
"Puput deh kak, soalnya Ceritanya kaya nyambung sama cerita Cilla." kata Putri.
"Na'am tafadholly." kata Shilla.
"Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh." kata Putri.
"Wa'alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh." jawab semua.
"Mohon izin semuanya, Putri disini akan bercerita tentang ROMANTISME RASULULLAH BERSAMA AISYAH
Perhatikan kisah romantisme Rasulullah bersama istrinya Aisyah. Aisyah mengatakan, “Orang-orang Habasyah masuk ke dalam masjid untuk bermain (latihan berpedang), maka Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku ‘wahai khumaira (panggilan sayang untuk Aisyah), apakah engkau ingin melihat mereka?’, Aku menjawab, ‘iya’. Nabi shalallahu ‘alaihi wasalaam lalu berdiri di pintu, lalu Aku mendatanginya dan Aku letakkan daguku di atas pundaknya kemudian Aku sandarkan wajahku di pipinya. (setelah agak lama) Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pun bertanya, ‘sudah cukup (engkau melihat mereka bermain)’, Aku menjawab, ‘wahai Rasulullah, jangan terburu-buru’, lalu beliau (tetap) berdiri untukku agar Aku bisa terus melihat Mereka. Kemudian ia bertanya lagi, ‘sudah cukup’, Aku pun menjawab, ‘wahai Rasulullah, jangan terburu-buru’. Aisyah berkata, ‘Sebenarnya Aku tidak ingin terus melihat mereka bermain, akan tetapi Aku ingin para wanita tahu bagaimana kedudukan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam di sisiku dan kedudukanku di sisi Rasulullah sholallohu ‘alaihi wasalaam.” kata Putri.
"Sholallohu 'alaihi wasalaam." kata Semuanya.
"Maa syaa Allah." kata Semuanya.
"Takbir." kata Putri.
"Allohu akbar." kata semuanya.
"Lihatlah bagaimana tawadhu-nya Nabi shalallahu ‘alaihi wasalaam untuk berdiri menemani Aisyah menyaksikan permainan orang-orang Habasyah, bahkan beliau terus berdiri hingga memenuhi keinginan Aisyah sebagaimana perkataan Aisyah dalam riwayat yang lain, “Hingga akulah yang bosan (melihat permainan mereka).”
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalaam tidak segan-segan memberikan waktunya kepada istrinya untuk memenuhi keinginan istrinya karena beliau adalah orang yang paling lembut kepada istri dalam segala hal selama masih dalam perkara-perkara yang mubah.
Renungkanlah kisah yang dituturkan oleh Aisyah berikut ini,
“Kami keluar bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalaam pada saat safar beliau (untuk melawan kaum Yahudi kabilah bani Mushthaliq), hingga tatkala kami sampai di Al-Baidaa di Dzatulijaisy kalung milikku terputus maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalaam pun berhenti untuk mencari kalung tersebut. Orang-orang yang bersamanya pun ikut berhenti mencari kalung tersebut, padahal mereka tatkala itu tidak dalam keadaan bersuci. Maka orang-orang pun pada berdatangan menemui Abu bakar Ash-Shiddiq dan berkata, ‘Tidakkah engkau lihat apa yang telah diperbuat Aisyah? Ia menyebabkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalaam dan orang-orang berhenti padahal mereka tidak dalam keadaan suci (tidak dalam keadaan berwudu). Maka Abu Bakar menemuiku dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalaam sedang berbaring meletakkan kepalanya di atas pahaku dan buliau telah tertidur. Lalu ia berkata, ‘engkau telah menyebabkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalaam berhenti padahal orang-orang dalam keadaan tidak bersuci dan mereka tidak memiliki air’. Aisyah berkata, ‘Abu bakar mencelaku dan berkata dengan perkataannya lalu ia memukul pinggangku dengan tangannya. Dan tidaklah mencegahku untuk bergerak kecuali karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalaam yang sedang tidur di atas pahaku. Lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalaam bangun tatkala subuh dalam keadaan tidak bersuci lalu Allah turunkan ayat tentang tayammum. Usaid bin Al-Hudhair mengatakan, “Ini bukanlah awal barokah kalian wahai keluarga Abu bakar.” Aisyah berkata, “Lalu kami pun bersiap melanjutkan perjalanan, ternyata kalung itu berada di bawah unta yang aku naiki tadi.”
