
Kring... Alarm berbunyi menunjukan pukul 03.00 pagi, Mufid terbangun dan menjumpai wajah cantik Acha yang masih tertidur pulas.
Mufid melukis senyuman saat melihat itu.
"Manis, sama tetap sama seperti waktu dulu, saat masih bocil." gumam Mufid terkekeh sendiri.
"Saya akan tunggu sampai hati dan cinta kamu sepenuhnya untuk saya." kata Mufid yang hendak mengusap kepala Acha, dan Mufid menyadari bahwa dia tidak akan menyentuh Acha tanpa ada ijin dari Acha.
Mufid bergegas turun dan mengambil segelas air minum.
"Pulas sekali? Tapi Acha harus sholat tahajud, gimana ya bangunin nya, saya kan... Umm..." gumam Mufid.
Air pun dituangkan ke telapak tangan Mufid, Mufid segera mencipratkan air itu ke wajah Acha.
"Astaghfirulloh bocor." kaget Acha yang langsung terbangun.
Mufid sontak tertawa renyah, Acha langsung mengarah ke sumber tawa itu.
"Kak Mufid mah ah." keluh Acha yang mengerutkan halisnya melas.
"Sholat tahajud Cha." kata Mufid.
"Ya nggak gini caranya, siapa tau kan Acha lagi mimpi indah, tar mimpinya jadi mimpi hujan." ketus Acha.
"Iya maaf, terus Kakak harus bangunin kamu gimana?" kata Mufid menuangkan air.
"Minum dulu, sunah nya bangun tidur minum." kata Mufid menyerahkan segelas air pada Acha.
"Makasih kak." kata Acha memandang wajah teduh Mufid.
"Iya sama sama, eh kenapa liatin kakak kaya gitu," kata Mufid.
Acha langsung meneguk satu gelas air.
"Bismillah Cha." tegur Mufid.
"Udah." kata Acha.
"Pas kapan? nggak denger tuh." kata Mufid.
"Di hati." kata Acha melirik tajam.
"Ih serem." kata Mufid berlari dan langsung masuk ke kamar mandi.
Acha hanya terkekeh melihat itu.
"Suruh siapa usil, udah tau dihati, mana dengerkan." gumam Acha.
"Kenapa jadi canggung gini yah, tak sehangat pas sebelum nikah apalagi pas masih bocil." gumam Acha tersenyum tipis.
Kring... kring... handphone Mufid berbunyi.
"Telepon? handphone siapa, jam segini?" giman Acha mencari cari di area kasur.
Acha bergegas dari kasur dan mencari cari sumber suara itu.
"Handphone kak Mufid? pagi pagi gini?" kata Acha mengambil handphone Mufid.
Tring... notif pesan muncul.
"Pesan? buka jangan ya? ah lancang, eh tapi penasaran, nggak papa kali lah kan idah jadi suami." gumam Acha terkekeh.
Acha segera membuka pesan itu, belum sempat membaca Mufid sudah keluar dari kamar mandi.
"Kenapa Cha?" kata Mufid dengan air wudhu yang membasahi wajah dan rambutnya.
"Um ini ada yang menelpon tadi." kata Acha menyerahkan ponsel.
"Siapa?" kata Mufid.
"Um entah, Acha belum sempat liat." kata Acha.
Mufid segera mengambil ponsel itu dan memeriksa, sebuah senyuman terlukis di bibir Mufid.
"Siapa kak?" kata Acha.
"Kepo yah?" kata Mufid menatap Acha dengan serius.
"Ih siapa yang kepo, nggak! itu kan cuma nanya." ketus Acha.
"Yaudah berwudhu sana." kata Mufid.
"Iya iya." ketus Acha langsung ke kamar mandi.
"Udah belum? lama amat wudhu nya." kata Mufid.
__ADS_1
"Ih suka suka dong, lagian apa masalahnya sama kakak, dasar usil." kata Acha yang keluar kamar mandi.
"Udah cepet pake mukena nya kita sholat jama'ah." kata Mufid.
Acha pun segera memakai mukena dan menghamparkan sejadah di belakang Mufid, posisinya sedikit ke kanan dari belakang Mufid.
Sholat tahajud pun mereka didirikan, dan dzikir dzikir dilantunkan, Acha pun memuroja'ah hapalan qur'an pada Mufid.
