MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)

MUZACHA (Ini Cinta Atau Obsesi)
Halaman 105


__ADS_3

Mentari muncul dengan cahayanya yang terang disambut bahagian oleh alam dan isinya.


Angin bertiup sepoy yang mebuat sinar mentari terasa tak begitu panas.


Udara segar yang membuat ketentraman bagi yang menghirupnya.


Para panitia sibuk mendekor taman utama pondok yang belum selesai dari semalam.


"Jam berapa ini Ziel?" kata Muza yang sedang memasang paku.


"Jam Tujuh kurang lima menit." kata Faziel.


"Owh oke." kata Muza kata Muza turun dari kursi tinggi yang dinaikinya.


"Santay aja lagian mulainya jam sembilan pagi." kata Faziel mengambil benner.


Benner pun di pasangkan oleh Muza dan Faziel dengan menaiki dua kursi tinggi yang sudah disiap kan.


"Alhamdulillah." kata Faziel dan Muza.


"Gimana miring gak?" kata Muza yang masih di atas kursi.


"Siip udah rapih." kata Faziel.


"Alki?" kata Rayis.


"Iya ustadz?" kata Muza.


"Kasih tau santriat agar salat duha dulu." kata Rayis.


"Iya ustadz siap." kata Muza.


"Kamu Alki kasih tau santriwan, dan Faziel ke santri wati." kata Rayis.


"Santri wati ustadz." kata Faziel.


"Haha tenang aja, jangan malu sama Ririn." kata Rayis terkekeh.


"Tau harus gantle man lah." kata Muza.


"Iya perasaan dulu kamu lebih akrab ke santriwati geh, kenapa sekarang...ya sudah lah." ledek Rayis terkekeh.


"Yah ustadz mah ini kan beda lagi, ini mah soal perasaan, yag gak Ziel?" kata Muza terkeekh menepuk bahu Faziel.


"Ih apaan sih Ki." kata Faziel.


"Kamu waktu diruangan saya, bilang ke Ririn katanya mau wujudin impian dulu, sekarang impian kamu jadi ustadz di sini sudah terwujud, udah langsung khitbah aja tu Ririn keburu sama orang." kata Rayis.


"Maunya Faziel juga gitu ustadz, tapi..." kata Faziel menghela nafas.


"Tapi orang tua Faziel menjodohkan Faziel dengan anak sahabatnya." kata Faziel.


"Kamu udah liat akhwat nya?" kata Rayis.


"Belum Ustadz nanti minggu depan in syaa Alloh Faziel sama umi abi mau kerumahnya, do'a in ya Ustadz." kata Faziel.


"Cie mau ta'arufan." kata Muza.


"Iya Ustadz do'a in, eh do'a apa dulu ini supaya di terima atau di tolak." kata Rayis terkekeh.


"Ustadz mah, pokoknya yang terbaik lah." kata Faziel.


"Iya iya, do'a dan ridho Ustadz selalu ada di setiap langkah kalin dan para santriat." kata Rayis.


"Udah cepet sana kasih tau pengumuman nya," kata Rayis.


"Terus Faziel gimana?" kata Faziel.


"Kamu beritahunya ke tim keamanan yang jaga gerbang asrama, biar beliau yang mengumumkan." kata Rayis.


"Yaudah siap Usatdz." kata Faziel.


"Assalamu'alaikum." kata Mereka mencium tangan Rayis.

__ADS_1


Langkah demi langkah mereka pun terpisah karena jalan berbeda, Muza yang belok ke kanan dan Faziel yang belok ke kiri


......................


Para santriat sibuk menentukan kostum apa yang harus mereka pake.


Asrama putri


Tok tok tok...


Pintu kamar Annisa di ketuk.


"Assalamu'alaikum?" ucap Rahma.


"Wa'alaikumussalam, buka aja." jawab mereka.


Krek ...


Pintu kamar dibuka sedikit oleh rahma, Rahma yang hanya berdiri di luar sbari memegang gagang pintu.


"Eh Ma, masuk sini makan." tawar Mereka yang sedang sarapan.


"Iya udah kok, ada Ririn?" kata Rahma diluar.


"Ke kamar mandi tadi mah Rah." kata Acha.


"Iya kenapa Rah?" kata Ririn yang muncul di belakang Rahma.


"Eh Ririn," kata Ririn yang menengok ke belakang.


"Udah ada nggak jadi." kata Rahma diangguki oleh mereka.


Rahma langsung menutup pintu.


"Ririn udah nentuin kostum nya sama temam sekamar kan?" kata Rahma.


"Iya emang kenapa?" kata Ririn.


"Emang Rahma mau kemana?" kata Ririn.


"Rahma belum nentuin kostum sama teman sekamar, dari tadi di pos keamanan mulu, boleh yah Rin plis." kata Rahma.


"Yaudah iya." kata Ririn.


