
Setelah itu Acha langsung ke taman komplek untuk mengajar anak-anak, selama mengajar Acha sedikit tidak fokus gara-gara keingat ucapan-ucapan ibu-ibu komplek.
Setelah selesai mengajar dan semua anak-anak pulang, Acha bergegas kembali kerumah karena melihat mobil Muza sudah ada di garasi.
Acha mempercepat jalannya, "Tumben udah pulang nggak ngasih tau, padahal tinggal chat WA kek, telepon kek, SMS kek atau apa kek." gerutu Acha di setiap langkahnya.
Acha segera masuk ke rumah, "Assalamu'alaikum? " kata Acha menghampiri Muza yang sedang duduk dihadapan laptop nya.
Acha langsung mencium tangan Muza, "Wa'alaikumussalam." kata Muza yang fokus ke laptop, dan sesaat melirik ke arah ponsel.
Acha memandangi Muza dengan cemberut, "Sibuk amat." ketus Acha.
Muza melirik ke arah Acha, tring... notif pesan di handphone Muza, Muza melirik ke arah handphone dan pangsung meraihnya.
"Ish." kesal Acha yang langsung pergi kedapur untuk memasak.
Muza menggeleng dan tersenyum tipis melihat tingkah aneh istrinya.
Didapur Acha sedang memotong sayuran, "Ih kesel, kenapa jadi cuek banget." kata Acha yang melampiaskan semua amarahnya pada sayuran.
Acha melirikan bola matanya ke arah kanan kemudian kiri, "Apa jangan-jangan yang dikatain ibu-ibu komplek bener lagi soal suami." rengek Acha.
"Nggak boleh sampe terjadi awas aja kalo bang Ustadz berani main-main di belakang Acha." gumam Acha.
Tak tersadar karena rasa khawatirnya, tangan Acha yang sedang memotong sayuran jarinya sedikit teriris, "Aw, astaghfirulloh." keluh Acha yang langsung meletakan jari telunjuk tangan nya yang terluka ke bibirnya.
Muza yang mendengar keluh Acha langsung bergegas ke dapur, "Kenapa Sayang?" kata Muza menghampiri.
Muza segera meraih tangan Acha dan melihat lukanya, dan langsung membawanya ke wastafel, dan langsung menyalakan keran, "Kok bisa berdarah gini." kata Muza yang membersihkan darah yang bercucuran dijari tangan Acha.
Setelah darah sudah dibersihkan Muza langsung mengambil kotak P3K dan mengobati tangan Acha, "Kamu lagi banyak pikiran yah?" kata Muza.
Acha hanya terdiam, Muza melirik ke Acha yang sedang sedikit cemberut "Kenapa?" kata Muza.
Acha tetap terdiam, Muza keheranan dan menyadari kejadian tadi, "Umi marah soal tadi?"
Acha melirik ke arah Muza dan kembali memalingkan pandangannya, "Pikir aja sendiri." kata Acha.
Muza terkekeh, "Yaa Alloh, yaudah Abi minta maaf ya, kan tadi lagi banyak kerjaan."
Acha menatap lurus ke depan tidak melihat ke arah Muza, "Kerjaan apa? chatan sama cewe lain?" ketus Acha.
"Astaghfirulloh, kok kamu bisa mikir kaya gitu sih Sayang?" kata Muza mengernyitkan alis.
__ADS_1
"Tadi siapa yang chat, denger notifnya aja langsung sigap." kata Acha.
Muza melirik ke arah Acha, "Umm kamu cemburu ya?" kata Muza yang
Acha menatap ke arah luar jendela dapur, "Siapa yang cemburu." ketus Acha.
Muza menahan tawa, "Kalo nggak cemburu lalu itu apa?" kata Muza yang langsung meraih wajah Acha agar Acha melihat ke arahnya, dan Acha langsung memalingkan wajahnya kembali, "Ya bukan apa-apa." kata Acha.
Muza merubah posisi duduknya menjadi lebih dekat dengan Acha, "Um ternyata ada yang cemburu." kata Muza mencubit pipi Acha yang memerah.
"Nggak, siapa lagi yang cemburu." kata Acha menyingkirkan tangan Muza.
"Ya udah iya kalo Abi salah, Abi minta maaf." kata Muza mengacubgkan jari kelingkingnya.
Acha hanya menghiraukan, dan Muza terkekeh, "Yaudah sebagai tebusan rasa salahnya Abi yang masak deh." kata Muza menyerah sebuah benda pipih miliknya.
