berlari memeluk Rafan yang ada belakang, dan Rafan hanya tekekeh.


"Ulah Abang lagi yaa? Abang tuh yaa jahat gimana kalo adeknya jantungan dan meninggal di sini." kata Acha kesal.


"Syutt Kamu kok ngomongnya gitu, gak seru tau." kata Rafan terkekeh.


"Heh kamu kok nangis dek? udah jangan nagis jelek loh, sayang air matanya kasian penduduk komplek kebanjiran nanti." ledek Rafan sembari menghapus air mata Acha.


"Ihh abang..." rengek Acha yang menangis tapi sedikit tertawa.


"Yaudah yuk pulang." kata Rafan dan mernagkul bahu Acha.


Sesampainya di rumah


krek pintu rumah dibuka.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum?" kata Rafan dan Acha.


__ADS_2