Adzan subuh pun berkumandang, Acha dan Mufid pun segera melaksankan Sholat jama'ah.
Setelah selesai melakukan amalan amalan kebaikan setelah sholat subuh, Mufid fokus kembali dengan ponsel nya.
Bertepat jam 06.00 pagi Acha membuat sarapan untuk keluarga.
"Wah anak Uma pintar nya." kata Fathma mencicipi pasakan Acha.
"Yasudah sajikan masakan nya ke Mufid, bagai mana pun sekarang kamu sudah menjadi istri halal nya, dan kamu harus melayani suami kamu dengan baik, agar mendapat ridho dan pahala." kata Fathma.
"Iya uma ku sayang, Acha ke kamar dulu." kata Acha membawa sarapan.
Sesampainya di kamar, Acha menjumpai Mufid yang masih sibuk dengan ponselnya, Acha langsung meletakan makanan di atas meja dan duduk di sampinhg Mufid.
"Hu uh masih di depan ponsel, sarapan dulu." kata Acha membuang nafas kasar, dan merampas ponsel Mufid.
"Ih Cha balikin." kata Mufid.
"Nggak!" kata Acha.
"Balikin." kaya Mufid hendak merampas kembali.
"Nggak mau wle." kata Acha langsung melipat tangan kebelakang menyembunyikan ponsel.
Mufid memohon dan memasang wajah melas nya.
"Iya iya, tapi makan dulu, abis makan baru Acha balikin." kata Acha.
Mufid hanya bisa pasrah dan segera memakan masakan Acha.
"Gimana?" kata Acha.
"Enak," kata Mufid, terlukis sebuah senyuman di bibir Acha.
"Beneran? kata Acha bahagia.
"Hmm may be." kata Acha cemberut.
Mufid terkekeh melihat semua itu.
"Um Acha ku sayang, kenapa cemberut gitu?" kata Mufid terkekeh.
Deg! perasaan Acha menjadi tak karuan setelah kata 'sayang' terlontar di Mulut mufid.
"Si..siapa yang cemberut." kata Acha.
"Pasakan kamu enak kok, nah sudah abis kan mana ponselnya?" kata Mufid.
Sebelum mengembalikan Acha memeriksa dan membaca baca pesan di ponsel Mufid.
"Eh ngapain?" kata Mufid.
"Entar dulu Acha liat dulu, abis nya masih penasaran sama orang yang nelpon jam tiga pagi tadi." kata Acha.
"Hmm iya iya, kamu cemburu ya? tenang aja bukan cewe lain kok." kata Mufid.
Acha seontak membulatkan mata, dan langsung mengembalikan ponsel pada Mufid.
"Ce..cemburu? nggak lah." kata Acha merapih kan piring.
"Um gitu ya? kalo nggak cemburu kenapa harus meriksa orang yang pas tadi menelpon?" kata Mufid terkekeh.
Acha menghiraukan dan langsung pergi kedapur membawa piring kotor.
"Masa iya cemburu? sembarangan aja, lagian kan Acha cuma penasaran." gumam Acha sembari memcuci piring.
......................
"Mufid?" panggil Qayyis.
"Iya Bi." saut Mufid bergegas menghampiri.
"Gimana kabarnya pendidikan kamu, kata Rojak kamu sedang sidang, S2 ya kamu, hebat salut abi." kata Qayyis.
"Alhamdulillah Bi, minggu depan Mufid akan berangkat, kesana." kata Mufid.
"Emang sudah ada pemberitahuan?" kata Qayyis.
__ADS_1
"Sudah pas tadi jam 3 pagi." kata Mufid.
"Semangat selalu lah buat kamu." kata Qayyis.
"Iya Bi makasih." kata Mufid.
Acha pun menyajikan dua cangkir teh di atas meja, dan langsung duduk di pinggir Mufid.
"Makasih nak." kata Qayyis diangguki Acha.
Mufid dan Qayyis pun segera meneguk secangkir teh.
"Tapi kan kalian masih pengantin baru, masa iya mau pisah." kata Qayyis.
"Emang kak Mufid mau kemana?" kata Acha.
"Kakak harus ke Al azhar, sidang dan di lanjut kelulusan S2, di perkirakan 2 sampai 3 bulan kakak di sana, kamu nggak papa kan, kaka tinggal?" kata Mufid.