__ADS_1
Lihatlah bagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalaam memberhentikan pasukan perangnya yang sedang berangkat untuk menyerang orang-orang Yahudi hanya untuk mencari kalung Aisyah yang jatuh. Bahkan disebutkan bahwa kalung Aisyah yang hilang itu nilainya murah, ada yang mengatakan nilainya hanya dua belas dirham. Apalagi di tengah malam dan para sahabat dalam keadaan tidak bersuci dan tidak membawa air. Ini semua menunjukkan bagaimana perhatian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalaam dan tawadhu beliau kepada istri-istrinya, wallohu 'alam bishshowab." Kata Putri.
"Sholli 'alaih." kata semua yang sedang menyaksikan.
"Birbir takbir." kata Cilla.
"Allohu akbar, Allohu akbar, Allohu akbar." ucap semuanya.
"Baik syukron katsiron buat semuanya karena sudah mendengarkan, Putri undur diri, maaf bila ada kata kata yang tidak berkenan, kurang lebihnya mohon maaf wasalaam, assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh." kata Putri.
"Wa'alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh." jawab semuanya.
"Maa syaa Allah, syukron jazakillah khair Putri, menginfirasi banget, patut di tiru ini, karena sangat disayangkan zaman sekarang sebagian suami sangat pelit terhadap istrinya, bukan hanya pelit terhadap hartanya, bahkan pelit terhadap waktunya. Seakan-akan waktunya sangat berharga sehingga tidak pantas untuk dihabiskan bersama istrinya. Sering kita jumpai, ada suami yang tidak sabar untuk menemani istrinya belanja, jalan-jalan, atau kegiatan-kegiatan santai lainnya, jadi buat para ikhawan kalo sudah menikah luangkan waktu buat istrinya, jangan mencari waktu luang tapi luangkan waktu, awas tuh beda arti an, inget kalo meluangkan waktu itu walaupun kegiatan padat tapi mengusahakan untuk bersama keluarga, dan kalo waktu luang berarti cuma nunggu adanya waktu senggang, kayanya nanti para ikhwan kalo udah nikah harus bikin jadwal." kata Shilla.
"Hah jadwal?" kata Gilang, diangguki Shilla.
"Kaya gimana Kak?" kata Farhan.
"B aja kak, b aja." kata Gilang.
"Haha iya iya, segitu udah b aja loh." kata Shilla terkekeh.
"Nah bikin jadwal harian, misalnya hari senin meluangkan waktu untuk keluarga jam 13.00 sampe jam 14.00, walau pun banyak kerjaan kan kita harus meluangkan waktu dong dan menunda sebentar kesibukan." kata Shilla.
"Sholli 'alaih, takbir." kata Cilla semangat.
"Allohu akbar." ucap semuanya.
__ADS_1
"Oke tinggal Acha sama Ririn, siapa yang mau duluan?" kata Shilla.
Acha dan Ririn hanya saling menatap, Ririn mengisyaratkan Acha, dan Acha megangguk.
"Acha dulu kak." kata Acha.
"Umm semangat Cha jangan gerogi di depan Ustadz Muza loh ya." ledek Cilla.
Acha hanya membulatkan matanya dan menahan malu.
"Apakah ini yang dinamakan sahabat yang sesungguhnya, yang selalu malu maluin Acha." batin Acha menonggak kan kepalanya ke arah langit.
"Cha kenapa?" kata Shilla.
"Nggak kenapa napa kak." kata Acha.
"Bisa dimulai?" kata Shilla.
Acha hanya mengangguk dan tersenyum.
"Eh nanti dulu kak kasian hati Acha nya suruh tenang dulu, dag dig dug ser nya suruh hilang dulu, kayanya detak jantungnya lebih cepat dari detik jarum jam." ledek Cilla terkekeh.
Acha hanya tersenyum terpaksa menahan malu.
"Cilla! Malu maluin Acha sumpah." kata Acha berbisik.
"Ini lagi detak jantung, ngapain nurutin kata kata Cilla." batin Acha yang detak jantung nya tiba tiba tak karuan.
__ADS_1
Hufthh Acha yang menarik nafas dalam dalam dan mengeluarkan nya perlahan.
Acha pun maju kedepan.