Acha melihat ke arah Muza, "Untuk apa ini?" kata Acha.
Muza terkekeh, "Ya pegang sama kamu, takutnya wanita itu chat."
"Pegang aja sendiri kan urusannya sama kamu." kata Acha.
"Yaudah." kata Muza memasukkan handphone ke saku celananya.
"Yaudah sini." kata Acha yang membuat langkah Muza terhenti.
Muza segera berbalik dan menghampiri Acha, "Terimakasih, kalo wanita itu chat jangan dibaca." kata Muza menahan tawa.
Acha melirik tajam ke arah Muza, "Iya sama-sama, hmm." ketus Acha
Muza langsung melangkah ke arah kompor untuk memasak, tring... notif chat, sontak Acha langsung melirik ke arah layar handphone Muza, "Uma? jadi tadi bang Ustadz dapat chat dari Uma.
Muza hanya tersenyum tipis melihat pipi Acha semakin memerah karena malu, "Jangan dengerin kata orang, belum tentu yang dikatain itu benar." kata Muza yang sedang memasak.
Acha hanya membulatkan matanya dan tertunduk menahan malu.
Muza menyajikan capcai buatanya kedalam piring, "Sudah siap." kata Muza membawa ke atas meja makan.
Setelah menyiapkan semuanya, Muza langsung menghampiri Acha, terlihat Acha yang sedang tertunduk, "Eh kenapa?" kata Muza menahan tawa.
"Um... ng-nggak kenapa-napa kok." kata Acha menahan malu.
"Owh gitu, yaudah ayo makan." kata Muza yang melangkah lebih dulu.
__ADS_1
Acha hanya terdiam karena Muza yang biasa selalu merangkulnya kini jalan terlebih dahulu di depannya, Muza yang menyadari hanya menahan tawa.
Acha yang mematung berusaha menghilangkan rasa gengsinya untuk meminta maaf, akhirnya bibir Acha bisa berkata, "Maaf." kata Acha yang langsung mendunduk.
Langkah Muza terhenti, Muza tersenyum dan langsung berbalik dan menghampiri Acha, Muza memeluk Acha yang mematung, setetes kristal bening jatuh dari mata Acha, melihat itu Muza langsung menghapus air mata Acha, "Eh kok nangis?" kata Muza.
Acha memeluk Muza dan Acha menangis kembali di dada bidang milik Muza, "Maafin Umi udah curiga sama Abi.l tangis Acha.
"Eh udah jangan nangis, sebelum Umi minta maaf juga Abi sudah memaafkan, lagi pula wajarkan seorang istri cemburu." kata Muza.
"Yaudah sekarang kita makan yah, Umi harus cobain masakan Abi." kata Muza merangkul Acha.
Mereka pun langsung menuju meja makan, mereka menikmati makanan, Muza menyuapi Acha, "Gimana?" kata Muza menaik turunkan alisnya.
Acha tersenyum dan mengangkat jempol, "Enak, pasakan Umi pun kalah." kata Acha.
"Terimakasih." kata Muza mengusap-usap lembut kepala Acha yang duduk disampingnya.
"Abi tau yang dikatakan ibu komplek?" kata Acha.
Muza hanya menggeleng, "Abi cuma tau tentang Pak Anton sama istri mudanya." jelas Muza.
"Terus Abi mau hah!" kata Acha.
"Ya kalo Umi ijin in siapa sih yang mau nolak." kata Muza terkekeh.
"Ih Abi ah." rengek Acha.
"Ya 'kan Umi yang nawarin." kata Muza terkekeh.
"Siapa lagi yang nawarin." kata Acha yang sibuk mebereskan piring kotor bekas makan.
"Emm masa iya terus tadi apa?" kata Muza membantu Acha.
Acha melirik tajam dan langsung melangkah menuju wastafel, Muza mengikuti dari belakang, Acha langsung mencuci piring, "Itu yang mana?" kata Acha.
"Um udah lupa apa pura-pura lupa." kata Muza.
"Udahlah jangan bahas itu lagi." kata Acha
"Iya-iya." kata Muza yang membantu Acha mengikat kerudungnya kebelakang, "Terimakasih." kata Acha.
"Sama-sama sayang." kata Muza membantu Acha menyimpan piring yang sudah bersih kedalam rak piring.
__ADS_1
happy reading, maaf jarang up soalnya Author lagi banyak kesibukan di bulan suci romadhon 🙏🙏🙏