"Iya nggak papa, kan lagian kakak harus menyelesaikan pendidikan." kata Acha.
"Maa syaa Alloh makasih ya Cha." kata Mufid.
Satu minggu kemudian, atas perhatain, kelembutan kata dan kasih sayang yang Mufid berikan membuat tumbuh benih benih cinta dalam hati Acha untuk Mufid.
Mufid dengan tawb putuh dan sorban hitmanya tak lupa dengan sebuah kacamata sedikit hitam yang dipakainya, Mufid sudah siap pergi meninggalkan tanah air, Acha yang sedang berias diri di depan cermin dengan gamis hitamnya, dan kerudung lebar berwarna biru tosca.
"Ingin sekali ku memeluknya, walau sekali saja." batin Mufid yang memandangi Acha di cermin.
Acha langsung tertunduk menyadari Mufid yang sedang memandang nya melalui cermin.
"Ingin sekali ku mencium punggung tangan nya, sebelum kami berpisah, ayo lah Acha sekarang hidup mu sudah menjadi milik nya." batin Acha.
Acha memberanikan diri menghampiri Mufid, Acha langsung memeluk erat Mufid, Mufid terdiam mematung dengan haru bahagia, Mufid langsung membalas pelukan Acha.
"Hey kenapa ini, air mata? tidak pantas seorang Acha menangis." kata Mufid menghapus air mata Acha.
"Kakak maafin Acha, selama ini Acha belum menjadi istri yang terbaik dalam kehidupan kakak." tangis Acha.
Mufid langsung memeluk erat Acha kembali.
"Maafin kakak juga, kalo kakak belum menjadi imam yang baik untuk keluarga kecil kita, saya mencintai kamu Cha, walau kita berpisah itu hanyalah raga yang berpisah tapi jiwa kita tetap satu, jiwa saya akan selalu ada dihati kamu dan jiwa kamu akan selalu ada di hati saya." tangis Mufid.
Tok tok tok...
Acha dan mufid segera melepas pelukan dan mengusap air mata.
"Masuk aja." kata Acha.
"Nak Acha, sudah di tungguin sama bapak Qayyis." kata Maryam.
"Iya Bu, kami segera turun." kata Acha.
"Asiap." kata Maryam segera pergi.
"Tolong kabari saat telah sampai di sana nanti, Acha akan selalu menunggu kepulangan kak Mufid." kata Acha.
"Siap laksanakan, setelah selesai kakak akan segera pulang." kata Mufid mencium kening Acha.
Mufid pun merangkul Acha dan segera mereka menghampiri Fathma dan Qayyis.
Mereka pun segera menaiki mobil yang di kendarai oleh pak Sobari, mobil pun melaju dengan kecepatan rata rata, hingga akhirnya datang di area bandara, Mufid segera mencium punggung tangan Qayyis, Sobari, dan Fathma.
Tak ragu lagi Acha segera menghampiri dan mencium punggung tangan Mufid, Mufid mengusap lembut kepala Acha.
"Jaga dirimu baik baik." kata Mufid.
"Kabari apa dan cerita kan apapun yang terjadi setelah sampai di sana." kata Acha.
"Pasti." kata Mufid memeluk Acha.
"Dekapan yang hangat dan penuh kasih sayang, aku akan selalu menantimu." batin Acha membalas pelukan.
"Assalamu'alaikum." ucap Mufid segera melepas pelukan dan langsung pergi.
"Wa'alaikumussalam warohmatulloh." jawab semua.
Acha berdiri mematung sembari menatap langkah demi langkah kepergian suami.
Setelah terdengar keberangkatan pesawat yang di tumpangi Mufid, Acha dan yang lain nya segera menaiki mobil.
"Apakah ini sebuah ujian cinta, benih cinta yang baru tumbuh harus terpisah dari cintanya, sungguh aku akan menanti setiao kabar dari mu." batin Acha.
Beberapa jam kemudian waktu berputar terasa lambat, di kamar Acha yang memandangi sebuah benda pipih milik nya, menunggu panggilan video call dari Mufid.
"Kemana ya seharusnya sudah sampai, ini sudah jam 21.00 WIB, otomatis di sana masih jam 4 sore." gumam Acha.
__ADS_1