"Ah Ririn terbaik deh." kata Rahma memeluk.


Rahma pun langsung masuk kamar sebelah kamar Annisa yaitu kamar Fathimah.


Ririn bergegas ke bawah menuju pos keamanan.


"Ya Alloh Ziel emang bener kata Ustadz Rayis, kamu sama semua cewe akrab, tapi ke Ririn gerogi gini, untung hari ini bukan Jadwal Ririn yang jaga." gumam Faziel


Langkah demi langkah nya pun sampai di pos keamanan.


"Assalamu'alaikum?" kata Faziel.


"Ada ikhwan." kaya Ririn.


Ririn yang baru turun langsung berlari ke arah pos.


Faziel melihat ke lubang kotak yang berukuran 20x10, lubang itu digunakan untuk menghubungi santri keamanan yang bertugas.


Ririn pun yang baru masuk langsung mengintip.


Deg!


Tatapan mereka berdua bertemu.


"Ririn!"


"Ustadz Faziel!"


Mereka bergegas memalingkan mata.

__ADS_1


Krik krik...


Hanya ada keheningan.


"Aduh kalo saya suruh Ririn keluar saya takut jantung ini tidak bisa dikendalikan tar keliat geroginya, masa iya kan seorang Faziel gerogi, ketauan lagi, yaudah masuk aja lah." batin Faziel.


"Kalo saya yang masuk sama aja, kan ketemu juga." perdebatan batin Faziel.


"Ada apa Ustadz? usatdz mau masuk?" kata Ririn membuka keheningan.


"Hah?" kata Faziel tersadar.


"Tapi beliau kan guru masa beliau yang nyamperin Ririn." batin Ririn


"Yaudah Ririn yang keluar ya Ustadz." kata Ririn.


"Eh nggak usah." kata Faziel.


"Ustadz yang mau masuk?" kata Ririn.


"Nggak juga, udah saya ngomong nya di sini aja, kedengeran kan kalo lewat lubang ini." kata Faziel.


"Lumayan sih ustadz." kata Ririn.


"Yaudah kamu deketin aja telinga kamu ke lubang ini ya." kata Faziel.


"Iya Ustadz." kata Ririn.


Ririn pun mendekatkan telinganya ke lubang kotak itu.


"Kata Ustadz Rayis santriwati yang sedang suci tidak berhalangan, diharapkan sholat duha, masih ada satu setengah jam ke Acara, tolong sampaikan." kata Faziel.


"Iya ustadz." kata Ririn.


"Oke saya permisi, Assalamu'alaikum." kata Faziel.


"Wa'alaikumussalam warohmatulloh." kata Ririn.


Langkah demi langkah Faziel menjauhi gerbang asrama Putri.


Ririn yang mengintip melalui lubang itu tersenyum sendiri.


'Kau senantiasa menari di dalam hatiku, meski tak seorang pun melihat-Mu, dan terkadang aku pun ikut menari bersama-Mu.'


❤Jalaluddin Rumi❤


Faziel berbalik tersenyum bahagia, dan Ririn langsung bergeser dan tersenyum sendiri.


"Yaa Alloh senyumnya, 'Segala sesuatu yang tercipta indah, seimbang dan menarik adalah tercipta untuk mata orang yang memandang, itu lah yang dikatakan Jalaluddin Rumi." Ririn yang terduduk tersenyum sendiri.


"Bila tak ku nyatakan keindahan-Mu dalam kata, ku simpan kasih-Mu dalam dada, itulah yang dikatakan Jalaluddin Rumi." kata Ririn tersenyum bahagia.


Seketika senyumnya memudar mengingat bahwa Faziel sudah di jodohkan dan katanya Ririn pin akan di jodoh kan.


"Meskipun baru 'katanya' dan Aku hanya bisa terdiam tenang seperti Ikan, tapi gak tau kenapa, hatiku gelisah seperti ombak di lautan." gumam Ririn.


"Eh astghfirulloh, sampe lupa." kata Ririn.


Ririn pun segera mengambil toa dan mengumumkan.


'Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh.' ucap Ririn.


"Wa'alaikumusssalam warohmatullohi wabarokatuh." jawab semuanya.


'Amanah dari Ustadz Rayis, bagi antunna yang tidak berhalangan di harap kan salat duha masih ada waktu satu jam menuju Acara, sekian wasalam, Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh.' kata Ririn.


"Wa'alaikumusssalam warohmatullohi wabarokatuh." jawab semuanya.


Semua santriwati yang tidak berhalangan langsung bergegas berwudhu dan melaksanakan salat.


'Ketahuilah, apapun yang menjadikanmu tergetar, itulah yang terbaik untukmu! Dan karena itulah, kalbu seorang pencinta-Nya lebih besar daripada Singgasana-Nya.'


❤Jalaluddin Rumi❤

__ADS_1


__ADS_2